
"Maksudnya tidak punya anak?" tanya Reno
Clara duduk di kursi riasnya, dia memutar kursi tersebut dan menghadap Reno.
"Sama seperti yang tertulis di surat kontrak, kita tidak akan melakukan kontak fisik kecuali dalam keadaan terdesak," ucap Clara menatap Reno.
"Terdesak dalam artian?" tanya Reno dengan menautkan alisnya.
"Hanya saat ada di dekat Mama sama Papa, itupun sebatas bergandengan tangan." ucap Clara memijat pangkal hidung, semoga keputusan yang dia ambil benar.
"Lalu yang seprti ini gimana?" tanya Reno memutar bola matanya ke arah pintu.
Di bawah pintu terdapat rongga sedikit, sehingga mereka bisa melihat bayangan beberapa orang di balik pintu.
Keduanya bertatapan, Clara mengacak rambutnya. Entah mengapa Mama dan paanya samai sekepo ini dengan hubungan mereka,
Clara membuka matanya lebar dan mengangkat bahunya, mencoba bertanya pada Reno dengan bahasa isyarat.
Reno hanya menggeleng kepalanya lirih, saat ini otaknya sedang buntu tak dapat berpikir. Ternyata kedua orang tua Clara jauh lebih tidak nalar di bandingkan kedua orang tuanya.
Bila Bapak-ibunya hanya meminta seorang calon istri, setelahnya mereka akan percaya dengan mudah. Tapi tidak dengan Mama-Papa Clara, mereka lebih sensitif.
Terdengar ketukan pintu yang membuat mereka terperanjat kaget. Mata mereka saling bertemu, berusaha mencari jawaban di situasi sesulit ini.
"Nak sudah tidur belum? Mama ada yang kelupaan nih," ucap Mama Clara dengan suara yang mendayu-dayu.
"Bentar ya Maa ..." teriak Clara dari dalam kamar.
Ternyata Mamanya serius dengan niatnya untuk mempercepat memiliki momongan. Dan ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Sebelum Mamanya melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dia tak akan pergi.
"Buka baju! cepet," ucap Clara menatap Reno.
Mendengar permintaan Clara membuat otak Reno traveling kemana-mana. Baru saja dia bilamhg tidak boleh kontak fisik, dan sekarang malah buka baju?
Reno tak segera membuka bajunya, dia masih membatu melihat wajah panik Clara yang terlihat lebih cantik dari pada sebelumnya.
"Kok bengong sih? cepet!" ucap Clara yang tak bisa menunggu lama, di segera menarik kaos yang membalut tubuh Reno.
"Stop, Saya bisa sendiri." ucap Reno yang menarik kaosnya, dan tak sengaja menggenggam tangan Clara.
Keduanya melempar pandangan ke arah yang berbeda, untuk menutupi wajah yang memerah karena malu.
"Clara, kamu ngapain sih sebenarnya?" tanya Mama yang masih menunggu di depan pintu.
"Nggak bisa, Mama mau lihat mereka dulu," ucap Mamanya yang tidak mau percaya begitu saja pada putrinya.
Papa yang enggak mengikuti tingkah gila istrinya, dia segera melangkah pergi. Apa untungnya mengganggu pengantin baru?
Reno segera melepas kaosnya, untung saja mata Clara dapat di kondisikan. Dia segera mendorong Reno untuk membuka pintu.
Perlahan Reno melangkah mendekati pintu dengan melawan rasa gugupnya.
"Buka cepet" ucap Clara mendorong Reno untuk lebih mempercepat langkahnya.
"Dalam keadaan seperti ini?" ujar Reno tak yakin.
Clara hanya menganggukkan kepalanya lirih, seolah sudah yakin dengan apa yang dia rencanakan.
Clara segera berlari ke lemari dan mengambil beberapa pakaian dalamnya, tidak lupa dia meraih satu buah lingerie berwarna terang. Dia menaruhnya di sembarang tempat, seolah baru saja terjadi peperangan panas.
Setelah tugas Clara selesai, dia segera naik ke ranjang dan menutup semua tubuhnya. Sementara itu Reno sudah sampai di ambang pintu dan mulai memutar ganggang.
"Maaf Ma nunggu lama, tanggung," ucap Clara setelah pintu terbuka.
Mama Clara terbelalak ketika melihat pakaian dalam yang berserakan di lantai, dan melihat putrinya yang di balut selimut tebal dengan wajah merona.
Melihat kamar Clara yang acak-acakan membuat wajah Mamanya memerah, di tambah lagi melihat Reno yang sedang bertelanjang dada dan bersembunyi di balik tembok.
Seolah menegaskan kalau memang terjadi peperangan panas, dan malah dialah pengganggunya.
"Maaf ya, Mama ganggu banget ya," Mamanya kembali menutup pintu dengan menahan malu.
Reno hanya melempar senyum kikuk, baru kali ini dia bertingkah tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
Setelah pintu tertutup, keduanya menghembuskan nafas lega. Reno menyandarkan tubuhnya ke pintu, matanya terbelalak ketika melihat pandangan kamar Clara.
Sebuah bra, ****** *****, bahkan lingerie **** sudah berserakan di lantai. Di tambah pose Clara yang eksotis.
Pantas saja Mama Clara segera pergi, pemandangan sekian rupa. Jangankan Mama Clara, bahkan dirinya saja semakin malu.
"Hei, tutup matamu!" ucap Clara sedikit meninggikan suaranya.
Reflek Reno menutup matanya dan berbalik badan.