I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Bab > 52



Clara terkejut dan reflek memeluk Reno, untuk sesaat mata mereka saling menatap sekian menit. Hingga semak yang bergoyang membuyarkan lamunan mereka.


"Maaf, tadi ..." ucap Clara dengan wajah yang memerah.


"Hanya kadal kecil, udah cepetan masuk. Nggak enak kalau ada orang lewat," ucap Reno melempar pandangan.


Clara segera masuk ke kamar mandi, sebenarnya dia sedikit geli dengan kamar mandi ini. Tembok lembab yang di tumbuhi banyak lumut, bahkan di lantai pun juga ada.


Lampu penerangan hanya lampu bohlam 5 watt berwarna kuning. Ini sangat jauh dari kata bersih, namun apa boleh buat, dia tak bisa menahan hajatnya lebih lama lagi.


Clara segera menuntaskan pekerjaannya dan membuat pintu kamar mandi.


"Sudah?" tanya Reno sekilas menatap Clara dan melangkah.


Clara segera meraih pundak Reno dan mencengkram nya kuat.


"Maaf, aku masih takut," ucap Clara menundukkan pandangannya.


Reno hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya, mereka masuk rumah dan kembali lagi ke kamar. Tak ada obrolan penting di antara mereka, Reno dan Clara kembali tidur di tempat tidur yang sama.


****


Perlahan Clara membuka matanya, terdengar suara bising dari luar. Dengan malas dia mencari benda pipih dengan tangannya yang terus meraba.


Dia baru sadar ada sesuatu yang mengganjal, dia segera bangun. Di sampingnya sudah tidak ada orang, dia segera menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan malas.


"Astaga, ini masih jam 7. Udah rame banget," gimana Clara.


"Terus dimana lagi tuh bocah?" ucap Clara sambil bangkit dari kasur.


Clara lupa tidak membawa peralatan mandi, sehingga dia memutuskan untuk meminjam handuk yang tergantung di belakang pintu.


Matanya membulat sempurna saat melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Oke fix, gue berasa hidup berkeluarga beneran. Pagi-pagi mata udah terkontaminasi barang ginian," keluh Clara.


Belum selesai menggerutu, pintu terbuka. Reno masuk.


"Semua urusanku sudah selesai, kita bisa pulang besok," ucap Reno melangkah dan duduk di kasur.


Reno segera melangkah dan meraih benda yang menggantung di hadapan Clara.


"Sengaja ya," ucap Clara kesal.


"Nggak, maaf, nggak sengaja" ucap Reno dengan wajah memerah.


"Yaudah, mau mandi dulu." ucap Clara, memutar ganggang pintu.


"Jalan aja terus, nggak usah nengok kanan kiri ya ..." ucap Reno singkat.


"Emang kenapa?" tanya Clara penasaran.


"Ya begitulah, udah pokok intinya jangan dengerin semua omongan orang," ucap Reno membuka pintu dan mendorong Clara keluar.


Clara menatap sekitarnya, banyak sekali ibu-ibu berlalu lalang, semuanya tampak sibuk dengan kesibukannya masing-masing.


Clara melempar senyum dan melangkah menuju dapur, semua orang menatapnya tajam yang seolah mengulitinya sampai di kulit terdalam.


Semua memandangnya seolah tak pernah melihat spesies manusia seperti Clara saja, langkahnya mulai bimbang antara maju dan mundur.


Masih 10 meter dari kamar saja sudah seperti ini, apa lagi di dapur yang terdengar begitu banyak sekali orang mengobrol.


Kepalan tanggung, Clara memilih untuk mengayunkan langkahnya lagi menuju dapur. Banyak orang yang melempar senyum ramah kepadanya, tidak seperti orang di dalam.


Kalau di dapur, mayoritas adalah orang paruh baya yang sedang menyiapkan bahan masakan. Ada beberapa bumbu di sampingnya.


Clara segera masuk ke kamar mandi sebelum ada lebih banyak orang lagi yang mengulitinya, tak butuh waktu lama Clara selesai dan keluar dari kamar mandi. Dengan langkah seribu dia segera masuk ke rumah dan menuju kamar.


Di dalam kamar sudah ada Reno yang bersiap dengan barang-barangnya,


"Serius mau balik sekarang?" tanya Clara ragu.


"Lo beneran nggak pa pa?" Clara menatap Reno penuh arti.


"Gue bisa kok tinggal disini lebih lama lagi," lanjut Clara.


Reno menghentikan aktifitasnya dan duduk di tepi kasur, dia menatap lekat Clara yang masih berdiri membelakanginya.


"Aku rasa kita sudah sedikit jauh dari surat perjanjian, ini terlalu berlebihan." ucap Reno.


Clara memainkan jemari kakinya, lidah ya masih kelu untuk mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya beberapa waktu ini.


"Aku ..." Clara masih bingung mencari kata untuk menjelaskan.


"Bisa tolong di jelaskan?" tanya Reno yang bangkit dan memutar tubuh Clara sehingga mereka saling bertatapan.


Sekian detik Clara membatu menatap mata indah Reno, entah sejak kapan dia merasa kalau tatapan ini begitu menenangkan.


"Clara ..." panggil Reno lirih.


"Aku hanya memposisikan saat aku berada di tempatmu," jawab Clara.


"Nggak mudah. Saat semua orang berharap banyak kepada kita, sedangkan kita menipu mereka. Dan ..." Clara tak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Baik nggak usah di bahas lagi, kita berangkat sekarang. Besok aku akan kembali lagi," ucap Reno membuka pintu.


****


Tyo sudah bersiap dengan setelan jasnya dan hendak pergi ke kantor.


"Aku akan mengatakan semuanya," ucap Nadira yang keluar dari kamar mandi.


Tyo memutar tubuhnya dan menatap Nadira, dia tak menyangka semua akan terjadi secepat ini.


"Apa kau sudah siap?" tanya Tyo tidak percaya.


"Kelihatannya perjuanganku sudah cukup sampai disini saja, aku harus mengurus anakku. Tak ada alasan lain untukku tetap berada disini," ucap Nadira menatap Tyo.


"Maafkan aku, aku masih ..." ucap Tyo penuh penyesalan.


"Tidak usah di lanjutkan, memang aku yang terlalu percaya diri. Hatimu memang untuk Asih dan selamanya akan tetap sama, sama seperti aku saat ini. Aku hanya Ibu pengganti dan akan selamanya begitu." sahut Nadira.


"Siapkan mentalmu, mungkin Clara akan merasa terpukul dan saat itu kau harus bisa menenangkannya karena kehidupan kedepannya akan hanya ada kalian berdua." lanjut Nadira.


Nadira melewati Tyo begitu saja dan memutar ganggang pintu,


"Tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?" tanya Tyo lirih.


Nadira menghentikan langkahnya,


"Mike juga putraku, dia akan menikah 2 bulan lagi. Aku harap kau bisa mengerti dan sadar, berapa banyak waktuku yang terbuang untuk menebus dosaku," ucap Nadira, kemudian melanjutkan langkahnya.


Nadira melangkah menuju dapur, matanya menyapu tiap inci rumah ini. Kenangan indah sampai pahit terukir lekat dalam ingatannya.


Rumah ini sudah banyak memberikan dirinya pelajaran berharga, mulai dari berjuang sampai mengikhlaskan.


"Mbak Asih, aku sudah menepati janjiku." bisik Nadira lirih.


Tak terasa ujung mata Nadira mengeluarkan buliran air bening, dadanya terasa sesak bila mengingat ambisinya untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Sudah bangun Nya?" sapa Mbok Yem.


Nadira hanya tersenyum kecil dan melangkah mendekatinya, dia memeluk erat wanita senja yang selama ini menemaninya.


Mungkin dialah yang membuatnya mampu melewati semua ini,


"Jangan Nya ... bau asem, habis dari dapur," ucap Mbok Yem melepas pelukan Nadira.


"Tapi Dira suka kok," ucap Nadira manja, matanya memancarkan kesedihan mendalam.


"Nyonya kenapa?"