I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
50. Puzzle Piece



50. Puzzle Piece (Potongan puzzle)


“Morning, Honey.”


Caraka masuk ke dalam apartemen seketika aku membukakan pintu.


“Bukankah ini terlalu pagi untuk bertamu.”


“Ayolah, Sayang, aku hanya ingin memanfaatkan waktu yang kita punya selama aku di sini.”


Aku menghela napas sambil menutup pintu apartemen. Caraka terlihat sudah duduk di atas sofa dengan santainya seolah ini adalah apartemen miliknya sendiri. Hmmm, oke! Ini memang apartemen yang disewa Caraka, jadi secara otomatis menjadi miliknya untuk sementara … aku lupa itu.


“Mau kopi?”


“Jelas dong, aku rindu kopi buatanmu.”


“Tolong dikondisikan pagi-pagi tidak usah gombal.” Aku berjalan menuju pantry meninggalkan Caraka yang tertawa.


“Aku serius, Sayang, aku rindu kopi buatanmu.”


“Apa aku ganti saja namaku jadi Neng Kopi?”


“Hahaha … ide bagus, Kang Kopi dan Neng Kopi.”


“Ckkk!” Aku berdecak sambil menuang kopi, tak berapa lama aroma kopi mulai memenuhi apartemen. Aku menuangkannya ke dalam dua cangkir kemudian membawanya ke depan.


“Thank you, Love.” Aku hanya menggelengkan kepala mendengar panggilannya untukku. “Oh, iya mengenai H. Joko yang kamu ceritakan semalam aku telah meminta tolong Pak Supri untuk mencari tahu.”


“Pak Supri?”


“Iya, Pak Supri orang sini asli, dia pasti banyak kenalan siapa tahu ada yang mengenal H. Joko, apalagi kalau H. Joko itu memang punya peternakan kambing Etawa juga tuan tanah. Pasti akan ada yang mengenalnya.”


Aku mengangguk mengerti sambil meniup asap yang mengepul dari cangkir kopi sebelum menyeruputnya nikmat.


“Sambil menunggu kabar dari Pak Supri … bagaimana kalau kita kencan hari ini?”


“Kencan?”


“Oh, ayolah, Sayang, sudah lama kita tidak kencan dan kamu masih berhutang hadiah tambahan semalam.”


“Hahaha.”


“Jangan harap aku akan lupa tentang hadiah itu.”


“Aku tidak pernah berjanji akan memberi hadiah tambahan.”


“Ckkk.”


“Hahaha … memangnya mau kemana?”


“Terserah, bukannya kamu yang tak pernah ke luar dari gedung ini?”


Aku mengangguk, tapi ketika libur terlalu malas untukku pergi ke luar mungkin karena sudah sangat lelah bekerja, jadi ketika libur aku lebih memilih untuk istirahat apalagi tidak ada teman yang bisa ku ajak untuk pergi, kalau seperti itu aku jadi merindukan Siska yang selalu siap sedia kalau diajak jalan.


“Hmmm … kita berburu sarapan? Katanya di pasar Blauran banyak makanan. Aku sangat penasaran, tapi selama ini aku tak punya teman untuk diajak ke sana … kita ke sana saja yuk?”


Caraka menatapku kemudian menggeleng. “Baru kali ini aku diajak kencan ke pasar.”


“Sekali-kali Pangeran juga harus turun ke pasar.”


Caraka hanya berdecak sambil tersenyum, tapi kepalanya masih menggelengkan kepala.


“Ayolah, Kang, cuma beli sarapan saja setelah itu terserah deh mau kemana.”


Caraka menatapku terlihat berpikir beberapa saat. “Cuma beli sarapan saja kan?”


“Iya.”


Caraka kembali terdiam sebelum akhirnya mengangguk membuatku bersorak dan langsung berdiri hendak bersiap.


“Benar ya cuma beli sarapan saja?”


“Iya,” jawabku sambil masuk ke dalam kamar, dengan senyum lebar.


Satu jam kemudian.


“Katanya cuma beli sarapan saja?”


“Sekalian, Kang, mumpung di sini.” Saat ini aku tengah memilih aneka jajanan pasar yang menggugah selera. “Sarapannya nanti ini saja.”


“Ini mah ngemil bukan sarapan.”


“Hahaha.”


Oke! Bagaimana aku tidak kalap ketika pasar yang ku pikir pasar pada umumnya, ternyata berbeda. Pasar Blauran adalah pasar kering dengan banyak sekali penjual makanan tradisional, dari mulai rujak cingur, lontong mie, bubur Madura, pecel, es dawet sampai aneka jajanan pasar.


“Sayang, itu tuh … yang bulat-bulat.”


“Yang bulat mana? Banyak di sini yang bulat.”


“Yang ijo, yang pakai kelapa.”


“Klepon?”


“Nah itu!”


Aku tersenyum melihatnya yang tak kalah antusias memilih aneka jajanan pasar.


“Sayang, bubur sumsum sama biji salaknya juga.”


Ini sebenarnya yang mau jajan aku atau Caraka sih? Kenapa jadi dia yang beli lebih banyak daripada aku? Setelah bubur sumsum dan biji salak, kini sasarannya adalah getuk dan cucur.


Di tangannya kini telah ada satu plastik penuh jajanan pasar, dari mulai lupis, klepon, cucur, biji salak, bubur sumsum, getuk, sampai cenil.


“Sudah kan?”


“Seharusnya aku yang nanya … sudah? Tidak ada yang mau dibeli lagi?”


“Hahaha.”


Caraka hanya tertawa sambil merangkul bahuku, kemudian bertanya. “Kamu mau beli apa, Sayang?”


“Kata anak-anak di sini lontong mie nya enak, kita cobain yuk?”


“Katanya sarapannya ini saja.” Caraka mengangkat plastik di tangan kirinya.


“Hahaha.”


“Bu Na!”


Aku menghentikan langkah ketika mendengar seseorang memanggilku, dan ternyata itu Aileen yang tersenyum lebar sambil berjalan cepat ke arahku.


“Benarkan ini Bu Na, tadi Aileen sempat ragu masa Bu Na ada di sini.”


“Sekali-sekali ke luar kendang, Leen, mumpung ada bodyguard.”


Aileen mengalihkan pandangannya ke arah Caraka.


“Waaaah.”


Aku tak bisa menahan tawaku ketika melihat Aileen yang terkesima melihat Caraka, untung saja imunku sudah cukup kuat melihat bagaimana para perempuan manatap Caraka. Seorang Caraka Benua tak akan bisa menyembunyikan pesonanya kemanapun dia pergi termasuk pasar tradisional sekalipun, tapi ada untungnya juga karena ketampanannya kami mendapat banyak bonus.


“Iki gawe Mas seng guanteng karo Mbak seng ayu. (Ini buat Mas yang ganteng dan Mbak yang cantik).” Ya walaupun aku juga dipuji cantik, tapi si Mbok penjual bilangnya sambil menatap Caraka dengan mata berbinar, jadi anggap saja pujian untukku hanya sebagai kalimat pelengkap saja.


“Kang, ini Aileen, dia adminku di kantor.”


Caraka membuka kacamata hitamnya sebelum bersalaman dengan Aileen, “Caraka.”


“A-Aileen.”


Aku menggelengkan kepala melihat Aileen yang masih menatap Caraka dengan mata berbinar.


“Ah, Leen, kebetulan! Yang kata kamu lotong mie yang enak itu di mana?” Aku berusaha mengembalikan Aileen ke bumi setelah sepertinya tadi selama beberapa saat dia melanglang buana ke antariksa.


“Ya, Bu Na?” Aileen meantapku bingung membuatku mengulum senyum.


“Lontong mie yang enak dimana?”


“Ah, lontong mie!” Aileen sepertinya sudah kembali sadar. “Di sana, Bu Na, kebetulan Aileen juga mau beli itu di suruh Mamah.” Aileen berjalan di depan, diikuti aku dan Caraka yang kembali merangkul bahuku.


“Dulu Shanty, dan sekarang Aileen.” Aku menghela napas berat membuat Caraka tertawa.


“Tapi setidaknya mereka bukan mantan yang gagal move on seperti yang kemarin.”


Ups! Sepertinya aku salah mencari topik pembicaraan. Oke, lebih baik sekarang aku diam dan hanya berjalan mengikuti Aileen menuju lapak yang menyajikan berbagai macam sate, tempe dan tahu bacem, rempeyek, dan masih banyak lagi macamnya yang tersaji memenuhi meja.


Kami duduk di kursi plastik bakso, tanpa banyak bicara Caraka langsung mengambil sate telor puyuh dan memakannya, sedangkan aku dan Aileen memesan dua porsi lontong mie untukku dan Caraka, sedangkan Aileen memesan empat porsi.


“Nanti Bu Na coba es dawetnya … muantap, Bu Na.”


Aku menatap tukang es dawet yang berada tak begitu jauh dari kami duduk.


“Bu Na, itu pacar Bu Na ya? Guanteng pake banget, Bu Na.” Aileen berbisik sambil terkekeh membuatku tersenyum, sedangkan yang mendapat pujian tengah asik makan sate usus, setelah menghabiskan sate telor puyuh.


“Oh iya, Bu Na! Hampir saja lupa!”


Aileen menatapku dengan serius membuatku mengalihkan tatapan dari penjual lontong mie yang sedang mengulek petis, bawang putih goreng, dan cabai rawit di atas piring.


“Bu Na ingat kan om Aileen yang punya toko oleh-oleh susu kambing Etawa?”


Aku mengangguk dan kini mulai fokus menatap Aileen.


“Semalam Om ke rumah, terus Aileen tanya, tahu H. Joko tidak?” Aku semakin serius menatap Aileen, sekaligus penasaran. “Dan dia tahu.”


Deg! Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat sebelum berdebar menggila, mataku membulat menatap Aileen tak percaya, begitu juga dengan Caraka yang kini berhenti mengunyah dan menatap Aileen serius, tapi sepertinya Aileen tak menyadari perubahan ekspresi kami berdua, dia kembali melanjutkan ucapannya.


“Tapi, Aileen tidak tahu apa ini H. Joko kenalannya Mamah Bu Na bukan, soalnya kata Om Aileen, H. Joko itu bukan di Surabaya, tapi Mojokerto.”


“Mojokerto?”


“Iya, Bu Na. Mojokerto, jadi Aileen tidak tahu itu H. Joko yang sama atau bukan.”


Mojokerto? Apa mungkin Mamah salah menyebut harusnya Mojokerto bukan Surabaya? Tapi itu tidak mungkin, atau H. Joko pindah ke Mojokerto? Itu lebih masuk akal.


“Apa sampai sekarang masih ada?”


Aku tak boleh menyia-nyiakan kemungkinan sekecil apapun. Kalaupun ini H. Joko yang berbeda, aku hanya tinggal mencari lagi kan? Tidak ada yang salah dengan mecari tahu apa ini H. Joko, kakekku atau bukan.


“Kata Om, sekarang peternakan kambing H. Joko yang mengelolanya itu anaknya.”


Jantungku berdetak menggila, tanganku bahkan gemetar mendengar ucapan Aileen.


“Anaknya?”


“Iya, anaknya.”


“Om kamu tahu siapa nama anaknya H. Joko itu?”


“Aileen nggak nanya Bu Na, tapi bentar Aileen telepon Om dulu ya.” Aileen mengeluarkan ponselnya.


“Tolong tanya sekalian Mojokertonya dimana?” ucap Caraka yang mendapat anggukan dari Aillen.


“Halo Om …”


Aileen berbicara dengan Omnya menanyakan apa yang tadi aku dan Caraka tanyakan, membuat tubuhku semakin gemetar. Dibawah meja tangan Caraka menggenggam tanganku yang mulai dingin dan gemetar. Perasaan ini seperti ketika aku harap-harap cemas menunggu hasil wawancara kerja … berdebar, cemas, tak karuan. Itulah yang aku rasakan sekarang, sampai akhirnya Aileen memutuskan percakapan dengan Om nya, membuat jantungku semakin berdebar dalam harap-harap cemas.


“Om tidak tahu alamat pastinya dimana, tapi kata Om, H. Joko cukup terkenal di daerah Pacet – Mojokerto.”


Deg! Daerah dengan huruf P, seperti yang dikatakan Mamah membuat tubuhku semakin gemetar, tanganku yang semakin dingin kini menggenggam erat tangan Caraka.


“Nama anaknya H. Joko yang kini mengelola peternakan kambing itu namanya Pak Bayu.”


Mataku membulat bersamaan dengan jantungku yang semakin berdetak menggila. “Pakde Bayu,” ujarku lirih.


Tubuhku kini benar-benar lemas, napasku memburu, jantungku berdebar kencang, ada rasa haru juga rasa takut ketika menyadari hanya tinggal selangkah untukku menemukan ayah juga Bi.


Satu potongan puzzle telah berhasil ku temukan tinggal menunggu potongan lainnya, dan siap ku susun untuk mengetahui keberadaan ayah juga Bi.


*****


Assalamualaikum,


Sehubungan dengan semakin dekatnya hari raya Iedul Fitri yang membuat semakin sibuk pula di kehidupan sehari-hari dan kondisi tubuh saya pun belum pulih sepenuhnya, jadi sepertinya saya tidak bisa up setiap hari lagi seperti biasanya, insyaallah saya akan usahakan dua hari sekali ... untuk itu saya mohon pengertian dari teman-teman semua 🙏🙏🙏🙏


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ... aamiin


Love


A.K