I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Selingkuh



Clara menghembuskan nafas lega, tatapannya menatap indah kupu-kupu yang bertebaran.


"Terimakasih, sudah bersedia membantuku." ucap Clara.


Reno hanya tersenyum, menatap Clara. Harusnya orang kantor tau bagaimana lembutnya wanita di hadapannya saat ini.


"Nyonya mengingatkanku sama Ibu saya di rumah, dia juga selalu menuntut saya untuk menikah dengan cepat," ucap Reno.


Mendengar ucapan Reno membuat Clara membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau pria di hadapannya memiliki tekanan yang sama.


Jelas saja dia langsung menolongnya, mungkin dia tau seberapa stress otaknya saat itu. Di tambah kondisi Mama yang memburuk.


"Udah punya calon?" tanya Clara.


Reno hanya tersenyum kecut dan melempar pandangan, dia mengembuskan nafas kasar.


"Udah, tapi sekarang nggak." jawab Reno.


"Maksudnya?" tanya Clara mengerutkan alisnya.


"Pacar saya tunangan sama cowok lain Bu, dia tidak bisa hidup dengan saya. Mungkin memang saya terlalu menuntut," ucap Reno menjelaskan.


Menuntut? Seorang sopir yang memiliki kepribadian lembut dan irit ngobrol ini bisa menuntut apa? Clara tak habis pikir dengan penjelasan Reno.


Melihat raut wajah Clara yang tidak percaya, membuat Reno berkisah lebih lanjut.


"Saya hanya orang rendahan Bu, Bapak-ibu saya di kampung seorang petani biasa. Tak ada yang istimewa di kehidupan saya, tapi saya meminta lebih. Saya pernah bilang kalau setelah menikah, saya mau istri saya berada di rumah mengurus ladang bersamaku dan kedua orang tua." ucap Reno sambil menatap jauh ke arah kolam kecil.


Raga Reno duduk bersama Clara, tapi tidak dengan otaknya. Isi kepalanya melayang jauh membayangkan saat-saat dirinya menggapai harapan bersama mantannya dulu.


Terlukis senyum tipis walau hanya sesaat, dia tersadar dari lamunan dan melempar pandangan ke arah Clara.


"Maaf Bu, jadi curhat." ucap Reno menundukkan kepalanya.


"Sakit ya?" tanya Clara tersenyum kecil.


Reno hanya tersenyum kecut, pasti Clara dapat menebak sesakit apa perasaan Reno saat itu. Karena Reno tau saat dia mengigau saat terjebak di lift bersamanya.


Melihat Clara yang hancur saat itu membuat Reno seperti berkaca, rasa sakit yang Clara alami sama persisi sepertinya. Dan ternyata nasipnya juga tidak jauh berbeda.


Mendengar pertanyaan Reno membuat Clara tersentak, dia tak menyangka kalau Reno akan berani menanyakan hal ini.


Melihat wajah Clara dengan ekspresi aneh, membuat Reno salah tingkah.


"Maaf Bu, harusnya saya tidak menanyakan hal ini." ucap Reno meralat pertanyaannya.


Clara hanya tersenyum kecil, ternyata sopir ini lumayan enak di ajak mengobrol. Emosi? Harusnya sih dia meledak-ledak, tepi entah mengapa? moodnya saat ini sedang baik-baik saja.


"Dia selingkuh, apa setiap cowok menginginkan **** di setiap hubungan?" tanya Clara tanpa ekspresi.


Kini Reno yang di buat ternganga oleh pertanyaan Clara, Bos nya bisa bertanya demikian? Bahkan tanpa filter sedikitpun.


Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Bahkan dia belum pernah menyentuh tubuh kekasihnya dulu, kalau dia bilang tidak. Itupun pasti salah, Juna saja gaya pacarannya sudah sangat di luar batas.


Clara melempar pandangannya, ketika melihat Reno diam membisu. Dia menelan liurnya dan berusaha berpikir positif, ingin sekali dia menepuk mulutnya yang tidak ada rem saat ini.


Bisa-bisanya dia bertanya hal intim dengan orang yang baru dia kenal, terlebih tadi pagi dia sudah menyaksikan betapa indahnya sisi tubuh pria di sambungnya ini.


"Maaf, saya tidak bermaksud ..." ucap Clara.


Reno hanya tersenyum kecil, sekarang dia tau kenapa kekasihnya dulu sering marah padanya. Mungkin karena pikirannya sama seperti pikiran Bos nya saat ini.


"Apakah setiap wanita memiliki pikiran seperti ini terhadap kekasihnya?" tanya Reno sambil melempar senyum.


"Enggak, eh iya ..." jawab Clara salah tingkah.


"Pantas saja kekasih saya dulu sering marah," kekeh Reno.


"Emang kenapa?" tanya Clara penasaran.


"Saat bertemu, saya tidak pernah menyentuhnya. Padahal Saya hanya menjaga sesuatu yang harus di jaga kan?" tanya Reno melempar senyum.


Clara menatap lekat raut wajah Reno, tak ada raut wajah kebohongan. Tampak ketulusan terpancar dari matanya.


Astaga, cowok seperti ini ternyata masih ada di muka bumi ini. harusnya dia bertemu dengan sopir ini dulu, setidaknya dia tidak sakit hati seperti ini.


Sampai tiba-tiba Clara merasakan sesuatu yang menempel di kakinya ...