
Tanpa harus di perkenalan Reno sudah tau siapa yang berdiri di samping Tasya, seorang pria berkulit bersih dengan tinggi 180cm yang memeluk Tasya mesra dari samping.
Reno masih mematung menatap kebahagiaan kekasihnya, setelah sekian lama dia menabung. Berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi kebahagiaan kekasihnya, ternyata semua itu sia-sia.
Tak ada pernikahan, atau bahkan cinta untuknya. Seperti yang dia lihat sendiri. Kekasihnya sudah menemukan tambatan hati lain, dan itu bukan dengan dirinya.
Reno tidak menyangka semua perubahan di karenakan rasa cinta yang memudar, Reno pikir selama ini hubungannya baik-baik saja, ternyata ...
Tanpa sadar Reno berdiri mematung di tengah pintu sambil memandangi kebahagiaan Tasya dari jauh, tanpa dia sadari seorang melangkah mendekatinya.
"Nak Reno, kok nggak masuk," ucap Bu Roda, ibu Tasya.
Wanita paruh baya tersebut melangkah mendekati Reno yang sedang mematung, reflek Reno menyambut Bu Rosa dan mencium tangannya.
"Maaf Bu, baru datang. Kelihatannya saya telat ya," ucap Reno, sambil menahan rasa perih di dada.
"Nggak pa pa kok, Ibu panggilan Tasya ya," ucap Bu Rosa, sambil celingukan mencari keberadaan putrinya.
"Nggak usah Bu, saya langsung pulang aja. Nggak enak sama tunangan Tasya." ucap Reno.
"Jangan gitu dong, kan kasian kamu. Udah datang jauh-jauh, masa' nggak ketemu." ucap Bu Rossa.
Seketika Bu Rossa melambaikan tangannya saat melihat Tasya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Melihat Ibunya yang memanggil, Tasya segera melangkah menuju ibunya. Seketika langakah kaki Tasya terhenti ketika melihat seorang yang berdiri di samping ibunya.
Kaki Tasya terasa lemas tak mampu menahan beban tubuhnya, jantungnya berdegup kian cepat. Dia tak menyangka Reno bisa hadir di acaranya saat ini, ini bagaikan mimpi buruk bagi Tasya.
"Kok bengong sih, Ayo sini," ucap Bu Rossa, saat melihat Tasya yang menghentikan langkahnya.
"I-Iya Bu," ucap Tasya perlahan melangkah mendekati ibunya.
Hingga akhirnya langakah kaki Tasya berhenti di depan Reno, Bu Rossa segera melangkah pergi karena ada seorang tamu yang mencarinya.
Di ikuti Reno yang melangkah menyusul Tasya dan duduk di kursi sebelahnya, Beberapa menit hanya keheningan.
Mereka masih mencoba berdamai dengan kenyataan, keduanya cukup syok dengan keadaan masing-masing.
"Udah lama Mas?" tanya Tasya.
"Baru tadi pagi," jawab Reno.
Tasya sangat canggung, dirinya tak mampu berkata lebih banyak lagi. Dia bingung mau menjelaskan semua masalah dari mana.
"Ternyata kita memang tidak berjodoh," ucap Reno merogoh benda kotak kecil berwarna merah di sakunya.
"Ini buat kamu," ucap Reno menyodorkan kotak kecil tersebut. Dan menaruhnya di meja.
Tasya hanya membatu, matanya memanas dan berkaca. Dia mendongakkan pandangannya agar air tersebut tidak menetes
"Semoga kamu bahagia," ucap Reno segera beranjak dari kursinya.
Reno melangkah menjauhi Tasya, Langkah Reno terhenti saat Tasya mengucap sesuatu.
"Maaf Mas, aku kira Mas tidak serius dengan semua ucapan Mas." ucap Tasya menghela nafas panjang.
"Selama ini aku sudah menunggu, tapi Maaf. Aku hanya wanita yang membutuhkan kepastian, bukan hanya janji belaka," ucap Tasya, mulai beranjak dari kursinya.
"Mungkin benar kata Mas, kita nggak berjodoh. Karena sesungguhnya. Aku tidak benar-benar menerima kenyataan kalau nantinya kita tetap tinggal di desa." ucap Tasya terisak.
"Maaf mas, aku tidak bercita-cita jadi seorang ibu rumah tangga yang selalu berada di rumah, dengan segala kesibukannya. Aku tidak bisa duduk diam di rumah menunggu kepulanganmu bersama orang tuamu, aku ...." ucap Tasya terpotong.
"Kita memang tak berjodoh, dan aku menerima kenyataan tersebut. Jadi jangan di lanjutkan lagi." ucap Reno menahan mata yang kian memanas.
BERSAMBUNG....