I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
31. Paradoks




Paradoks



“Jadi lo serahin masalah ini sama Caraka dan bapaknya.”


“Iya, mau gimana lagi … kita kekurangan bukti dan saksi, kalau gue paksain menuntut lewat jalur hukum, itu hanya membuang waktu dan tenaga saja karena sudah dipastikan bakal kalah.”


Siska mengangguk mengerti sambil memilih motif kemeja batik. Karena kekurangan modal akhirnya kami menyerah untuk menjadi WO nikahannya Mela, anak Mpo Rohaye, tapi kami mendapat bagian pengadaan seragam batik untuk panitia, dan souvenir untuk tamu. Saat ini kami sedang berada di Tanah Abang untuk membeli semua keperluan itu.


“Mengalah belum tentu kalah,” ucap Siska yang mendapat anggukan dariku. “Gue yakin kalaupun lo punya bukti dan saksi yang kuat, belum tentu lo menang di pengadilan … money talk (uang berbicara), kita tidak bisa menutup mata di negara kita tercinta ini, masih ada oknum yang bisa dibeli dengan uang. Ya, lihat saja di berita TV, orang yang jelas-jelas sudah di penjara dan dinyatakan bersalah saja masih bisa menikmati kemewan di dalam sana.”


Ya, tidak bisa dipungkiri memang hukum di negara kita ini masih terlihat tebang pilih. Seorang Nenek yang mencuri singkong karena kelaparan bisa dihukum penjara, tapi koruptor yang mencuri milyaran uang rakyat bisa melenggang begitu saja … miris, tapi itulah paradoks hukum negri ini.


“Jadi apa rencana mereka?” Siska kembali bertanya.


Kami kembali berjalan menyusuri pertokoan untuk mencari batik yang cocok.


“Kemarin Big Boss, meminta pengacaranya untuk mempersulit penangguhan penahanan mereka.”


“Kenapa? Bukannya kalian mau mencabut laporan?”


“Sis, yang itu bagus tuh!” Aku menunjuk sebuah batik yang terpasang di salah satu manekin di depan toko.


“Iya, bagus nih motifnya.”


“Motif baru ini, Mbak, masih anget.” Seorang pria penjaga toko mendekatiku dan Siska mulai mempromosikan barang dagangannya.


“Ukurannya ada tidak?”


“Ada … masih komplit.”


“Yang ini saja ya, Na?”


“Iya, dari pada pusing lagi. Kaki sudah gempor ini.”


Sudah lebih dari dua jam kami berkeliling mencari yang cocok, Oka dan Kayas bahkan sudah tertinggal di belakang kerena mereka juga harus membawa kantong belanjaan berisi souvenir berupa centong nasi dan pisau pengupas buah, permintaan dari yang punya hajat katanya biar bermanfaat.


“Ya sudah ini saja, Bang, XL 6, L 8, sama M 4,” ucap Siska setelah nego harga yang cukup alot.


“Siap!” Si Abang langsung masuk kembali ke dalam.


“Eh, tadi kita lagi ngomongin apa?”


“Batik?”


“Bukan, sebelum itu ...”


“Centong nasi?”


“Ya elah, bukan itu! Masalah laporan lo!”


“Oh, Big Boss melarang Caraka mencabut laporan.”


“Kenapa?”


“Tidak tahu, malah Caraka disuruh mempersulit penangguhan penahanan mereka.”


“Gue bingung sama jalan pikir mereka.”


“Sama.”


Si abang penjaga toko kembali datang dengan ukuran yang tadi diminta Siska, setelah kami mengecek memastikan tidak ada yang cacat, Siska melakukan pembayaran. Bersamaan dengan datangnya Oka dan Kayas, dan plastik-plastik itu beralih dari tangan si Abang ke tangan mereka.


“Bayaran double ya, ini sih sopir merangkap sama kuli angkut,” protes Oka yang mendapat anggukan dari Kayas.


“Tenang saja … sekarang kita cari makan dulu, laper.”


Wajah layu mereka berdua berubah menjadi sumringah mendengar kata makan. Kami menaiki eskalator menuju food court. Aku dan Siska memesan bakso, sedangkan Oka dan Kayas terlihat berkeliling melihat-lihat makanan yang ada.


“Balik lagi ke soal kasus lo … jadi sampai saat ini belum jelas nasib kasus lo jadinya gimana?”


“Belum, Big Boss bilang tunggu sampai Hadian mengetahui tentang status gue.”


“Status lo?”


“Iya, gue juga bingung, enggak ngerti maksudnya apaan.”


Kami berdua terdiam berpikir sambil berdiri di depan gerai bakso menunggu pesanan kami siap.


Aku mengangkat alis kemudian menggeleng sambil tertawa.


“Lo jangan ikut-ikutan kaya Bu Mega deh, suka mengkhayal.”


“Serius, Na, apa lagi coba maksudnya dengan bilang biar mereka tahu status lo yang sebenarnya.”


“Mungkin … karyawan di Mahesa group?”


“Yelah, Na, siapa lo sih kalau cuma karyawan biasa sampai Big Boss turun tangan?” Aku terdiam memikirkan ucapan Siska. “Tadi lo bilang kalau Hadian itu salah satu rekan bisnis Big Boss. Terus menurut lo, dia berani mengambil resiko buat kehilangan salah satu rekan bisnis hanya untuk orang yang lo bilang karyawan biasa?”


Yang dikatakan Siska ada benarnya juga, Rudi Mahesa bukan tipe orang yang rela bisnisnya merugi apalagi kehilangan rekan bisnis demi seorang karyawan biasa seperti aku, kecuali …


“Jadi …” Aku menatap Siska dengan mata membulat, begitu juga dengan Siska yang menatapku dengan mata membulat, tiba-tiba mulut kami berdua tersenyum dan kami berteriak sambil berpelukan. “Raja sudah merestui gue!”


“Iya!”


“Hahahaha.”


Kami terus berpelukan sambil berjingkrak lupa dimana kami saat ini, sampai akhirnya seseorang menarikku memisahkan aku dan Siska.


“Ingat umur!” Oka menatapku dan Siska bergantian. “Kaya Teletubbies saja berpelukan.”


“Ayo kita berpelukan lagi berempat, biar persis Teletubbies!” seru Kayas yang baru datang bersama Oka sambil merangkulku dan Siska mengajak berpelukan membuat kami kembali berpelukan berempat, tak memedulikan Oka yang terus protes, atau pun pandangan orang-orang yang menganggap kami gila.


Saat ini aku terlalu bahagia untuk memedulikan padangan orang-orang terhadap kami. Kalau memang tebakan kami benar, berati Sang Raja telah merestui Cinderella … benar kata orangtua kalau di balik musibah pasti ada hikmatnya.


Musibah yang terjadi padaku kemarin memang membuatku sempat terpuruk, tapi lihatlah kini … aku bisa mengetahui kalau orang-orang di sekelilingiku menyayangi, Pangeran yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, dan bahkan sekarang restu Sang Raja telah ada dalam genggamanku … jadi, Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban … maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.


****


Caraka, pov


Semua berjalan sesuai rencana Papah. Aku dan Dimas mempersulit penangguhan penahan yang diajukan oleh pengacara Ferdi Izam, hanya tinggal menunggu waktu Hadian Izam Noor akan mengetahui siapa di balik semuanya. Dan ketika dia mengetahui kalau nama Mahesa ada di balik gagalnya penangguhan penahanan anaknya, dia akan menghubungi Big Boss.


Hari ini aku datang ke Menteng untuk membicarakan kelanjutan masalah ini dengan Papah.


“Hadian menghubungi Papah, dia sudah tahu kalau kamu ada di balik gagalnya penangguhan penahanan anaknya. Dia akan datang ke Jakarta hari ini, dan meminta bicara denganmu.”


“Apa Papah memberitahu dia kalau Kirana adalah calon istriku?”


Papah menatapku, terdiam beberapa saat … mungkin terkejut mendengarku memanggil Kirana sebagai calon istri.


“Papah bilang kalau kali ini tidak bisa membantunya untuk membujukmu karena Ferdi telah menganggu perempuan yang berarti bagimu.”


Oke, Big Boss belum secara terbuka mengakui kalau Kirana adalah calon istriku (aku juga memang belum melamarnya sih), tapi setidaknya Big Boss sudah mengakui kalau kalau Kirana adalah orang yang penting untukku.


Dan aku yakin sebetulnya restu sang Raja telah diperoleh oleh Cinderella. Kenapa aku bisa yakin?


Karena untuk pertama kalinya Big Boss turun tangan langsung menyelesaikan masalah karyawannya, yang statusnya hanya staff resepsionis. Itu tidak akan mungkin terjadi kalau staff itu tidak memiliki arti khusus. Dan untuk kasus Kirana, Big Boss bahkan menawarkan langsung bantuannya, dan menyusun strategi untuk melawan rekan bisnisnya sendiri.


Rudi Mahesa tidak mungkin mau merugi dalam bisnis apalagi sampai kehilangan rekan bisnis, tapi lihat sekarang? Dia seolah tak memedulikan itu semua.


“Apa yang harus saya katakan padanya nanti?”


“Ulur sebisa kamu. Yakinkan dia kalau kita punya bukti kuat untuk menahan anaknya.”


Aku terdiam berpikir.


“Bukankah itu terlalu beresiko? Bagaimana kalau dia berani untuk menghadapi kita di pengadilan?”


“Tidak, Hadian bukan orang yang akan membuang-buang waktu di pengadilan untuk masalah seperti ini. Apalagi masalah ini jelas merugikannya apabila publik sampai mengetahuinya. Kamu bisa mengancamnya dengan ini.”


Yang dikatakan Big Boss benar, untuk para pengusaha, nama baik adalah yang utama. Dan masalah ini jelas akan mencoreng nama baik Hadian Izam Noor yang salama ini coba dipertahankannya.


“Tapi kamu juga jangan terlalu ngotot, cukup yakinkan kalau anaknya telah mengganggu orang yang salah kali ini, dan … yakinkan Hadian tentang status Kirana di keluarga ini.”


“Dan … status Kirana di keluarga ini adalah?”


Hening …


“Ehm!” Big Boss hanya berdehem membuang muka.


Diam-diam aku menahan tawaku karena kini ku yakin sebetulnya restu sudah kami kantongi hanya saja Raja tetaplah Raja, gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui seorang Cinderella sebagai menantunya.


Dan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu, restu itu terucap.


*****