I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
47. Homesick




Homesick (Rindu rumah)



Saat ini aku tengah berada di balkon apartemen, menghirup udara sebanyak-banyaknya agar pikiran dan tubuhku kembali tenang hingga aku bisa kembali berpikir jernih.


Bagaimana Elvan ada di sini? Apa sekarang dia tinggal di Surabaya? Atau hanya kebetulan saja? aku harap semua hanya kebetulan saja, hingga aku tak harus lagi bertemu dengannya.


Tubuhku masih gemetar, pikiranku melayang pada kejadian beberapa tahun lalu dimana harga diriku diinjak habis oleh keluarga Elvan.


Seperti saat itu, sekarang pun aku merasa sendiri tak ada seseorang yang bisa ku jadikan sandaran, kalau seperti ini aku jadi teringat rumah … aku ingin pulang, berada di antara orang-orang yang menjadi sumber energiku, selalu mendukung dan percaya padaku termasuk … orang yang namanya kini terpampang di layar ponsel.


“Assalamualaikum, Sayang, sudah di atas atau masih di kantor nih?”


Aku tersenyum mendengar suaranya yang menenangkan sekaligus pertanyaan yang selalu menyiratkan rasa khawatir. Hanya mendengar suaranya membuatku menyadari kali ini berbeda ... aku tak sendiri, ada Caraka yang selalu ada di sampingku, melindungiku juga tempatku bersandar.


“Wa’alaikumsalam, sudah di atas.”


“Pinter … gitu dong jangan kerja terus sampai larut malam.”


“Hahaha …”


“Anak nakal itu tidak mengganggumu kan?”


Aku mengerutkan kening, kemudian tersenyum. Untuk sesaat aku lupa kalau hari ini Caraka tengah cemburu pada adiknya sendiri.


Apa aku harus membicarakan soal Elvan pada Caraka? Bagaimana kalau ini hanya akan menjadi beban pikirannya saja? Tidak, aku tak mau ini menambah beban pikirannya, jadi ku rasa aku tak perlu membicarakan masalah ini dulu dengan Caraka. Lagian belum tentu aku akan kembali bertemu dengannya kan? Siapa tahu tadi hanya kebetulan, dan semoga saja Elvan tidak menyadari kalau aku bekerja di E-world dan hanya menganggap pertemuan kami tadi hanya kebetulan juga.


“Tidak, tadi kami sempat minum kopi sambil membicarakan pekerjaan sebelum Candra harus pergi meeting bersama para store dan product manager MHG cabang Surabaya.”


“Anak nakal itu, di saat aku menahan rinduku, dia malah dengan leluasa bertemu denganmu.”


“Hahaha, kenapa kamu tidak datang saja ke Surabaya kalau kamu memang merindukanku.”


“Aku ingin.” Ada jeda di sana, ku dengar kesungguhan dalam suaranya membuatku tersenyum. “Tapi aku tahu saat ini kamu pasti tengah berusaha menyesuaikan diri dengna ritme dan pekerjaan baru, dan itu tidak gampang kan?” aku kembali tersenyum mendengar pengertiannya. “Jadi … lebih baik aku menahan rinduku sebentar lagi, agar aku tak jadi penghalang untuk menggapai mimpi dan tujuanmu.”


Aku terharu mendengarnya hingga tanpa ku sadari air mataku bergulir walau mulutku tersenyum … dia adalah orang yang selalu mendukung dan percaya akan kemampuanku. Bukan hanya Caraka, tapi ada keluarga Mahesa, Siska, Oka, dan terutama Mamah … aku harus kuat dan tak boleh mengecewakan kepercayaan mereka.


Akan ku tunjukan kepada Elvan, keluarganya, juga kepada mereka yang selama ini merendahkan dan menghinaku kalau aku … anak broken home bisa berhasil dan sukses, tak akan ku biarkan mereka memandang aku, Mamah, dan Oka dengan sebelah mata … bukankah ada pribahasa balas dendam terbaik adalah dengan menjadi sukses. Ya akan aku lakukan itu, aku akan menjadi sukses demi Mamah, Oka dan juga orang-orang yang selama ini percaya padaku.


***


Sebulan sudah aku tinggal di Surabaya dan setelah hari itu aku tak lagi bertemu dengan Elvan. Satu – dua hari setelah pertemua kami, aku sedikit waspada hingga tidak keluar sama sekali dari kantor, bahkan untuk makan siang pun aku titip dibelikan Aileen dan Yuli, tapi ternyata kekhawatiranku sia-sia karena sepertinya pertemuan kemarin adalah pertemuan tidak disengaja, hingga akhirnya aku bisa bernapas lega.


Oh iya, mengenai pekerjaan sedikit-sedikit sudah mulai teratasi, pengunjung yang datang semakin banyak, penjualan pun sedikit demi sedikit mengalami peningkatan, aku pun mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan hingga tak perlu lagi kerja sampai larut malam.


Dan karena pekerjaanku mulai sedikit senggang akupun bisa fokus mencari H. Joko, tuan tanah yang memiliki peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo, dan Bentari.


Tapi seperti yang ku duga itu tidak akan mudah.


“Tidak ada, Mbak, adanya H. Tutus, apa mungkin nama peternakannya ganti ya?”


Yang dikatakan Ivan benar juga, bisa jadi nama peternakannya bukan H. Joko. Beberapa hari lalu aku sempat bertanya kepada Ivan dan yang lainnya siapa tahu ada yang mengetahui mengenai peternakan kambing H. Joko.


“Bisa jadi, Mbak, apalagi kalau peternakannya memang besar jadi sudah terkenal.”


Hmm ... Sepertinya kalau libur aku mungkin akan keliling peternakan kambing untuk mencari siapa tahu ada yang mengenal H. Joko si tuan tanah yang punya peternakan kambing Etawa, Pakde Bayu, Randi Prasetyo dan Bi.


“Sopo seh Mbak, H. Joko iku?”


“Kenalannya Mamah.”


Ivan ber-oh ria dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Om Aileen punya toko oleh-oleh susu kambing Etawa, nanti Aileen coba tanyain Om ya, Bu Na, siapa tahu kenal.”


“Sip, Leen, matur nuwun.”


Namun sampai sekarang Aileen belum memberikan kabar terbarunya … tidak apa, masih ada waktu untukku mencari ayah dan Bi. Tapi … bagaimana mana kalau sudah ketemu dan ternyata mereka tidak mengenaliku? Tentu saja mereka tidak akan mengenaliku, aku juga belum tentu mengenali mereka. Bagaimana kalau mereka tidak mau menerimanku? Bukan masalah besar, toh selama ini aku hidup tanpa mereka. Akan tetapi tetap saja memikirkan mereka menolakku timbul sedikit rasa sakit di dalam hati, membayangkan setelah ditelantarkan selama 20 tahun dan kini harus kembali menerima penolakan.


“Bu Kirana, ada tamu yang mencari Ibu.” Seorang SPG berdiri di ambang pintu, menyadarkanku dari lamunan tentang ayah dan Bi.


“Tamu mencari saya?”


“Iya, Bu, sedang menunggu di booth Panasonic.”


Aku mengerutkan alis. Siapa? Apa mungkin orang dari brand? Tapi selama ini aku dengan sengaja menyuruh Ivan yang berhubungan dengan pihak brand agar dia terbiasa ketika nanti aku kembali ke Jakarta.


“Van, hari ini apa ada rencana bertemu dengan orang Panasonic?”


“Panasonic? Tidak ada, Mbak.”


“Siapa ya yang mencari saya?”


“Mungkin teman Mbak yang biasa datang itu, atau mau saya yang temui dulu?”


Aku menghela napas mendegar Ivan menyebut teman. Dan satu-satunya teman yang ku kenal di Surabaya yang suka datang adalah … Anto si tempe kriuk.


“Tidak, terima kasih, biar saya saja.”


Dengan malas aku ke luar dari kantor dan berjalan ke arah booth Panasonic yang berada di sayap kiri. Layar-layar televisi yang di-display menampilkan berbagai gambar menarik dengan warna-warna kontras, sebagian lagi menampilkan film-film terkenal. Beberapa SPG/M sibuk melayani pembeli menerangkan kelebihan product unggulan, sebagian lagi terlihat berdiri di depan booth dan menyapaku ketika aku lewat.


Lagu home milik Michael Buble terdengar mengalun lembut menggema di seluruh penjuru toko membuat kerinduanku akan rumah semakin menjadi. Aku sungguh telah merindukan rumah … rindu Mamah yang hebat walau terkadang daya khayalnya di atasku, aku rindu Oka si trouble maker, tapi juga adik yang paling aku sayangi, rindu Siska yang absurd tapi juga sahabat yang sangat setia, dan yang pasti … Caraka, Kang Kopi yang telah membuatku mendobrak semua prinsipku tentang sebuah hubungan, dan memberiku dukungan hingga memberanikan diri untuk mengembangkan sayap tuk terbang lebih tinggi.


Aku benar-benar merindukan mereka terutama Caraka, membuatku beberapa hari ini kembali mellow setiap mendengar suaranya apalagi video call, aku pasti ingin menangis dan rasanya ingin pulang saat itu juga. Aku merindukan masakan Mamah, aku merindukan berebut kamar mandi di pagi hari dengan Oka, aku rindu makan bakso di depan komplek bersama Siska, aku bahkan rindu menjadi top gossip ibu-ibu komplek, dan aku rindu menghabiskan waktu istirahat di rooftop bersama Caraka.


Aku kembali menghela napas, mendengar lirik lagu yang membuat kerinduanku semakin menjadi.


May be surrounded by a million people I, still feel all alone, I just wanna go home … oh, I miss you, you know.


(Mungkin aku dikelilingi jutaan orang, namun kutetap merasa sendiri, aku hanya ingin pulang … oh, aku merindukamu, kau tahu).


Sambil bersenandung aku berjalan menuju booth Panasonic yang semakin dekat. Perlahan aku memelankan langkahku, keningku berkerut ketika melihat sosok pria dengan tubuh tinggi kini tengah berdiri membelakangiku. Seketika aku terdiam, mengenali sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sosok yang selama ini aku hindari, dan ada di urutan terakhir yang ingin aku temui … Elvan Anggar.


******