
Saat ini yang ada di pikiran Clara hanyalah menuntaskan kewajibannya sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.
Dia mau memberikan kebahagiaan kepada mamanya di akhir hayatnya, hanya ini yang dapat dia lakukan demi membalas semua kasih sayangnya selama ini.
Walau Clara tau, mungkin kelak dia akan menyesal dengan pernikahan kilat ini. Tapi dia tak mau lebih menyesal lagi saat kehilangan mamanya.
Clara mendongakkan kepalanya, melihat tak ada satupun orang yang bergerak. Semuanya berdiri mematung.
"Om Daniel kok masih disini, carikan penghulu sekarang, cepat!" ucap Clara sedikit meninggikan suaranya.
"Ta-tapi Ra ..." ucap Daniel masih belum ikhlas.
Siapa yang tega melihat keponakannya harus menikah dengan orang rendahan sekelas sopir, secara tidak langsung itu akan mencoreng nama keluarga besarnya.
Clara yang bekerja menjadi direktur sebuah bank kecil saja, orangtuanya menutupinya dengan rapi. Dan sekarang ...
"Aku bisa mencarikan pria lain Ra ..." ucap Daniel.
Clara melempar pandangannya ke arah Daniel, tatapan matanya menatap tajam ke arah semua orang yang ada di dalam ruangan.
Sementara Reno hanya merutuki dirinya, dia mulai sadar kalau idenya sangat buruk kali ini. Bahkan dia sudah tau siapa Clara, malah dengan bangga menawarkan dirinya sebagai suami sesaat.
Bukankah Clara keluarga kaya? Hanya memilih seorang suami sesaat, tak akan sulit bagi mereka. Sejelek-jeleknya mereka bisa memilih pengusaha.
"Aku tidak peduli, sekarang kondisi Mama lebih penting. Aku tidak mau mengulur waktu lagi, atau mungkin kalian sudah merencanakan sesuatu yang aku tidak ketahui," ucap Clara menyapu ruangan dengan mata yang terus berlinang air mata.
"Ba-baik, aku akan mencarinya," ucap Daniel.
Dengan berat hati Daniel melangkah meninggalkan ruang rawat kakaknya dan mencari seorang penghulu.
Setelah beberapa menit berlalu, Clara terus menggenggam jemari Mamanya. Terdengar do'a tulus dari bibir Clara.
Semua orang saling menatap, sesekali mereka menatap Reno. Tatapan mereka sudah seperti melucuti pakaian Reno sampai ke dalam.
Dia masih berdiri kokoh di belakang Clara, hanya tangisan Clara yang dominan terdengar menggema. Selebihnya hanya suara langkah kaki dari luar.
Pintu terbuka, Daniel sudah membawa seorang paruh baya dengan wajah sumringah dan menyapa mereka semua.
Perlahan Mama Clara membuka mata.
"Mama, aku udah datang." ucap Clara lirih.
"Clara ..." ucap mamanya lemah.
"Mama yang kuat yaa, Clara sudah memilih calon suami yang tepat untuk Clara. Semoga mama merestui," ucap Clara mengecup punggung tangan Mamanya.
Perlahan Reno melangkah mendekat, dia mencium punggung tangan Mama Clara dan menatapnya lekat.
"Mungkin ini terdengar terburu-buru Tante, tapi Reno akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Clara dengan sepenuh hati." ucap Reno tulus.
Melihat ketulusan yang terpancar di mata Reno membuatnya semakin yakin kalau pria ini adalah orang yang tepat untuk mendampingi putrinya.
Mama Clara melempar pandangan ke arah Suaminya dan mengangguk lirih, seolah dia menyetujui ide gila anaknya itu.
Papa Clara hanya menghela nafas dan mencoba menerima semua kenyataan ya ada, yang terpenting adalah. Pernikahan putrinya.
Kalau istrinya yakin, pasti memang dia adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk menemani hari-hari Clara.
"Sudah siap?" tanya Pak penghulu.
Clara dan Reno saling bertatapan hingga ...
''Tunggu!''
BERSAMBUNG....