
Farewell (Perpisahan)
Setelah mendapat izin dari Mamah juga Caraka, aku langsung memproses pengunduran diriku di hotel. Rekan-rekanku terkejut mendapatiku yang mengajukan surat resign dengan tiba-tiba, tapi akhirnya mereka ikut gembira setelah mengetahui aku mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi.
HRD sedikit mempersulitku dengan aturan aku bisa ke luar setelah maksimal 30 hari kerja atau sampai aku mendapatkan pengganti, sedangkan Candra meminta minggu depan aku sudah berada di Surabaya. Dan akhirnya mau tidak mau aku meminta bantuan Caraka untuk meminta keringan dari HRD.
Seperti yang ku kira hanya memerlukan satu panggilan telepon maka pengunduran diriku langsung di-acc, dan hari senin adalah hari terahir aku bekerja sebagai staff front office di Grand Hotel M.
Hari senin seperti yang sudah direncakan hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di hotel. Sepulang kerja aku sengaja pergi bersama rekan-rekan kerjaku dari bagian front office untuk merayakan pesta perpisahanku. Aku tak mungkin mengajak mereka untuk makan sea food atau pecel ayam di kaki lima, mengingat ini adalah terakhir kalinya aku mentraktir rekan-rekanku, jadi aku memutuskan mengajak mereka makan di salah satu restoran yang berada di Jl. Veteran, tak jauh dari Monas juga hotel tempat kami bekerja.
Restoran ini memiliki area indoor juga outdoor, dan karena para pria ada yang merokok jadi kami memutuskan untuk memilih area outdoor. Restoran yang cukup besar dan nyaman dengan meja dan kursi kayu tertata rapi di bawah payung-payung yang yang membuat teduh, ditambah pohon-pohon yang sengaja di tanam untuk menambah kesan asri.
Aneka makanan khas tanah air menjadi salah satu ciri restoran ini, dari mulai ayam tangkap dari Aceh sampai papeda yang disajikan dengan ikan kuah pedas dari Papua, dan harganya pun cukup terjangkau dengan rasa yang tak kalah nikmat dari restoran-restoran bintang lima.
“Tenang saja, Kak, selama Kakak di Surabaya aku akan menjaga Mas Boss agar tidak ada yang berani menggoda,” ucap Shanti setelah menghabiskan satu porsi nasi dan ayam taliwang yang dia pesan.
“Jangan percaya sama Shanti, Na, yang ada juga dia terdepan yang bakalan nikung Mas Boss,” seloroh Dika yang dapat sautan setuju dari yang lainnya.
“Selama Kirana di Surabaya, itu artinya Mas Boss kembali ke bursa kehaluan cewek-cewek seantero Mahesa group.”
“Setuju!” seru para perempuan setelah mendengar ucapan Olive.
“Hati-hati kalian, jangan berani-berani mendekati Pak Benua kalau tidak mau dibanting sama Kirana,” ucap Pak Edi sambil menyulut rokok.
“Hahaha … kalau cuma menghalu sih bebas, asal jangan berani macam-macam saja,” ucapku membuat mereka kembali tertawa, tapi tidak menghentikan Shanti, Olive, dan Linda yang malah semakin menjadi menggodaku.
Piring makanan pesanan kami telah kosong dan pelayan telah membereskannya, di atas meja kini hanya ada gelas-gelas minuman yang tinggal setengah, kami masih tertawa berbincang sambil menikmati suasana sore. Jam menunjukan pukul 6 ketika Caraka datang membuat Shanti, dan yang lainnya kembali heboh.
“Mau makan?”
“Nanti saja,” jawab Caraka sambil duduk di sampingku dan tersenyum membuat Shanti, Olive dan Linda kembali heboh, dan aku hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala melihat mereka bertiga.
Kami berbincang sebentar sebelum akhirnya pamit pulang lebih dulu, dan tanpa di duga mereka memberiku sebuah jam tangan sebagai kenang-kenangan.
“Sering-sering dipakai ya, Na, biar selalu ingat sama kita-kita,” ucap Pak Edi sambil menyalamiku membuatku terharu.
“Tidak perlu khawatir kamu pasti akan menemukan teman yang banyak di sana, tapi jangan lupakan kita-kita ya.” Aku mengangguk sambil menyalami Dika.
“Sukses di sana ya, Na, hubungi kita kalau perlu teman curhat,” ucap Olive dengan suara tercekat dan berusaha untuk tersenyum sambil memelukku.
Begitu juga dengan Linda yang memelukku erat sambil berbisik, “Baik-baik di sana ya.”
“Aku bakal kangen sama Kak Kirana.” Shanty langsung memelukku dengan airmata berurai membuatku ikut berkaca-kaca.
Dua tahun lebih mereka menjadi rekan seperjuanganku, kami tertawa, menangis bersama. Banyak kenangan yang tak mungkin bisa ku lupakan yang menjadi pengalaman dan pelajaran dalam hidupku.
“Cengeng,” goda Caraka ketika sampai di mobil dan air mataku masih saja ke luar.
“Makanya besok pokoknya kamu tidak boleh mengantarku ke bandara apalagi sampai ke Surabaya.”
“Kenapa?”
Mobil Caraka belok kiri ke arah Jl. H. Juanda.
“Karena aku pasti akan sangat sedih … pakai banget.”
“Hahaha, makanya jangan pergi, di sini saja denganku.”
“Cuma tiga bulan, setelah itu aku akan kembali, jadi … jangan macam-macam!”
Caraka kembali tertawa. Kami telah melewati kantor Mabes AD kemudian belok kiri menuju Jl. Veteran II, kemudian berbelok ke Jl. Medan Merdeka Utara, saat ini kami menuju masjid Istiqlal yang terletak di Jl. Widjaya Kusuma, tak jauh dari kami berada saat ini hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit kami telah sampai di masjid terbesar di Asia Tenggara itu, bersamaan dengan berkumandangnya adzan magrib.
Melihat wajah Caraka setelah shalat mungkin adalah salah satu yang akan paling aku rindukan ketika di Surabaya nanti, atau mungkin saja aku akan merindukan semuanya dari dia … aaah, kenapa aku jadi mellow begini? Ayolah, Kirana! Kamu pergi hanya selama tiga bulan, lagian Jakarta-Surabaya bisa ditempuh kurang dari 2 jam menggunakan pesawat. Tapi tetap saja membayangkan kami akan berpisah jauh membuatku kembali dilanda kesedihan.
Kami tidak akan berpisah lama, tapi kenapa hati ini terasa berat untuk meninggalkannya. Jangan lemah Kirana! Ini semua demi kebaikan semuanya … supaya nanti aku bisa dengan percaya diri berdiri di samping Caraka.
“Kabarin aku kalau sudah sampai.”
Aku mengangguk mengerti. Saat ini mobil Caraka telah terparkir di depan rumahku, tapi kami masih duduk di dalam mobil seolah enggan untuk berpisah, karena mulai besok jarak akan benar-benar memisahkan kami.
“Aku akan mengunjungimu sesering yang aku bisa.”
“Tidak perlu sering-sering, aku pasti sibuk dengan pekerjaan dan mencoba menyesuaikan diri di sana.”
“Aku tetap akan mengunjungimu.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya yang keras kepala.
“I’m gonna missing you (Aku akan sangat merindukanmu),” ucapnya sambil mengelus rambutku.
“Aku juga.”
Perasaan mellow yang dari tadi mendera akhirnya sampai pada puncaknya membuatku langsung memeluknya yang balas memelukku erat.
“Selama aku tidak ada, jangan berani macam-macam,” ucapku dengan suara tercekat. “Pokoknya aku akan langsung datang kalau mendengar kamu jalan sama perempuan lain. Ingat teman-temanku akan mengawasimu.”
“Iya, Sayang.” Ada tawa dalam senyumnya sambil mengelus punggungku lembut. “Ada juga aku yang takut kamu akan didekati banyak lelaki di sana.”
“Tenang saja, standarku sudah tinggi sekarang. Aku tidak akan melirik lelaki lain yang standarnya di bawahmu.”
“Hahaha.”
“Masalahnya standarmu sekarang sudah turun, dan di sekelilingmu banyak sekali perempuan yang lebih segalanya daripadaku.”
Caraka melepasakan pelukan, dia kini menangkup pipiku setelah menghapus airmataku yang tanpa terasa tadi bergulir.
“Kamu ngomong apa sih? Justru kini standarku benar-benar tinggi … akan susah aku menemukan perempuan cantik, pintar, tangguh, mandiri, sangat menyayangi keluarganya, dan yang pasti bisa mengambil hati keluargaku … seperti kamu.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Kamu sangat beruntung mendapatkan aku.” Aku menatapnya sambil tersenyum menggodanya.
“Hahaha … yes, I’m so lucky to having you as my woman (Ya, aku sangat beruntung memilikimu menjadi kekasihku),” ucapnya dengan senyum khasnya yang membuatku jatuh cinta, tangannya kembali mengelus rambutku.
“Aku juga, sangat beruntung memilikimu.”
Dia kembali tersenyum dengan sorot mata menatapku penuh kasih sayang, tangannya kini menangkup pipiku sebelum akhirnya bibirnya menciumku lembut.
Aku rasa … ini juga salah satu yang akan aku rindukan darinya selama aku tinggal di Surabaya.
****
Caraka, pov.
Melepas Kirana untuk sementara ternyata lebih berat dari yang ku bayangkan. Ini lah salah satu alasanku selama ini menolak permintaan Candra yang meminta Kirana untuk memegang cabang Surabaya. Perlu negosiasi yang panjang dengan Candra juga Papah untuk melepas Kirana pergi.
Setelah pertemuannya dengan Kirana, Candra sangat yakin kalau Kirana sangat mampu untuk mengisi posisi penting di retail Mahesa group. Curangnya Candra setelah aku yang menentang Kirana pindah sementara ke Surabaya, Candra langsung berbicara dengan Papah yang memutuskan untuk memercayakan retail electronic yang merupakan anak perusahaan baru dari Mahesa group.
Awalnya tentu saja aku menentang bukan karena tidak mau dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi karena lokasinya yang jauh. Aku akan dengan senang hati melepas Kirana dari hotel kalau misalnya tempatnya masih di Jakarta atau Bandung yang masih terbilang dekat, tapi Surabaya? Itu sangat jauh, walaupun bisa ditempuh dengan pesawat dalam kurang dari dua jam, tapi tetap saja yang namanya pesawat tidak seperti ojek online yang kapan saja kita perlukan ada.
Belum lagi aku tak akan berada di sisinya untuk menjaganya dan melindunginya. Apa dia akan baik-baik saja di sana? Bagaimana kalau ada yang mengganggunya lagi? Dan berbagai ketakutan lainnya yang membuatku semakin berat melepas Kirana.
Namun melihat kejadian kemarin membuatku harus mengambil keputusan tersulit, yaitu melepasnya pergi untuk sementara. Semua demi dirinya agar bisa kembali lagi dengan penuh percaya diri seperti dulu, agar dia bisa kembali padaku seperti Kirana yang aku kenal saat pertama kali. Kirana yang selalu optimis, tapi juga realistis walau terkadang sebetulnya daya khayalnya tidak jauh berbeda dengan Ibu dan adiknya (hal ini biarkan hanya menjadi rahasiaku, karena kalau dia tahu aku berpikiran seperti itu, dia pasti akan membantahnya).
Dan satu lagi, kalau dia pikir aku akan membiarkannya begitu saja tanpa pengawasanku ... dia salah, karena aku telah menyiapkan segala sesuatu untuknya. Tapi tentu saja itu rahasia, kalau sampai dia tahu ... dijamin pasti akan ditolak mentah-mentah.
*****