
Bulan demi bulan berlalu, rumah tangga Reno dan Clara semakin harmonis. Tanpa terasa benih Reno sudah tumbuh semakin membesar di perut Clara.
Saat ini usia kandungan Clara sudah memasuki usia 28 Minggu, Clara pun sudah sering merasakan sakit di bagian pinggang dan kakinya. Tak jarang kaki Clara sampai bengkak di buatnya.
Terdengar isakan yang menganggu telinga Reno, dia segera bangun dan menepuk pundak Clara yang tidur membelakanginya.
"Kamu kenapa lagi sih sayang?" tanya Reno lembut.
"Sakit semua, mana aku tambah gendut. Terus karyawan Papa cantik semua, nanti kalau kamu selingkuh gimana?" Clara semakin terisak.
"Astaghfirullah Sayang, aku nggak punya niatan begitu. Kalau ada pasti aku sudah selingkuh sejak dulu kan," sahut Reno yang memeluk bumil dengan emosi yang tidak stabil ini.
"Tuh kan, kamu udah ada niatan selingkuh." Clara semakin merengek.
Astaghfirullah ... mungkin hanya kalimat itu yang dapat Reno ucapkan sambil mengelus dadanya. Semenjak Clara hamil, emosinya labil sekali. Pernah suatu saat dia sampai nyusul ke kantor dan duduk di ruang rapat. Untung saja dia anak pemilik perusahaan, kalau tidak. Dia pasti sudah di seret paksa.
Pintu kamar Clara di ketuk, Reno segera bangun dan membuka pintu.
"Sudah Den Reno istirahat saja, biar Mbok yang nemenin Non Clara." ucap Mbok Yem lembut.
Saat ini usia Mbok Yem sudah semakin tua, tapi syukurlah dia masih bisa membantu Reno dalam menghadapi emosi Clara yang labilnya sudah seperti remaja PMS.
Biasanya Mbok Yem yang akan menenangkan Clara pada saat seperti ini, karena di malam Clara selalu menangis saat berada di samping Reno. Sedangkan paginya dia selalu mual saat suaminya mendekat.
Untung saja sabar Reno setebal kamus bahasa inggris, jadi dia tidak pernah marah sedikitpun pada Clara.
****
Hari demi hari berlalu, Reno tetap menjadi suami siaga di samping Clara. Mereka tak melewatkan satu kali pun senam ibu hamil, walau terkadang hanya Reno saja seorang pria di sana.
Reno juga sering menemani Clara jalan-jalan pagi sampai memijat kaki dan punggung Clara, walaupun masih ada konsekuensi untuk Clara setiap meminta bantuan Reno.
Semua berlangsung baik sampai hari itu tiba, Clara melahirkan. Di titik ini Reno berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan terus menjaga Clara dan bayi mungilnya.
Melihat Clara berjuang mengeluarkan benih yang tumbuh dalam perut Clara membuatnya tak henti-hentinya bersyukur memiliki wanita tangguh seperti istrinya.
Air mata bahagia berlinang saat Reno menggendong buah hatinya, dengan khusyuk dia mengumandangkan adzan ke telinga bayi tersebut. Melihat pemandangan ini membuat Clara tak dapat menghentikan laju air matanya.
"Terima kasih, ini sangat sempurna." bisik Clara lirih.
"Lihat Sayang, kamu hebat ... anakku ganteng kaya aku ..." ucap Reno tersenyum haru sambil menyodorkan bayi merah itu ke Clara.
"Nggak adil banget sih, aku yang hamil, ngelahirin. Eh mirip Papanya." perotes Clara dengan suara lemas.
Reno hanya tersenyum kecil dan mengecup kening Clara,
"Makasih Sayang, Aku sangat mencintaimu. Aku janji nggak bakalan nakal." Reno menghapus air mata Clara yang masih bercucuran.
****
Hari demi Hari Clara belajar menjadi seorang ibu, dan ini semua sangat tidak mudah baginya. Dia pikir saat bayi itu di lahir kan, maka penderitaannya akan berakhir.
Namun nyatanya, ini lebih dari yang dia bayangkan. Dia harus bangun dua jam sekali untuk menyusui, belum lagi ASI yang tidak lancar.
Jam tidur dan makan yang tidak teratur membuat tubuhnya menjadi tidak terawat dan semakin membengkak.
Jangankan kesabaran Clara, kesabaran Reno masih terus di uji. Untung saja kehidupan mereka baik-baik saja sampai saat ini.
Dulunya Clara berpikiran kalau hidupnya akan berantakan bila ada seorang bayi dalam hidupnya, apalagi dia sangat sensitif bila melihat perubahan yang signifikan pada tubuhnya.
Dia selalu menjaga kewarasan Clara, hal yang paling dia kagumi oleh seorang Reno adalah ... dia tak pernah menuntut apapun dari Clara.
Setiap harinya mereka belajar dan belajar menjadi seorang pasangan suami istri yang saling melengkapi, bukan menyalahkan satu sama lain.
Reno selalu bangun tiap malam dan bergantian menjaga Abizar, putra mereka. Di sore hari saat Reno pulang kerja, dia langsung mengambil alih putranya.
Clara duduk di kasur, hari ini masih pagi. Reno sudah bangun dan membersihkan kamar mereka, dia tau ada Mbok Yem yang akan membereskan kekacauan kamarnya. Tapi dia tidak enak hati karena melihatnya sudah sangat tua.
"Udah sini biar aku aja," ucap Clara meraih keranjang baju kotor yang Reno bawa.
"Nggak usah sayang, udah kamu tidur lagi aja. Semalem Abizar rewel kan." ucap Reno membereskan kasur mereka yang di penuhi popok dan tissue.
Clara memeluk Reno dari belakang, dia merasakan kehangatan yang membuat dirinya tenang. Sungguh Clara tak ingin kehilangan semua ini.
Reno menaruh keranjang baju kotornya dan menoleh ke belakang, dia membalas pelukan Clara. Terdengar isakan dari istri imutnya itu.
"Kok nangis sih, aku ada salah ya?" tanya Reno lembut.
"Makasih buat semuanya ..." ucap Clara lirih.
Reno menangkup wajah mungil Clara dan sedikit mendongakkan, tampak buliran air mata yang masih menetes.
"Jangan nangis dong, kan nanti Abizar juga nangis," ucap Reno menghapus air mata Clara.
Cup ...
Reno mengecup bibir Clara lembut kemudian beralih ke kening.
"Aku yang makasih, udah berjuang buat Reno junior. Lihat dong ganteng kaya Papanya, kalau nggak ada ku dia nggak mungkin sampai sini loh," ucap Reno menatap kedua mata Clara.
"Gimana kalau kita olahraga aja, sepertinya badan kamu udah ... sedikit ... begitulah ... nanti aku nggak kuat kalau kamu minta di atas ..." ucap Reno sambil tersenyum kecil.
"Jadi maksudmu aku tambah jelek, gendut, jadi kamu nggak mau kalau aku di atas ... kita lihat seberapa gendutnya aku." ucap Clara melepas tangan Reno di wajahnya dan mendorong Reno di sofa.
"Nggak sayang .... nggak, jangan mulai. Udah pagi ini, nanti aku telat kerja loh please. Ampun ..." ucap Reno menahan Clara yang mau membuka bajunya.
"Kan coba dulu, katanya aku berat ..." sahut Clara yang sudah mau menarik tali celana Reno.
"Sayang ... nggak boleh nakal, udah tidur sana gihh ... nanti Abizar bangun loh," ucap Reno menahan agar celananya tidak melorot.
"Nggak mau ... aku mau sekarang ..." kekeh Clara.
"Sayang, lepasin nggak ..."
.
.
.
.
.
Di luar tepat di balik pintu Tyo tersenyum tipis, mendengar kedua anaknya bersenda gurau, dia sangat bersyukur hidupnya dan Clara bahagia sampai detik ini.
Setiap orang punya masa kelam, kalau ada niat pasti kita bisa bangkit dari keterpurukan. Dan lagi, jodoh pasti tidak akan tertukar