
Ibu Peri, Ibu Suri
“Jadi dia bekerja di SUHO?”
“Iya.”
Aku menceritakan kejadian tadi siang saat bertemu Elvan dan baru mengetahui kalau dia juga merupakan bagian dari MHG retail.
“Aku benar-benar salah telah mengizinkanmu ke Surabaya.”
“Tidak ada yang salah, toh aku juga tidak pernah dengan sengaja mau bertemu dengan dia, tadi bertemu juga karena tidak sengaja saat makan siang.”
“Dan akan banyak lagi ketidak sengajaan lainnya, mengingat kalian satu gedung.”
Aku mengendikkan bahu. Ya selama ini kami ternyata berada di gedung yang sama, hanya saja karena sibuk dengan pekerjaan membuatku tak pernah mengeksplore mall yang cukup besar ini. Energiku seolah sudah terkuras habis di kantor, jadi ketika pulang kerja aku akan langsung naik tanpa berniat untuk berkeliling walau hanya sekedar window shopping.
“Lupakan soal dia. Urusanku dengannya sudah berakhir, dan aku tak ingin menghabiskan energiku hanya untuk memikirkan hal yang tak penting seperti kisah masa laluku atau kisah masa lalumu.”
Caraka menghisap rokoknya, saat ini dia tengah duduk di balkon sambil merokok sedangkan aku duduk di sofa depan TV sambil membersihkan wajah menggunakan kapas yang telah dibasahi oleh toner pembersih.
“Aku akan memercayaimu.”
“Aku juga.”
“Tapi aku tidak memercayai pria itu.”
“Aku juga tidak memercayai mantan-mantamu.”
“Sayang, aku serius.”
“Aku juga serius.”
Aku tersenyum melihat wajah Caraka yang menatapku dengan serius. Aah, dia sangat menggemaskan kalau sedang sedang seperti itu.
“Dengarkan aku.” Aku kini menatap Caraka tak kalah serius. “Kamu tahu kan kalau aku ini orang yang sangat realistis?” Caraka mengangguk sambil menghembuskan asap rokok. “Dan kamu pikir dengan sifatku yang seperti itu aku akan mengkhianatimu dengan dia yang dulu pernah membuatku terluka?” Dia menatapku kemudian mengendikkan bahunya. “Aku tak sebodoh itu dengan menyia-nyiakan seorang pria yang mencintaiku apa adanya seperti dirimu untuk berselingkuh dengan pria yang dulu pernah menyakitiku, hanya karena kenangan masa lalu … jadi percayalah padaku, seperti aku yang memercayaimu walau ku tahu pasti selama aku di Surabaya tak sedikit yang mencoba mendekatimu.”
Caraka terdiam kemudian tersenyum sambil mengangguk, membuatku ikut tersenyum. Aku tak tahu kenapa dia bisa setakut itu aku akan kembali kepada Elvan, karena tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengkhianatinya dengan pria manapun. Apa yang ku cari lagi? Semua sudah ada pada diri seorang Caraka Benua, dan di antara semua yang membuatku tak akan melepaskannya adalah, karena dia menerimaku dan keluargaku apa adanya, begitu juga dengan keluarga Mahesa yang seolah tak peduli dengan latar belakang keluargaku.
Dan berbicara tentang keluarga Mahesa, sabtu pagi aku dikejutkan oleh telepon dari Ibu Suri yang menyuruhku datang ke hotel M. Sesampainya di hotel M aku kembali dikejutkan ketika melihat Sang Raja, Ibu Suri dan Caraka duduk sambil menikmati kopi dan teh. Kanapa Caraka tak menceritakan kedatangannya hari ini? Sudah dua kali dia datang ke sini tanpa memberitahuku. Pasti dia akan bilang … surprise!!
Tapi kejutan kali ini tidak sampai sana, mereka kembali mengejutkanku dengan mengatakan kalau hari ini aku akan menemani mereka ke sebuah undangan pesta dari Haryanto grup yang akan digelar di kediaman Haryanto siang ini.
Siang … iya siang! Yang artinya aku tak memiliki waktu untuk persiapan apapun, termasuk pakaian yang akan aku pakai nanti!
“Tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu,” ucap Ibu Suri santai sambil meneruput tehnya dengan anggun, berbeda denganku yang seolah kehilangan seperempat nyawaku mendengar setiap penuturannya.
“Ini boleh dibilang ajang pengenalan kamu menuju dunia kami. Jadi persiapkan dirimu baik-baik.”
Bagaimana aku bisa mempersiapkan diri kalau aku hanya memiliki waktu kurang dari 3 jam lagi!
“Kamu nanti mewakili MHG retail karena Candra tidak bisa hadir,” ucap Sang Raja yang membuat nyawaku yang tinggal ¾ kini kembali berkurang jadi ½.
“Dan tentu saja sebagai calon istriku juga.” Caraka berkata dengan senyum lebar yang malah membuatku ingin sekali menyumpal mulutnya.
Ya Allah, kalau seperti ini sepertinya aku memerlukan imun yang super kuat untuk hari ini.
Hmmm … ini yang paling aku butuhkan, dipijat oleh para professional. Dulu ketika aku masih bekerja di hotel, aku selalu iri melihat mereka yang memakai fasilitas spa hotel. Dan kini aku merasakannya! Dan rasanya sungguh nikmat, urat-urat syarafku jadi tenang membuat ¼ nyawaku kembali lagi.
Tidak sampai sana setelah menghabiskan waktu di spa, Ibu Suri mengajakku ke dalam kamar hotelnya yang ternyata telah tersedia sederet pakaian yang harus aku coba sampai akhirnya mendapat kata oke dari Ibu Suri, dan itu membuatku harus berganti pakaian beberapa kali sampai akhirnya kata oke itu keluar setelah aku mengenakan salah satu gaun floral perancang ternama dunia berwarna biru muda motif bunga-bunga putih dengan bahan yang sangat lembut dengan panjang sedikit di bawah lutut yang sangat cantik, jujur aku juga sangat menyukainya karena terlihat sederhana dan nyaman ketika dipakai.
Selesai dengan pakaian, high heel dan clutch bag berwarna broken white yang sangat cantik dan elegant, lanjut dengan para MUA (Make up artis) yang mulai melakukan keajaiban dengan wajahku.
“Bikin senatural mungkin, yang bisa menonjolkan kecantikannya,” perintah Ibu Suri yang kini sedang ditata rambunya setelah sebelumnya di make up.
“Ini sih tak perlu penanganan khusus, Bu, putrinya sudah cantik tinggal poles sedikit saja.”
Untuk merias wajah memerlukan waktu kurang dari 30 menit, lanjut rambut 30 menit, dan selama itu aku hanya pasrah wajahku ditempeli berbagai macam make up, dan rambutku ditarik sana-sini sampai akhirnya mereka berdua mengatakan.
“Selesai!”
Aku terdiam menatap pantulan diriku sendiri. Make up-nya sempurna terlihat natural, hanya dipertegas di bagian mata. Rambutku di curly bagian bawahnya dengan bagian atas dikepang menyerupai bando. Aku menyukainya karena tidak berlebihan, ini masih seperti diriku tapi versi lebih bagus. Tahu maksudku kan? Ada kalanya ketika kita berkaca dan kita merasa kalau kita sedang cantik. Ya, itu juga yang aku rasakan saat ini … aku merasa this is my day! (Ini hariku!) dan itu sukses mengembalikan ¼ lagi nyawaku, membuatku kembali merasa percaya diri.
“Ini akan membuatmu terlihat sempurna.”
Ibu Suri menyerahkan sebuah kotak dari bludru yang membuatku tak bisa berkata-kata ketika membuka dan melihat isinya. Satu set perhiasan berlian yang terdiri dari kalung dan anting. Untaian-untaian berlian kecil dengan emas putih dan pusatnya adalah liontin berlian berbentuk bunga yang memiliki design yang sama dengan antingnya.
Cantik, sungguh cantik. Aku bahkan tak bisa berkedip untuk beberapa saat dengan mulut menganga. Ini adalah kalung tercantik yang pernah aku lihat dan ku pegang secara langsung selama ini, tapi ... aku tidak bisa menerimanya.
“Saya tidak bisa menerimanya, Bu.” Aku kembali menutup kotak itu dan menyerahkannya kembali kepada Ibu Suri yang berdiri di hadapanku.
“Mamah.” Aku menatap Ibu Suri bingung. “Panggil aku, Mamah, apalagi di depan umum. Paham?”
Aku terkejut mendengar permintaan atau lebih tepatnya perintah Ibu Suri kali ini, yang akhirnya mau tidak mau membuatku mengangguk (tentu saja dengan perasaan bahagia banget! Karena itu tandanya, dia sudah setuju 99,9 persen kan?)
“Paham … Mah.” Dengan susah payah akhirnya aku berhasil mengucapkan ‘Mah’ (Sebetulnya tidak susah-susah amat hanya malu saja, hehehe). “Tapi saya tidak bisa menerima ini … ini terlalu berlebihan untuk saya.”
Ibu Suri terdiam menatap mataku untuk beberapa saat.
“Kamu lupa kalua hari ini kamu akan diperkenalkan sebagai bagian dari Mahesa?” Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaannya. “Bukankah tadi Caraka bilang kalau hari ini dia ingin memperkenalkanmu sebagai calon istrinya? Jadi kamu harus tampil layaknya bagian dari Mahesa.”
Aku semakin terdiam, tak tahu harus berkata apa karena aku tahu yang di ucapkan Ibu Suri benar, hanya saja … ini terlalu berlebihan untukku. Mungkin beda ceritanya kalau aku telah sah menjadi istri Caraka nanti, tapi sekarang? Tunangan saja belum, bagaimana bisa aku menerima sebanyak ini.
“Hari ini saya akan memakainya, tapi setelah acara selesai secepatnya akan saya kembalikan kepada Ib … Mamah.”
Ibu Suri terdiam menatapku sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum. “Sekarang.” Ibu suri mengambil kalung di dalam kotak itu kemudian berdiri di belakangku. “Kita lihat apa ini cocok untukmu.”
Setelah memakaikan kalung dan anting padaku kini Ibu Suri berdiri menilaiku dari atas sampai bawah sebelum akhirnya senyum lebar menghiasi wajah anggunnya.
“Sempurna,” ucapnya mengingatkan kepada salah satu pesulap tanah air, mungkin kalau suasana tidak serius seperti ini aku sudah tertawa mendengarnya.
“Sekarang kamu sudah siap.” Aku mengangguk mengerti. “Aku telah memberimu amunisi hari ini, tapi semua tergantung padamu apa kamu akan memakainya dengan baik atau membiarkan amunisi ini hanya menjadi selongsong kosong.”
Aku kembali mengangguk mengerti, tentu saja aku tak akan menyia-nyiakan begitu saja. Nyawaku telah kembali 100%, ditambah amunisi yang diberikan Ibu Suri membuatku siap utuk bertempur menghadapi apapun.
*****
Haiii ... setelah ditodong emak-emak warga antah berantah yang pada minta THR ... jadi yaaa, anggap saja ini THR yang tertunda untuk semuanya ... sekali lagi, selamat lebaran, mohon maaf lahir batin 😍🙏
Love
A.K