
Mike menuntun Clara untuk keluar ruangan, Geovana hanya dapat tersenyum kecut ketika mengetahui bahwa atasannya adalah seorang adik dari orang kaya.
Mike dan Clara melangkah menuju cafe yang tak jauh dari kantor mereka, Mike hanya tak mau masalah keluarga mereka di ketahui banyak orang.
Mike menatap lekat gadis yang duduk di hadapannya, sejujurnya dia sangat marah. Namun melihat Clara tulus, dia mengurungkan niatnya.
"Aku akan membawa Mama pergi," ucap Mike dingin.
"Kemana?" sahut Clara.
"Hidup denganku, aku sudah mengalah banyak denganmu kan?" ucap Mike.
"Ya kau benar, aku telah mengambil segalanya darimu," ucap Clara ikhlas, tak ada yang perlu di ributkan ucap Mike memang semuanya benar.
"Tolong jaga Mama, aku akan selalu mendo'akan kebahagiaannya," lanjut Clara dengan mata berkaca.
Melihat Clara yang demikian, sungguh Mike tak tega. Namun tak ada pilihan lain, Mamanya juga berhak bahagia.
Mike mengeluarkan titipan dari mamanya yang harus di berikan kepada Clara. Dia mengeluarkan selembar amplop berwarna coklat yang cukup besar.
"Ini dari Mama untukmu sebagai ucapan perpisahan, dia meminta maaf karena tak bisa datang menemuimu," ucap Mike menyodorkan amplop tersebut.
"Ya, terima kasih Kak." ucap Clara meraih amplop tersebut .
Setelah amplop berpindah tangan, Mike segera bangkit dari duduk dan melangkah pergi.
"Apapun yang terjadi, kau akan tetap menjadi kakakku" ucap Clara.
Mike menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, dia melangkah mendekati Clara dan memeluknya erat.
"Harusnya kita bisa hidup bersama," bisik Mike lirih.
"Tolong Kak jaga Mama," pinta Clara lirih.
"Jaga dirimu baik-baik, nanti kami akan sering datang kemari." ucap Mike dan melangkah pergi.
Clara melempar senyum ke arah Mike yang melangkah pergi, setelah kepergian Mike dia membuka sebuah amplop untuknya.
Dengan hati-hati Clara membuka amplop coklat tersebut. Di dalam nya terdapat beberapa foto gaun pengantin dan beberapa gambar dekorasi.
Di sana juga terselip surat dan sebuah kotak berwarna merah.
"Mama hanya bisa memberi ini tak lebih, Meskipun kau tidak mencintainya tapi percayalah dia orang yang baik. Mama nggak pernah maksa kamu untuk menikahinya, tapi satu hal yang perlu kau tau, akan lebih baik hidup dengan orang yang mencintai dari pada dicintai."
Clara membuka kotak tersebut, terdapat sebuah set perhiasan. Ada kalung cincin dan anting, Clara tersenyum simpul saat melihat ada secarik kertas di dalamnya.
"Mama nggak kasih kamu gelang, besok saat kamu nikah. Mama akan antar jam tangan buat kamu,"
Seketika mata Clara mengalir aliran air bening yang mengalir deras,
"Kamu kenapa?" tanya Reno duduk di samping Clara.
Clara hanya diam dia mengulurkan amplop yang barus saja di terimanya dari Mike. Reno segera membuka dan membaca amplop tersebut.
"Sejujurnya aku nggak percaya dengan apa itu cinta, itu alasan kenapa aku nggak mau nikah. Cinta terlalu menyakitkan dan rumit," ucap Clara menatap perhiasan yang ada di hadapannya.
Reno menutup amplop dan menatap Clara, dia tau bagaimana masa lalunya. Bagaimana hatinya yang hancur dan sulit di sembuhkan.
Kadang Reno merasa ini semua tak adil baginya, dia harus mendapatkan Clara yang terbuka dengan hubungan percintaan saat dirinya mendapatkan cinta yang tulus.
"Semua ada di tanganmu, kapanpun kau menginginkannya aku akan selalu siap. Aku menunggumu." ucap Reno menatap lekat manik mata Clara yang masih berkaca.
Clara membuang muka, lihatlah buaya jantan di hadapannya. Dia seolah menjadi pria yang sangat perfect siang ini.
Apa dia tidak ingat kemarin dia baru saja mengantar gadis menyebalkan yang saat ini satu ruangan dengannya.
Entah mengapa mengingat Reno mengantar Geovana pulang kemarin membuat emosinya meledak.
"Loh ko bisa, kita pernah tidur satu ranjang. Dan tidak ada apapun yang terjadi kan?" ucap Reno lirih.
"Tetap saja tidak bisa, aku suka pria murahan." Clara bangkit dari kursi dan melangkah keluar cafe.
Reno meninggalkan selembar uang berwarna biru di meja dan melangkah menyusul Clara yang mulai menjauh.
Berulang kali Reno memanggilnya, namun dia tetap tak berhenti. Tanpa menengok Clara menyebrangi jalan begitu saja.
Di ujung jalan melintas motor dengan kecepatan tinggi, di saat yang bersamaan Reno segera berlari dan berusaha menarik tangan Clara.
Brukk ...
Mereka berdua terjatuh di lantai, Mata Reno terbelalak ketika melihat seorang di hadapannya.
"Loh kok Mbak?" tanya Reno semakin bingung karena yang ditolongnya bukanlah sosok Clara.
Reno dan gadis itu bangun, mereka membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Kan, sudah kubilang juga apa! Aku nggak suka cowok murahan," ucap Clara yang melewati Reno dan wanita tadi.
"Loh kamu," Reno segera melangkah menyusul langkah Clara yang menyebrangi jalanan yang mulai sepi.
****
Geovana melangkah ke balkon, di tangannya terdapat dua gelas kopi panas yang masih mengebulkan asap tipis.
Matanya menyusuri setiap sudut ruangan ini, angin bertiup kencang menyibak rambut panjang yang menutupi paras cantik Geovana.
Dia masih ingat betapa terpuruknya dia saat itu, bila mengingat ini semua dia merasa sangat malu kepada Reno.
Mulai saat itu dia menaruh perasaan kepadanya, dan saat itu pula dia bertekad untuk merubah hidupnya lebih baik lagi.
Sudah 30 menit berlalu, kopi yang tadinya panas sekarang sudah dingin. Terdengar detakan langkah kaki menaiki tangga.
Dengan wajah sumringah Geovana segera berbalik badan dan memasang senyum termanisnya. Namun sekali lagi dia menelan pil pahit.
"Loh ada warga baru ya?" tanya Juna kepada Geovana.
Melihat bidadari cantik Juna segera mengambil kesempatan, dia melangkah perlahan dan menegakkan punggungnya. Berjalan seolah dia sedang berjalan di karpet merah.
Melihat yang datang bukanlah orang yang di tunggu, dia segera membalik tubuh dan meneguk segelas kopi dengan cepat.
Setelah segelas kopi itu habis dia segera melangkah pergi,
"Loh Mbaknya mau kemana?" tanya Juna memasang wajah kecewa. Baru kali ini dia di tolak oleh wanita yang baru saja jadi targetnya.
"Maaf saya masih sibuk, oiya ada segelas kopi buat kamu," ucap Geovana melewati Juna.
"Sebentar Mbak, ada yang ketinggalan." ucap Juna.
Melihat tampang Juna saja dia yakin kalau dirinya adalah playboy cap kadal, sehingga Geovana lebih memilih segera pergi dari pada harus membuang waktu.
"Udah buat kamu aja," jawab Geovana acuh.
Tanpa menoleh kebelakang dia segera membuka pintu dan melangkah menuruni anak tangga satu persatu.
"Ya sudahlah," ucap Juna mengambil sebuah dompet kecil di samping segelas kopi yang di tinggalkan Geovana begitu saja.
****
"Cepat telfon rumah Pak Tyo, kabarkan kalau Pak Tyo sekarang ada di rumah sakit." ucap salah satu karyawan Tyo.