I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
33. Ibu Suri




Ibu Suri



Author, pov.


“Masalah kemarin sudah selasai, kamu tak perlu khawatir … mereka tak akan berani untuk mendekatimu lagi.”


Kirana mengangguk mengerti mendengar penjelasan Rudi Mahesa.


Caraka sudah menceritakan semuanya, dan itu adalah usaha terbaik yang bisa dia lakukan untuknya. Tentu saja dia sangat berterimakasih kepada kekasihnya itu, karena Kirana tahu seandainya bukan karena nama Mahesa belum tentu kedua baj*ngan itu bisa mendapat balasan atas apa yang terjadi.


Sebetulnya kemarin Caraka mengajaknya bertemu dengan para bajingan itu untuk mendapatkan kata maaf dari mereka, tapi Kirana masih terlalu marah untuk bisa memaafkan keduanya. Namun begitu melihat foto-foto yang dikirim Caraka dan melihat kondisi keduanya cukup membuat Kirana puas, setidaknya mereka tidak bebas begitu saja tapi ada harga yang harus mereka bayar.


Hadian Izam Noor malah menawarkan sejumlah uang (yang cukup fantastis) sebagai uang damai, tapi Caraka menolaknya dengan tegas, begitu juga dengan Kirana. Dengan menerima sejumlah uang malah membuatnya semakin merasa jijik, kotor seolah kehormatannya bisa dibeli dengan uang.


“Mengusir mereka dari Jakarta dan menghancurkan kendaraannya mungkin tidak seberapa dengan apa yang kamu rasakan.” Kirana kembali terdiam mendangar ucapan Rudi Mahesa. “Tapi percayalah, itu sudah sangat melukai harga diri mereka sebagai seseorang yang selama ini tak tersentuh, bahkan oleh hukum sekalipun.”


Kirana mengangguk menyetujui hal itu.


“Terima kasih, telah melakukan semuanya untuk saya.”


“Raka yang melakukan semuanya. Saya hanya mengarahkan saja.”


Kirana kembali tersenyum sambil mengangguk.


“Bagaimanapun saya ucapkan terima kasih karena Bapak telah membantu saya dan Raka, kalau tanpa bantuan Bapak, saya yakin Raka tidak akan sampai seberhasil ini.”


“Ehm!”


Kirana mengulum senyum melihat seorang Rudi Mahesa telihat malu mendengar pujiannya.


“Jadi apa rencanamu sekarang?”


Kirana menatap Rudi Mahesa bingung dengan perubahan topik pembicaraan yang tiba-tiba.


“Rencana saya sih melamar Kirana secepatnya,” ucap Caraka santai membuat Kirana dan Rudi Mahesa menatap Caraka dengan mata membulat.


“Bukan rencanamu, tapi rencana Kirana!”


“Oh, bilang dong, Pah, aku kira rencana ku.” Caraka berkata santai berbeda dengan Rudi Mahesa yang mendelik padanya, dan Kirana yang tertunduk malu mendengarnya.


“Apa rencanamu ke depannya? Apa kamu tetap akan menjadi seorang resepsionis?”


Kirana tak mengerti dengan pertanyaan Rudi Mahesa. Tentu saja dia akan menjadi resepsionis, itu sudah pekerjaannya kan?


“Apa tidak ada posisi yang kosong di lantai atas?”


Rudi Mahesa menatap Caraka yang terdiam, di sisi lain Kirana terlihat semakin bingung.


“Manager keuangan,” jawab Caraka membuat Rudi Mahesa mengangguk.


“Kamu bisakan di bagian keuangan? Kamu hanya tinggal belajar sebentar, melihat latar belakang pendidikanmu sepertinya kamu termasuk orang yang cepat belajar, jadi bukan masalah besarkan?”


Kirana tertunduk terdiam mendengar ucapan Rudi Mahesa, kini dia mengerti maksud pertanyaan Big Boss.


“Mohon maaf, tapi … saya tidak bisa menerima tawaran itu,” ucap Kirana sambil memberanikan diri menatap ayah dari pria yang dia cintai.


Rudi Mahesa terdiam menatap Kirana yang terlihat yakin dengan jawabannya.


“Kenapa?”


Rudi Mahesa terdiam berpikir begitu juga dengan Caraka ikut terdiam, membuat ruangan keluarga itu dilanda keheningan sampai akhirnya Ibu Widya datang di susul oleh Mbak Nunung dengan membawa nampan berisi kopi dan teh.


“Maksud kami itu baik.” Ibu Widya memecah keheningan, dia sempat mendengar apa yang tengah dibicarakan mereka bertiga tadi. “Kami hanya tidak ingin kamu mengalami kejadian seperti kemarin lagi.”


Kirana terdiam, karena dia sangat tahu mungkin Ferdi dan Marcel tidak akan berani lagi untuk mengganggunya, tapi tidak ada yang tahu mungkin saja ada baj*ngan lain di luar sana yang akan mengganggunya.


“Dan kamu juga harus ingat, saat ini kamu menyandang status kekasih Caraka Benua, putra sulung keluarga Mahesa. Kami tahu hubungan kalian sudah tidak main-main lagi, usia kalian sudah cukup untuk memikirkan pernikahan, tapi apa kalian memikirkan bagaimana dengan kami? Bagaimana pandangan orang-orang terhadap kami?”


Hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Ibu Widya kembali berkata,


“Tadi saya dengar kamu menolak posisi manager karena kamu tidak ingin orang-orang membicarakan kalian. Tapi kalian tidak berpikir kalau orang-orang akan membicarakan kami karena memiliki menantu yang hanya seorang resepsionis.”


“Mah!”


“Hubungan ini, bukan hanya tentang kalian, tapi juga kami. Bukan hanya perasaan dan hati kalian berdua saja yang harus dipikirkan, tapi juga perasaan kami sebagai orangtua.”


Kirana benar-benar hanya bisa terdiam, dia bahkan tak bisa mengangkat wajahnya. Dia menyadari selama ini dia terlalu sibuk memikirkan hatinya agar tidak terluka dalam hubungannya dengan Caraka, hingga dia lupa kalau ada hati lain yang harus mereka pikirkan. Karena bagaimana pun kehormatan dan nama baik keluarga Mahesa harus dipikirkan.


“Ehm!” Rudi Mahesa berdehem, dia mengambil cangkir kopi kemudian menyeruputnya. “Kita bicarakan masalah ini nanti lagi,” ucapnya membuat Ibu Widya mengehela napas, kemudian mengambil cangkir tehnya.


“Kamu pikirkan lagi tentang posisi itu,” lanjut Rudi Mahesa. “Saya tidak akan memaksa, semua terserah kalian.” Rudi Mahesa berdiri, dia menatap Caraka yang masih terdiam. “Raka, ikut Papah ada yang kita harus bicarakan tentang laporanmu kemarin.”


Caraka berdiri setelah sebelumnya menatap Kirana yang mendapat anggukan dari gadis itu seolah mengatakan kalau dia tidak apa-apa ditinggal berdua dengan Ibu Widya, sang Ibu Suri, yang terlihat masih kesal.


Hening menguasai ruangan keluarga sepeninggalannya Rudi Mahesa dan Caraka. Ibu Widya masih terlihat santai dengan tehnya, sedangkan Kirana masih terdiam tertunduk dengan pikiran-pikiran yang baru saja hinggap di kepalanya.


“Kamu tersinggung dengan ucapan saya tadi?”


Kirana mengangkat kepalanya menatap perempuan yang terlihat anggun di hadapannya.


“Tidak.”


“Saya mengatakan itu bukan karena tidak menyukaimu, tapi itulah kenyataan nya.”


Ibu Widya menyeruput tehnya sebelum kembali berakata,


“Saat ini kami sudah menyerah tentang menjodohkan anak-anak kami dengan orang-orang yang kami anggap cocok dan mampu untuk mendukung mereka di masa depan. Kami akan menyerahkan jodoh mereka di tangan mereka sendiri.”


Mendengar ucapan Ibu Widya membuat Kirana yakin kalau hubungannya dengan Caraka telah direstui, hanya saja … dia belum diterima seutuhnya.


“Seperti yang pernah kamu bilang, dunia kalian berdua berbeda. Diakui atau tidak, itulah kenyataannya. Sebagai orangtua, kami menerimamu karena tahu seberapa besar putra kami menyukaimu, dan kami juga tahu kamu adalah perempuan yang pintar, baik juga menyenangkan … kami pun menyukaimu.”


Kirana menatap Ibu Widya yang tersenyum menatapnya, membuatnya ikut tersenyum.


“Tapi orang lain yang tidak mengenalmu, tidak mengetahui betapa pintar, baik, dan menyenangkannya kamu. Mereka hanya akan melihatmu dari status … dari keluarga mana kamu berasal, apa pendidikan terakhirmu, apa bisnismu dan kalau kamu bekerja akan ditanya dimana kamu bekerja dan apa posisimu.”


“Status, nama besar keluarga, jabatan, diakui atau tidak sangat berpengaruh di masyarakat kita ini. Seperti kejadian yang kamu alami kemarin. Mereka dengan mudahnya berlaku kurang ajar hanya karena kamu seorang pekerja rendahan, tapi lihatlah ketika mereka tahu kamu adalah seorang Mahesa, mereka sendiri yang merangkak datang meminta maaf bahkan dengan tangannya sendiri menghukum anaknya … ya, sekuat itulah arti sebuah nama dan status keluarga di dunia kami tinggal hingga bisa membeli hukum negeri ini.”


Kirana semakin tertunduk terdiam, menatap cangkir teh di hadapannya yang isinya masih utuh dan mulai dingin.


“Ketika kamu menikah dengan Caraka nanti, mau tidak mau, siap tidak siap kamu harus menghadapi itu semua. Orang-orang akan menilaimu, mungkin mencibirmu menganggap kamu tak pantas untuk seorang Mahesa.” Ibu Widya terdiam sesaat untuk menyesap tehnya sebelum kembali berkata, “Seandainya Caraka hanya seorang direktur biasa atau pengusaha muda biasa mungkin kamu tidak akan mendapat tekanan seperti itu, tapi yang perlu kamu ingat Caraka menyandang nama Mahesa yang harus kalian jaga.”


Ibu Widya memerhatikan Kirana yang masih tertunduk terdiam. Dia mengingat kesan pertama saat bertemu dengan Kirana. Seorang perempuan yang memiliki inner beauty yang terpancar ke luar, ditambah kepintaran dan pembawaannya yang sangat menyenangkan, membuat semua orang akan merasa nyaman ketika berada di dekatnya, tapi dari semua nilai lebih seorang Kirana Az Zahra yang membuat Ibu Widya menyukainya adalah karena telah berhasil membuat putranya tertawa, dan mengembalikan pancaran matanya yang membuatnya kembali terlihat hidup … itulah yang membuat Ibu Widya mendukung pilihan putaranya memilih Kirana sebagai perempuan yang akan mendampinginya kelak.


Tapi dia tidak bisa membiarkan Kirana pasrah begitu saja dengan kondisinya saat ini. Dunia yang akan dia tapaki nanti tidaklah seramah yang dia bayangkan. Maka dari itu dia harus memersiapkan Kirana agar dia siap ketika berdiri di samping Caraka, mendampingi, menjadi pendukung seorang penerus Mahesa.


“Pilihannya ada pada kamu, apa kamu akan beradaptasi dengan dunia kami dan menjadi pendukung bagi Caraka di masa depan, atau hanya akan menjadi pajangan tanpa arti.”


Ya, semua keputusan tetap ada di tangan Kirana, walaupun Ibu Widya sudah tahu … Kirana bukan tipe perempuan yang akan menyerah begitu saja. Dan dia harap tebakannya benar.


*****