
Reno melempar pandangannya ke jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dia harus segera bersiap, karena sebelum pergi ke rumah sakit. Dia harus menjemput Clara dulu.
Dengan melawan rasa malas, Reno segera menyibak selimutnya dan melangkah menuju kamar mandi. Karena kamar mandinya ada di luar, dia meraih alat mandi dan membuka pintu.
Setelah Reno siap, dia segera keluar dari kamar kostnya dan berdiri di tepi jalan. Seperti biasa, dia harus menunggu angkutan umum untuk sampai ke tempat tujuan.
Kali ini penampilan Reno cukup berbeda, dia memakai celana jeans hitam dan kaos oblong putih. Tidak lupa dia menambahkan kemeja kotak merah sebagai tambahan, karena memang cuaca cukup dingin.
Dia duduk di trotoar sambil menatap sepatu lapuknya, sepatu penuh kenangan saat dia masih duduk di sudut kampus.
Tak lama kemudian, angkutan umum yang dia tunggu sampai. Dia segera melambaikan tangannya dan naik, meninggalkan area kost kecilnya.
Sementara di rumah yang cukup megah, ada Clara yang menantikan kedatangan Reno dengan cemas. Berulang kali dia meremas bantal sofa yang ada di pangkuannya.
"Astaga, anak itu dimana sih?" ucap Clara sambil menghempaskan bantal yang ada di pangkuannya.
Biasanya Clara tidak mudah terpancing emosi seperti ini, hanya saja. Cobaan yang datang secara bersamaan membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan tenang.
Melihat Nonanya yang mulai resah, Pak Bejo mendekatinya dan mencoba menenangkan.
"Mungkin masih di jalan Non," ucap Pak Bejo.
"Emang rumahnya mana sih? planet Mars," ucap Clara dengan sebal.
Melihat mood Nonanya yang berantakan membuat Pak Bejo terdiam, karena semakin dia menenagkan. Semakin emosinya akan meledak m.
Ponselnya berdering kencang, dia menatap layar ponsel. Nama Mamanya terpampang disana, dengan hembusan nafas kesal Clara menggeser tombol hijau ke atas.
"Hallo Maa ..." ucap Clara lesu.
"Sayang, kamu kok lama sih?" tanya Mama Clara.
"Maaf Maa ... Clara tadi kesiangan. Bentar lagi sampai kok," ucap Clara.
"Yaudah, Mama tunggu yaa ... pastikan suami kamu ikut, kalau enggak ..." ucapan Mama terputus.
"Suamiku pasti datang Maa," sahut Clara dengan tawa renyah.
"Oke baby, Mama tunggu." ucap Clara.
Clara mematikan sambungan ponsel, ingin sekali dia menghubungi lelaki yang saat ini telah sah menjadi suaminya itu.
Sayangnya dia selalu lupa untuk meminta bertukar nomor dengannya, Clara semakin frustasi setelah melihat jam yang menunjukan pukul 9 pagi.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melangkah keluar rumah, emosinya sudah tidak dapat terbendung saat ini.
Niatnya dia ingin pergi ke kantor dan mencari data diri si sopir tersebut. Akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dia tunggu melangkah dengan lesu memasuki halaman rumahnya.
Dengan amarah yang masih meletup-letup Clara segera melangkah mendekati Reno, dia melihat pria itu terengah-engah dan basah kuyup dengan keringat.
"Kamu dari mana aja sih?!" tanya Clara dengan intonasi tinggi.
"Kamu taukan kita janjian jam berapa?" ucap Clara lagi.
"Kamu denger aku ngomong nggak?!" ucap Clara semakin emosi.
Reno masih terengah-engah, keringatnya sudah membasahi kaos putih yang dia pakai. Yang tanpa sengaja memamerkan bentuk otot roti sobek para idaman wanita.
Sesaat Clara terpesona dengan otot yang terlihat walau samar tersebut. Tapi dia segera tersadar dan melemparkan pandangannya.
"Maaf Bu, tadi angkot yang saya tumpangi mogok ..." ucap Reno tersela akibat nafasnya yang masih kembang-kempis.
"Ja-jadi saya harus dorong." ucap Reno.
Melihat penampilan Reno yang berantakan membuat Clara menyuruhnya untuk masuk, tak mungkin dia bertemu dengan mertuanya dengan keadaan lusuh dan berkeringat bseperti ini.
"Bersihkan dirimu, mamaku tidak akan setuju bila melihat dandanan seperti ini." ucap Clara melangkah masuk ke rumah.
Reno melangkah mengikuti langkah Clara, kesan pertama yang dia rasakan adalah. Mewah dan megah, dari semua perabotan yang tertata rapi. Sudah bisa di bayangkan bagaimana kekayaan keluarga Clara.
Masih jadi pertanyaan, mengapa Clara mau bekerja di Bank kecil. Sedangkan kekayaan keluarganya saja, mampu membeli bank tersebut.
Apakah ada orang yang tau tentang latar belakang Clara? Terlebih semua karyawan yang mencelanya.
Mata Reno terus menyapu tiap sudut ruangan, tak henti-hentinya dia memuji keindahan tiap sudut ruangan
Hingga tanpa dia sadari Clara sudah menghetikan langkanya dan tabrakan pun tak dapat dihindari.
"Aww!'' ucap Clara, yang di tabrak Reno dari belakang.
"Ma-maaf Bu," ucap Reno tersenyum kecil.
Bersambung.....