
"Selamat malam, maaf harus seperti ini. Besok akan aku cari cara agar kita lebih nyaman," ucap Clara segera berbaring di ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Reno hanya terdiam, dia berbaring di sofa. Matanya masih terbuka lebar menatap plafon kamar Clara, hidupnya terasa berubah 180° berbeda saat ini.
Dirinya serasa masuk ke alam mimpi yang tak nyata, bisakah dia hidup di dunia yang berbeda jauh darinya?
Dia melempar pandangan ke Clara yang sudah tertidur pulas, terlihat selimut yang naik turun beraturan. Karena melihat tubuhnya yang tertutup rapat membuat Reno terusik.
Reno bangun dari sofa dan melangkah mendekati Clara, dia sedikit membuka selimut yang menutupi tubuhnya Terukir senyum tipis di wajah tampan Reno.
Apakah gadis ini bisa tertidur nyenyak dengan tubuh terbalut seperti ini? Apakah nafasnya tidak sesak? Setelah membuka sedikit selimut, Reno segera kembali ke tempatnya.
Langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya di cengkram erat Clara, Reno berbalik badan dan menyapa gadis yang sedang tertidur pulas tersebut.
Terdengar bisikan lirih, tapi Reno masih dapat mendengarnya dengan jelas.
"Rico, kamu jahat banget. Jangan tinggalin aku please," ucap Clara lirih.
Reno duduk di samping Clara dan perlahan melepaskan cengkraman tangannya,
"Kasihan banget cewek secantik dan baik seperti nya harus tersakiti seperti ini, terlebih dia kantor dia tidak dapat perlakuan yang baik dengan teman kantornya," batin Reno.
Setelah Clara tidak mengingat lagi, Reno segera kembali ke sofa dan berbaring. Matanya terus menatap ke arah gadis yang tertidur di depannya, sampai tidak terasa dia telah larut di alam mimpi.
***
Cahaya matahari mulai masuk dari sela gorden yang terpasang di jendela kamarnya, dengan rasa malas Clara segera membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
Seperti biasanya, Clara dengan malas akan melangkah ke ruang ganti dan mengambil handuk untuk di bawa ke kamar mandi.
Kebiasaan Clara adalah melepas baju di kamarnya, setelah selesai dia akan masuk ke kamar mandi. Dengan santainya dia membuka satu persatu bajunya dan memakai handuk kimono yang sudah dia siapkan.
"Aaa!" Teriakan Clara sudah seperti orang kebakaran jenggot.
Dia lupa kalau semalam di kamar ini tidak hanya dirinya, masih ada orang asing yang menginap di sini.
Mendengar jeritan Clara membuat Reno segera menutup matanya, yang bagus saja melihat pemandangan erotis.
"Apa yang sudah kamu lihat hah?" teriak Clara dengan lantang.
"Semua, eh maaf maksudnya, semuanya nggak kelihatan." jawab Reno gugup.
Reno hanyalah pria tulen normal, jelas saja matanya tidak berkedip di suguhkan pemandangan indah di pagi hari seperti ini.
"Keluar!" ucap Clara lantang.
Clara menarik tubuh Reno yang masih terbaring, karena tarikannya terlalu kuat dan Tubun Reno lebih besar dari Clara. Membuat tubuh mereka tak seimbang dan ...
Brukk ...
Keduanya terjatuh dia lantai dengan posisi Reno berasa di atas Clara, sebagian handuk yang menutupi tubuh Clara terbuka.
Reno berulang kali meneguk liurnya, beberapa menit yang lalu dia sudah berjuang keras menahan listrik tegangan tinggi di pangkal tubuhnya.
Akan tetapi, kenapa datang cobaan yang lebih besar lagi. Aliran darah Reno sudah sampai di ubun-ubun melihat sebagian tubuh bagian atas Clara yang terbuka.
Jangan kan Reno, sesaat Clara terpaku melihat sosok tampan yang saat ini ada di hadapannya. Dia baru sadar kalau pria yang saat ini menemaninya sangat tampan dan menawan.
Terdengar suara pintu yang terbuka,
"Maaf, maafin Mama ya. Mama nggak sengaja," ucap Mama yang menutup pintu kembali.
Menyadari posisi mereka yang terlalu intim, membuat Reno segera tersadar dan segera bangun. Sedangkan Clara, dia segera bangun dan berlarian kecil masuk ke kamar mandi.
"Astaga, kenapa kepala gue isinya mesum semua?" batin Clara.
Wajahnya merah padam menahan rasa malu, sampai kapan dia harus seperti ini? Dia sudah sangat malu membayangkan saat berhadapan dengan Reno.
Apalagi, sesuatu benda keras yang mengganjal di kakinya tadi.
"Astaga, Clara kondisikan otakmu." ucap Clara lirih sambil berulang kali memukul kepalanya agar segera tersadar