
Reno dan Clara duduk saling berhadapan, mereka saat ini berada di sebuah Cafe di tepi jalan.
Terdengar helaan nafas kasar dari Clara, dia melempar pandangan ke Reno. Seolah menantikan jawaban akan prihal masalah mereka.
Otak Clara saat ini sedang buntu dan tak dapat berpikir jernih, bahkan dia tak pernah berpikir kalau akan ada resepsi.
Clara menaruh kepalnya di atas meja, sesekali terdengar benturan lirih.
"Argh, Mama kenapa sih?" ucap Clara mengerang.
Sementara Reno hanya terdiam menatap Clara yang sedang frustasi dengan masalah ini, jangankan Clara. Bahkan dia juga syok mendengar permintaan Mama Clara tadi.
Memikirkan hubungannya dengan Clara saja membuat tidurnya tidak nyenyak, apa lagi harus di adakan resepsi.
Reno mengacak rambutnya, mengatur nafasnya dan mencoba berpikir jernih.
"Saya harus gimana ya Bu?" tanya Reno, menatap Clara.
"Nggak tau, stress banget gue," ucap Clara semakin frustasi.
"Maaf Bu, saya mau tanya," ucap Reno.
"Apa?" jawab Clara singkat, matanya menatap tajam ke arah Reno.
Melihat tatapan Clara membuat Reno mengurungkan niatnya, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat.
"Bisa kita kembali ke kantor, saya tidak enak dengan orang kantor. Kabar pernikahan Ibu sudah di ketahui sebagian karyawan." ucap Reno.
"Hah, cepet banget. Dasar paparazi gila." ucap Clara mengumpat.
Padahal dia bukanlah orang baik di kantor, entah mengapa masih ada yang memperhatikan nya? Bahkan pernikahannya bisa tercium begitu cepat.
Mendengar ini, Clara menghembuskan nafas kesal. Ingin sekali dia berendam air es, akibat masalah yang datang bertubi-tubi.
Clara dan Reno memutuskan untuk segera kembali ke kantor, sebelum ada seorang yang kemungkinan akan menguntit mereka.
Mereka naik ke mobil dan melaju kembali ke kantor, sesampainya di kantor mereka kembali pada tugas masing-masing. Reno melangkah ke dapur, dan Clara menuju kantornya.
Semua berjalan seperti biasa, seperti tak ada suatu hal terjadi dia antara mereka.
"Dari mana Lo?" tanya Juna.
"Emang siapa yang sakit?" tanya Juna semakin kepo.
"Mamanya, napa sih? Heboh amat." ucap Reno.
Sebelum Juna bertanya lebih lanjut, Reno memilih untuk pergi. Semakin Juna banyak tanya, takutnya rahasia mereka akan segera terbongkar.
Melihat Reno melangkah pergi, Juna segera menyusulnya yang sudah kian menjauh. Sambil sesekali memanggil, meskipun tidak di pedulikan oleh Reno.
****
Di sisi kantor yang berbeda, ada Clara yang duduk di depan Laptopnya. Berulang kali dia memijat pangkal hidungnya.
Belum selesai dengan masalahnya, datang masalah baru lagi. Ponselnya berdering nyaring, tanpa dia melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel. Dia segera menggeser tombol hijau begitu saja.
"Hallo siapa?" tanya Clara dengan nada sewot.
"Hallo sayangku," jawab seorang di ujung sambungan.
Clara segera memutus sambungan, otaknya sedang tidak ingin menambah masalah baru lagi.
Berulang kali ponsel berdering, karena emosi yang mulai meluap. Clara segera mematikan ponselnya dan melemparkannya begitu saja.
"Astaga, kenapa orang gila itu muncul lagi." ucap Clara semakin emosi.
****
Sedangkan di rumah sakit, terlihat dua orang paruh baya sedang mengobrol serius.
"Kamu yakin sama rencana ini Ma?" tanya Papa Clara.
"Yakin lah, Mama sudah nyuruh Daniel untuk mencari info supir itu." ucap Mama Clara yakin.
"Apa kata rekan Papa nanti, kalau Putri kesayanganku menikah dengan seorang supir?" tanya Papa Clara.
"Itu semua sudah mama atur, Papa tinggal duduk manis dan menikmati permainan Mama," ucap Mama tersenyum penuh kemenangan.
BERSAMBUNG....