
Reno dan Clara hampir sampai di kantor, sesuai perjanjian. Reno turun di pertigaan dekat kantornya. Dia tak mau sampai ada seorang tau kalau dia dan Clara berangkat kerja bersama.
Reno segera turun, setelahnya Clara melaju bersama Pak Bejo masuk ke area kantor. Ujung mata Clara mencuri pandang Reno yang sedang melangkah menuju kantor.
Pak Bejo mengukir senyum lebar melihat tingkah anak Bossnya tersebut, kenapa kisah cintanya begitu rumit? Padahal Papa-mamanya sudah menyetujui hubungan mereka. Kenapa harus saling malu-malu kucing?
Melihat Pak Bejo yang tertawa geli membuat Clara segera melempar pandangan ke samping.
"Pak Bejo kenapa sih?" tanya Clara tersipu.
"Loh kenapa? Pak Bejo nggak ngapa-ngapain kok," elak supir Clara.
Pak Bejo menahan tawa sambil mengemudikan mobil masuk ke area kantor.
Clara terus menatap pak Bejo dengan tatapan memicing.
"Pak Bejo jangan bohong deh, Bapak ngeledek Clara kan?" tebak Clara sambil menunjuk wajah Pak Bejo.
"Non kepedean banget sih," ledek Pak Bejo.
Clara memanyunkan bibir dan melempar pandangan, dia segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kantor.
Tidak selang berapa lama, Reno terlihat melangakah masuk ke dalam kantor. Di ikuti oleh seorang lelaki yang merangkulnya dari belakang.
Pak Bejo tersenyum simpul, dia tak mengira kalau seorang anak kecil yang sudah dia anggap anak sendiri sekarang sudah dewasa.
Bahkan, kurang beberapa hari lagi dia sudah menikah. Awalnya dia tidak setuju dengan keputusan Tuannya, tapi ketika melihat calonnya. Pak Bejo semakin yakin kalau dia adalah pria yang baik.
Pak Bejo melajukan mobilnya meninggalkan area kantor, dia melaju berlawanan arah dengan jalan pulang.
Dia melewati jalanan ramai dan sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Tepat dimana Boss besarnya melakukan aktivitas.
Setelah sampai, Pak Bejo segera membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Di mengetuk perlahan dan kemudian masuk.
"Jadi siapa lelaki itu?" tanya Papa Clara.
"Tepat seperti dugaan saya Tuan, dia adalah orang biasa dan bekerja sebagai sopir di kantor Nona Clara," jawab Pak Bejo sambil menundukkan kepala.
"Selidiki terus, aku tidak mau putriku salah pilih pria untuk menikah. Karena "Selamanya" adalah satu kata yang amat panjang dan melelahkan." ucap Papa Clara sambil memutar kursi kerjanya.
"Saya yakin dia adalah pria baik Tuan, terakhir saya mendengar dirinya juga mencari gadis untuk segera di nikahi," lanjut Pak Bejo.
"Maksudnya?" tanya Papa Clara sambil mengerutkan alisnya.
"Orang tuanya juga menyuruh dia untuk segera menikah, sayangnya kekasih yang sudah lama dia cintai lebih memilih pria lain," jawab Pak Bejo.
"Alasannya?" tanya Papa Clara semakin penasaran.
"Dia lebih memilih pri yang lebih mapan dari Reno," jawab Pak Bejo singkat.
Papa Clara hanya menganggukkan kepalanya lirih, dia mengetuk meja dengan jemarinya dan menatap ke arah laptopnya.
Mencoba memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi pada pernikahan putrinya. Meskipun Clara bukanlah anak kandungnya, tapi dia tidak mau mengambil resiko besar untuk kebahagiaannya.
Dia melambaikan tangan, seolah mengisyaratkan Bejo untuk segera pergi. Mengetahui pekerjaannya sudah selesai Bejo segera bangkit dari kursinya dan melangkah keluar ruangan.
Bejo menghilang di balik pintu, di saat bersamaan Papa Clara bangkit dari duduknya dan berdiri di depan dinding kacanya.
Matanya menatap kesibukan mobil yang berlalu-lalang di aspal hitam, dia menyilangkan tangannya ke dada.
"Apakah ini benar-benar keputusan yang tepat?" batin Papa Clara.