
Matahari mulai bersinar, suara keramaian kendaraan mulai terdengar kacau, klakson dan deru motor saling bersahutan.
Namun suara kekacauan itu tak membuat makhluk di dalam yang sedang terlelap membuka mata, deringan alarm ponsel yang memecahkan gendang telinga pun tak mengusik mereka sedikitpun.
Beberapa menit berlalu Reno akhirnya mengernyitkan matanya, tangannya meraba mencoba mencari sebuah benda pipih yabg sedari tadi berbunyi.
Setelah dia mendapatkan benda tersebut, dia segera membuka mata dan melihat jam yang tertera di pojok layar.
Matanya membulat sempurna, dia segera bangun dan berlari menuju kamar mandi.
"Bangun Jun, dah siang woy ..." teriak Reno sambil berlari menuju kamar mandi.
Dengan malas Juna merenggangkan otot-ototnya dan membuka mata, tampak sinar matahari yang sudah tinggi.
"Astaga, jam berapa ini?" ucap Juna segera mencari ponselnya yang entah di mana.
Matanya tak kalah membulat seperti Reno, dia tak menyangka akan bangun terlambat seperti ini. Semua ini karena tamu mengerikan semalam.
Berulang kali Juna mengumpat dan menggedor pintu kamar mandi,
"Woy, cepet Ren. Gue ada rapat nih!" teriak Juna.
"Noh mandi sama banci, gara-gara Lo gue jadi telat bangun." gerutu Reno yang masih berada di dalam kamar mandi.
Karena tamu mengerikan semalam Reno dan Juna tak bisa tidur dengan nyenyak. Berulang kali mereka terbangun karena takut kalau pintu di dobrak paksa.
Setelah semuanya siap, dengan terburu-buru mereka berlarian keluar kost sambil mengancingkan celana dan baju mereka.
Reno segera naik motor di susul oleh Juna yang naik di bangku belakang, dengan kecepatan penuh mereka melewati gang yang sempit.
Reno sudah tak peduli dengan keselamatannya, yang jelas dalam waktu 15 menit dia harus sampai di kantor yang berjarak kurang lebih satu kilometer.
Belum lagi menerjang kemacetan kita yang akan meningkat saat jam pagi,
"Gila ya lo, pelan dikit. Gue belom nikah!" teriak Juna dengan gelagapan karena angin kencang masuk ke mulutnya.
"Lo belom nikah, lah gue belum kawin. Diem lo, ini semua gara-gara pacar dedemit Lo itu," ucap Reno masih emosi.
"Berhenti nggak nih, gue loncat nih!" teriak Juna yang semakin takut saat Reno mempercepat laju motor dan melewati mobil-mobil di depannya.
Beberapa kali Reno dan Juna di umpat oleh pengendara lain karena laju motornya yang ugal-ugalan.
Setelah melewati jalanan macet dan penuh, Reno dan Juna sampai juga di kantor. Saat ini wajah tampan Juna sudah seperti cucian baju yang baru saja keluar dari pengering.
Kusut dan penuh debu akibat kecepatan laju motor, Juna melangakhkan dengan terkuyung. Kepalanya pusing, telinganya dan matanya panas.
Jangan tanya mengapa, Reno hanya mempunya satu helm dan itu yang biasa dia pakai.
"Udah ayok masuk!" ucap Reno yang berlari kecil masuk ke kantor.
****
Di tepi jalan Geovana sedang menantikan sebuah taxi yang sudah dia pesan. Entah mengapa kendaraan yang dia pesan tidak segera datang.
Untuk kesekian kalinya, mobilnya selalu mogok di tengah perjalanan penting seperti ini. Padahal dia sudah berniat untuk datang lebih awal.
Bukan tak ada alasan, dia mau waktunya lebih panjang dengan Reno. Dia ingin mengenalnya lebih dekat, syukur kalau pria itu mau menerimanya menjadi kekasih.
Dia salut akan kasih sayang yang dia limpahkan kepada kedua orangtuanya, andai saja dia bisa menjalin hubungan baik dengannya.
Membayangkan nya saja pipi Geovana sudah bersemu merah.
Terdengar suara klakson yang membuyarkan lamunannya, matanya tertuju pada mobil yang mendadak berhenti di depannya.
Seorang pria turun dari mobil, dari perawakan sepertinya dia bukan orang sini.
"Kenapa Mbak mobilnya?" tanya pria tersebut.
"Mike," jawab pria itu singkat.
"Sudah panggil bengkel?" tanya Mike sambil melihat mesin mobil.
"Belum, tapi udah pesan taxi online kok," sahut Geovana.
Mike hanya manggut-manggut dan menutup kembali kap mobil, sejujurnya dia juga tidak tau tentang mesin mobil.
"Apakah kau perlu tumpangan, aku bisa mengantarmu," ucap Mike ramah.
"Tidak perlu," jawab Geovana singkat.
Mike masih enggan untuk pergi, dia tidak tega bila meninggalkan wanita sendirian di tepi jalan.
"Kau yakin?" tanya Mike memastikan.
"Sebelumnya terima kasih Tuan, saya yakin." jawab Geovana mantap.
"Baiklah," jawab Mike yang kembali naik ke dalam mobil.
Dengan berat hati dia melaju meninggalkan Geovana yang masih berdiri di tepi jalan dan berulang kali memainkan jarinya di ponselnya.
Mobil Mike hanya melaju beberapa ratus meter, dan berhenti. Setelah beberapa menit berlalu, beberapa orang bermotor datang mendekati mobil Geovana.
Di saat bersamaan Mike turun dari mobil dan mendekati mereka, melihat ketiga orang yang mendekatinya bersamaan Geovana sudah pasang kuda-kuda.
Tangannya sudah meraih bubuk merica yang selalu dia simpan di dalam tas,
"Baiklah Nona, kau bisa memakai jasa bengkelku. Mereka akan membantumu," ucap Mike melangkah mendekati Geovana.
Mendengar ucapan Mike membuat Geovana mengurungkan niatnya dan menutup kembali tasnya.
"Terima kasih Tuan, saya akan mengganti ongkos mereka," ucap Geovana sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oke akan aku tunggu," ucap Mike mengulurkan selembar kertas kotak kecil.
Geovana meraih kertas tersebut dan menaruh ke dalam tas, sedangkan Mike melangkah kembali menuju mobil.
****
Sedangkan di kantor seorang duduk di kursi besarnya, beberapa orang saling bertatap. Mereka masih bimbang akan keputusan yang dia ambil oleh bos besar mereka.
Mereka tak menutup dengan kejadian kantor beberapa waktu lalu, sejak meninggalnya Bu Asih, Pak Tyo kurang produktif.
Memang Mike dan Nadira menyelamatkan kantor, namun mereka pasti juga akan memindah hak milik perusahaan ini.
Seperti rumor beredar, mereka akan memindah kantor pusat ke kota berbeda. Sedangkan sebagian besar karyawan adalah penduduk tetap di kota ini.
Hal ini membuat beberapa karyawan menolak perpindahan pemilik perusahaan.
"Apakah Pak Tyo sudah memikirkannya lagi?" tanya Dino.
"Saya tau kegelisahannya kalian, meskipun perusahaan ini akan resmi milik Mike. Tapi aku akan berusaha agar dia tidak memindahkan kantor ini," ucap Tyo tegas.
****
"Ahh ... astaga capek banget," ucap Geovana yang masuk ke ruangan Clara tanpa permisi.
Kini di ruangan Clara ada dua meja dan satu kaca pembatas untuk membedakan ruangan. Untung saja Pak Kenzo mengabulkan permohonannya.
Kalau tidak, dia pasti akan segera risen dari kantor. Bayangkan saja, dia sudah mengurus banyak masalah masih harus di bebani mengurus bocah manja seperti Geovana.
Lihat saja, tidak ada tanggung jawab sama sekali. Ini hari keduanya bekerja dan dia sudah datang terlambat, dan tidak sopan saat masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Bu saya mengantar sarapan.''