I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
22. Takeshi Castle




Takeshi Castle



“Jangan gugup, mereka tidak akan makan kamu.” Caraka mencoba menenangkanku yang dari tadi duduk dengan gugup di dalam mobilnya.


“Tidak bakal dimakan, cuma dipelototin sampai gosong,” ucapku sambil berusaha tenang.


“Hahaha.”


“Aku sudah oke kan? Bajuku, oke? Tidak bakal bikin malu kamu kan?”


“Sayang, kamu sudah bertanya tentang itu berkali-kali … dan jawabanku masih sama, kamu sudah oke pakai banget, sudah cantiiiik banget.”


“Iiih, serius.”


“Serius … aku sampai pangling lho lihat kamu tadi, lebih cantik dari yang waktu kita ke opening restoran Tante Diah.”


Aku tersenyum malu mendengar pujiannya. Aku memang sedikit berdandan hari ini, dan semua karena the one and only my bestie Siska. Kali ini aku benar-benar harus berterima kasih padanya, dan bersyukur karena memiliki sahabat yang punya toko palugada.


Sepulang dari kerja, pagi-pagi aku langsung menggedor rumahnya, walaupun ngomel-ngomel karena dipaksa bangun. Namun setelah mendengar ceritaku kalau hari ini aku akan makan siang dengan keluarga Caraka, dan bingung karena tak tahu harus pakai baju apa. Aku tak mungkin memakai pakaian yang sama seperti saat pembukaan rumah makan mamahnya Abi kan? Dan tak memungkinkan juga untuk belanja karena tidak ada waktu. Jadi, Siska adalah satu-stunya harapan. Dan seperti yang ku duga dia ikutan heboh mencari pakaian untukku dengan menghubungi beberapa toko rekanannya.


Alhasil aku mendapatkan dress cantik berwarna peach dengan panjang di bawah lutut yang terlihat sederhana dan sopan, cocok untuk acara makan siang. Siska bahkan ikut heboh mencari sepatu dan tas yang cocok dengan bajuku. Kali ini aku lebih lama mematut diri di depan kaca daripada saat pertama Caraka mengajakku bertemu dengan teman-temannya, karena ini adalah pertempuranku yang sebenarnya, jadi persiapanku pun harus lebih matang lagi.


Jantungku semakin berdetak cepat ketika mobil memasuki kawasan elit yang cukup terkenal di bilangan Menteng - Jakarta Pusat. Setelah melewati gerbang kompleks yang mewah dengan pengawasan ketat, kini aku benar-benar dibuat menganga dengan besar dan megahnya rumah-rumah yang ada di samping kanan – kiri jalan yang dipisahkan oleh pohon palm yang ditanam sebagai separator. Rumah-rumah itu terlihat mengintimidasi, dengan gerbang tinggi membuatnya terlihat sepi seolah terisolasi dari dunia luar.


“Aku tak mau punya rumah di sini,” ucapku masih dengan mata menatap kanan – kiri jalanan.


“Kenapa?”


“Sepertinya tak punya tetangga, kalau ada apa-apa bakal susah kalau tidak punya tetangga.” Jawabku masih menatap rumah mewah itu. “Terus tidak ada tukang baso, mie ayam, bubur, siomay, sama es dawet atau cingcau yang lewat … menyiksa banget itu.”


“Hahaha.” Caraka hanya tertawa mendengarku. “Tapi di sini, emak-emaknya tak ada yang menggosip di tukang sayur kalau pagi.”


“Hahaha, iya sih … tapi itu adalah salah satu seni dalam bertentangga, bukan cuma bergosip saja, tapi kami pun saling tolong-menolong, kalau ada apa-apa tetangga langsung cepat-capat bantu, bahkan kami bisa tukaran masakan ataupun minta bumbu dapur kalau misalnya habis, itu enaknya tinggal di perkampungan.”


Caraka terlihat mengangguk-anggukan kepala, kami kini melewati sebuah taman lengkap dengan jogging track dan danau buatan, tak jauh dari sana terdapat 2 lapangan tenis dan satu lapangan basket. bisa ku bayangkan Caraka muda bermain basket di sana bersama teman-temannya, pasti terlihat keren.


“Sudah tidak begitu tegangkan sekarang?” Caraka bertanya sambil menatapku.


Baru ku sadari kalau kami kini telah berhenti di depan sebuah gerbang yang sama tinggi seperti rumah-rumah sebelumnya.


“Kita sudah sampai?” Aku bertanya kaget ketika gerbang itu perlahan terbuka secara otomatis kemudian memerlihatkan dua orang satpam yang menyapa Caraka.


“Iya, selamat datang di rumah keluarga Mahesa,” ucap Caraka sambil tersenyum, membuatku menghembuskan napas perlahan.


Setelah beberapa saat lalu aku sedikit mulai tenang, tapi kini kembali menggila ketika mobil memasuki gerbang yang langsung disuguhkan bangunan kokoh dan megah berwarna putih bak sebuah istana di negri dongeng, lengkap dengan taman yang terawat, asri dan luas, membuatku menelan ludah karena merasa terintimidasi oleh apa yang terpampang di hadapanku kini.


Caraka memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Jeep Wrangler hitam yang terlihat gagah.


“Candra sepertinya sudah datang,” ucap Caraka sambil memerhatikan mobil yang terlihat gagah.


“Itu mobil Candra?”


“Iya, kenapa?”


“Tidak, hanya ingat Oka … dia pasti bakal marah kalau aku bilang aku menaiki mobil idamannya, hihihi.”


“Oka suka otomotif?” tanya Candra sambil membuka seatbelt nya, begitu juga denganku.


“Lebih tepatnya dia menyukai jenis mobil Jeep, dan ini Wrangler? Yang benar saja, dia bisa-bisa pingsan hanya dengan melihatnya saja.” Caraka hanya tersenyum mendengarku.


Orang kaya mah bebas. Ya … kalau uang di rekening sudah tak ternilai lagi berapa saldonya sih bebas saja membeli barang-barang dengan harga selangit, itu hak mereka, uang mereka jadi terserah mereka mau digunakan untuk apapun juga, termasuk beli mobil yang harganya mencapai 1,5M! Gilakan?! Bahkan mobil Caraka yang hari ini dipakainya kalau menurut Mbah G, harganya lebih dari 2M!! double gila!!


Kalau aku punya uang sebanyak itu, aku akan memilih beli rumah, terus membuat kontrakan berpintu-pintu, jadi setiap bulan tinggal menerima uang sewa saja. Aaah, nikmatnya tinggal kipas-kipas sambil rebahan. Namun apalah daya itu hanya kehaluan kaum rebahan macam aku ini.


“Ayo!” Aku kembali tersadar dari kehaluanku ketika Caraka membukaan pintu mobil untukku.


Kami mulai berjalan menuju pintu utama, dan jantungku kembali berdetak menggila, tanganku mulai terasa dingin. Caraka langsung menyadari kegugupanku, dia mengeratkan genggaman tangannya memberiku kekuatan.


“Assalamualaikum!” seru Caraka memberi salam ketika kami memasuki pintu depan.


Rumah megah dengan interior mewah kembali berhasil mengintimidasiku, dan itu benar-benar tidak nyaman. Aku ingin kabur dari sana, tapi genggaman tangan Caraka kembali memberiku semangat, membuatku mengurungkan niatku untuk balik kanan ke luar dari sana.


“Wa’alaikumsalam … Kakaang!” Seorang gadis yang sangat cantik tersenyum lebar menyambut sambil berlari ke dalam pelukan Caraka yang tertawa memeluknya dengan sebelah tangan, tanpa melepaskan genggaman tangan satunya lagi dari tanganku.


“Kapan pulang?” tanya Caraka setelah gadis dengan hidung bangir, kulit putih bersih, rambut hitam panjang itu melepaskan pelukan.


“Kemarin malam, Mamah kemarin memberitahuku kalau hari ini Kakang akan memperkenalkan seseorang. Jadi aku cepat-cepat pulang untuk bertemu siapa yang berhasil menaklukan sang petualang.”


“Hahaha.” Caraka tertawa mendengar ucapan gadis itu. “Na, kenalin yang cerewet ini adik bungsuku, Arletha … dan Leta, ini Kirana sang penakluk. Aduh!”


Caraka langsung mengaduh ketika ku cubit pinggangnya karena mengenalkanku seperti itu kepada adiknya yang cantik.


“Hai … Arletha, Kakak boleh panggil aku Arletha atau Leta, asal jangan Lelet,” ucap Arletha sambil menjulurkan tangan dengan senyum lebar yang ramah.


“Hahaha … Kirana, kamu boleh panggil Kirana atau Nana, asal jangan Kiki.”


“Cuma aku yang boleh manggil dia Kiki. Aduh! Ampun, galak banget sih!” Dia balas mencubit pipiku membuatku kini yang mengaduh.


“Hahaha … ayo, Kak! Yang lain sudah pada nunggu di dalam.” Tanpa di duga Arletha langsung merangkul tanganku mengajakku masuk ke dalam.


Aku menatap Caraka yang berjalan di belakang kami dengan senyum masih terpatri di wajah tampannya. Dia mengangguk seolah memberitahuku kalau tidak apa-apa, ada dia di sini yang akan melindungiku, membuatku ikut tersenyum.


“Lihat siapa yang sudah datang!” seru Arletha ketika kami sampai di sebuah ruangan yang luas, membuat tiga orang yang tengah duduk santai kini menatap ke arah kami.


Sebuah sofa besar yang terlihat sangat empuk dan nyaman dimana tiga orang tengah duduk di atasnya kini berdiri. Aku langsung menelan ludah melihat bagaimana mereka menatap menilaiku.


Oke! Aku rasa ini waktunya aku mendapatkan tatapan horror yang sering ku lihat di TV.


“Pah, Mah kenalin ini Kirana Az Zahra … Kirana, ini adalah orangtuaku dan Candra, adikku.”


Caraka mengambil alih diriku dari Arletha dengan merangkul bahuku, membimbingku untuk maju mendekati tiga orang yang masih terdiam menatapku.


“Kirana.” Dengan berdebar ku ulurkan tanganku, walau sedikit takut apa mereka akan menerima uluran tanganku atau tidak.


Hening beberapa saat yang seolah mencekik, membuatku hampir saja menarik kembali uluran tanganku.


“Jadi ini to yang namanya Kirana.”


Ibunya Caraka yang pertama menerima uluran tanganku dengan senyum simpul walau ku tahu dia masih berusaha menilaiku dengan sorot matanya. Tak memedulikan tatapan menilainya, aku langsung salim seperti yang diajarkan oleh Mamah, sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.


Ibunya Caraka terlihat cantik dengan kulit kuning langsat, aura keanggunan khas wanita priayi tanah Jawa sangat kental menguar dari tubuh mungil dengan rambut sebahu, lengkap dengan penampilan khas wanita kalangan atas.


“Candra.” Pria tampan, sedikit mirip dengan Caraka hanya saja sepertinya dia lebih pendiam dari Caraka, selain itu Candra berkacamata dengan tubuh lebih kurus dan kulit lebih putih dari Caraka menguluran tangannya dengan senyum simpul, tapi sorot matanya memancarkan keramahaan seperti halnya Arletha tadi, membuatku langsung menerima uluran tangannya.


Aku tak menyangka kalau akan mendapat sambutan yang ramah dari keluarga Caraka, terutama dari ibunya (hei! Setidaknya ibunya tersenyum kan?). Aku pikir mereka akan menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai dan mencibir (ibunya setengah melakukan itu, tapi abaikan saja. Setidaknya dia tersenyum!). Ah, Kirana, kamu terlalu banyak nonton sinetron azab! Buktinya mereka menyambutku dengan ramah, sia-sia saja dari tadi aku merasa gugup.


“Ehm!” Deheman dari ujung kanan membuatku menyadari kalau masih ada seseorang yang belum menerima uluran tanganku (bahkan tidak tersenyum padaku!).


Aaah, seharusnya aku tak cepat-cepat merasa lega, secara aku masih harus berjuang menembus benteng Takeshi yang kini menatapku tajam, mengintimidasi.


Bismillah … Semangat, Kirana, kamu bisa!!!


*****


Haiii ...


Turut berduka cita atas gempa yang terjadi di Jawa Timur, dan juga bencana yang terjadi di NTT semoga semua aman, selamat, dan cepat kembali normal ... aamiin 🙏🙏🙏


*Naaah ngomong" tentang Takeshi Castle mungkin b**agi anak" zaman now tidak tahu apa itu Takeshi castle atau benteng Takeshi, tapi bagi anak" thn 90an benteng Takeshi sudah tdk asing lagi (kelihatan tuanya 😓*)


Benteng Takeshi atau Takeshi castle adalah program permainan dari Jepang untuk menembus benteng Takeshi yang susaaah bgt, saking susahnya katanya hanya baru 3 orang saja yg berhasil nembus benteng Takeshi (lebih banyak orang yg mendarat di bulan drpd nembus benteng Takeshi 😅😅😅) ... nah kira" apa Kirana berhasil menembus pertahanan benteng Takeshi dan menaklukan sang Raja??? Kita tunggu besok ... hmmm ... besoknya lagi mungkin? Atau besok-besok-besoknya dan besoknya lagi? 😅😅😅 (keburu dilempar panci sama emak" 😅😅)


*Pokoknya t**etap semangat, dan salam sehat selalu* buat semuanya.


Love


A.K