I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Kejutan Dari Mama



Happy reading. ....


Beberapa saat kemudian, Reno sampai di kantor kembali, dia mengucapkan terimakasih kepada sopir pribadi Clara dan masuk ke kantor.


Di dalam sudah ada Juna yang menunggu kedatangan Reno dari tadi, dia sedang mondar-mandir di balik pintu kantor.


"Dari mana aja sih?" tanya Juna sebal.


"Nganterin mbak Clara," jawab Reno singkat.


"Dasar orang itu ngerepotin mulu. Yuk cepetan udah di tunggu nih," ucap Juna yang segera naik ke dalam mobil.


Juna adalah pegawai yang di tugaskan untuk mengisi uang di ATM, dan Reno adalah sopirnya.


"Nggak di marahin lo deket-deket sama Clara?" tanya Juna.


"Di marahin gimana? Orangnya aja pingsan" ucap Reno nyengir kuda.


"Pingsan?" ucap Juna mengulang perkataan Reno.


Karena tugas Juna tidak selalu di kantor, dia sampai tidak tau ada kejadian heboh di kantor pagi ini. Juna hanya ke kantor saat mengambil sejumlah uang tunai dan berangkat lagi menuju ATM yang kosong.


"Tadi liftnya rusak, gue sama mbak Clara kejebak di dalem," ucap Reno bercerita.


"Asek dong, harusnya Lo kerjain sekalian tuh cewek. Heran gue, galak amat jadi boss." ucap Juna.


Reno mengerutkan dahinya, padahal Juna jarang berada di kantor. Kenapa dia bisa tau kalau Clara lumayan bawel?


Reno melempar pandangan curiga kepada Juna, jangan-jangan ada sesuatu yang Juna simpan tanpa sepengetahuan Reno. Maklumlah mereka berdua adalah teman dekat, walaupun jarang sekali bertugas bersama.


Biasanya Reno selalu menceritakan semua masalahnya pada Juna begitupun sebaliknya.


Melihat wajah Reno yang mulai curiga dia segera berganti topik.


"Jadi kabarnya Tasya gimana?" tanya Juna.


"Akhir bulan ini, habis gajian gue mau ngelamar dia" ucap Reno dengan wajah berbinar.


Juna seketika membatu mendengar ucapan Reno, semudah itukah dia memutuskan untuk menikah. Padahal ada banyak sekali cobaannya, kalau Juna sendiri memang lebih memilih untuk mengundurkan pernikahan.


"Makanya dong cepet cari cewek," ledek Reno.


"Lo yakin mau nikah?" tanya Juna tetap tidak percaya.


Mendengar pertanyaan Juna, Reno teringat akan kedua orang tuanya yang sudah senja. Mereka sangat menginginkan seorang mantu untuk menemani mereka di desa, rumahnya begitu sepi.


Kerap kali saat berkabar lewat telfon, keduanya sering sedih. Bahkan, sampai menangis sesenggukan.


Pernah saat itu mereka berjanji, Akan selalu membuat mantu mereka nyaman. Terutama ibunya. dia pernah bilang tidak akan bawel dan banyak mau saat memiliki mantu.


Melihat temannya yang tak kunjung memberi jawaban, Juna menyenggol pundak Reno. Sehingga membuyarkan lamunannya.


"Apaan sih lo?" tanya Reno terkejut.


"Kuping Lo buntu apa ya? Nggak denger tadi gue bilang apa," ucap Juna membuang pandangannya.


"Dengerlah, bokap sama nyokap gue pengen cepet punya anak cewek. Buat nemenin mereka di rumah," ucap Reno menjelaskan.


Seketika Juna membayangkan bagaimana sikap kedua orang tua Reno kelak, pasti sangat menyebalkan.


Ayah Reno yang kolot di tambah Ibunya yang bawelnya tujuh turunan, pasti semua gadis tak ada yang betah tinggal bersama mereka.


Di tambah sikap Tasya yang amat manja dan kemayu, akankah kedua orang tua Reno tetap baik-baik saja? Astaga Juna tak bisa membayangkan.


Jangan tanya mengapa Juna bisa tau, karena memang Juna adalah tetangga dekat Reno. Jarak rumah mereka di desa tidaklah jauh, sering kali mereka pulang kampung bersama.


Tapi tidak hari ini, pekerjaan Juna cukup banyak, sehingga dirinya tak bisa menemani sahabatnya untuk pulang kampung.


Sedangkan Tasya, rumahnya tidak jauh dari Juna. hanya berjarak 100 meter. Jadi dia sangat tau bagaimana sifat Tasya yang super nyebelin.


***


Di tempat yang berbeda, Clara masih tertidur. tubuhnya menggigil. Dia beberapa kali mengigau, akibat suhu badannya yang panas tinggi.


Clara memiliki trauma dengan kegelapan, beberapa bulan ini Clara mulai berdamai dengan kegelapan. Dirinya mulai terbiasa dengan keadaan kamar yang gelap dan cuaca.


Tapi kejadian di lift serta moodnya yang berantakan membuat rasa traumanya kembali, inilah sebab mengapa kedua orangtuanya melarangnya berkerja.


Dengan alasan ke kanak-kanakkan, Clara bersi kukuh untuk bekerja. Clara adalah anak angkat, dia bukan anak kandung dari kedua orangtuanya. Dia di temukan pada saat dirinya tertinggal di tengah jalan, masalah orang tua aslinya Clara tidak mengingatnya.


Umur Clara saat itu sekitar 3 tahunan, mungkin karena dia sangat ketakutan. Dia sampai lupa dengan wajah orang tua kandungnya, dan Lagi. Mana ada orang tua kandung yang tega menelantarkan anaknya di tengah jalan?


Ini bukan suudzon, karena sebelum kedua orangtuanya mengangkat dia menjadi anak. Mereka sudah mengumumkan anak hilang, tapi tak ada seorang pun yang berniat untuk mengambil Clara. Jadi dengan senang hati orang tuanya menampung Clara dengan suka cita.


Kedua orang Clara sebenarnya memiliki anak sendiri. Akan tetapi, mereka sudah beranjak dewasa dan mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya mama Clara.


"Mungkin Nona Clara sedikit kecapekan dan sedang banyak pikiran, jadi kondisinya saat ini menurun," ucap Dokter.


"Saya akan memberikan obat demam, selebihnya tolong jaga agar Nona Clara tidak memikirkan yang tak perlu dipikirkan." ucap dokter memberikan selembar kertas berisi resep obat.


Dokter mulai beranjak dan melangkah meninggalkan kamar Clara, diiringi oleh Ayah Clara yang melangkah di belakangnya.


Mamanya masih duduk dan menjaga Clara, berulang kali Mama Clara mengecup tangan Clara yang masih terasa dingin.


"Sudah, biarkan Clara istirahat. Ayo kita pergi." ucap Papa Clara.


Meskipun Clara bukanlah anak kandungnya, mama Clara sangat menyayanginya. Dengan berat hati Mama Clara melangkah keluar kamar.


Clara masih tertidur pulas, di dalam mimpinya terus nampak Rico dan kekasihnya itu. Semua adegan bagaikan kaset rusak yang terus di putar berulang kali tanpa jeda.


Hati Clara semakin hancur saja, itu yang membuat dirinya terus mengigau dan menyebut nama Rico.


***


Matahari pagi telah menampakkan sinarnya, seberkas cahaya menyelinap masuk melewati gorden yang terpasang rapi di kamar Clara.


Clara mulai membuka matanya dan bangkit dari tidurnya, perlahan dia membetulkan posisi duduknya. Dia bersandar di ranjang dan meraih benda pipih di sampingnya.


Tak ada panggilan atau chat yang masuk, tidak seperti biasanya. Yang selalu ada ucapan selamat pagi masuk dan ucapan semangat untuk memulai harinya.


Saat ini seorang itu sudah pergi dengan kekasih barunya, seorang yang mampu memberinya hal yang tak mampu dia berikan.


Padahal keduanya sudah berkomitmen, tapi itu hanya bualan belaka dan tak ada wujudnya. Terukir senyum kecut di wajah pucat Clara.


'Dimana-mana lelaki sama aja, kalau nggak sexs ya harta,' batin Clara perih.


Mamanya membuka pintu kamar, di tangannya membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas yang mengebul asap tipis.


Seperti biasa, Mamanya akan memberinya bubur ayam dan segelas susu hangat untuk memulihkan kesehatannya.


"Pagi sayang, ini Mama udah buatin obat untuk kamu," ucap mama Clara menyodorkan nampan.


Terlihat bubur putih yang di taburi irisan ayam serta kuah berwarna kuning, aromanya sudah sangat menggugah selera.


"Mama nggak kerja?" tanya Clara.


"My baby it's number one," ucap Mama Clara mengecup kening Clara.


"thanks Mama," ucap Clara dengan mata berkaca. Dia tak menyangka akan di beri sepasang orang tua yang sangat menyayanginya.


"Mama punya satu kejutan untukmu," ucap Mama Clara penuh semangat.


"Apa?" tanya Clara penasaran.


"Sebentar lagi dia datang," ucap Mama Clara.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka.


Mata Clara terbelalak sempurna.


Bersambung.....