I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Ikut Denganku



Setelah menahan rasa malunya dan berperang dengan bayangan otot kotak yang menari-nari di kepalanya.


Clara dan Reno telah sampai di rumah sakit, mereka segera turun dan melangkah menuju kamar Mama. Mereka sudah sangat terlambat saat ini.


Karena Clara cukup gugup, dia berlari kecil dan tak sengaja terpleset. Melihat itu Reno reflek meraih pinggang Clara.


Sejenak Clara terdiam dan membatu, dia sedikit terkejut dengan kejadian yang begitu cepat ini. Untung saja ada Reno, kalau tidak. Mungkin wajahnya sudah mencium lantai.


"Maaf Bu, saya nggak sengaja." ucap Reno.


"Clara, bukan Bu!" ucap Clara sambil berdiri kembali.


"Iya Clara, maaf. Tidak terbiasa," ucap Reno menundukkan pandangannya.


"Selain kata 'Maaf' apa tidak ada kata lain? Pusing aku dengerin." ucap Clara mendengus kasar.


"Baik Clara," ucap Reno.


Melihat perilaku Reno membuat Clara hilang kesabaran, apakah sedikit saja pria ini tidak bisa akting?


Clara meraih janggut Reno dan menuntunnya untuk menatap matanya,


"Aku ini istrimu, jadi please ... jangan terlalu formal. Kau sudah terlanjur basah dan lanjutkan tugasmu dengan baik, ok." ucap Clara tersenyum manis.


Untuk pertama kalinya, Reno melihat senyum seindah ini di wajahnya. Raut yang biasanya masam, menjadi begitu hangat saat ini.


"Ck ... ck ... pantesan lama," kekeh Mama yang tiba-tiba datang dari belakang.


Reflek Clara menurunkan tangannya dari janggut Reno, sedangkan Reno membuang wajahnya.


"Mama, kok udah jalan kesini?" tanya Clara memeluk Mamanya.


"Mama sudah lama nunggu di kamar, bosen tau'." ucap Mama memanyunkan bibirnya.


"Oke, jadi semua sudah komplit. Ayo kita pulang." ucap Papa penuh semangat.


Mereka melangakhkan menyusuri lorong, Reno segera meraih tas besar yang ada di tangan Papa Clara.


Tanpa dia sadari, Papa dan Mama Clara sudah memperhatikan penampilan Reno dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepertinya perbedaannya sangat mencolok, di bandingkan dengan seragam khas sopir yang biasa dia pakai.


"Sepertinya ada yang berbeda," ucap Mama menatap Reno.


"Nggak Maa, udah jalan yuk." ucap Clara segera menggandeng tangan Mamanya untuk melangkah lebih dulu.


Jantung Clara sudah terpacu saat mendengar perkataan mamanya, semoga saja Mamanya tidak langsung tau pakaian siapa yang di pakai Reno saat ini.


Mereka segera naik mobil, dan melaju meninggalkan rumah sakit. Clara duduk di bangku belakangan dengan Mamanya, sedangkan Reno di dampingi Papa Clara di kursi depan.


"Kamu kerja di mana?" tanya Papa Reno.


"Di kantor sebelah Paa ... dekat kantorku," sahut Clara.


Reno hanya mengangguk dan melempar senyum ke Papa Clara, lebih baik saat ini dia membungkam mulutnya dari pada masalah semakin rumit.


"Loh, terus ketemunya gimana? Katanya Pak Bejo sama Mbok Yem, kamu pernah ke rumah nganter Clara pingsan." ucap Papa Clara mengingat.


"Itu Paa, kan Reno sering di suruh buat ke kantorku buat minta tanda tangan." sahut Clara lagi.


"Emang kantor Reno bergerak di bidang apa? kok bisa minta tanda tangan ke Bank tempat kamu kerja?" tanya Papa Clara semakin penasaran.


Seketika Clara kehabisan jawaban, otaknya sudah tak mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Papanya.


Reno masih menatap jalanan yang tidak terlalu ramai, setelah melewati tikungan, Reno mulai mengucapkan sesuatu.


Clara menghembuskan nafas lega, dia tak menyangka pria polos di depannya bisa menjawab pertanyaan rumit ini.


Clara tersenyum lebar sambil memeluk Mama yang duduk di sampingnya, berulang kali dia mencium tangan dan pipi Mamanya.


Belakangan ini dia sangat khawatir akan kesehatan Mamanya, dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.


"Mama janji ya, jaga makan dan kesehatan," ucap Clara dengan mata berkaca.


Mama Clara mengecup pucuk kepala putrinya, meskipun dia bukan terlahir dari rahimnya. Tapi dia merasakan kasih sayang yang begitu tulus.


"Mama janji, sebelum Mama lihat cucu Mama. Mama nggak akan mati." ucap Mama Clara.


"Mama, pamali. Nggak boleh bilang gitu, Mama akan terus hidup sampai cucu Mama punya cucu." ucap Clara tersenyum haru.


"Kamu tuh bisa aja," ucap Mama Clara memeluk erat putrinya.


Melihat pemandangan di belakang kedua lelaki yang duduk di depan sibuk dengan pemikiran masing-masing, mereka terharu melihat momen ini.


Papa Clara sangat bersyukur melihat istrinya memiliki Semangat hidup lagi, setelah anak-anak mereka sibuk dengan kehidupan nya masingmasing.


Sementara Reno, dia sangat terpukau melihat sosok lain dari Clara. Seorang yang sangat tegas dan menakutkan di kantor, ternyata begitu sangat manis dan lucu.


Kalau saja sikapnya juga seperti ini di kantor? Pasti semua teman kantor akan senang. Dan yang pasti, tak akan mengucilkannya.


"Kita mampir makan dulu ya?" tanya Mama, menatap Clara dengan wajah memelas.


Sebenarnya Clara sangat berat untuk menyetujuinya, tapi melihat mamanya yang sudah berjuang keras dengan sakitnya. Bukankah dia perlu di beri hadiah?


Clara menatap lekat Mamanya dengan tatapan memicing.


"Emang Mama mau kemana?" tanya Clara.


"Mau makan soto bening, di ujung jalan situ loh," ucap Mama Clara sambil menunjuk ujung jalan.


Clara menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat pada Reno untuk berhenti di persimpangan depan.


Setelah sampai di tempat tujuan, Reno segera menepikan mobilnya. Satu persatu turun dari mobil. Mereka melangkah masuk ke sebuah lapak soto sederhana.


Meskipun keluarga mereka kaya raya, tapi. Tak sedikitpun mereka mengumbar kekayaannya. Dimanapun tempat makannya, asal bersih dan higienis. Tak menjadi masalah bagi keluarga Clara.


Mereka memesan 4 porsi soto dan es teh, sama seperti orang biasa. Mereka manak bersama, sesekali bersenda gurau.


Reno hanya terdiam di samping Clara, dia masih belum punya nyali yang besar untuk ikut bergabung dengan obrolan mereka.


Kesan pertama yang dia dapatkan hari ini, setidaknya hari-hari kedepan akan lebih baik. Karena orang tua Clara, mertuanya. Sangatlah baik.


Setelah selesai dengan acara makan, mereka naik ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Karena jarak yang tidak terlalu jauh. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di rumah.


Pak Bejo dan Mbok Yem sudah menunggu kedatangan mereka, terlebih Mbok Yem. Dialah yang paling khawatir di antara semua orang.


Melihat Nyonya yang sudah sehat, membuat mata Mbok Yem berkaca. Mama Clara segera melangkah mendekati dan memeluknya erat.


"Jangan nangis dong Mbok, ayuk kita kangen-kangenan di kamar." ucap Mama Clara melangkah masuk.


Sedangkan Papa Clara sudah masuk dari tadi, karena kelelahan. Pak Bejo mengambil tas besar dan membawanya masuk ke dalam rumah, kini tinggal Reno dan Clara yang ada di teras rumah.


"Ikut denganku," ucap Clara melangkah menuju taman di sudut rumah.


Clara duduk di bangku taman, di hadapannya ada sebuah kolam ikan tidak terlalu besar. Ada beberapa ikan warna-warni yang berenang di dalamnya.


Di samping kolang tersebut ada tumbuhan hijau yang menambah kesan sejuk pada taman ini, Clara menik