I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Bab 62



Reno menyembulkan kepalanya di balik pintu sambil menyembunyikan sebungkus sarapan di tangganya, dia hanya tak enak hati bila langsung masuk.


Di ruangan sudah ada Clara dan Geovana di sampingnya, Reno sedikit terkejut karena perubahan tata ruangan.


"Maaf Bu, sarapannya," ucap Reno masuk keruangan Clara.


Mendengar suara Reno, Geovana segera bangkit dari duduknya dan melangkah mendekatinya. tanpa pikir panjang dia merebut kantong keresek yang hendak di berikan kepada Clara.


"Bisakah kau sopan sedikit? Ini punyaku<" ucap Clara yang merebut kembali kantong keresek pemberian Reno.


Melihat Clara yang mulai berani melawannya, Geovana kembai merebut kantong tersebut, hingga terjadilah aksi saing rebut.


"Maaf Nona, Bu Clara ... bisakah kalian tak berebut, saya akan beli satu lagi untuk kalian." ucap Reno berusaha melerai.


"TIDAK," ucap mereka serentak.


Reno terdiam, dia tak mau pertengkaran ini semakin menjadi. Akhirnya dia memilih merebut kantong pelastik itu kembali.


"Maaf, sepertinya saya lapar, jadi nasi bungkus ini untuk saya," ucap Reno yang segera kabur dengan langkah seribunya.


Clara dan Geovana saling bertatapan. Tampak api amarah yang terpancar dari keduanya.


"Jauhi Reno, atau ..." ucapan Clara terhenti, tak mungkin dia mengutarakan rasa cemburunya terang-terangan seperti ini.


"Atau apa? Memang siapa Reno? Pacarmu, suamimu. Bahkan kalaupun dia adalah suamimu aku tidak akan percaya. Sebelum ada janur kuning melengkung, Reno milik umum. Mengerti!"ucap Geovana yang kemudiaan melangkah keluar ruangan dan menyusul Reno.


Clara semakin panas mendengar ucapan sekertaris centilnya itu. Apa dosanya sampai di harus di hadapkan dengan masalah manusia aneh seperti Geovana.


Sementara, Geovana sedang berusaha mengejar Reno yang beberapa langkah di depannya, langkahnya sangat cepat dan menghilang di balik koridor kantor.


Geovana harus menelan pil kecewa karena pria yang dia kejar menghilang begitu saja. Dengan berat hati dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya.


"Dari mana aja sih lo, main ngilang aja, mana makanan belom di bayar lagi," keluh Juna yang menatap wajah kusut Reno.


Reno tak menjawab, dia duduk sambil membuka pelastik yang sudah tercabik-cabik, untung saja nasi bungkusnya masih selamat.


"Lo habis berantem sama kucing?" tanya Juna yang melihat kantong plastik reno sudah babak belur.


"Iya, habis duet. lawan dua macan." jawab Reno asal.


"Dasar gila lo. Habisin tuh, habis ini kita berangkat, nunggu pak Ridwan datang dulu." ucap Juna yang melangkah masuk kembali ke dalam kantor.


****


Di tempat yang berbeda, seorang sedang memimpin rapat. semua anggota memperhatikan engan seksama apa isi pidato bos besarnya.


semua berjalan lancar, hingga saatnya tiba. jantung semua anggota mulai berdegup kencang saat Mike mulai mengucapkan kata sambutan.


semua anggota saling pandang, keringat mereka mulai bercucuran menantikan topik ini pada rapat kali ini.


Setelah Mike selesai dengan sambutannya, dia duduk kembali. papan hitam di belakang Tyo berubah menjadi layar bioskop yang menampakkan deretan huruf.


"Seperti yang kita tau, rapat kali ini membahas perpindahan kepemilikan perusahaan. Posisi saya akan di gantikan dengan putra saya Mike, kalian juga pasti tau bagaimana kinerja Mike selama ini bukan?" tanya Tyo melempar pandangan kesemua anggota.


Tak ada tanggapan serius, Tyo hanya menerima senyum keterpaksaan dari wajah semua staff pentingnya.


"Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan Mike seperti biasanya," lanjut Tyo masih menatap semua karyawannya satu persatu.


Mendengar suara serius Mike, ruangan tiba-tiba menjadi sesak seola semua oksigen hanya di hirup oleh Mike seorang.


Semua mulut komat-kamit berdo'a agar semua yang mereka khawatirkan kemarin tidak menjadi kenyataan.


Banyak sekali kepala keluarga yang mengandalkan gaji pada perusahaan ini, terlebih bagian pabrik.


"Saya tidak dapat menerima amanah ini," ucap Mike tegas.


Semua mata terbelalak ketika mendengar ucapan Mike, bagaiman bisa ini terjadi? Tyo bangkit dari kursinya dan segera menutup rapat ini sebelum suasana lebih kacau lagi.


"Mungkin Putra saya sedikit kelelahan, jadi rapat selesai. Kalian bisa pergi sekarang." ucap Tyo.


Semua karyawan saling bertatapan, mungkin mereka bisa bernapas lega, namun akan ada banyak cobaan lagi bila sampai Mike tidak lagi di perusahaan.


Satu persatu karyawan meninggalkan ruang rapat, hingga menyisakan dua orang yanng berbeda generasi ini.


"Apa maksudmu?" tanya Tyo geram.


Mike tak langsung menjawab, dia duduk di kursinya kembali dan menyandarkan punggungnya. Dia menatap wajah Tyo yang mulai panik.


"Bukankah aku pernah bilang ke Papa, ups salah ... om Tyo, kalau aku tak akan membiarkan Mamaku tersiksa lagi disini," ucap Mike sambil tersenyum simpul.


"Sudah aku peringatkan jangan bermain strategi denganku. Aku tau siapa Anda dan apa tujuan anda sebenarnya." lanjut Mike menatap tajam ke arah tyo.


"Cobalah berdamai dengan anakmu sendiri tanpa harus ada campur tangan Mama, kau sudah menyekapnya terlalu lama dan sekarang tidak lagi. Jangan mencoba membuat Mama merasa kalau dirinya yang berhak menanggung semua," ucap Mike seolah tau apa yang sedang ada di otak Tyo saat ini.


"Mamaku memang salah, tapi dia sudah menebusnya . Sekarang giliranmu! Hadapi semua dengan penuh keberanian yang sama saat kau memulainya." lanjut Mike yang beranjak dan meninggalkan ruang rapat.


Mike meninggalkan Tyo di ruang rapat sendir, memberi ruang untuknya agar dapat berpikir jernih. Tidak semua masalah dapat di bereskan dengan uang bukan?


Kalau Mike mau dia akan mengeruk semua harta, tapi dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila sampai melihat ibunya meneteskan air mata lagi.


Tyo menghempaskan tubuhnya di kursi, berulang kali dia memijat pangkal hidungnya. Kepalanya saat ini terasa ingin meledak. Semua rencananya kacau berantakan.


****


Clara sedang berkutat pada layar laptopnya, saat ini dia sangat sibuk. Berulang kali dia membuang napas kasar untuk meredakan emosi di dada yang saa ini sedang bergemuruh.


Pintu kembali terbuka, Geovana bergegas menyambut kedatangan seorang yang entah siapa itu, yang dia yakini itu adalah Reno.


Namun sekali lagi dia harus kecewa karena yang datang bukanlah orang yang dia harapkan.


"Kau," ucap Geovana tak percaya.


"Bukankah ini ruangan Clara?" tanya MIke bingung, dia sudah bertanya kepada karyawan di bawah kalau ruangan ini benar punya adiknya, Clara.


"Iya, dia ada didalam." jawab Geovana yang mempersilahkan untuk masuk.


Mendengar suara Mike, Clara segera bangkit darai kursinya. Dia takut kalau dirinya membawa kabar buruk tentang Mama.


Clara berlari kecil mendekati Mike, wajahnya tampak khawatir.


'Mama baik-baik saja kan Kak?" tanya Clara, matanya menampakkan kekhawatiran yang tulus.


"Bisa kita bicara diluar?"