I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Part > 39



Reno dan Gadis tersebut terjatuh, mata mereka saling bertatapan sesaat. Deringan ponsel yang Reno pengang membuyarkan lamunannya.


"Maaf Mbak, saya masih ada urusan bentar." ucap Reno segera bangkit.


Reno menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga kanan.


"Maaf Bu, seben ..."


"Aku tunggu di cafe Gelato, cepet nggak pake' lama." sahut Clara menyela ucapan Reno.


Belum sempat Reno menjawab ucapannya ponsel terputus sepihak, dia mengerutkan alis dan menggeleng lirih.


'Astaghfirullah, sabar Reno.' batin Reno mengelus dadanya.


Untung saja dia hanya suami palsu, dia tidak bisa membayangkan kalau Clara adalah istri sebenarnya. Pasti yang di katakan Juna benar, hidupnya akan seperti di neraka.


Reno segera menyelipkan ponselnya ke saku celana, kemudian memutar badannya. Matanya terbelalak ketika sosok yang di tolongnya sudah tak ada di tempat.


"Astaghfirullah, Allahuakbar." ucap Reno lantang.


"Itu tadi manusia apa dedemit, cepet banget ngilangnya." ucap Reno sambil menyapu pandangan ke seluruh arah.


Berulang kali Reno mengucek dan mengedipkan matanya, dia masih tak percaya kalau gadis itu menghilang. Apa ini khayalan? Tapi semua seperti nyata.


Mendadak bulu kuduk Reno berdiri, Dia segera melangkah pergi dari loteng sebelum Clara akan menelfon nya kembali.


Reno mengayunkan kakinya cepat, dia cukup syok dengan kejadian yang baru saja dia alami. Bukan tanpa sebab, karena memang di kantornya kerap kali terlihat makhluk astral. Dia tidak pernah percaya dengan rumor tersebut, hingga detik ini.


Hingga Reno sampai di lantai bawah, dia membuka pintu dan segera melangkah ke luar kantor.


"Hello Pak direktur, kau mau kemana?" tanya Juna sembari melempar senyum penuh arti.


"Jaga ya ucapanmu, kalau nggak!" Reno melangkah mendekati Juna.


"Maaf Pak direktur jangan pecat saya," ucap Juna menyatukan kedua tangannya dan memohon.


"Tauk ah, terserah lo. Dasar gila!" ucap Reno yang melangkah menjauh.


"Eh mau kemana lo, kita harus cabut sekarang Pak direktur. Noh ada kerjaan," teriak Juna.


Reno menghentikan langkahnya dan memutar badan, dia menatap lekat Juna dan melempar pandangan ke arah mobilnya.


Benar saja, beberapa satpam sudah menaruh beberapa brankas yang berisi uang di bagasi mobil. Di sana juga berdiri 2 orang polisi yang akan mengawal mereka.


Juna berkacak pinggang dan melempar senyum penuh kemenangan ke arah Reno.


"Udah gih, kabarin Bu direkturnya. Bilang kalau Papa lagi mau kerja dulu," ucap Juna sambil melangkah menjauh.


Ingin sekali Reno meremas mulut Juna yang bawel itu, tumben sekali dia bersikap seperti ini. Sudah seperti emak-emak komplek yang suka ghibah.


Tak ada pilihan lain, Reno segera meraih ponsel dan mencari nomor Clara dan menggeser tombol hijau.


"Maaf Bu, saya masih ada kerjaan. Pulang kerja saya akan ke rumah Ibu," ucap Reno singkat kemudian mematikan ponselnya.


Dari kejauhan sudah ada Juna yang melipat kedua tangan di dadanya, dia tersenyum menatap Reno yang melangkah mendekat.


Entah mengapa untuk hari ini Reno cukup sebal melihat senyuman Juna, dia segera naik ke mobil dan di susul Juna yang duduk di bangku depan. Sedangkan kedua polisi duduk di bangku belakang.


Reno menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan area kantor, di susul dengan sebuah taxi yang juga datang.


Seorang wanita segera masuk ke dalam taxi tersebut dengan terburu-buru. Terdengar suara yang memanggil nama gadis itu. Namun dia tak menghiraukan dan tetap melaju dengan taxi yang sudah di pesannya.


***


Di sisi lain, Clara sedang duduk di cafe. Wajanhanya berubah merah padam setelah mendapat kabar dari Reno.


"Mau aku temani cantik?" tanya seorang pria yang tiba-tiba duduk di hadapan Clara.