
The Most Awesome Man I Ever Know
(Pria paling keren yang saya kenal)
Kirana pikir makan siangnya itu hanya seiris daging, dan sayuran yang Caraka bilang steaknya orang Solo alias selat solo. Ternyata dia salah! Setelah selat solo selesai, barulah main course atau menu utamanya hadir, dan kali ini makanan khas sunda dari mulai gurame bakar, sop buntut, sambal, lalapan, tahu, tempe lengkap dengan kerupuk, dan lanjut dengan puding sebagai desert.
Kebayangkan sekenyang apa Kirana saat ini? Ya, walaupun dia tidak tahu dia kenyang karena makan atau karena asam lambung yang naik karena tegang? Entahlah yang pasti saat ini dia merasa kenyang, juga tegang karena sepertinya semua orang masih penasaran tentang hubungannya dengan Caraka
“Jadi kenapa Kak Kirana menolak Kakang?”
Benar kan?
Arletha masih saja penasaran, membuat Kirana ingin menepuk jidatnya. Setelah dari tadi pembicaraan dikuasai oleh kaum pria yang membicarakan bisnis, rupanya kaum perempuan masih penasaran dengan hubungan Kirana dengan Caraka.
“Yang pasti bukan alasan yang tadi satu-satunya kan?” tanya Ibu Widya dengan wajah penasaran.
“Harus saya akui Caraka bukan tipe pria yang hanya mengandalkan nama besar keluarga.” Ibu Widya dan Arletha mengangguk setuju. “Saya pernah bilang kepada Caraka kalau dia akan bisa sukses dengan usahanya sendiri tanpa mengandalkan nama besar Mahesa.” Ibu Widya dan Arletha kembali mengangguk setuju. “Caraka sangat pintar.” Mereka mengangguk-anggukkan kepala. “Pekerja keras.” Anggukannya semakin semangat. “Hmmm … tampan?” Anggukannya tambah semangat membuat Kirana harus menahan senyum. “Bukankah dia hampir mendekati sempurna?”
“Iya … hampir, kakak-kakakku memang luar biasa.”
Aaah, Arletha memang sangat manis, senangnya punya adik seperti itu. Bisa Kirana bayangkan kalau ada seseorang memujinya di depan Oka, yang ada dia malah akan tertawa terbahak-bahak sebelum mengelurkan sederet list aib Kirana.
“Jadi, kenapa kamu menolak Raka?”
Aduh, ini Ibu Suri kenapa jadi ikut penasaran seperti Arletha ya? Kirana terdiam beberapa saat, berpikir bagaimana dia harus menjawabnya? Apa dia jujur saja? Kirana menengok ke belakang untuk menatap Caraka yang masih berbicara serius dengan Candra dan Big Boss tentang bisnis sambil merokok di kursi bar. Apa begini ya keluarga pembisnis, bahkan ketika acara kumpul keluarga pun yang dibicarakan hanya tentang bisnis? Kirana hanya bisa menghela napas, mendengarkan mereka saja sudah bikin kepalanya pusiiing apalagi harus terlibat pembicaraan, karena itulah Kirana tadi melarikan diri dengan ikut bergabung bersama Arletha dan Ibu Widya. Tapi ternyata pilhannya salah, karena sekarang dia seperti masuk ruang interogasi.
Baiklah karena Caraka sepertinya tidak bisa membantu mencari alasan, jadi Kirana memutuskan untuk berbicara jujur.
“Karena kami berada di dunia yang berbeda.” Arletha dan Ibu Widya saling tatap bingung, dan mungkin sedikit terkejut dengan jawabannya.
“Seperti yang saya bilang tadi, Caraka hampir mendekati sempurna, dan dia pun berasal dari keluarga yang luar biasa. Dia seperti seorang Pangeran yang memiliki segalanya.”
Mereka berdua terdiam mendengarkan Kirana yang tersenyum sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“Ibu benar ketika mengatakan Caraka adalah the most ideal son in-law bagi semua orangtua, begitu pun dengan ibu saya. Mungkin Mamah akan menggelar karpet merah kalau tahu Caraka datang ke rumah, hehehe.” Ibu Widya dan Arletha tersenyum mendengar ucapanku.
“Tapi masalahnya saya adalah perempuan biasa dari keluarga biasa, bukan keluarga pebisnis hebat seperti halnya keluarga Caraka. Ibu saya hanya ibu tunggal biasa yang hobinya nonton drama Korea, kegiatan sehari-harinya pun hanya berkebun, ikut pengajian di komplek. Arisan yang diikuti ibu saya hanya arisan panci presto dan arisan RT. Tapi saya sangat bangga dengan ibu saya karena berhasil membesarkan saya dan adik saya seorang diri dengan sangat baik.” Kirana tersenyum mengingat Ibu Mega.
Ketika tadi mau pergi Ibu Mega berpesan agar keluarga Caraka mengetahui keluarga mereka apa adanya, dan dia kini tengah melakukannya. Kalaupun mereka tidak akan menerimanya setelah dia menceritakan semuanya … berarti ini saatnya Kirana untuk menyerah.
“Bukankah ini seperti kisah Cinderella? Dimana Pangeran jatuh cinta kepada gadis biasa … tapi, sayangnya saya tidak pernah berpikir menjadi Cinderella.”
“Kenapa? Kenapa Kakak tidak mau menjadi Cinderella?”
“Karena kisah Cinderella hanya ada di dunia dongeng, drama Korea dan sinetron di TV,” jawab Kirana sambil tersenyum menatap Arletha. “Di dunia nyata, mungkin pangeran akan jatuh cinta pada Cinderella, tapi mereka tidak bisa bersatu.”
Kirana melihat Arletha mengerutkan alisnya bingung, sedangkan Ibu Widya masih terdiam mendengar ucapan Kirana.
“Maafkan saya kalau saya tidak sopan.” Kirana memberi sedikit jeda hanya untuk menatap Ibu Widya yang masih menatapnya, sampai akhirnya Ibu Widya menganggukkan kepala seolah memberi izin Kirana untuk kembali melanjutkan ucapannya.
“Tidak semua keluarga bisa menerima pasangan dari dunia yang berbeda. Apalagi dunia dimana Caraka tinggal.” Kirana menatap Arletha dengan sedikit menerawang ketika menyadari perbedaan dunia mereka yang sempat dia pungkiri akhir-akhir ini, membuat hatinya kembali merasa sesak. “Dunia yang akan sulit saya tembus dan saya gapai.”
Hening … tak ada ucapan yang ke luar dari mereka bertiga. Kirana yang pertama kali tersadar dari lamunannya karena kembali disadarkan dengan perbedaan status dirinya dan Caraka.
Merasa suasana menjadi canggung, Kirana berusaha mencairkannya dengan tersenyum cerah sambil menantap Arletha dan Ibu Widya yang masih terdiam menatapnya.
“Jadi … dari pada akhirnya kami sama-sama tersakiti, lebih baik dari sekarang saya jujur dengan menarik garis, walaupun yaa … akhir-akhir ini saya sendiri kadang melewati garis itu.”
Arletha tersenyum mendengar Kirana, sedangkan Bu Widya masih terdiam menatap Kirana.
“Hei, jangan salahkan aku kalau akhirnya imun yang ku suntikan supaya tidak menyukai kakakmu kini sudah menipis. Salahkan kakakmu karena dia … the most awesome man I ever know (pria paling keren yang saya kenal).” Kirana sedikit berbisik ketika mengatakan ini, mambuat Arletha tertawa dan akhirnya Ibu Suri pun tersenyum, mendengar Kirana memuji putranya. Seorang ibu dimana-mana sama saja, senang bila mendengar anaknya dipuji.
“Hahaha.” Arletha tertawa terbahak.
“Jangan beritahukan ini padanya, atau dia akan terus menggodaku selama berhari-hari.”
“Terlambat, aku sudah mendengarnya … hahaha.”
Kirana tersentak mendengar suara yang begitu dia kenal berada tepat di belakangnya.
“Sejak kapan kamu mendengarkan kami?” Kirana bertanya dengan mata terbelalak menatap Caraka yang telah berdiri di belakangnya.
“Sejaaak …” Dia kini berdiri di samping Kirana, merangkul bahu gadis itu kemudian tersenyum lebar, matanya mulai menatap Kirana jahil, dengan sedikit membungkuk Caraka berbisik, “The most awesome man I ever know.” (Pria paling keren yang aku kenal)
Ah, sial! Dia mendengarnya. Kirana langsung menutup wajahnya malu.
“The most handsome, gorgeous, smart man you ever know, and the only one you love.” (Pria paling tampan, menawan, pintar yang pernah kamu kenal, dan satu-satunya yang kamu cintai).” Caraka memotong ucapan Kirana membuat Kirana tertawa sambil menggelengkan kepala.
“The most narcissistic and annoying man I ever know.” (Pria paling narsis dan menyebalkan yang aku kenal)
“Hei, aku pikir predikit itu dimiliki oleh Oka.”
Kirana mengangkat bahu santai. “Sekarang predikat itu menjadi milik kalian berdua.”
“Hahaha.” Caraka tertawa, tangannya mengelus rambut Kirana dengan matanya menatap lembut, membuat Kirana balas tersenyum. “Kita pergi sekarang?”
Kirana menganggukkan kepala, kemudian berdiri. Semua orang ikut berdiri dan berjalan mengantar mereka hiangga teras depan. Kirana kembali menyalami semuanya sambil mengucapkan terima kasih atas makan siangnya, dan sepertinya kini suasana sedikit berbeda dari saat kedatangan tadi. Tak ada drama sedikit enggan untuk menerima salam Kirana oleh Big Boss. Bahkan Ibu Suri memberi Kirana bonus pelukan dan ciuman di pipi membuat Kirana terkejut menerima perlakukan seperti itu
“Terimakasih untuk masukan tentang konsepnya, itu sangan menarik. Aku akan membicarakan ini dengan orang-orangku,” ucap Candra sambil menyalami Kirana yang tadi memberikan sedikit masukan mengenai konsep retail yang menarik perhatian Candra.
Kirana hanya tersenyum sambil mengangguk, kini giliran si bungsu Arletha yang langsung memeluknya.
“Apa boleh sesekali aku menghubungi Kakak?”
“Tentu saja, kamu boleh menghubungiku kapan pun, nanti minta saja nomer ku kepada … Caraka.”
“Kakang.”
Kirana menatap ke arah samping ketika terdengar suara Ibu Suri. “Kami memanggilnya Kakang, kamu boleh memanggilnya Kakang atau … Kang Raka,” lanjut Ibu Suri membuat Kirana menganga, dia menatap Caraka yang kini tersenyum lebar menatapnya.
“Ehm … hehehe.” Kirana menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu. “Baiklah, saya pamit pulang, sekali lagi terima kasih banyak.”
Kirana dan Caraka berjalan menuju tempat parkir mobil mereka.
“Ayo, panggil … Kang Raka,” ucap Caraka dengan senyum lebar dan sorot mata jahil seperti biasanya.
“iiih, apaan sih?” Kirana menoba melarikan diri dengan berjalan lebih cepat.
“Eh, itu perintah Mamah lho, tidak boleh membantah perintah Mamah.” Dengan cepat Caraka menyusulnya sambil merangkul bahu Kirana. “Coba bilang … Kang Rakaaa.”
“Oke, fix! Kamu mendapat gelar pria paling menyebalkan nomer satu,” ujar Kirana yang malah membuat Caraka tertawa terbahak-bahak sambil membukakan pintu mobil untuk Kirana yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum malu.
Caraka memutari mobil bagian depan, masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir dengan senyum lebar masih menghiasi wajahnya. Sebelum akhirnya dia melajukan kendaraannya setelah sebelumnya mengangkat tangan ke arah keluarganya yang masih berdiri di depan teras rumah.
“Ba jingan beruntung,” ujar Candra sambil menatap mobil Caraka yang melaju menuju gerbang. “Dia tidak pantas untuk menjadi pasangan perempuan luar biasa seperti Kirana,” lanjutnya dengan senyum miring dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Aku juga menyukainya … dia calon kakak ipar yang menyenangkan.” Arletha tersenyum lebar sambil berbalik. “Mas Candra, aku minta voucher dong!” seru Arletha sambil berjalan masuk ke dalam menyusul Candra.
“Aku menyukainya,” ucap Ibu Widya. Dia kini menatap suaminya yang masih menatap ke arah depan. “Aku menyukainya karena telah membuatku bisa melihat anakku tertawa bahagia seperti itu.” Ibu Widya menepuk bahu suaminya sebelum menyusul Candra dan Arletha masuk ke dalam.
Bagi orangtua terutama seorang ibu, kebahagian dan tawa anak ada di atas segalanya. Rudi Mahesa tentu saja menyadari itu.
Selama ini dia pikir dia telah melakukan semuanya demi kebahagiaan anak-anaknya, tapi dia lupa kalau semua orang memiliki tolak ukur dan kadar kebahagian yang berbeda. Kebahagiaan tidak bisa diukur dari berapa besar rumah mereka, berapa banyak harta dan aset yang mereka miliki, dan berapa sukses mereka.
Ucapan Caraka beberapa hari lalu sempat menohok hatinya. Bagaimana dia dengan egois mendokrin hidup anak-anaknya, hingga mereka tak lebih dari bidak catur yang dia gerakkan demi sebuah pengakuan dari masyarakat atas keberhasilannya, dan demi sebuah gengsi. Hingga dia lupa kapan terakhir dia melihat tawa anak-anaknya. Ketika mereka masih kecil mungkin, saat mereka belum menyadari kalau hidup mereka tidak sepenuhnya milik mereka.
Tadi dia seolah diingatkan kembali bagaimana berharganya sebuah senyuman dan tawa anak-anaknya.
Ketika pertama kali melihat bagaimana Caraka menatap Kirana dengan sorot mata penuh pemujaan, bagaimana Caraka tersenyum hanya dengan diam-diam melihat gadis itu tengah tertawa bersama adik dan ibunya, bagaimana dia mengoda Kirana hanya karena ingin melihatnya tersipu malu, dan bagaimana Caraka tertawa terbahak-bahak hanya karena berhasil menggoda Kirana.
Ya, Rudi Mahesa tahu kalau pada saat itu dia telah kalah.
Kini saatnya dia meredam ego dan melupakan gengsi demi kebahagian seutuhnya sang putra sulung.
*****
*As**salamualaikum ... selamat malam* ...
Yap, sepertinya benteng Takeshi benar" telah runtuh oleh pesona sang Cinderella😂😂😂
Mengingat besok sudah memasuki bulan puasa, maka saya atas nama pribadi mewakili Letnan-Za, Arga-Arin, Senja-Juna, Samudra dan Satria yg belum dapat jodoh, Raka-Kirana yg masih belum jelas mau dibawa kemana, Oka yg masih menghalu jd The Heirs seperti Bang Limin, dan Siska yg lagi nyari modal ... kami semua mengucapkan,
Mohon maaf lahir bathin, maaf atas segala hilaf, dan tutur kata yg tidak berkenan 🙏🙏🙏 Selamat menjalankan ibadah shaum bagi yang menjalankan, semoga kita semua diberi kelancaran dan kesehatan dalam menjalankan ibadah shaum kita ... aamiin
Oh iya, selama bulan puasa jadwal up Raka-Kirana ada perubahan jadi jam 9 malam ya, agar tdk mengurangi kekhusyuan saat kita melaksankan shalat terawih ... sekali lagi selamat menjalankan ibadah puasa ...
Marhaban ya ramadhan, Marhaban syahru shiam
Love
A.K