I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Dia Mamaku



Mbok Yem menuntun Nadira untuk duduk di kursi belakang, tempat dimana biasanya Mbok Yem menjemur pakaian.


Nadia duduk di sebuah kursi pelastik kecil, sedang Mbok Yem duduk di kursi kayu yang sama kecilnya. Keduanya saling berhadapan.


"Nyonya kenapa?" tanya Mbok Yem yang merasa semuanya tidak baik-baik saja.


"Tadi Clara telfon, dia perjalan mau pulang Mbok." jawab Nadira menatap teduh mata senja Mbok Yem.


Mbok Yem terus menatap Nadira, seolah dia tau kalau Nadira sedang berbelit-belit. Mata senjanya masih bisa menatap jelas sesuatu yang di sembunyikan di balik wajah sendu Nadira.


Nadira melempar pandangan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencoba mencari topik pembicaraan.


"Kau sudah memutuskannya?" tebak Mbok Yem.


Nadira menoleh perlahan dan menganggukkan kepalanya lirih, dia tak menyangka secepat itu wanita senja ini menebak.


"Titip Clara ya Mbok," ucap Nadira meremas jemari keriput Mbok Yem.


"Aku sayang sama Clara, tapi aku tidak mau menyimpan ini terlalu lama Mbok. Semua ini terlalu berat." ucap Nadia menghela napas panjang.


"Mbok tau, Nyonya sayang sama Non Clara itu lahir batin. Pasti Non bakalan ngerti," Mbok mengelus lembut pundak Nadira.


"Nggak akan ada anak yang bisa memaafkan seorang yang membunuh Ibunya secara sengaja Mbok," sahut Nadira berlinang air mata.


"Semua acara sudah aku siapkan Mbok, masalah natal atau tidaknya itu semua tergantung Clara. Tolong ya mbok jaga mereka," lanjut Nadira memeluk Mbok Yem.


"Barang-barang Mama yang mau dibawa di mana?" tanya Mike dari belakang.


Melihat Mamanya memeluk Mbok Yem, Mike segera ikut bergabung. Dia memeluk kedua wanita yang dia cintai dengan lengan kekarnya.


Bagaimanapun Mbok Yem sudah berjasa selama ini, saat dia masih tinggal disini, Mbok Yem yang selalu merawatnya sampai dirinya di ambil kakeknya dari Papa kandungnya.


Mbok Yem mengelus lembut tangan kekar yang dulunya masih sangat kecil, tanpa terasa air mata haru menetes di pipi Mbok Yem.


"Kamu udah besar aja, lihat nih! Mbok jadi penyet," ucap Mbok Yem sambil mengusap air matanya.


"Masa sih, coba sini Entong lihat." ucap Mike tersenyum melepas pelukannya.


Dia menatap lekat dari ujung rambut sampai bawah, berulang kali dia memastikan bahwa tak ada satu titik yang di lewati.


"Nggak kok, Mbok Yem masih sama. Cantik dan bahenol," ucap Mike mengelus janggut tipisnya.


Nadira hanya tersenyum kecil melihat dua orang di hadapannya berkelakar, seolah tak akan ada perpisahan di antara mereka.


"Makasih ya Mbok, udah jaga Mama selama ini. Aku izin mau bawa Mama," ucap Mike kembali memeluk erat Mbok Yem


Untuk sekian menit mereka berpelukan erat, pundak mereka naik turun menahan isak yang tak mampu mereka tahan.


Ada banyak kata yang ingin mereka sampaikan, hingga lidah hanya merasakan kelu. Hingga hanya muncul kata ...


"Jaga baik-baik Mamamu, dia sudah banyak berubah. Berbahagialah Nak." ucap Mbok Yem mengecup pucuk kepala Mike.


Dulu memang dia akui Nadira merupakan seorang Ibu yang jauh dari kata sempurna. Bahkan bisa di bilang kejam kepada anaknya.


Menelantarkan anak kandung, menyayangi anak angkat. Hanya demi sebuah kehidupan mewah dan cinta yang tak semestinya.


Seorang yang keras kepala akan berubah dengan sendirinya, bila dia sudah menuai apa yang dia tanam selama ini.


Mbok Yem sudah berulangkali menasehati Nadira sebelumnya, namun Tak ada respon. Meskipun dulunya Asih memberikan jalan lebar karena alasan tertentu, tapi mengambil hal orang lain bukanlah suatu kebenaran.


Entah kapan anak itu datang, ketiga orang ini masih mencoba menguatkan satu sama lain. Tanpa mereka sadari inti permasalahan sudah datang menyambut mereka.


Ketiga orang tersebut berdiri dan mengusap air mata masing-masing. Dan bertingkah seolah tak ada yang terjadi.


Nadira melangkah mendekati Clara dan memeluknya erat, sedangkan yang di peluk masih berdiri mematung. Dia masih mencoba mencerna apa yang baru saja dia lihat.


Apakah ada masalah besar? Tapi kalau iya, bahkan Papa tidak ada disini. Dengan santainya Papa di teras melewati Clara begitu saja, lalu ada apa?


"Mama baik-baik saja?" tanya Clara khawatir.


"Sure, lihat! Mama sehat dan bahagia." jawab Nadira meninggikan intonasi, agar Mike segera ikut bergabung.


"Oke Baby, jadi mana Adik yang cemburu dengan Kakaknya kemarin?" tanya Mike yang melangkah mendekati Clara.


"Tadi masih ngobrol di depan sama Papa, mungkin sebentar. Papa buru-buru banget," jawab Clara dengan tatapan bingung.


"Mbok, tolong buatin makan siang buat kita yaa!" ucap Mike dan melangkah menuju ruang tamu. di ikuti oleh Clara dan Nadira.


"Hallo Adik ipar, masih cemburu nggak sama Kakak ganteng mu ini." kekeh Mike.


"Mana Papa?" lanjut Mike.


Reno hendak membuka mulut untuk menjawab, namun Tyo sudah berdiri belakangnya.


"Papa disini, ada apa?" sahut Tyo.


Mike tersenyum sinis, dia sedikit lega karena Ayah sambungnya ini bisa menepati janji kali ini. Biasanya akan banyak drama bila dia ada di posisi sulit seperti ini.


"Apakah Papa tidak mau mengucap salam perpisahan?" tanya Mike menatap tajam ke arah Tyo.


Ucapan Mike membuat mata Clara membulat sempurna, dia baru saja bertemu dengan kakaknya. Dan ini momen yang amat langka.


Belum tentu Mike akan datang ke Indonesia dalam kurun waktu lima tahun sekali, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.


"Sebenarnya ada apa sih? Clara baru pulang loh," ucap Clara yang segera berdiri.


Melihat Clara emosi membuat Reno sebisa mungkin menenangkannya, Karena dia masih dalam peran suami andalan Clara.


"Ada sesuatu yang harus kamu tau Adikku tercinta," ucap Mike yang duduk di sofa dengan tenang.


"Apakah semua tidak ingin duduk bersantai, ayolah. Ini bukan apa-apa, aku akan menikah ..." lanjut Mike menatap semua orang dengan tatapan bahagia.


"Menikah ... Aaa ... Selamat Kak Mike ..." teriak Clara kegirangan dan memeluk Mike penuh bahagia.


Meskipun Reno bukan orang yang tinggal lama di sisi mereka. Namun, di tau ada keganjalan dengan kabar bahagia ini.


Bukannya mereka harus bahagia dengan kabar ini. Tapi mengapa raut wajah tiap orang menceritakan hal yang berbeda.


Di antar semua orang hanya Clara yang paling bahagia. Jelas, Papa menampakkan wajah khawatir. Sedangkan Mama, bahkan dia tak dapat menutupi mata sendunya.


"Selamat Kakak, kenapa kakak cantikku tidak di ajak sekalian?" tanya Clara manja.


"Dia ingin di jemput Mama, dia sangat manja sepertimu." jawab Mike mencubit pipi Clara.


"Tapi dia kan Mamaku," rengek Clara.


"Benar, Mama yang sudah kau rebut dariku. Yang sebenarnya bukan Mama kandungmu!" ucap Mike.