I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Tahan



Sepekan berlalu, hubungan reno dan Clara masih stuck saja. Geovana pun masih saja menghantui hubungan mereka.


Clara menerima chat yang berisi undangan makan malam dan pastinya dia harus membawa reno bersamanya, sesuai permintaan Kakaknya tercinta.


Hatinya sangat senang, waktu yang dia tunggu akhirnya tiba, dia bisa bertemu Mamanya sebelum dia pergi jauh.


Yaa ... beberapa waktu lalu dia mendengar Mike akan membawa Mamanya ke negara asalnya, Paris. Sejujurnya Clara taj rela, tapi apa boleh buat. Mamanya berhak bahagia.


Clara juga bersyukur Papanya sudah mulai sehat dan dapat melanjutkan aktifitasnya lagi. Yang paling membuatnya senang adalah ... Papanya sudah bisa mengikhlaskan Mamanya dan memulai lembaran baru.


Sekarang Papa nya lebih fokus pada perusahaan, semoga dengan ini perusahaan semakin berkembang tanpa adanya bantuan Kak Mike.


Jam menunjukan pukul 12 siang, sudah waktunya makan siang. Seperti biasa Clara akan memilih warteg yang jauh dari kantor, jangan tanya mengapa.


Pastinya dia tidak mau waktunya makan dengan orang yang spesial di hidupnya belakangan ini terganggu.


Reno akan menunggu di sana beberapa menit sebelumnya, karena kucing centil yang menyukainya selalu mengikuti kemanapun Reno pergi.


Clara turun dari ojek dan masuk ke warteg, dia melihat motor Reno sudah terparkir di depan warteg tersebut.


"Mau makan sama istri sendiri aja ribet banget, Udah kaya kencan sama istri orang," keluh Reno saat melihat Clara sudah sampai.


"Siapa yang lo maksud istri?" tanya Clara sewot.


"ibu warteg, iya kan Bu. Ibu mau jadi istri saya," Reno melirik Ibu warteg yang sedari tadi menahan tawanya mendengar ocehan Reno.


"Udah jangan berantem mulu, dari kemarin nggak bosen ya?" ucap Bu warteg mengambil dua piring kosong.


"Udah ni, kalian mau makan apa?" lanjut Bu Warteg membuka lemari kaca di depannya yang berisi banyak sekali menu.


Mata Clara menyapu menu yang terpajang di dalam lemari. Pilihannya jatuh kepada sayur sop dan telur balado. Sedangkan Reno lebih memilih ikan lele lengkap dengan sambal dan lalapan.


"Nanti malam anterin gue ya," ucap Clara di tengah makannya.


"Kemana?" tanya Reno, Matanya masih fokus dengan ikan di hadapannya tanpa menoleh ke Clara.


"Ke acaranya Kak Mike sama Mama," sahut Clara sambil menyeruput kuah sop yang berada di mangkuk kecil.


"Oke," jawab Reno singkat.


"Tumben kucing lo bisa di tinggal?" kekeh Clara.


"Udah jangan mulai, ntar cemburu aku lagi yang di ambek." ucap Reno santai.


"Siapa juga yang cemburu," kilah Clara yang berdusta pada dirinya sendiri.


Reno menghentikan makannya dan menatap lekat gadis yang sibuk makan di hadapannya. lihatlah wajah tanpa dosa itu.


Bahkan sepekan ini reno harus bolak balik laporan kepada gadis ini sete;lah mengantarkan kucing liar itu pulang kerumahnya.


Yang paling menyebalkannya lagi adalah saa dia harus menjaga ponsel untuk tetap terhubung sampai dia kembali ke kost.


Jangan tanya siapa orang yang ada di ujung sambungan, sudah pasti gadis yang sedang menikmati sayur sop di hadapannya saat ini.


Melihat Reno memperhatikannya sejak tadi Clara menghentikan kunyahannya dan kembali menatap Reno.


Alisnya bertaut dan matanya memicing ke arah pria yang dia anggap sebagai suami palsunya itu.


"Biasa aja, aku colok tuh mata." ucap Clara yang risih dengan tatapan penuh arti tersebut.


"Jadi gimana?" tanya Reno.


"Apanya?" Clara berbalik bertanya.


"Pesta." sahut Reno malas.


"Nanti malam datang ke rumah, pake mobilku aja." jawab Clara enteng.


Dia tidak siap berbaur dengan orang yang kastanya lebih tinggi dari dia, membayangkan saja nyalinya sudah menciut.


Baru kali ini dia merasakan perbedaan yang signifikan padanya dan Clara,


"Ya haruslah, Mama mau ngomong sama kamu," sahut Clara dengan suara tinggi.


Reno tak menjawab, melihat respon Clara yang demikian itu artinya dirinya memang harus datang dan menghapus rasa mindernya.


****


Malam telah tiba, Reno sudah mengendarai motornya menuju rumah Clara. Dia memakai setelan jas coklat susu dengan kemeja berwarna putih di dalamnya. Tidak lupa sepatu pantofel hitam yang melengkapi penampilan formalnya malam ini.


Untung saja dia memiliki teman yang bisa menyelamatkan penampilannya malam ini, siapa lagi kalau bukan Juna.


Motor bututnya sudah terdengar dari radius 500 meter, mendengar itu Clara segera mempercepat merias wajahnya.


"Den Reno," sapa Pak Bejo.


"Kok Den sih Pak, panggil Reno aja." ucap Reno tak enak hati mendengar dirinya di panggil seperti ini.


"Ini kuncinya," ucap Pak Bejo mengulurkan sebuah kunci mobil mewah yang akan dia tumpangi bersama Clara nanti.


"Loh Pak Bejo nggak ikut?" tanya Reno dengan wajah memelas.


Pak Bejo hanya tersenyum kecil, bagaimana dirinya ikut? Acara ini saja memang di khususkan untuk mendekatkan dua insan yang tidak segera menyatu ini.


Meskipun Nadira sudah tidak tinggal disini, tapi misinya tetap berlanjut untuk merencanakan pernikahan Clara dan Reno.


"Bapak jaga rumah Mas, takut kalau Pak Tyo butuh apa-apa," jawab Pak Bejo.


"Kan ada Mbok Yem," sahut Reno yang tidak mau mendengar alasan lain.


"Mbok Yem masih kecapekan," ucap Pak Bejo yang selalu bisa menjawab semua pertanyaan Reno.


Pada akhirnya Reno mengalah, mungkin memang dirinya harus belajar berbaur dengan orang kaya. Bukankah tekatnya sudah bulat untuk menikahi Clara? Itu artinya dia harus menerima semua konsekuensinya.


"Tunggu aja di dalam Mas, Non lagi siap-siap," ucap Pak Bejo yang melangkah menjauh sambil membawa kanebo untuk mengelap mobil.


Reno segera masuk, dia duduk di ruang tamu yang cukup besar. Jam masih menunjukan pukul 8 malam, tapi suasana rumah Clara sudah sepi.


Tidak seperti saat ada Mama Clara disini, Pak Tyo juga tidak terlihat di lantai bawah. Mungkin dia sibuk di ruang kerjanya, kata Clara dia saat ini sedang fokus mengembangkan perusahaannya.


Pantas saja Clara sering kali mengeluh kesepian, rumah sebesar ini hanya di tinggali beberapa gelintir orang saja.


Mungkin ini alasannya mengapa dia didesak untuk menikah dan segera memiliki momongan, semoga saja sudut pandangnya segera berubah mengenai anak.


Lamunan Reno terpecah ketika mendengar sebuah langkah kaki yang menuruni tangga, dia segera melempar pandangan ke sumber suara.


Mata Reno terpaku pada seorang wanita yang turun dari tangga perlahan, dia menggunakan gaun berwarna biru dongker dengan model pundak yang terbuka.


Gaun itu hanya sebatas lutut dan memperlihatkan kaki jenjang Clara, sepatu high heels yang dia pakai menambah keanggunan pari purna malam ini.


"Kok pake warna mocca sih?" perotes Clara yang melihat jas yang di pakai Reno tidak serasi dengan gaun yang di kenakan Clara.


"Sini!" ucap Clara menarik tangan Reno menaiki tangga, dan melangkah menuju kamar Mike.


Mereka masuk ke kamar Mike, tanpa pikir panjang Clara membuka lemari Mike dan terpampang banyak setelan jas di sana.


Clara segera memilih jas yang cocok untuk Reno dan yang pastinya harus serasi dengan gaun yang dia pakai.


Clara sedang sibuk memilih jas, namun mata Reno berselancar indah di pundak mulus yang sedari tadi menari-nari di hadapannya.


"Reno junior, aku mohon tahan anak baik. Sebentar lagi selesai." ucap Reno lirih sambil menghapus keringat yang bercucuran di keningnya.