
Nadir menaruh ponselnya kembali, Mbok Yem masih duduk di sampingnya menantikan kabar yang baru saja di sampaikan.
"Ada apa?" tanya Mbok Yem.
"Clara akan melakukan ijab Qabul lagi, orang tuanya saat ini kritis." jawab Nadir singkat.
"Saya berangkat dulu ya Mbok," ucap Nadira bangkit dari kursinya.
Sebelum Nadira beranjak, Mbok yem meraih tangannya dan menatap lekat wajah sendu itu.
"Nona Clara adalah anak yang baik, Mbok yakin dia akan menerima Nyonya," ucap Mbok Yem, kemudian melepaskan genggamannya.
Nadira hanya mengangguk lirih dan melempar senyum, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke rumah.
****
"Akhirnya sampai juga," ucap pria dengan wajah riang gembira.
Pria dengan tubuh tinggi dan kulit putih bersih sedang berjalan di bandara. Dia sedang mendorong keranjang yang berisi banyak tas besar.
Mata coklatnya menyapu setiap sudut bandara, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sudah lama dia tidak mencium bau matahari yang hangat seperti ini.
Matanya menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, jam menunjukkan jam 2 siang. Seharusnya Mamanya sudah sampai dan menunggu disini bukan?
Mike memutuskan untuk membeli makanan dan minuman kecil sebagai teman duduknya. Kebetulan perut dan tenggorokan nya butuh sedikit asupan.
Dia melangkah menuju sebuah kantin di bandara, dan memberi sebuah roti beraroma kopi dan sebotol minuman dingin.
Untungnya antrian tidak banyak, jadi dia bisa segera duduk kembali dan menikmati roti tersebut. Dia mengeluarkan benda pipih miliknya dan mulai memainkan jemari di layar ponsel.
Sekitar 30 menit berlalu, akhirnya ada seorang yang menghampiri Mike.
"Tuan Mike?" tanya Pria paruh baya dengan pakaian jas formalnya.
"Iya," jawab Mike singkat, matanya mengamati penampilan orang di hadapannya dari ujung rambut sampai kaki.
"Saya Dave, sekertaris Tuan Tyo. Tuan dan Nyonya tidak bisa datang menjemput Anda karena ada suatu hal." ucap Dave menjelaskan.
"Baiklah, ayo!" ucap Mike bangkit dari kursinya, sementara Dave mendorong keranjang yang berisi tas bawaan Mike.
****
"Clara akan menikah sekali lagi di depan orang tua Reno," ucap Nadira berdiri di samping Tyo.
Typo melepas kacamatanya, dia mulai menaruh koran yang sebelumnya dia baca. Tatapannya menatap Nadira dengan tatapan bingung.
"Ibu Reno sedang kritis, mau tak mau mereka harus meyakinkan Ibu Reno dengan hubungan pernikahan. Karena acara resepsi juga belum di gelar ..." lanjut Nadira.
"Baiklah, kita akan kesana sekarang." sahut Tyo.
Typo beranjak dari kursinya, tapi tidak dengan Nadira. Dia masih setia berdiri tanpa bergeser sedikitpun.
Melihat tingkah istrinya, Tyo menghentikan langkah.
"Ada apa lagi?" tanya Tyo membalikkan tubuhnya.
"Mike sudah di bandara," ucap Nadira singkat.
"Syukurlah, masalah kampus sudah selesai. Tenang saja." sahut Tyo enteng.
Tyo masuk ke kamarnya untuk bersiap, tanpa dia tau kalau bukan hal itu yang Nadira maksud. Nadira hanya berdiri mematung menatap punggung Tyo yang perlahan menjauh.
***
Di dalam ruangan rumah sakit, situasi sudah sangat menegangkan. Ibu Reno sudah sulit bernafas, suaranya seolah sudah sampai pada kerongkongan. Dadanya kembang kempis karena kesulitan mengambil oksigen di sekitarnya.
Saat ini Clara sudah memakai kebaya putih dengan make up alakadarnya, di hadapannya duduk seorang ustadz. Sedangkan di sampingnya duduk seorang pria yang saat ini memasang wajah sedih.
Tak ada raut bahagia di ruangan ini, semua mata berkaca menahan air mata masing-masing.
"Nak Reno sudah siap?" tanya Pak Ustadz.
"Sudah Pak," jawab Reno.
Reno dan Clara duduk di sisi kanan ranjang Ibu Reno, sedang Pak ustadz duduk di hadapan mereka. Sebagian suster juga hadir untuk menyaksikan peristiwa sakral yang mengharukan ini.
"Baiklah, ikuti kata-kata saya ya Nak Reno."
Pak ustad menjabat tangan Reno dengan kuat dan mengucapkan ijab qabul, hanya dengan satu tarikan nafas Reno dapat mengulangi ucapan Pak ustad tanpa keliru.
Semua orang yang berada di sekelilingnya mengucap syukur atas kelancaran acara tersebut. Kemudian satu persatu meninggalkan ruangan.
Reno menggenggam jemari lembut ibunya yang mulai terasa dingin. Tampak tatapan Ibunya yang menatapnya dengan mata bahagia.
"Ibu, Reno sudah menikah. Ibu cepat sembuh yaa ... biar bisa gendong cucu. Katanya Ibunmau cucu 10 kan?" ucap Reno sambil menahan lelehan air mata yang membasahi pipi.
Tak ada jawaban dari Ibu Reno, dia hanya tersenyum teduh sambil menatap Reno penuh cinta.
"Gimana Bu istri Reno? Cantik kan, Sama seperti Ibu. Dia juga bilang mau ke sawah nemenin Ibu, Jadi ibu harus cepat sembuh biar ke sawah bareng mantu. Reno pinter kan cari istri," Reno mengukir senyum lebar di wajah sendu nya.
Ibu Reno menganggukkan kepalanya lirih, nafasnya sudah sangat berat saat ini. Tangan Reno bergetar setelah sadar kalau tangan Ibunya yang dia genggam sudah sangat lemas.
Reno melempar pandangan ke arah Clara dan Bapak. Seolah tau apa yang Reno maksud, Bapak menganggukkan kepalanya lirih dan memalingkan wajah.
Dia tak mampu untuk menatap di detik berikutnya, dadanya sudah terasa perih menyaksikan semua ini.
Sementara Clara hanya mampu duduk di samping Reno dan berusaha menguatkannya, dia tak bisa membayangkan kalau dirinya duduk di posisi Reno.
Reno mengecup kening Ibunya, melihat ibunya yang sangat tersiksa membuatnya tak tega.
Reno melantunkan dua kalimat syahadat, dengan susah payah Ibu mengikuti ucapan Reno. Setelah selesai berucap, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang.
Reno duduk bersandar dengan lemas, Clara yang melihatnya segera memeluk Reno dengan erat.
"Nggak pa pa, kamu kuat Reno. Kamu kuat." ucap Clara sambil mengusap air mata yang membanjiri pipi.
***
Reno duduk di gundukan tanah, dengan banyak taburan bunga mawar. Di dekatnya ada batu nisan bertuliskan nama Ibunya.
Melihat pemandangan di depannya membuat dada Clara sesak, sehingga dia memutuskan untuk menunggu di depan pemakaman.
"Kamu nggak pa pa sayang?" tanya Nadira.
"Nggak pa pa Maa, cuma kasihan saja lihat Reno," ucap Clara yang sesekali menghapus air matanya.
Hidung dan mata Clara memerah, Nadira hanya mampu menghela nafas panjang. Tekat yang sudah bulat, kini jadu menciut.
Melihat ibu Reno meninggal saja Clara memberi respon demikian, apalagi dia harus mengetahui kebenaran sesungguhnya tentang Ibu kandungnya.
"Mama mikirin apa?" tanya Clara.
Nadira hanya tersenyum simpul, kemudian merangkul tubuh mungil Clara. matanya memanas dan akhirnya melelehkan air mata.
"Andaikan Mama seperti Ibunya Reno, apa ..." ucap Nadira.
"Mama akan selalu sehat, jadi nggak boleh mikirin hal yang nggak-nggak, oke,' sahut Clara segera memotong ucapan Mamanya
Clara mempererat pelukan Mamanya, air matanya melaju kian deras. saat Mamanya sakit saja hidupnya bagai neraka, apalagi harus kehilangan Mamanya. Mungkin dunianya akan hancur.
'Maafin mama nak, mama ingin sekali jujur. tapi Mama belum siap kehilangan kamu.' batin nadira pedih.
"Hallo,apakah aku menganggu?" tanya Mike yang muncul tiba-tiba.
Mendengar suara yang tak asing membuat Clara dan Nadira melepas pelukannya, mereka menoleh ke asal suara.
Melihat Mike di hadapannya membuat Clara berlarian memeluk kakaknya yang telah lama dia rindukan. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Kak Mike, kapan datang? Kenapa nggak ngabarin dulu?" tanya Clara manja.
"Sebenarnya Kakak mau kasih kamu kejutan, tapi lihatlah. Kakak yang terkejut," ucap Mike memeluk adiknya.
"Aku turut berduka untukmu Baby," lanjut Mike.
Air mata Clara kembali meleleh, dia sudah berusaha keras menghentikannya. Namun tetap tidak bisa, bayangan Ibu Reno seolah berputar-putar di kepalanya.
"Tenanglah, ada Kakak disini," ucap Mike yang mengelus punggung Clara dan menatap Nadira.
Nadira melempar pandanganya, dia tau arti pandangan tajam Mike terhadapnya. tapi ini bukanlah waktu yang tepat.
"Maaf menunggu lama," ucap Reno yang baru saja datang.
Reno menatap lekat seorang pria tampan dengan kemeja hitam dan celana jeans yang memeluk Cl;ara saat ini.
Mungkin hubungan mereka sebatas kontrak, tapi entah mengapa perasaan reno tiba-tiba panas.
Clara melepas pelukan Mike dan menuntunnya mendekati Reno.
"Kenalin Kak, ini suamiku, Reno." ucap Clara menatap Mike.
Mike mengulurkan tangan ke Reno, dan disambut hangat. Olehnya,
"Reno," jawab reno dan melempar senyum kecut.
"Mike, Kakak Clara yang amat dia cintai. sungguh aku patah hati saat Clara bilang dia mau menikah," ucap Mike melempar senyum ke Clara.
"Baiklah, aku akan carikan jodoh untuk Kak Mike saat acara resepsi ku," jawab Clara
Obrolan mereka berhenti saat melihat Bapak Reno melangkah mendekati mereka.
"Maaf nak Clara, bapak mau pinjam Reno sebentar ya, karena tujuh hari kedepan rumah akan mengadakan yasinan," ucap Bapak menatap Clara penuh harap.
"Nggak pa pa Pak, Nanti Clara juga ikut bolehkan?" ucap Clara enteng.
Reno membelalakkan mata, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Begitupun Mike dan Nadira.
"Kamu ... mau tinggal disini?" tanya Reno dengan nada tak percaya.
Clara melempar pandangan kesemua orang dan berganti menatap Reno, menurutnya tak ada yang alah dengan ucapannya barusan. Tapi kenapa reaksi semua orang berlebihan, terlebih Reno.
"Maaf, ada yang salah ya? Tapi kalau tidak boleh, juga nggak pa pa kok." ucap Clara menundukkan kepalanya.
"Kami memperbolehkan, tapi ini desa. Apakah Nak Clara nggak pa pa?" tanya Bapak memastikan.
Clara biasa hidup di kota dengan segala kemewahan dan kebersihan tentunya sangat jauh di bandingkan di desa.
Mike dan Nadira saling memandang, mereka tak yakin tentang ide Clara yang di luar nalar ini. Bahkan dia tidak bisa hidup tanpa kemewahan sebelumya.
"Sudah kau pikirkan dengan baik Sayang, karena rumah Reno sangat jauh dari keramaian," ucap Nadira mencoba memberi penjelasan.
"Sudah Ma, tenanglah. Aku nggak papa, kan ada suamiku," ucap Clara manja.
Untuk sesaat hati Reno berbunga, entah ini cuma akting atau sungguhan. Yang jelas menurutnya ini terlalu berlebihan.
"Baiklah, titip adik bawel ku ini yaa. Jewer aja kalau nakal." kekeh Mike.