I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
Extra part 3 (Tamat)



Extra part 3


Rumah Menteng hari ini terlihat ramai dengan berdirinya tenda putih dengan kursi-kursi yang tertata rapi, beberapa orang berseragam hitam putih dengan rompi hitam terlihat hilir mudik memastikan makanan yang berada di meja prasmanan tak pernah kosong, di dalam rumah terdengar shalawat yang mengiringi para sesepuh memotong sedikit rambut bayi lucu dengan hidung mancung, pipi tembem dan kulit putih kemerahan yang kini tertidur di buaian sang ibu seolah tak peduli dengan kebisingan di sekelilingnya.


Ya, hari ini adalah hari kekahan Daniswara Mahesa, cucu pertama sang Raja perhotelan dan retail Rudi Mahesa yang kini telihat sedang berbincang dan tertawa dengan besannya Andi Santoso yang sengaja datang dari Surabya untuk menghadiri acara kekahan cucu pertamanya.


“Ya ampun, Na, lucu bangeeet … iiiiih gemeeesssshhhh!” Siska telah jatuh cinta kepada bayi sahabatnya itu dari pertama kali melihatnya.


“Kaya gue kan?”


“Lu cuma nyumbang bibirnya doang, semuanya plek-plek-plek bapaknya.”


Kirana mendecih, saat ini Kirana ditemani Anggi dan Siska sudah masuk kembali ke kamar Caraka di rumah Menteng mengingat sangat riskan untuk bayi yang masih kecil berada di antara kerumunan banyak orang, jadi Kirana memutuskan untuk membawa masuk lagi bayi mugilnya ke dalam kamar.


“Gue nggak percaya kalau sekarang gue kenal salah satu bayi sultan ... sultan Menteng, hahaha.”


"Hahaha."


“Yang sultan itu kakeknya. Emak bapaknya cuma karyawan biasa.”


“Mana ada karyawan biasa punya saham 5%.”


“Hahaha.”


“Kak, aku penasaran apa kakeknya ngasih Danis saham juga?”


“Iya-iya benar, gue juga penasaran.”


Mereka bertiga kini duduk di atas kasur, sedangkan Danis terlelap di dalam boxnya.


“Enggaklah, kalian kira ngasih saham itu kaya ngasih permen apa.”


“Ya, siapa tahu, gak mungkin juga kan seorang Rudi Mahesa ngasih minyak telon sama bedak bayi,” ucap Anggi membuat Kirana dan SIska tertawa.


“Hahaha … ngasih minyak telon sama pabrik-pabriknya mungkin saja," ucap Siska sambil tertawa.


“Secara cucu pertama. Jangankan kakeknya di sini, yang di Surabaya saja hebohnya minta ampun.”


“Termasuk tantenya.”


Anggi hanya nyengir mendengar ucapan Kirana. Bagaimana Anggi tidak heboh, setiap melihat baju atau sepatu bayi lucu dia akan membelinya dalam berbagai ukuran dan mengirimkannya ke Jakarta. Bukan hanya Anggi, nenek-neneknya di sini pun sama hebohnya. Jadi sepertinya Danis tidak akan kekurangan pakaian dan sepatu selama setahun ke depan.


Ya, Danis memang mendapat limpahan kasih sayang dari semua orang mengingat dia adalah anak pertama dan juga cucu pertama dari kedua belah pihak. Dan itu sudah menjadi kekhawatiran Kirana, dia takut kalau anaknya akan tumbuh menjadi sosok manja dan egois karena semua keinginannya akan terkabul. Seperti Anggi ... dulu.


“Aku mau ketika besar nanti baby M jangan terlalu dimanja.”


“Ta …”


“Kita akan memberikan semua yang terbaik untuknya, selama kita mampu dan dianggap perlu. Seperti sekolah, kita akan memberikan pendidikan terbaik.”


"Pasti."


“Tapi bukan berarti baby M akan mendapatkan semua keinginannya. Mainan, hanya seperlunya saja, jangan terlalu memanjakannya dengan mainan. Aku tak mau baby M tumbuh hanya dengan berlimpah materi, tapi minim akhlak hingga dia akan menganggap remeh orang lain. Aku tak mau itu. Aku mau dia bisa memanusiakan manusia.”


“Setuju!”


“Aku mau walaupun dia cucu Rudi Mahesa juga Andi Santoso, bukan berarti dia akan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.”


Caraka terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk setuju. Saat itu Danis bahkan belum lahir ketika Kirana dan Caraka membicarakan tentang pola asuh anak, karena ada kekhawatiran dalam diri Kirana setelah melihat bagaimana antusiasnya semua orang menunggu kelahiran salah satu calon pewaris Mahesa. Kirana khawatir kalau mereka semua akan terlalu memanjakan anaknya.


“Hei, sorry apa aku mengganggu?” Caraka membuka pintu kamar membuat semua orang menatap ke arahnya.


“Tidak, masuklah,” jawab Kirana membuat Caraka tersenyum dan masuk ke dalam kamar.


“Bi, ada Rendra di bawah.”


“Rendra?” Anggi terlihat terkejut mendengar orang yang bu Mega kira sebagai kekasihnya itu.


“Iya, dia baru saja datang dan menanyakanmu.”


Anggi terdiam membuat Kirana, Caraka dan Siska saling pandang. Entah apa yang sedang terjadi, tapi sepertinya sesuatu telah terjadi di antara mereka.


“Aku dengar dia seorang pengacara,” ucap Siska yang mendapat anggukan dari Anggi. “Tampan?”


“Banget!” seru Kirana yang membuat Caraka memutar bola mata mendengar istrinya memuji pria lain di depannya.


“Kalau begitu kenalkan dia padaku.” Siska berdiri sambil menarik tangan Anggi membuat Anggi mau tidak mau berdiri sambil tersenyum. “Siapa tahu dia punya teman yang tak kalah keren yang bisa dia kenalkan kepadaku.”


“Hei, aku akan memberitahu Aldo tentang ini.”


Siska terdiam sesaat sebelum dia mengendikan bahu tak peduli sambil terus berjalan ke luar sambil menyeret Anggi, membuat Kirana tertawa. Sepertinya bukan hanya Anggi yang sedang ada masalah, tapi Siska juga sepertinya sedang ada masalah dengan pria yang selama setahun terakhir ini jalan dengannya.


“Danis masih tertidur?” Caraka berjalan ke arah box bayi dimana putranya yang tampan tengah tertidur dengan pulas.


“Dia sudah mimi banyak banget, jadi perutnya kenyang.”


Danis seperti bayi lelaki pada umumnya sangat kuat ketika menyusu membuat pertumbuhannya sangat cepat, berat badannya sudah jauh meningkat. Pipinya terlihat tembem dan badannya lebih berisi membuatnya semakin menggemaskan.


Kirana membaringkan tubuhnya di atas kasur, dia sangat lelah. Memiliki seorang bayi membuat pola tidurnya kacau. Setiap malam hampir dua jam sekali dia terbangun untuk menyusui atau mengganti popok. Caraka tentu saja mau membantunya, tapi dia belum berani mengganti popok. Kata dia takut tulang Danis patah karena kecil. Bagaimana bisa dia mengganti popok, menggendongpun dia masih terlihat kaku. Dia akan berani menggendong Danis kalau dialasi selimut tebal, itupun awapnya dalam posisi duduk tegak, kaku. Sekarang sudah lebih baik, tak sekaku dulu, dan sudah berani menggendongnya sambil berjalan.


“Bagaimana keadaan di bawah?”


“Sebagian besar tamu sudah pulang, hanya tinggal saudara saja.”


“Mamah sama ayah?”


Caraka mulai memijat tengkuk dan tangan kiri Kirana membuat Kirana tersenyum. Setiap malam ketika Danis tertidur Caraka akan memijat Kirana karena dia tahu istrinya pasti sangat lelah mengurus bayi seorang diri.


“Ada di bawah, ayahmu sedang berbicara dengan papah dan beberapa teman papah. Mamah Mega sedang di dapur bersama Mamah dan tante Yanti sedang membagi-bagi makanan yang akan di bawa pulang ke Cibubur, dan dibagikan di sana.”


Kirana mengangguk mengerti.


“Sayang, apa mungkin ayah dan ibumu kembali lagi?”


“Jangan bicara macam-macam!” Kirana kini memberikan tangan kanannya untuk dipijat secara bergantian.


“Aku hanya penasaran. Mereka masih terlihat akur seperti pasangan suami istri, bukan seperti mantan suami istri.”


“Ya, itu tandanya mereka sudah sama-sama dewasa dalam berpikir dan bertindak. Bercerai bukan berarti harus jadi musuhan kan? Dan apa menurutmu mamah akan mau menjadi istri kedua? Tidak! dan apa menurutmu mamah mau kembali lagi kepada ayah setelah ayah meninggalkannya dulu? Tidak! Dan jangan lupakan Oka.”


Tentu saja bu Mega tidak akan mau menjadi istri kedua siapapun. Dia juga tidak mungkin akan kembali kepada lelaki yang dulu meninggalkannya ketika sedang hamil di negri orang bersama dengan Kirana yang masih kecil. Ditambah lagi Oka yang sepertinya masih belum bisa menerima ayahnya dengan sepenuh hati.


“Ngomong-ngomong soal anak nakal itu, bagaimana mungkin dia tidak datang ke sini untuk menghadiri kekahan keponakannya, dan malah memilih acara di kampusnya.”


Kirana cemberut membuat Caraka terkekeh melihat istrinya yang cemberut kemudian mengecup bibir Kirana yang langsung tersipu.


"Dia masih mahasiswa baru, masih perlu penyesuaian dari ritme anak SMA menjadi Seorang mahasiswa."


Caraka kini ikut membaringkan tubuhnya di samping Kirana, untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang dan tersenyum.


“Maaf, kita bahkan belum pergi bulan madu, dan kamu sudah direpotkan dengan berbagai urusan kehamilan dan kini …”


“Hei, tidak ada yang perlu disesalkan. Bulan madu hanya liburan sepasang suami istri. Kita bisa melakukannya kapanpun.”


“Tapi … “


“Tidak ada tapi … bukankah kita memiliki Danis yang membuat semua orang jatuh cinta padanya, dan iri kepada kita?”


Caraka tersenyum, tangannya meyampirkan rambut Kirana ke belakang telinga dan bahu ramping istrinya.


“Terlalu banyak hal yang patut kita syukuri daripada kita mengeluh hanya karena sesuatu hal yang kecil seperti bulan madu.”


Caraka mencium Kirana lembut.


“Kamu tahu? Ini salah satu alasan aku jatuh cinta padamu. Selalu tenang, berpikir rasional, dan penuh syukur.”


“Hehehe … apa lagi yang harus ku keluhkan? Aku memiliki suami yang paripurna.”


“Hahaha.”


“Anak yang sehat dan menggemaskan.”


Caraka mencium kening Kirana dalam.


“Mertua yang menyayangiku seperti putrinya sendiri … dan jangan lupakan mereka sangat kaya.”


“Hahaha.”


“Dan juga orangtua yang luar biasa.”


Kirana tersenyum sambil mengangguk.


“Terlepas dari masalah yang harus ku hadapi untuk mencapai titik seperti sekarang. Itu adalah pelajaran dan tempaan yang harus ku jalani hingga akhirnya aku bisa seperti sekarang. Jadi … apa lagi yang harus ku keluhkan?”


Carak tersenyum kemudian memeluk Keirana erat.


“Yaa … selain kamu yang selalu lupa dimana menyimpan ponsel dan kunci.” Caraka mulai terkekeh. “Dan kamu yang selalu menaruh baju kotor dan sepatu dimana saja, tidak ada lagi yang perlu ku keluhkan.”


“Hahaha … hei, bukannya tadi kamu bilang suamimu paripurna?”


Kirana mendongak menatap Caraka yang menatapnya dengan senyum lebar, dia kemudian mencium suaminya itu sambil tersenyum.


“Aku lupa, kalau tidak ada manusia yang sempurna.”


“Hahaha.”


“And I love you just the way you are (Dan aku mencintaimu apa adanya).”


Caraka tersenyum mendengar ucapan Kirana yang biasa selalu dia ucapkan dulh kepada perempuan yang kini telah sah menjadi istri dan ibu dari putranya.


Ya … tidak ada manusia yang sempurna.


Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.


Yang membedakan adalah apa kita mengakui dan memperbaiki kesalahan itu, atau kembali melakukan kesalahan yang sama?


Ya … itulah kita … manusia biasa yang tak sempurna, tapi terkadang berlaga bak malaikat tanpa dosa yang hanya melihat ketidak sempurnaan pada orang lain, dan lupa dengan ketidak sempurnaan sendiri.


Seperti dulu yang Kirana lakukan kepada ayahnya.


Dia mengharapkan sosok sempurna dari sang ayah, tapi dia lupa kalau ayahnya hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.


Hingga akhirnya dia mencoba menapaki masa depan dengan memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.


Dan Hadiah yang dia dapatkan dari memaafkan adalah …


Perasaan damai, dan jiwa yang tenang.


Tawa di wajah ke dua orangtuanya.


Dan kebahagian yang dirasa sempurna.


Seperti yang dikatakan salah satu khalifah terbaik yang pernah dimiliki dunia ini, Ali Bin Abi Tholib mengatakan kalau memaafkan adalah kemenangan terbaik, dan Kirana telah merasakan kemenangan itu.


...*** Tamat***...


Alhamdulillah akhirnya kisah Kang kopi dan si teteh telah tamat.


Terima kasih banyak untuk semua yang banyak membantu hingga akhirnya kisah ini selesai juga (peluk satu-satu).


Untuk Mbak Anis yang sangat luar biasa membantu Kirana selama di Surabaya, yang sudah mau direpotkan dengan segala tektek bengek seputar Surabaya dan Pacitan. Matur nuwun, Mbak Anis, semoga Allah membalas semua kebaikan Mbak Anis … Aamiin.


Untuk semua yang mempromosikan kisah Kang kopi ini di medsos, hingga pada akhirnya cerita ini banyak dikenal orang … terima kasih banyak, semoga Allah membalas semua kebaikkan semuanya … aamiin.


Dan terakhir untuk emak-emak warga antah berantah yang selalu full support hingga kisah ini akhirnya bisa selesai (walau di bawah ancaman panci, sendal, tabung gas dan barbel yang melayang), terima kasih banyak, hatur nuhun, matur nuwun.


Cerita Kirana ini adalah cerita terpanjang yang saya buat, dan dalam keadaan on going pertama di NT. Banyak banget rombakan alur cerita di sana-sini karena satu dan lain hal, alhamdulillah walaupun bikin migren tapi akhirnya kisah ini selesai juga.


Sekali lagi terima kasih banyak untuk semuanya.


Untuk kopi, bunga bahkan votenya … terima kasih banyak.


Untuk favorite, like dan komen-komennya … terima kasih banyak, selalu menghibur membaca setiap komentar dari teman-teman. Maaf tidak bisa membalas satu-satu, tapi saya pastikan membaca semua komentarnya, dan terima semua masukannya.


Oh iya, pemenang vote adalah kisahnya Oka & Bi … insyaallah secepatnya akan diupload, tapi tidak bisa janji kapannya yang pasti nanti akan saya kasih pengumuman di sini ya … jadi, sampai jumpa di kisah selanjutnya.


*B**ig Love n Hug*.


A.K