I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
51. SAH!




SAH!



Aku masih diam antara percaya dan tidak ketika mendengar informasi dari Aileen tadi, membuat nafsu makanku menguap, bahkan lontong mie yang telah selesai diracik dan tersaji di hadapanku lengkap dengan udang yang digoreng kering kini hanya aku aduk-aduk saja belum ku makan sedikitpun.


“Apa mungkin Mamah salah ya, seharusnya bilangnya Mojokerto bukan Surabaya.” Aku menatap Caraka yang tengah makan lontong mie dengan lahap.


“Mojokerto dan Surabaya itu dekat, bisa jadi ayahmu memberitahu kalau dia tinggal di Surabaya bukan Mojokerto.” Caraka duduk miring setengah menghadapku. “Seperti halnya Bekasi, Depok, atau Tanggerang yang mengelilingi Jakarta. Ini pun sama dengan itu.” Aku mengangguk paham. “Sekarang makan dulu lontongnya.”


Aku mengalihkan pandangan ke arah piring kemudian menyuap satu sendok lontong mie.


“Aku akan menyuruh Pak Supri untuk mencari alamat pasti mereka di Pacet. Setelah alamatnya ketemu baru kita yang pergi ke sana, biar kita tidak bingung lagi harus mencari alamat.”


Aku terdiam menatap Caraka. Aku pikir sekarang juga kami akan pergi ke Pacet, tapi yang dikatakan Caraka benar kami belum tahu alamat pastinya, kalau kami memaksakan pergi ke Pacet malah hanya akan berkeliling mencari peternakan H. Joko yang alamatnya belum kami ketahui.


Aku benar-benar sedang tak bisa berpikir saat ini, untung saja ada Caraka yang membantuku mengambil keputusan.


Bagaimana aku tidak bingung, setelah 20 tahun akhirnya aku akan bertemu dengan ayah kandung juga adikku. Bukan hanya mereka, tapi mungkin keluarga besar ayah yang sudah pasti tidak akan menerimaku mengingat mereka adalah alasan ayah meninggalkanku, Mamah dan Oka dulu.


“Tidak usah takut.” Aku menatap Caraka yang kini menggenggam tanganku. “Aku akan ada di sana nanti ketika kamu bertemu dengan keluarga ayahmu. Kamu tidak sendiri.”


Aku tersenyum sambil mengangguk. “Besok kamu harus pulang kan? Tidak apa-apa nanti aku diantar Pak Supri, tidak perlu khawatir.”


“Kemungkinan besar Pak Supri memerlukan waktu juga untuk mencari alamat pastinya, mungkin perlu beberapa hari. Besok aku pulang dulu ke Jakarta, membereskan pekerjaan di sana biar ketika Pak Supri sudah menemukan alamatnya aku bisa kembali ke sini. Jadi … kita akan pergi bersama ke sana, oke?”


Aku sebetulnya tidak ingin merepotkan Caraka dengan mengganggu pekerjaannya dan harus bulak-balik Jakarta-Surabaya, tapi aku juga tidak mau sendirian ketika harus menghadapi keluarga yang telah membuangku selama ini.


“Tapi kalau kamu benar-benar sedang sibuk, aku tak mau kamu memaksakan diri. Aku akan menghubungi Oka dan Siska jadi mereka yang akan menemaniku bertemu keluarga ayah. Oka sudah cukup besar dan sudah saatnya dia mengetahui yang sebenarnya.”


Caraka terdiam beberapa saat sambil menyuap suapan terakhir lontong mienya.


“Oke!” Aku mengangguk puas mendengar jawabannya, tapi ternyata. “Aku dan Oka yang akan menemanimu, semakin banyak semakin baik kan?”


Aku hanya bisa menghela napas. Kalau sudah seperti ini artinya tidak ada tawar menawar lagi, jadi lebih baik aku diam sambil kembali melanjutkan makanku yang sebenarnya sudah tak lagi berselera dan hasilnya aku tak sanggup menghabiskan lontong mieku karena tiba-tiba saja perutku berasa kenyang.


Kami memutuskan untuk kembali ke apartemen karena moodku untuk pergi jalan-jalan sudah benar-benar hilang, pikiranku kini dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang terjadi ketika aku bertemu dengan keluarga ayahku, apalagi sepertinya saat aku akan bertemu dengan mereka sudah selangkah lebih dekat membuat jantungku berdebar tak menentu. Untung saja Caraka paham dengan kondisiku, tanpa banyak bertanya dia langsung membawa kami pulang.


Sesampainya di apartemen, Caraka langsung menghubungi Pak Supri memberi perintah untuk mencari alamat pasti peternakan H. Joko di Pacet. Sedangkan aku memutuskan untuk menghubungi Mamah


.


“Pak Supri baru bisa pergi ke Pacet besok, karena hari ini dia sudah terlanjur ada acara dengan keluarganya.”


Aku mengangguk mengerti sambil menunggu panggilan video diangkat Mamah.


“Assalamuallaikum, Teh.”


“Wa’alaikumsalam, Mah.” Terlihat wajah Mamah yang tersenyum di layar ponsel. “Mah, ayah itu bukan di Surabaya, tapi Mojokerto.”


“Kata siapa Mojokerto? Di Surabaya, Teteh.”


“Om teman Kirana di sini tahu peternakan H. Joko, tapi di Pacet, Mojokerto bukan Surabaya.”


“Nah itu Pacet! Akhirnya Mamah inget sekarang.” Mamah tersenyum lebar membuatku menghela napas.


“Iya, Mah, Pacet itu di Mojokerto bukan Surabaya.”


“Oh gitu? Ya, kan deket, Teh, dari Mojokerto ke Surabaya mah kecuali dari Puncak ke Surabaya baru jauh.”


Caraka yang mendengar pembicaraanku dengan Mamah terlihat cekikikan dari tadi membuatku menghela napas.


“Jadi Teteh sudah ketemu H. Joko?”


“Belum, baru tadi Kirana dikasih tahu kalau peternakan H. Joko itu di Pacet, Kirana belum sempat ke sana karena alamatnya juga masih belum pasti.”


Mamah terdiam mengangguk.


“Teh, ingat ya apapun hasilnya nanti mau mereka menerima Teteh sama Oka ataupun mereka tidak mengakui kalian berdua jangan jadi sedih. Teteh mencari Ayah hanya untuk menunaikan kewajiban Teteh sebagai anak untuk meminta izin dan restu dari Ayah sebagai wali sah Teteh.”


Tenggorokanku tercekat mendengar ucapan Mamah, membayangkan 20 tahun diabaikan dan kini membayangkan mereka menolakku dan Oka yang dari lahir tanpa pernah mengenal Ayah membuatku merasa sedih.


“Nanti kalau mau ketemu Ayah, Teteh kasih tahu biar Mamah sama Oka ke Surabaya. Teteh pergi berdua sama Oka, nanti kalau Ayah tidak mau menjadi wali Teteh minta Ayah buat mewakilkannya kepada Oka.”


Aku kembali mengangguk mengerti.


“Tenang aja, Teh, kalau dia tidak mau menjadi wali nikah lo, gue yang akan manjadi wali lo, Teh.”


Wajah Oka kini muncul di samping Mamah.


“Mamah sudah menceritakan semuanya pada Oka.”


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk mengerti.


“Pokoknya mau dia menerima kita atau tidak, lo nggak perlu khawatir, Teh. Lo tetap bakal nikah, tapi … bayaran menjadi wali nikah itu tidak murah, Teh.”


“Hahaha.” Aku tertawa karena tahu akhirnya akan seperti ini. “Tenang si merah jadi milik lo ntar.”


“Serius? Mamah jadi saksi lho, Teh.”


“Serius!” aku bahkan mengacungkan dua jari telunjuk dan tengahku ke depan layar membuat Oka langsung tersenyum lebar. “Si merah buat lo, plus sisa tagihannya.”


“Tuh kan, ujung-ujungnya pasti kaya gini.”


“Hahaha, ya lo harus terima si merah apa adanya dong, termasuk kondisi dia yang belum lunas.”


“Sorry kalau untuk urusan seperti itu, gue hanya terima yang sudah lunas.”


“Dasar cowok matre.”


“Kalau soal ini bukan matre namanya, tapi realistis daripada harus bayar cicilan tiap bulan.”


“Hahaha.”


“Tenang, nanti masalah itu urasannya sama aku.”


Caraka ikut nimbrung di depan ponsel membuat senyum Oka kembali terbit.


“Beneran, Kang?”


“Benar.”


Mata Oka kini terlihat berbinar.


“Serius?”


“Serius.”


Mulutnya semakin lebar memerlihatkan giginya.


“Tapi cicilannya tetap lo yang bayar,” ucapku yang membuat senyum Oka hilang dan mata berbinarnya kini meredup, membuatku kembali tertawa terbahak.


“Aaaah, lo mah, Teh, bikin ilfill aja.”


“Hahaha … nggak usah dengerin dia.” Caraka mengelus pucuk kepalaku yang masih menertawakan Oka. “Pokoknya … dibayar tunai!”


“SAH!” seru Oka membuat Caraka tertawa.


“Hahaha.”


“Eeeh, tapi sekarang mah belum sah,” ucap Mamah sambil mantapku dan Caraka dengan mata membulat. “Kakang dari kapan di Surabaya?”


“Kemarin, Mah.”


“Astagfirullahaldzim! Teteh, Kakang, ih belum sah!"


“Astagffirullahaldzim, Bu Mega, jangan mulai deh.” Aku menggelengkan kepala, paham benar apa yang dipikirkan sang Drama Queen. “Raka, nginep di hotel, Mah.”


“Oooh, dikirain nginep di apartemen.” Mamah cekikikan, tapi kembali terlihat serius sambil berkata, “Ini juga sebetulnya nggak boleh kalian berduaan di apartemen kaya gini, bisa menimbulkan fitnah. Terus nanti kalau di gerebek gimana?”


“Ya tidak apa-apa, Bu, saya tinggal menikah dengan Kirana, jadi dia tidak akan lari lagi … aduh!”


Aku mencubit Caraka yang langsung mengaduh.


“Oka siap kapan saja, Kang, untuk jadi wali … pokoknya dibayar tu-nai!”


“SAH!”


“Hahaha.”


"Sah-sahannya nanti dulu. Ini masalah H. Joko gimana?"


"Ya, nanti Kirana kasih kabar lagi, Mah, kalau sudah pasti kapan bertemu mereka, Kirana hubungin Mamah, jadi Mamah sama Oka bisa langsung ke Surabaya."


"Gue sih males harus ketemu sama laki-laki yang sudah ninggalin kita dari dulu."


"Kalau misalnya dia kaya gimana? Lo kan sering mengkhayal kalau ayah kita itu pengusaha kaya."


"Gue nggak butuh ayah kaya, tapi tak bertanggung jawab. Buat apa?"


Aku terdiam sekaligus sedih mendengar kemarahan juga kekecewaan dari kalimat Oka. Tapi senyum iseng Oka langsung kembali terlihat, sambil menatap Caraka.


"Cukup kakak ipar yang super duper kaya dan baik hati."


"Hahaha." Caraka tertawa mendengar ucapan Oka. "Gampang, pilih saja dari sekarang, mau yang mana."


"Serius?"


"Serius."


"Dibayar tunai kan?"


"Iya dong, yang penting sah dulu."


"Hahaha, gampang nanti Oka suruh satpam gerebek kalian berdua di apartemen biar ga bisa kabur lagi."


"Sudah ada yang kangen lama nggak dijitak nih kayanya."


"Hahaha."


Berbicara dengan Mamah dan Oka benar-benar mengembalikan mood-ku. Sempat galau dengan segala ketakutan karena akan bertemu dengan keluarga ayah, kini perasaanku telah kembali seperti semula. Yang dikatakan Mamah betul, kalau mereka tidak mau menerima kami … ya sudah, toh selama ini kami hidup tanpa mereka, anggap saja ini bakti terakhirku sebagai seorang anak yang mencari ayahnya agar menunaikan kewajiban terakhirnya kepada aku sebagai putri kandungnya yaitu menikahkanku.


Kalaupun dia menolaknya, masih ada Oka yang akan dengan senang hati menjadi waliku nanti. Yaaa ... walaupun bayarannya cukup mahal, tapi itu setimpal dengan kebahagian yang akan ku raih nanti.


*****