I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Sama Saja



Tyo duduk bersandar di kursinya, tatapannya menatap langit kantor. Dia tidak tau kenapa rumah tangganya semakin rumit.


Dia akui, tanpa adanya Nadira dia tak bis menjalankan dengan baik perusahaan ini. Selama ini dia sudah banyak membantu.


Tidak salah kalau Mike bersikap demikian, anak mana yang tega Mamanya di jadikan budak.


"Buat surat keputusan sekarang," perintah Tyo dengan suara berat.


Dino tak kunjung beralih dari langkanya, dia masih mencoba memastikan apa yang dia dengar benar adanya.


Tyo memijat keningnya, kepalanya seakan berdenyut dan hampir pecah saat ini.


"Apa telingamu tuli?" ucap Tyo menahan amarah.


"Tuan, tapi Mike bukalah putra kandung Anda," jawab Dino lirih.


"Ya aku tau itu," ucap Tyo menghela napas panjang, tak ada yang dapat dia perbuat lagi. Dia tak mau lebih egois


****


Sinar matahari mulai redup. Langit telah menjadi warna oren. Seorang pria masih setia duduk di parkiran mobil.


Kepalanya celingukan menatap lobi kantor, berulang kali dia memastikan kalau seorang yang di tunggu menampakkan batang hidungnya.


Untuk mengatasi rasa bosannya dia memilih merogoh benda pipih yang terselip di sakunya. Jemarinya mulai menari indah di layar gawai.


Tampak sebuah foto wanita paruh baya di sana,


"Do'akan Reno ya Bu, semoga dia segera membuka hatinya untukku. Meskipun ini lelucon baginya, namun ini serius untukku." bisik Reno pada foto tersebut.


"Loh, masih di ini?" tanya Geovana yang melangkah mendekat dan mengejutkan Reno.


"Eh, iya Mbak." jawab Reno sambil melempar senyum.


"Nungguin aku ya?" sahut Geovana dengan wajah memerah.


Mendengar itu Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa dia sangat berbeda dari pertama awal pertemuaan mereka.


Reno hanya bisa melempar senyum kecut dan membuang muka, semoga saja gadis ini segera pergi.


Sayangnya tidak, beberapa menit berlalu, dia hanya berdiri dan menatap Reno. Dan pada detik berikutnya Reno mulai merasa risih.


"Apa Pak Kenzo tidak menjemput Mbaknya?' tanya Reno ramah,


Ingin sekali dia mengusirnya, namun apalah daya. Hal itu sama dengan bunuh diri bukan?


"Kau ingin mengantarku pulang?" Geovana Menatap Reno dengan mata berbinar.


"Harusnya sih aku di jemput oleh supir, tapi tak apa. akan aku telfon dia supaya tidak menjemput." lanjut gadis tersebut sambil meraih gawainya yang ada di dalam tas.


Reno terbelalak ketika melihat apa yang dia usahakan tak sesuai harapan. Kenapa melenceng jauh dari perkiraan?


Di saat yang bersamaan, gadis yang selama beberapa jam dia tunggu keluar dari dalam kantor, dan melangkah menuju parkiran.


Tampak wajah yang lebih merah seperti biasanya, bibirnya membentuk garis lurus dan matanya memancarkan aura negatif.


Seharian ini moodnya sudah rusak dan di tambah lagi orang aneh yang selalu menganggu pekerjaannya.


Setiap orang pasti akan senang bila memiliki sekertaris pribadi, namun tidak dirinya. Dia malah sangat kerepotan menghadapinya dari pada tugasnya mengurus ratusan data nasabah.


Clara memijat tengkuknya dan melempar pandangan ke depan, tampak dua orang yang sedang asik mengobrol dengan rona bahagia terpancar di keduanya.


"Hallo Pak, tidak usah menjemput ku. Aku di antar oleh teman kantor," ucapnya riang.


Mendengar itu Reno memijat keningnya dan menarik napas dalam.


"Jadi Nona akan di antar Reno?" tanya Clara yang membuat Reno terperanjat karena tak mengetahui keberadaanya.


Reno membalik badan, sudah ada Clara dengan tatapan mematikannya yang tidak muncul beberapa waktu ini.


"Bu Clara, saya sudah lama menunggu. Mari saya antar dulu." ucap Reno segera melangkah menuju motor bututnya yang baru saja dia bawa dari desa.


"Tidak bisa! kau mengantarku dulu," sela Geovana.


Clara hanya memutar mata, dia mulai jengah dengan keadaan ini. Entah mengapa mengetahui suami palsunya mengantar wanita lain, amarahnya seketika meledak.


Namun tetap gengsi nomor satu, dia tidak akan mengakui kalau dirinya saat ini cemburu.


Clara melipat kedua tangannya dan menatap Reno tajam,


"Sepertinya harimu sangat beruntung, silahkan antar Nona Geovana. Pastikan dia selamat sampai tujuan." ucap Clara dengan tatapan tajam yang menusuk jantung Reno.


"Baik, terima kasih atas perhatiannya." ucap Geovana menarik tangan Reno menjauh.


****


Reno membuka pintu kamar Clara, tampak Clara yang masih berkutat dengan laptop di hadapannya. Reno melangkah masuk kamar dan menutup pintu.


"Maaf Bu, tadi Mbak Geovana ..." Reno berusaha menjelaskan.


"Kenapa kemari?" tanya Clara singkat.


"Bukankah kita sudah tidak ada hubungan lagi?" lanjut Clara masih dengan posisi yang sama.


"Sa-Saya mau minta maaf." sahut Reno.


Clara menghentikan jemarinya yang bermain di keyboard dan memutar kursinya, dia menatap lekat pria yang masih berdiri membelakangi pintu.


"Minta maaf?" alis Clara berkerut.


"Memang kau melakukan kesalahan?" lanjut Clara sambil tersenyum kecut dan memutar kursinya lagi.


Reno melangkah mendekat dan memutar kursi Clara sehingga mereka saling berhadapan. Clara sedikit mendongakkan kepalanya,


"Apa yang kau lakukan, kau bisa pergi sekarang." ucap Clara menatap lekat manik mata Reno.


Reno tak bergeming, dia masih setia menatap keindahan mata di hadapannya. Jarak mereka hanya sekian inci saja, hingga hembusan napas hangat Reno bisa di rasakan begitu jelas pada kulit wajah Clara.


Clara meneguk liurnya, baru kali ini dia sedekat ini dengan seorang pria. Matanya semakin membulat saat Reno perlahan me dekat.


Reflek Clara mendaratkan kedua telapak tangannya ke dada Reno dan berusaha mendorongnya.


"Aku sudah mengalah beberapa hari ini, jadi giliranmu untuk ikut permainanku." ucap Reno lirih.


Tanpa permisi Reno mendaratkan kecupan lembut ke bibir ranum Clara, tak ada perlawanan. Clara masih terpaku mendapati serangan yang mendadak ini.


Reno melepas kecupannya dan membelai lembut pipi Clara,


"Terserah kau mau anggap pernikahan ini apa, yang jelas aku serius dengan semua ini." bisik Reno.


Clara mendorong tubu Reno dan berbalik, matanya berkaca. Entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar ucapan Reno.


"Pergi! Aku mau istirahat." ucap Clara lirih.


"Tidak, biarkan aku menjelaskan semuanya. Aku tidak melakukan apapun bersama adik Tuan Kenzo." Reno memeluk Clara dari belakang.


Pelukan Reno seolah mengantarkan sengatan listrik yang menyengat sampai ke ubun-ubun, darahnya seolah mendidih dan wajahnya mulai memerah.


Dengan sisa kekuatannya Clara melepaskan pelukan Reno,


"Diam, 5 menit saja. Dengarkan penjelasanku baik-baik." pinta Reno dengan suara memohon.


"Awalnya aku menyetujui semua ini karena kasihan denganmu, hidupmu sangat sulit di kantor. Banyak orang yang membencimu." Reno menghela napas panjang.


Embusan napas Reno membuat bulu di tengkuk Clara berdiri seketika dan membangkitkan getaran yang tak bisa di jelaskan.


"Kau pingsan, kau mengigau ... aku pikir aku hanya bersimpati kepadamu, terlebih saat melihat Mamamu berada di rumah sakit." Lanjut Reno.


Mendengar ucapan Reno membuat luka yang tadinya sudah sembuh terbuka kembali,


"Kau sudah terlalu jauh, pergilah sekarang." Clara melepaskan pelukan.


Semakin Clara mencoba membuka pelukan Reno, semakin kuat Reno melilit pinggang kecil Clara dengan kedua tangannya.


"Tidak, kali ini kau yang harus dengar aku!" bantah Reno.


"Aku sudah berusaha melupakan perasaan ini, tapi aku semakin tersiksa. Dan aku tak tersiksa sendiri, kalau kita awali semua ini sama-sama. Bukankah seharusnya kita dapat mengakhirinya sama-sama pula?" ucap Reno mengecup pundak Clara.


"Sejak kapan kau seberani ini padaku?" sahut Clara dengan suara datar.


"Sejak aku menahan hasratku di ranjang kemarin," Ucap Reno tanpa basa-basi.


Clara membulatkan matanya, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Ternyata kau sama saja dengan pria lain, mesum." ucap Clara memutar tubuhnya.


Reno tersenyum kecil, dia semakin mendekatkan wajahnya saat posisi Clara saat ini berada tepat di hadapannya. Bahkan tak ada jarak antara tubuh mereka.


Melihat wajah Reno yang terlalu dekat, Clara segera membuang wajahnya. Dia tidak mau kecolongan lagi,


"Iya, aku juga pria normal yang bisa terangsang dengan lekukan indah ini. Hanya aku bisa menahan sampai batas waktu tertentu, dan tidak sembarangan melampiaskannya." jawab Reno.


Clara mengangkat sikut dan mendorongnya keras ke dada Reno,


"Arghh!"


Seketika Reno melepas pelukannya dan minder beberapa langkah sambil mengelus dadanya yang sakit.


Dia hanya meringis sebentar dan melempar senyum ke arah Clara, seketika dirinya sadar kalau sudah keterlaluan.


"Baiklah, aku pergi dulu. Besok aku tidak akan mendekati Adik pak Kenzo lagi." ucap Reno segera keluar kamar Clara.