I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
57. Deja vu




Deja vu



Bolehkan aku sombong kalau saat ini Sang Raja seperti tengah membanggakanku kepada rekan-rekan bisnisnya. Beliau mengenalkanku hampir ke semua rekannya, dan Caraka yang menemaniku selalu tersenyum bangga setiap kali mereka memuji kesuksesanku karena berhasil menembus retail electronic timur.


Walaupun menurutku itu terlalu awal untuk dibanggakan karena baru sekali ini kami mencapai target. Dan aku yakin itu bahkan tidak akan berpengaruh banyak kepada omset Haryanto, mengingat puluhan gerai mereka yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan Tengah.


Tapi ucapan Om Haryanto tadi sedikit banyak mempengaruhi pandangan orang-orang terhadapku. Tak sedikit dari rekan-rekan Papah (Ehm!!) yang tengah membicarakan bisnis mereka meminta masukan dariku. Dan setelah mendapat anggukan dari Papah (Ehm!!) aku menjawab semampuku, yang membuat Papah (Ehm!!) dan Caraka tersenyum bangga.


Aku juga sebetulnya bersyukur dan bisa bernapas lega ketika Big Boss memintaku ikut dengannya yang langsung ku turuti karena akhirnya bisa lepas dari para high class women yang lebih menilaiku secara fisik, akan tetapi karena amunisi dari Ibu Suri yang ‘sempurna’ mereka tak memiliki celah untuk merendahkanku secara fisik. Akhirnya mereka mencoba merendahkanku dengan latar belakang pendidikan juga pekerjaanku (untung saja mereka belum tahu latar belakang keluargaku), tapi akhirnya bungkam setelah Om Haryanto memuji kinerjaku tadi.


Selain dari itu semua, aku ingin lepas dari tatapan Anggi Santoso yang terus memandangku dengan tatapan tajam, kayanya kalau ini film kartun mata Anggi itu sudah mengeluarkan laser yang akan membuatku gosong. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Aku kembali di hadapkan dengan mantan calon tunangan yang belum bisa move on itu, ketika Caraka meninggalkanku untuk mengambil minuman.


“Sudah lama berhubungan dengan Caraka?”


Oke! to the poin.


“Lumayan.”


“Dari sebelum dia pisah sama saya atau setelahnya? Atau kamu yang menjadi orang ketiga di antara saya dan Caraka … pe-la-kor.”


Ini pertama kali aku menatap Anggi sedekat ini, dulu saat dia berulang tahun aku hanya melihatnya dari kejauhan, dan tadi ketika berkenalan aku hanya menatapnya sekilas. Cantik, hanya saja mulutnya perlu sedikit dibungkam.


“Hmmm … maaf kalau boleh tahu kapan tepatnya kamu dan Caraka mulai berhubungan?” Anggi mengerutkan alisnya menatapku. “Setahu saya, kalian tidak secara resmi berhubungan. Dan kalian hanya baru bertemu dua kali … saat perkenalan, dan juga ulang tahun saja kan?” Rahang Anggi kini mengeras mentapku. “Tidak pernah ada kata jadian atau putus di antara kalian. Lebih tepatnya hanya ada perkenalan saja di antar kalian.”


Aku menatap Anggi yang kini matanya menatapku tajam.


“Jadi, tidak pernah ada kata orang ketiga apalagi pelakor … karena tidak pernah ada hubungan di antara kamu dan Caraka … ti-dak per-nah a-da.” Aku tersenyum menatap Anggi yang kini rahangnya semakin mengeras, hidungnya kembang kempis, matanya melotot.


“Sayang!” Aku memanggil Caraka yang tengah berjalan mendekat dengan membawa dua gelas minuman di tangan kanan-kirinya.


Ku lihat napas Anggi memburu, matanya mendelik kepadaku sebelum akhirnya dia pergi.


“Mantan calon tunangan yang tidak bisa move on.” Aku mengambil minuman dari tangan Caraka yang tertawa.


“Dia tidak mengatakan hal-hal konyol padamu kan?”


“Tenang saja imunku sudah ku tingkatkan dari mode anti mantan pacar yang tidak bisa move on menjadi anti mantan calon tunangan yang tidak bisa move on.”


“Hahaha.”


Aku meminum minumanku sambil menatap kepergian Anggi.


Apa aku sebelumnya aku pernah bertemu dengan dia?


Melihatnya dari dekat mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa?


Dan … aku seperti telah mengenalnya sejak lama, tapi kapan dan dimana aku bertemu dengannya?


***


Paradeisos


Malam minggu membuat tempat exclusive itu dipadati pengunjung kalang atas yang ingin bersenang-senang. Seluruh private room terisi, lantai dansa pun padat oleh pengunjung yang larut dalam hentakan musik DJ ternama. Di salah satu sudut ruangan beberapa orang tengah duduk menikmati minuman beralkohol sebagai pelarian dari rasa kesal, amarah juga kekecewaan.


“Sudahlah, Gi, lupakan saja mereka.”


“Lupakan … tidak segampang itu.” Anggi kembali menuang cairan berwarna keemasan ke dalam gelas minumannya.


“Iya, tapi kesempatan kamu untuk kembali pada Caraka, sepertinya sudah benar-bnear tidak ada. Apa kamu tidak lihat bagaiman dia memperlakukan perempuan itu tadi?”


Bagaimana mungkin Anggi tidak melihatnya. Dia tidak buta. Dia bisa melihat bagaimana Caraka tersenyum pada perempuan itu, bagaimana Caraka menatap perempuan itu penuh dengan rasa cinta, bagaimana Caraka memanggil perempuan itu sayang tanpa merasa canggung sama sekali seolah itu sudah menjadi kebiasaannya.


Bagimana bisa kini dia sangat iri kepada perempuan itu. Perempun biasa-biasa saja yang bukan dari golongannya apalagi Mahesa.


Tadi setelah memastikan kalau keluarga Mahesa akan datang ke pesta Haryanto, Anggi pun memutuskan datang dengan alasan mewakili ayahnya yang tidak bisa hadir. Dia mempersiapkan semuanya dengan sempurna, pakaian terbaik, riasan terbaik, aksesoris yang digunakan-pun yang terbaik. Berharap dengan penampilan sempurna dia akan membuat Caraka dan keluarganya menyesali keputusan mereka karena memutuskan perjodohan dengannya, sekaligus untuk memperlihatkan kalau dia berada pada kelas yang berbeda dengan perempuan itu.


Namun semuanya sia-sia. Caraka bahkan tidak memandangnya dua kali, dia hanya menyapa sebagai bagian dari kesopanan, setelah itu matanya hanya tertuju pada perempuan yang diakui atau tidak terlihat lebih cantik daripada foto yang dia lihat beberapa waktu lalu, ditambah kemampuan dan kepintarannya membuat perempuan itu terlihat bersinar. Dan dia membencinya!


Dan Anggi lebih membenci dirinya sendiri karena mengakui kalau perempuan itu memang luar biasa.


Anggi kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya, entah gelas yang keberapa bahkan kini dia sudah setengah mabuk, tapi tak ada seorangpun temannya yang berani melarangnya karena mereka tahu bagaimana keadaan putri Andi Santoso itu saat ini.


“Apa yang Caraka lihat dari perempuan itu? aku jauuuuh lebh cantik … lebih seksi … lebih kaya.” Anggi kembali meneguk minumannya.


“Aku ingin merobek mulutnya agar perempuan itu tak lagi bisa tersenyum mengejekku.” Anggi mulai mengoceh tak jelas.


“Apa kamu mau memberi perempuan itu pelajaran?”


Anggi menatap pria yang dari tadi duduk bergabung dengan mereka. Anggi kemudian mengangguk sambil berkata,


“Aku akan memberinya pelajaran, agar dia tahu siapa Anggi Santoso dan tak lagi merasa sombong karena berhasil merebut Caraka dariku.”


Pria itu menatap Anggi yang kini kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


“Aku bisa membantumu.” Anggi menatap pria itu. Menaruh kembali botol minuman yang hampir habis. “Aku punya urusan yang sama denganmu, dan kita tidak sendiri … ada seseorang yang akan dengan senang hati bergabung dengan kita memberi mereka pelajaran.”


Anggi kini duduk bersandar menatap pria yang juga temannya itu dengan serius, begitu juga dengan orang-orang yang duduk bersama mereka.


“Kau mengenal perempuan itu?”


“Bukan kenal, hanya … tahu. Dan aku masih punya hutang yang belum terbalaskan.”


Anggi terdiam, matanya tak lepas dari pria yang kini juga menatapnya serius.


“Kamu bilang ada satu orang lagi yang akan bergabung dengan kita?”


“Iya, aku yakin dia akan segera datang setelah mengetahui kalau perempuan itu ada di sini.”


“Siapa dia?”


Pria itu terdiam menatap Anggi sebelum menjawab, “Ferdi Izam.”


“Ferdi?”


Tentu saja Anggi mengenal siapa Ferdi Izam,


dan dia cukup tahu sebajingan apa Ferdi Izam, tapi Ferdi juga seorang teman yang setia jadi Anggi sangat yakin kalau Ferdi akan menolongnya. Apalagi selama ini seperti sudah menjadi rahasia umum di cycle pertemanan mereka kalau Ferdi menyukainya.


Tapi apa Ferdi harus ikut di dalam rencananya kali ini?


Bukankah dia hanya ingin memberi sedikit pelajaran perempuan itu?


Anggi kembali mengingat bagaimana perempuan itu tersenyum mengejeknya karena sebetulnya Anggi tak pernah memiliki hubungan apapun dengan Caraka.


Tidak. Anggi tidak akan melepaskan perempuan itu begitu saja atas penghinaan tadi.


Dia akan memastikan perempuan itu hancur, membuat Caraka jijik dengan melihatnya atau bahkan hanya mendengar namanya saja dia tak akan sanggup lagi, dan membuat keluarga Mahesa menyadari kalau perempun itu tidak cocok menjadi bagian dari Mahesa.


Ya, dengan menghancurkan perempuan itu maka keluarga Mahesa akan kembali memintanya melanjutkan perjodohan dengan Caraka.


Anggi tersenyum membayangkan rencananya … karena pada akhirnya dialah yang akan tertawa bahagia dan menjadi Nyonya Caraka Mahesa.


“Aku sendiri yagn akan menghubungi Ferdi, dan memintanya datang ke Surabaya,” ucap Anggi dengan senyum licik.


*****