
Roller coaster
Kirana duduk di samping tempat tidur kamar inap bu Mega, hatinya merasa sangat sedih melihat sang ibu terpejam dengan selang infus menempel di tangan kirinya, di balik hijab coklatnya sebagian rambutnya dicukur habis dengan perban menempel untuk menutup luka delapan jahitan. Dokter mengatakan kalau luka yang dialami bu Mega hanya luka robek yang memerlukan luka jahitan untuk menutupnya, untungnya tidak ada pendarahan di dalam namun dokter menyarankan bu Mega tetap harus rawat inap untuk melihat perkembangan lebih jauh.
“Sebetulnya mereka siapa sih, Teh? Teteh mengenal mereka?”
Saat ini tinggal Kirana dan Oka yang berada di ruang VVIP tempat bu Mega dirawat sedangkan Caraka tengah ke kantor polisi untuk mengurus urusan di sana.
“Teh! Teteh kenal mereka?” Kirana mengangguk sebagai jawaban. “Siapa mereka? Kenapa dia melakukan ini semua?”
Selama ini Kirana tidak penah menceritakan kejadian yang menimpanya kepada ibu juga adiknya karena tak ingin mereka bersedih, tapi sekarang sepertinya dia harus menceritakan yang sebenarnya. Kirana berdiri kemudian berjalan ke arah sofa yang berada di dalam kamar inap, tanpa di suruh Oka ikut duduk di samping Kirana yang mulai menceritakan kejadian beberapa bulan lalu.
“Kenapa teteh baru cerita sekarang?” Oka terlihat murka mendengar cerita Kirana.
“Sttt, jangan berisik! Nanti Mamah bangun.”
Dengan kesal Oka kembali duduk. “Seharusnya teteh cerita!” suara Oka pelan tapi penuh penekanan juga amarah. “Akan ku bunuh mereka semua, yang berani menyentuh teteh!”
Hati kirana dilanda rasa haru, merasa dilindungi oleh adik kecilnya.
“Mereka bukan orang sembarangan yang bisa kita sentuh.”
“Hah! Aku tak peduli seberkuasa apa mereka, yang pasti mereka tidak akan selamat di tanganku.”
“Kakang dan Papah sudah memberi hukuman mereka, dan sekarang mereka telah ditangkap yang berwajib dan akan kita pastikan kali ini mereka tak akan lolos.”
Oka terdiam walaupun wajahnya masih menyorotkan rasa marah juga kesal.
“Tapi bagaimana mereka tahu kalau teteh sekarang tinggal di Surabaya? Bagaimana mereka tahu teteh tinggal di apartemen itu?”
Oka menanyakan pertanyaan yang dari tadi berkecamuk dalam banaknya.
Bagaimana Ferdi Izam tahu kalau saat ini dia tinggal di Surabaya? Bukankah selama ini dia di Kalimantan? Apa kebetulan? Tidak, karena dia bahkan mengetahui Kirana tinggal di unit mana, artinya sebelum hari ini mereka sudah mengawasinya
Dan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu akhirnya datang ketika sekitar jam 2 Caraka datang dari kantor polisi.
“Bagaimana keadaan mamah?” Caraka beranya sambil memerhatikan Bu Mega yang tertidur setelah minum obat beberapa saat lalu.
“Hasil CT scannya bagus tidak ada pendarahan dalam, mamah mengalami gejala geger otak. Semalam sempat pusing dan muntah - muntah, sekarang sudah tidak muntah hanya masih pusing mungkin akibat jahitan pada luka robeknya juga.”
Caraka mengangguk mengerti, dia kini menatap Kirana yang terlihat sangat lelah dengan luka-luka yang kini mulai membiru.
“Kamu juga perlu istirahat, bahkan perlu perawatan.” Caraka mengelus kepala Kirana, matanya nanar menatap memar-memar yang tampak di wajah dan bagian lain tubuh kekasihnya, yang dibalas Kirana dengan senyuman.
“Aku tidak apa-apa, tadi dokter sudah memeriksaku dan aku juga sudah cukup istirahat. Gantian sama Oka.”
Caraka kini manatap Oka yang tertidur di kasur penunggu pasien. Sengaja dia mengambil kamar VVIP agar Oka dan Kirana merasa nyamana saat menemani ibu mereka.
“Kamu juga pasti sangat lelah.” Kirana menggandeng tangan Caraka ke arah sofa kemudian duduk di atasnya. “Seharusnya kamu pulang ke hotel saja, dan istirahat di sana.”
“Apa menurutmu, aku bisa tenang beristirahat sedangkan kamu berada di sini.” Caraka menatap Kirana dengan mata sendu sebelum kemudian memeluknya. “Maaf, lagi-lagi aku datang terlambat.”
Kirana tersenyum kemudian balas memeluknya. “Kamu datang tepat waktu, seperti biasanya selalu ada di saat aku benar-benar memerlukanmu.”
Ini adalah kali pertama mereka bicara berdua setelah kejadian semalam. Setelah para security dan polisi datang untuk menangkap Ferdi dan teman-temannya, mereka langsung ke rumah sakit membawa bu Mega yang tak sadarkan diri. Selama Kirana dan Oka di rumah sakit beberapa polisi datang untuk meminta keterangan dari mereka berdua, sedangkan Caraka langsung ke kantor polisi selain untuk memberi keterangan juga untuk memastikan mereka tidak akan lolos begitu saja.
“Maaf kamu harus mengalami ini semua … ini kesalahanku.”
“Apa maksudmu? Kamu tidak salah apapun.” Kirana menatap mata Caraka yang memancarkan rasa bersalah.
“Mereka melakukan itu karena … ingin membalas perbuatanku pada mereka dulu.”
Kirana menatap Caraka tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Kamu melakukan itu karena membelaku. Mereka berhak mendapatkan semua itu, bahkan mereka seharusnya mendapat hukuman lebih.” Kirana terlihat sedikit emosi mendengar alasan mereka melakukan ini semua. “Mereka melecehkanku, yang kamu lakukan hanya membela kehormatanku. Dan kini mereka membalasmu karena alasan itu? Mereka benar-benar brengsek! Baj*ngan brengsek!”
Caraka mengangguk setuju. “Kali ini tak akan ada kata ampun. Mereka tertangkap di TKP, banyak bukti dan saksi, itu cukup untuk membawa mereka ke penjara.”
Kirana mengangguk setuju, namun kemudian dia kembali diliputi rasa penasaran.
Caraka terdiam, beberapa saat dia terlihat ragu.
Sesungguhnya ketika mengetahui identitas Bi yang ternyata adalah Anggi Santoso, selain terkejut Caraka juga dilada perasaan takut … takut kalau Kirana akan menyerah dan mengalah demi adiknya. Namun ketakutannya sirna setelah mendengar ucapan Kirana ketika pulang dari Pacet, merasa lega juga bersyukur karena memiliki kekasih yang punya pemikiran terbuka dan realistis tidak hanya mengandalkan perasaan. Walaupun Caraka tahu pasti sempat terjadi perang batin dalam diri kekasihnya itu, tapi seperti biasa Kirana pasti bisa berpikir dengan kepala dingin.
Namun kini apa dia tetap akan berpikir jernih ketika mengetahui kalau adiknya adalah orang yang memberi tahu Ferdi tentang lokasinya saat ini? Bahkan bisa jadi dia adalah otak di balik semuanya? Apa dia akan sanggup menerimanya?
Di satu sisi dia ingin menyembunyikan fakta itu dari Kirana karena tak ingin dia kembali terluka, di sisi lain dia tak ingin Kirana mengetahuinya dari orang lain, dan menjadi orang terakhir yang tahu setelah menjadi lebih kacau lagi.
“Polisi yang mengintrogasi menemukan sesuatu dalam ponsel Ferdi Izam.” Kirana menatap Caraka serius. “Seseorang memberitahunya tentang keberadaanmu di sini.”
Kirana mengerutkan alis bingung. “Siapa?”
“Polisi sedang meninta keterangannya sebagai saksi. Mereka akan menghubungi kita kalau sudah memiliki hasilnya.”
“Siapa?” Kirana kembali bertanya. “Apa aku mengenalnya?” wajahnya kini terlihat serius, matanya tajam menatap Caraka yang terlihat ragu.
“Bi … Anggi Santoso. Dia yang memberi tahu keberadaanmu di sini.”
Wajahnya memucat, lidahnya kelu tak tahu harus berkata atau bereaksi seperti apa. Mungkin kalau dia belum mengetahui kalau Anggi adalah Bi, adik yang selama ini dia cari dan dia rindukan. Kirana akan langsung memaki dan mengeluarkan semua amarahnya.
Namun kini berbeda, baru kemarin Kirana dikejutkan dengan identitas Anggi yang sesungguhnya kalau dia adalah adik kandungnya sendiri yang idenitasnya sudah diubah sedemikian rupa, dan kini dia kembali dikejutkan oleh kenyataan yang membuat hidupnya kembali seperti rollercoaster.
***
Andi Santoso duduk di dalam mobilnya yang membelah jalanan kota Surabaya dengan perasaan campur aduk setelah semalam Bayu, kakaknya, menghubungi dan memberi kabar yang membuatnya memutuskan pulang ke Surabaya bersama ayahnya yang baru selesai berobat.
“Mulio, anakmu goleki awakmu. (Pulang, anakmu mencarimu)”
“Kenek masalah opo meneh arek iku? (Kena masalah apa lagi anak itu?)”
“Dhuduk … dhuduk Anggi seng golek awakmu, tapi … Kirana karo Oka.” (Bukan, bukan Anggi yang mencarimu, tapi Kirana dan Oka)
Andi Santoso terdiam, bahkan untuk sesaat dia seolah lupa untuk bernapas, matanya membulat antara terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Siapa? Tadi Mas Bayu bilang siapa?”
“Kirana, anakmu seng wes suwi gak awakmu temoni. (Anakmu yang sudah lama tidak kamu temuin).”
Saat itu dia tak bisa berkata apa-apa, tubuhnya serasa lemas dengan berbagai macam perasaan berkecamuk … terkejut, bahagia, tapi juga takut. Takut melihat bagaimana nanti putrinya itu akan menatapnya dengan penuh kekecewaan dan mungkin kebencian.
Namun bagaimanapun tanggapan putrinya nanti, Andi Santoso sudah tidak sabar bertemu dengan putri sulungnya itu, tetapi keingannya itu harus kembali tertunda ketika dia sampai rumah istrinya menyambut dengan tangisan, dan menceritakan kalau Anggi dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
“Kamu sudah hubungi Rendra?” kebahagiannya juga kegugupannya tadi karena mau bertemu dengan putri sulungnya, kini berubah menjadi kecemasan memikirkan putri keduanya yang tengah menghadapi introgasi oleh pihak polisi.
“Sudah, tadi Rendra langsung ke sana untuk menemani Anggi.”
Andi Santoso mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Birendra, pegacara keluarganya.
“Bagaimana keadaan Anggi?”
Tanpa basa basi Andi Santoso langsung bertanya keadaan putrinya.
“Sampai saat ini statusnya masih saksi.” Andi Santosa menghela napas lega. “Sekarang Anggi sedang berbica dengan korban.”
Andi Santoso terdiam. “Siapa korbannya?”
Ada hening di seberang sana sesaat sebelum akhirnya Birendra menjawab, “Calon menantu Mahesa.”
Seketika Andi Santoso memijat pelipisnya memikirkan akan sangat sulit kalau seandainya status Anggi berubah dari saksi menjadi tersangka ketika yang menjadi korban adalah Mahesa. Dia juga tidak menyangka kalau putrinya akan bertindak sejauh ini. Selama di Singapura dia tak begitu mengikuti berita di tanah air selain laporan dari kantornya, jadi dia belum tahu siapa sosok menantu Mahesa ini. Hanya saja saat memutuskan perjodohan Caraka dengan Anggi, Rudi Mahesa mengatakan kalau Caraka telah memiliki seseorang yang dia sukai dan kali ini terlihat serius.
“Apa Caraka Mahesa ada di sana?”
“Iya.”
“Saya ke sana sekarang, buat janji dengan Caraka … katakan saya ingin berbicara dengannya dan juga … tunangannya.”
Andi Santoso mengetahui kalau Anggi menyukai Caraka Mahesa dari pertemuan pertama mereka, dan dia juga tahu sifat manja dan keras kepala Anggi kalau menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya. Itu salahnya karena terlalu memanjakannya … bukan tanpa alasan dia memanjakan dan selalu menuruti apapun maunya, itu semua karena rasa bersalah pada kedua putrinya, terutama … putri sulungnya yang telah dia tinggalkan 20 tahun lalu.
*****