I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Resepsi



Clara berulang kali melempar pandangan pada Reno, bibirnya terbuka mengatup.


"Maafkan aku harus membawamu kembali ke rumah sakit, Mamaku kritis." tutur Clara menundukkan pandangannya.


"Sebenarnya, aku tidak mau menyeret kamu dalam masalah pribadiku. Tapi keadaan berkata lain," ucap Clara.


"Baik Bu, tidak apa-apa. Aku akan ikut Bu Clara ke rumah sakit," jawab Reno.


Dengan berat hati Clara minta tolong Reno mengantarkan ke rumah sakit, toh tugas Reno juga sebagai sopir. Jadi tak ada yang curiga bila mereka pergi bersaman.


Clara keluar ruangan di ikuti oleh Reno, keduanya sudah seperti Bos dan bodyguardnya. Semua mata menatap ke arah mereka, sedikit janggal memang bila melihat Clara berjalan bersama sopir kantor.


Reno mencoba mengabaikan semua tatapan para karyawan yang membuat nyalinya menciut, terlihat jelas kalau mereka seperti langit dan bumi.


Mereka naik ke mobil kantor dan melaju menuju rumah sakit, di sepanjang perjalanan tampak wajah Clara yang amat resah dan sedih


Berulang kali dia mengigit kukunya, tatapannya menatap keluar jendela. Menampakkan kegelisahannya.


"Ibu tenang, saja. Pasti Nyonya baik-baik saja," ucap Reno.


Clara menatap Reno, sepertinya dia memikirkan sesuatu yang tak bisa Reno tebak.


"Ada apa Bu?" tanya Reno.


"Maaf Sebelumnya, kau bisa memanggilku Clara. Dan usahakan berprilaku seperti pasangan pada umumnya." jelas Clara ragu.


Baru kali ini dia meminta belas kasihan pada seorang pria, ingin sekali Clara terjun dari tebing yang cukup tinggi demi menyembunyikan rasa malunya ini.


"Ba-baik Bu, eh Clara," ujar Reno gugup.


"Inget-inget ya, tidak ada pilihan lain. Setelah kondisi Mama membaik, akan aku selesaikan masalah ini," ucap Clara menatap jalanan di hadapannya.


"Baik Clara," jawab Reno.


"Iya Clara, bisa kan?" tutur Clara menatap Reno, bahasanya terlalu formal untuk sepasang kekasih.


Astaga, sampai kapan Clara bisa bertahan dengan adegan seperti ini. Semoga saja mamanya segera membaik.


Reno melewati jalanan yang cukup ramai, hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Mama Clara di rawat.


Mereka turun dari mobil dan segera melangkah menuju kamar Mama Clara, untuk mempercepat langkahnya Clara sedikit berlari kecil. Dia segera membuka pintu,


Clara terbelalak ketika melihat Mamanya dalam keadaan sehat, dan malah sekarang bisa makan sarapan paginya sendiri.


"Mama?" ucap Clara.


"Sudah datang Nak?" tanya Mama Clara.


"Mama, kata Papa Tadi---" ucapan Clara terpotong.


"Mana suamimu?" tanya Mama Clara mulai curiga.


"Mama jawab dulu, kenapa bohongin aku!" kesal Clara menahan amarahnya.


Clara berkacak pinggang, dan menekan pangkal hidungnya. Ingin sekali dia marah. Tapi Mamanya baru sembuh dari sakitnya.


Tak lama Reno masuk ke ruangan Mamanya, dia tertinggal begitu jauh. Karena Clara yang berlarian kecil tadi.


"Assalamualaikum," ucap Reno gugup.


Perlahan Reno melangkahkan kakinya masuk, Mama Clara menatapnya lekat dari ujung kepala sampai kaki. Tampak anggukan kepala lirih.


Dengan canggung Clara melangkah mendekati Reno dan meraih tangannya, terlihat kedipan mata Clara yang mengisyaratkan sesuatu.


Untung saja Reno segera tanggap dan mengikuti arahan dari Clara,


"Kita tidak bisa lama-lama Bu, Clara dan Reno harus kembali berkerja," ucap Clara.


Sedangkan Reno segera meraih punggung tangan Papa, Mama Clara. Dia melempar senyum gugupnya, baru kali ini dia menjadi pembohong besar.


Clara menggaruk kepalanya yang tak gatal, otaknya seakan berhenti berpikir, tak bisa memulai tema obrolan yang hangat seperti biasanya.


"Kalian kok bisa barengan? satu kantor ya?" tanya Mama Clara.


Reno masih terdiam, dia melempar pandangan ke Clara yang masih termenung. Sejujurnya dia takut untuk menjawab pertanyaan ini, takut dia salah dan menghancurkan semua rencana.


Melihat Reno yang menatap lekat Clara membuat Mama Clara curiga.


"Apakah ini adalah pernikahan kontrak?" tanya Mama Clara menerka.


Seketika Clara terbangun dari angannya, dan melempar pandangan ke Mamanya.


"Enggak kok Maa, kami saling cinta kok. Iya kan sayang," ucap Clara segera merangkul pinggang Reno, sambil mengecup pipinya.


Jangan di tanya bagaimana jantung Reno saat ini, yang jelas nafasnya Tiba-tiba sesak saat menerima ciuman hangat dari Clara.


Seketika pipi Reno memerah, telapak tangannya mendadak keluar keringat.


"Sayang?" panggil Clara memecah lamunan Reno.


"I-Iya sayang, Sa-Saya, Ci-cinta sama kamu," kata Reno mencoba menahan rasa gugupnya.


"Kamu terlalu galak sama suamimu, yaudah kalian berangkat kerja lagi." ujar Mama enteng.


Mendengar hal itu membuat Clara menatap lekat Mamanya,


"Maksudnya?" ucap Clara berkacak pinggang.


"Mama mau rembukan masalah resepsi kalian, tapi sepertinya kalian sibuk. Jadi nanti saja," jawab Mama sambil tersenyum teduh.


"Apa Resepsi?"


BERSAMBUNG....