
It's okay, I'm here with you
(Tidak apa-apa, aku di sini bersamamu)
Author, pov.
Tak pernah terbayangkan oleh Kirana kalau dia akan duduk di depan polisi dan dimintai keterangan sebagai korban pelecehan. Dengan suara gemetar dia menceritakan kronologis yang terjadi. Tubuhnya gemetar, jantungnya berdetak tak nomal ketika mengingat kembali bagaimana baji ngan itu melecehkannya secara verbal dan bibirnya dicium paksa, untung saja Caraka yang walaupun berantakan dengan luka-luka di wajahnya menemani dan menggenggam tangannya memberi kekuatan.
Perkelahian tadi bisa dipisahkan setelah pihak keamanan, karyawan hotel dan beberapa tamu turun tangan menahan Caraka dan kedua baji ngan yang sama-sama dibutakan oleh amarah. Kedua belah pihak masih mencoba merangsak maju seperti ayam jago yang siap beradu, sampai akhirnya polisi datang dan menggiring mereka berempat ke kantor polisi.
Kirana dan Caraka berada sebentar di kantor polisi hanya untuk memberikan keterangan, kemudian menyerahkan semuanya kepada Dimas, pengacara Mahesa group, yang datang setelah di telepon oleh Yesi, sekertaris Caraka.
“Wajahmu jadi luka begini.”
Kirana membersihkan luka di sudut bibir Caraka sebelum mengolesinya dengan salep kemudian menutupnya dengan plester luka.
“Tampannya berkurang ya?” ucap Caraka membuat Kirana sedikit tersenyum.
“Tidak … malah bertambah keren.”
Mereka kembali tersenyum, tapi Caraka bisa melihat kesedihan, amarah, dan juga luka di mata dan suara Kirana, membuat Caraka menangkup pipi kekasihnya itu.
“Jangan sedih lagi … akan ku pastikan mereka membusuk di penjara.” Caraka berkata dengan bersungguh-sungguh membuat mata Kirana berkaca-kaca sebelum akhirnya terisak.
Caraka memeluk tubuh Kirana, memberinya kenyamanana juga tempat untuk dia bersandar dan mengeluarkan semua emosi yang tadi sempat tertahaan. Entah berapa lama Kirana menangis dalam pelukan Caraka di atas sofa hitam apartemen pria itu, sampai akhirnya dia berkata,
“Aku merasa hina dan kotor.” Kirana mengerutkan tubuhnya yang gemetar membuat Caraka mengeratkan pelukannya. “Dia telah menyentuhku … baji ngan itu menyentuhku!”
Kirana berteriak dan kembali meraung menangis, membuat Caraka kembali dilanda amarah mengingat para baji ngan itu, dia mengeratkan pelukannha merasakan kesakitan secara mental yang dirasakan Kekasihnya.
Pelecehan apapun bentuknya tetaplah pelecahan. Tidak ada kata ‘hanya’ dalam sebuah pelecehan.
Menderita fisik dan mental … merasa diri hina, kotor, seolah tak layak untuk hidup, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup tak jarang melintasi benak mereka, dan tak sedikit pula yang akhirnya menyerah dan melakukan bunuh diri. Ada pula yang hidup, tapi akhirnya menjadi gila.
Sungguh, mereka manusia hebat yang masih bisa berdiri tegak, melanjutkan hidupnya setelah menjadi korban rudapaksa. Tak bisa terbayangkan bagaimana menderitanya seorang korban rudapaksa yang seluruh tubuhnya disentuh oleh iblis yang menjelma menjadi manusia.
Tak sedikit pelaku rudapaksa yang melenggang bebas begitu saja, tapi tak sedikit pula yang akhirnya mendekam dipenjara. Tapi hanya itu! Setelah mereka bebas, mereka kembali bisa menikmati hidup seolah tinggal di hotel prodeo beberapa bulan bahkan tahun telah menghapus dosanya.
Sedangkan si korban … mereka akan terus merasakan penyiksaan itu seumur hidupnya. Hidup dengan perasaan hina dan kotor, serta dalam ketakutan dan trauma yang terus menghantuinya setiap melihat tubuh sendiri yang telah dijamah dengan paksa.
Itu juga yang dirasakan Kirana ketika dia merasakan perih dari luka di bibirnya, berapa kalipun dia mencuci, menggosoknya menggunakan sabun, perasaan jijik itu tak mau hilang.
Dia melihat pantulan wajahnya di kaca yang berada di atas wastafel kamar mandi Caraka. Wajahnya pucat sembab, mata dan hidungnya merah, bibirnya sedikit bengkak karena luka yang membuat Kirana kembali menangis, dia kemudian melihat lengannya dan tiba-tiba merasa seolah ada lengan kotor yang mencengkram lengan dan tengkuknya. Membuat Kirana kembali menggosok lengan dan tengkuknya sambil terisak dan berubah menjadi tangisan sambil terus menggosok lengan dan tengkuknya.
“Sayang! Sayang!” Caraka menggedor pintu kamar mandi merasa cemas mendengar tangisan Kirana di dalam.
Seolah tak mendengarkan gedoran dan panggilan Caraka, Kirana terus menggosok lengan, tengkuk dan bibirnya sambil terisak.
Di luar Caraka dengan tergesa mengambil kunci cadangan dan dengan cepat membuka pintu kamar mandi. Seketika hatinya merasa sakit melihat kondisi Kirana yang benar-benar terlihat hancur, lengan dan tengkuknya sudah benar-benar memerah, wajahnya basah oleh airmata, pakaiannya pun sedikit basah.
Tanpa banyak bicara Caraka menarik Kirana ke dalam pelukan walaupun awalnya ada penolakan. Kirana berteriak, mencoba melepaskan diri dari dekapan Caraka. Tapi dia tidak menyerah dia terus memeluk Kirana erat sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan.
“Ini aku, Caraka, kamu aman sekarang, Sayang … sssttt … kamu aman sekarang.”
Perlahan Kirana mulai tenang, tak lagi memberontak dan tak ada lagi penolakan sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Caraka membopong Kirana, menidurkannya di atas tempat tidurnya, dengan cepat dia menghubungi dokter kenalannya untuk datang ke apartemennya.
Dia menyelimuti Kirana, kemudian menghapus airmatanya. Caraka duduk di samping Kirana menggengam tangannya, sesekali dia mengelus rambutnya. Perasaan marah kembali menyeruak ke permukaan setelah melihat Kirana benar-benar hancur.
Tadi dia pikir Kirana sudah mulai tenang ketika meminta izin untuk ke kamar mandi, tapi setelah menunggu cukup lama, Kirana tak kembali juga. Dengan perasaan was-was dia memutuskan untuk memeriksa ke kamar mandi dan benar saja di depan pintu dia mendengar isak tangis Kirana yang semakin lama semakin kencang.
Tak berapa lama bel apartemennya berbunyi, Caraka membukanya dan di sana berdiri seorang pria yang pernah dia ajak untuk makan di kantin beberapa waktu lalu.
“Dimana dia?” Sagara, nama pria itu langsung masuk setelah pintu terbuka.
Caraka berjalan diikuti sahabatnya yang juga seorang dokter, ketika di telepon dia sempat menceritakan secara singkat apa yang telah terjadi. Mereka berdua masuk ke dalam kamar, dan dengan cepat Sagara memeriksan kondisi Kirana.
“Secara fisik tidak ada luka serius yang dia alami, sekarang dia hanya tertidur mungkin karena terlalu lelah menangis mengeluarkan emosi,” ucap Sagara setelah memeriksa Kirana dan memutuskan untuk berbicara di ruang keluarga. “Tapi mentalnya benar-benar terluka.”
Caraka mengumpat, kedua tangannya mengelus kasar wajahnya.
“Gue tak akan membiarkan mereka selamat.”
Sagara mengangguk mengerti.
“Tapi yang sekarang perlu lo lakukan adalah berada di sampingnya, beri dia support, pupuk kembali rasa percaya dirinya, jangan biarkan dia merasa apa yang dia pikirkan itu benar.”
“Apa yang dia pikirkan?” Caraka tak mengerti dengan ucapan Sagara.
Sagara terdiam beberapa saat menatap Caraka yang terlihat kacau. Baru kali ini Sagara melihat seorang Caraka Benua yang biasa terlihat tenang seolah bisa menghadapi semua masalah dengan kepala dingin, tapi kini emosinya terpampang jelas. Rambutnya berantakan, wajahnya terluka di beberapa bagian, bajunya terlihat kusut. Sagara kini yakin kalau sahabatnya itu telah benar-benar menemukan separuh jiwanya.
“Merasa hina … kotor … ternoda.”
“Astagfirullahaladzim, ya Allah!” Caraka menangkup wajahnya dengan ke dua tangannya terlihat putus asa. “Tadi sore, gue masih bisa melihatnya tertawa.”
Caraka mengingat sore tadi sekitar jam enam kurang, dia hanya ingin merokok sebentar ketika dia melihat Kirana tengah bersama teman-temannya, duduk di kursi taman, tertawa, terlihat cantik seperti biasanya.
“Sekitar jam tujuh gue sengaja turun ke lobi karena tiba-tiba sangat merindukannya, dan ingin bertemu dengannya, tapi lo tahu apa yang gue lihat di sana?”
Sagara terdiam menatap Caraka yang matanya menyorokan rasa sedih, juga amarah di saat bersamaan.
“Orang-orang berkeruman sambil berteriak ketika seorang perempuan membanting seorang pria yang tubuhnya jauh lebih besar darinya, tidak hanya satu tapi dua.” Caraka sedikit tersenyum mengingat bagaimana dia terkejut ketika melihat perempun yang membanting dua orang pria adalah Kirana. Kekasihnya.
Caraka terdiam, wajahnya kembali terlihat terluka sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Hati ini seketika hancur melihat wajahnya yang menyorotkan amarah, juga luka. Beberapa saat dia bahkan seolah tak mengenali siapapun sebelum akhirnya dia tersadar kemudian menangis. Emosi gue benar-benar tersulut ketika mendengar apa yang baru saja terjadi, ingin rasanya gue bunuh mereka, menyobek bagian tubuh yang berani menyentuh dan menghinanya.”
Sagara hanya terdiam mendengar penjelasan Caraka yang sarat emosi. Dia sangat memahami hal itu, kalau dia ada diposisi Caraka mungkin dia akan lebih gila lagi.
"Apa mereka telah diamankan?"
"Ya, gue tidak akan membebaskan mereka begitu saja."
Sagara kembali mengangguk terlihat puas.
"Serahkan urusan mereka sama pengacara dan Hans. Sekarang lo harus benar-benar fokus sama Kirana." Caraka mengangguk setuju. “Apa orangtua Kirana mengetahui kejadian ini?”
Caraka menggelengkan kepala.
“Kirana hanya tinggal bersama ibu dan adiknya, dan dia tidak mau mereka tahu tentang ini.”
Sagar mengangguk mengerti.
“Lebih baik malam ini dia menginap di sini. Gue yakin Kirana tak ingin ibu dan adiknya melihat dia dalam kondisi seperti ini.”
Caraka kembali mengangguk, karena itulah yang Kirana katakan ketika di perjalanan tadi, dan karena itu pula Caraka membawa Kirana ke apartemennya.
“Apa Kirana punya sahabat dekat?” Sagara kembali bertanya membuat Caraka menatapnya. “Dia perlu seseorang yang dia percaya dan bisa membuatnya terbuka menceritakan semuanya untuk mengurangi bebannya.”
“Dia bisa bercerita sama gue.”
“Tapi untuk saat ini, gue pikir dia memerlukan sahabat perempuan yang bisa memahaminya. Dan gue juga yakin Kirana bukan tipe perempuan yang akan nyaman berdua dengan pria di apartemen, walau itu kekasihnya.”
Caraka mengangguk, dia ingat tadi Kirana sedikit ragu ketika akan masuk ke dalam.
“Dan, kita juga memerlukan seseorang untuk mengganti pakaiannya yang basah … apa perlu gue yang gantiin?”
“Cari mati lo!”
“Hahaha.” Sagara berdiri disusul Caraka. “Jangan lupa nanti resepnya ditebus, itu hanya obat penenang dosis rendah yang bisa membantunya tidur nyaman jadi tak perlu khawatir, juga salep untuk luka bibirnya,” ucap Sagara sambil berjalan menuju pintu untuk akhirnya pulang.
Setelah kepergian Sagara, Caraka mencari ponsel Kirana untuk menghubungi Siska, orang yang sering Kirana sebut sebagai sahabat dekatnya. Untung saja ponselnya tidak dikunci. Ratusan pesan dan puluhan panggilan tak terjawab terlihat di sana, tapi Caraka mengacuhkannya, dia hanya fokus mencari kontak Siska sebelum akhirnya terhubung.
Setengah sebelas malam, mudah-mudahan Siska belum tidur. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya terdengar suara orang setengah mengantuk dari ujung sana.
“Aduh, Na … lo ganggu saja sih, gue lagi kencan sama Hyun Bin tadi!”
Hyun Bin? Apa itu kekasih Siska? Caraka mengerutkan alisnya bingung.
“Ada apa? Jangan bilang lo ganggu gue sama Hyun Bin oppa, cuma buat pamer kencan lo sama Kang kopi.”
Kang kopi? Siapa Kang kopi? Kerutan di antara alis Caraka semakin dalam mendengar Kirana kencan dengan Kang kopi.
“Ini Caraka, maaf mengganggu malam-malam,” ucap Caraka membuat hening beberapa saat.
“Caraka?”
“Iya, Kirana … ada bersamaku.”
“Iya, jadi … ada apa menghubungiku?” Siska bertanya bingung.
“… Sesuatu terjadi dengan Kirana.”
“Apa yang terjadi dengan Kirana? Mana dia? Aku ingin berbicara dengannya!” Siska bertanya dengan suara khawatir.
“Dia tidak bisa bicara sekarang … dia sedang tidur.”
“Tidur?”
“Aku akan menjelaskannya nanti, tapi … bisakah kamu datang ke apartemenku untuk menemani Kirana malam ini.”
Hening … Siska telah tersadar sepenuhnya, tubuhnya mulai gemetar memikirkan sesuatu yang buruk telah terjadi kepada sahabatnya.
“Kirim alamatnya padaku!”
Caraka bernapas lega ketika Siska tak bertanya lebih jauh. Namun dia bisa mendengar kecemasan di dalam suara perempuan itu.
“Aku minta tolong satu lagi,” ucap Caraka menghentikan apapun aktifitas Siska di seberang sana yang sepertinya tengah bergegas.
“Apa?”
“Bisakah kamu menghubungi keluarga Kirana, dan cari alasan apapun kepada mereka bilang mungkin Kirana tidak bisa pulang satu atau dua hari ini.”
“Ya Tuhan.” Suara Siska mulai terdengar gemetar, dia terdiam beberapa saat. “Baik, aku akan mencari alasan … ada lagi?”
“Pakaian, tolong bawa beberapa pakaian ganti untuk Kirana.”
“Oke! Secepat mungkin aku akan sampai sana.”
Caraka mengakhiri panggilan setelah mengucapkan terima kasih. Dia kembali masuk ke dalam kamar dimana Kirana berada. Dia duduk di samping Kirana, tangannya terus menggenggam tangan Kirana, sesekali dia akan mencium tangannya, atau mengelus kepalanya.
“Ssstttt … tidak apa-apa aku di sini bersamamu, kamu aman sekarang.”
Caraka berbisik setelah melihat Kirana terlihat gelisah dalam tidurnya. Dalam hati dia berjanji akan membalas mereka semua yang telah menghancurkan hidup kekasihnya, maka dia juga akan menghancurkan hidup para baji ngan itu.
*****