I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Menunda Kehamilan



Clara tidak menyetujui saran dari ayahnya, Dia sangat khawatir akan rahasia yang dia simpan terkuak. Itu bukanlah hal yang mustahil, semakin Papanya dekat dengan Reno semakin bahaya.


"Jadi maksud kamu?" tanya Papa menatap lekat Clara.


"Maaf Om Tante menyela, saya rasa Clara pasti menyetujui ini. Mungkin dia sedikit syok." ucap Reno tidak memperpanjang masalah.


Reno dan Clara belum memikirkan masalah ini, terutama childfree yang dia maksud. Takutnya, semakin lama topik pembicaraan semakin mendalam dan Reno menjadi mati kutu disini.


"Jadi biar nanti kami rembukan dulu," ucap Reno, tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


Jangankan Clara, bahkan Papa Mamanya terbelalak melihat ekspresi Reno. Mereka kira dia adalah orang pemalu dan cukup jaim, Ternyata ...


"Ekspresi apa itu?" ucap Clara sewot.


Reno hanya melempar senyuman termanis nya ke semua orang, kemudian melempar pandangan ke Clara.


"Sepertinya ada yang amnesia," ucap Reno dengan tatapan menggoda.


"Baik, sepertinya kita hanya akan jadi obat nyamuk disini." ucap Mama Clara melempar senyum ke Papa.


"Dasar pengantin baru, yaudah Papa sama Mama pergi dulu. Kita lanjut besok, dan pastikan besok harus ada jawaban," ucap Papa Clara yang beranjak dari kursi di ikuti oleh Mama Clara.


Reno bangkit dari kursinya dan meraih tangan Clara, dia sedikit terkejut saat mendapati telapak tangan Reno yang basah.


Dia semakin tak mengerti dengan orang yang menuntunnya ini, lain di mulut dan hatinya. Mungkin akan cocok kalau dia menjadi aktor.


Meskipun dia gugup setengah mati, tapi Clara akui. Dia sangat sempurna menjalankan perannya menjadi suami tercinta.


Reno menuntun Clara masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu. Dia segera melepaskan genggaman tangannya dan bersandar di balik pintu.


"Wah, aku hampir saja percaya kalau kau sangat merindukanku," ucap Clara terkekeh.


"Ibu?" Tanya Clara melotot.


"Maksudnya Clara, maaf lupa. Terlalu gugup." ucap Reno masih menatap kosong ke arah depan.


Clara menggeleng kepalanya lirih, dia tak menyangka masih ada pria seperti dia di dunia ini. Kalau saja Reno ingin berniat buruk, pasti dia akan melakukannya sejak ijab kabul itu terucap dari mulutnya.


Sebenarnya Clara tak menyangka bisa mendapatkan sosok langka seperti dia, hidupnya bagaikan mendapat kartu jackpot.


Akan tetapi, itu semua sia-sia. Karena Clara masih tetap pada pendiriannya. Tidak menikah sebelum dia benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya.


Dia hanya masih trauma dengan cinta tulusnya yang di buang begitu saja, jad masih merasa takut untuk menjalin sebuah hubungan lagi.


"Jadi bagaimana rencana selanjutnya Ra?" Tanya Reno.


Reno menghela nafas kasar, dia baru sadar kalau masalah yang mereka hadapi sangat banyak. Yang belum mendapatkan titik terang sedikitpun.


"Kita mulai dari mana?" tanya Clara menatap Reno yang masih merosot di lantai kamar Clara.


"Masalah Childfree?" tanya Reno. Saat ini dia memasang wajah serius.


Dia baru mendengar istilah tersebut, dan sepertinya arti dara kata tersebut tidaklah baik. Jadi mulut Reno gatal untuk segera bertanya.


Melihat Reno yang menatapnya lekat, membuat Clara tersenyum kecil. Benarkah pria ini tidak tau apa-apa? Atau memang dia tidak ingin berkomitmen untuk Childfree.


"Sebuah keputusan yang menunda kehamilan ..." ucap Clara santai.


Mendengar ucapan Clara seakan jantung Reno berhenti berdetak.


"Apa? Tidak punya Anak?''