
Mata Clara terbelalak ketika melihat Riko sudah ada di hadapannya saat ini, Dia segera beranjak. Namun, Rico segera meraih tangannya dan menarik untuk duduk kembali.
Terbesit senyum penuh makna dari wajah Rico,
"Iya kan, dia bukanlah suamimu," ucap Rico menatap lekat Clara.
Clara tak mempedulikan omongan pria yang tak penting baginya, dia berdiri dari kursi dan hendak melangkah.
Namun, tangan Rico kembali meraih tangan Clara. Dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
"Lepas!" ucap Clara mengibaskan tangannya.
"Gue udah lepasin dia, balik ke gue lagi please." pinta Rico memelas.
Clara tak merespon semua usaha Rico, dia terus meronta-ronta untuk melepaskan tangan dari cengkraman Rico.
"Dengerin gue dulu Ra," ucap Rico menarik tangan Clara lagi, yang membuat tubuh Clara terhempas ke sofa.
Clara membenarkan posisi duduknya, sambil melempar pandangan ke arah lain.
"Gue sayang sama Lo Ra, dia udah gue lepas. Sekarang cuma ada kita berdua," ucap Rico menangkup jemari Clara.
Clara menolehkan kepalanya ke arah Rico dan tersenyum simpul.
"Gue nggak peduli, terserah Lo mau gimana yang jelas. Gue udah bahagia sama suami gue dan lo nggak usah ikut campur!" ucap Clara berdiri dari kursinya.
Rico hendak meraih tangan Clara kembali. Namun segera di tepisnya, kali ini dia sudah muak berada di dekatnya.
"Udah cukup, kita udah selesai," ucap Clara menekan kalimat akhir.
Mata Clara menatap tajam ke arah Rico, memancarkan semua amarahnya saat ini. Perlahan Rico mengangkat kedua tangan dan membenarkan posisi duduknya.
Clara melanjutkan langkahnya, terdengar Rico yang terus memanggil namanya. Tapi dia tak bergeming, Clara terus melanjutkan langkahnya.
****
Keramaian tak membuat Reno terbangun dari lamunan, otaknya masih berkelana jauh. Dia masih belum siap untuk memulai hidup palsu bersama bos nya tersebut.
Lamunannya terpecah saat mendengar ponselnya berdering kencang, dia merogoh benda pipih yang terselip pada kantong celana.
"Hallo Bu, ada apa? Tumben telfon Reno," jawab Reno sambil mengembangkan senyum menawan.
Tak ada jawaban dari ujung sambungan, dia melihat menit yang berjalan di layar ponsel.
"Hallo Bu, ada apa?" tanya Reno khawatir, detik masih berjalan. Namun tak ada suara yang menjawab pertanyaan nya.
"Maaf, ini Mas Reno ya?" tanya seorang di ujung sambungan.
Reno mengerutkan kening, dia semakin bingung. Berulang kali dia cek nomor yang menghubungi nya, karena tak percaya.
"Iya Bu, maaf saya bicara dengan siapa ya?" tanya Reno sopan.
"Saya Bu Maryam, tetangga Mas Reno. Maaf ya cuma mau ngabarin Ibu sekarang sedang sakit dan masuk rumah sakit." Jawab Maryam.
"Ibu sakit apa Bu?" tanya Reno semakin khawatir.
"Sebaiknya Mas pulang saja sebentar, buat nengokin Bapak-ibu." jawab Bu Maryam lagi.
"Iya Bu, ibu sampaikan ke Ibu-Bapak ya. Reno akan segera pulang," ucap Reno, kakinya melangkah kesana-kemari, dia cukup cemas.
Belum selesai masalah Clara, tiba-tiba dia mendapatkan kabar tidak enak dari desa.
"Bisa ngobrol sama Bapak atau Ibu?" pinta Reno.
"Mereka sedang di periksa dokter Mas," jawab Bu Maryam keceplosan.
"Maksudnya, Bapak sedang nebus obat di apotek. Ini Ibu masih di periksa dokter," dusta Maryam.
Hatinya semakin was-was saat dia mendengar suara kepanikan di ujung sambungan.