I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
69. Bi




Bi



“Antar aku ke kantor polisi, aku ingin berbicara dengan dia!”


Caraka terdiam menatapku. “Apa kamu yakin ingin bertemu dengannya saat ini?”


“Iya, aku ingin mengetahui alasannya. Mendengarnya langsung dari mulutnya.”


Caraka menatapku beberapa saat, ada keraguan di dalam manik matanya. Dan aku bisa paham itu. Saat ini perasaankupun tak karuan, antara sadar dan tidak, masih bertanya-tanya apa ini hanya sebuah mimpi buruk? Kalau iya aku ingin cepat terbangun dan kembali ke alam nyata.


Terbangun sebagai Kirana Az Azhra, resepsionis hotel M dimana masalahku hanya sebatas jadi bahan gosip emak-emak komplek, tidak sepelik sekarang. Tapi … masalah ini bukan karena hubunganku dengan Caraka. Ini adalah efek dari Tindakan yang diambil oleh keluarga ayahku. Ya! Mereka adalah masalahnya di sini.


Banyak ‘seandainya’ yang berkelebatan di kepalaku, tapi percuma semua sudah terjadi, dan yang menjadi korban di sini lagi-lagi … mamah.


Sudah ku katakan kan, aku tidak peduli kalau hanya aku yang terluka, tapi jangan harap aku akan diam ketika mereka melukai Mamah, Oka, dan orang – orang yang ku sayangi. Aku tak akan memaafkan siapapun orang itu … termasuk kalau itu adikku yang selama ini aku cari.


Saat mendengar kalau Anggi yang memberitahukan keberadaanku pada Ferdi Izam, aku ingin mengetahui apa alasan dia memberi tahu tentang keberadaanku? Apa betul karena Caraka atau karena ada alasan lain? Apa dia tahu kalau Ferdi dan Marcel pernah melecehkanku dulu? Aku ingin mendengar semua jawaban itu sebelum aku menentukan jalan apa yang harus ku ambil.


“Kang, aku hanya ingin mimpi buruk ini cepat berakhir. Menemukan jawaban dari semuanya, tanpa menunggu lagi. Kalau bisa aku ingin bertemu dengan ayah saat ini juga bertanya padanya, dan mendengar jawabannya apapun itu. 20 tahun sudah cukup aku menunggu, aku tak ingin ini semakain berlarut dan membaut masalah baru lagi ke depannya.”


Caraka masih terdiam menatapku, sebelum akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum.


“Aku akan mengantarkanmu bertemu dengannya.”


“Terima kasih.”


“Dengarkan aku … apapun jawaban Anggi, aku harap kamu tidak akan mengubah pikiranmu untuk terus bersamaku.”


Aku tersenyum kemudian memeluknya.


“Cinderella tidak akan pernah meninggalkan Pangerannya.” Ku rasa Caraka mengecup kepalaku. “Seharusnya aku yang bertanya … apa kamu akan terus memilihku setelah mengetahui keluargaku seperti ini? Apa tidak akan ada penyesalan?”


“Bukankah kamu pernah mengatakan, Pangeran selalu ada di samping Cinderella untuk melindungi dan mencintainya. Dan sekarang kesempatanku untuk membuktikan kalau aku pun akan selalu berada di sampingmu, melindungi dan mencintaimu, apapun yang terjadi.”


Hatiku merasa tenang mendengar ucapannya, saat ini aku menyadari seberapa besar dia mencintaiku, dengan menerimaku setelah mengetahui hura-hara keluargaku … Caraka adalah hadiah terbaik yang Tuhan kirimkan padaku untuk menemaniku saat ini. Dan aku sangat – sangat bersyukur untuk itu.


***


Sepanjang perjalanan ke polres hatiku kembali dilanda kegalauan, sebenarnya aku takut dengan kemungkinan jawaban yang akan diberikan oleh Anggi, karena bagaimana pun dia adalah adikku … adik yang selama ini aku cari dan aku rindukan. Tetapi apapun itu, aku harus menghadapinya.


Sesampainya aku dan Caraka di kantor polisi, Dimas, pengacara Caraka telah menunggu kami dan mengenalkan kami kepada seorang pria dengan penampilan rapi, tubuhnya hampir setinggi Caraka dengan kulit hitam manis, wajahnya terlihat serius dan hampir tanpa ekspresi. Birendra, dia adalah pengacara keluarga Andi Santoso. Ayahku.


“Anggi ada di dalam, saya sudah meminta izin kepada petugas agar anda bisa bicara dengannya.”


Aku mengangguk. “Izinkan saya bicara hanya berdua dengannya.” Ku lihat Birendra sedikit ragu. “Saya tidak akan menyakitinya, Saya hanya ingin berbicara dengannya.”


“Kita bisa menunggu di depan sini, kalau ada apa-apa kita bisa langsung masuk.” Caraka membantuku meyakinkan pria yang akan ku puji aura kharismatiknya seandainya kami bertemu di tempat lain, bukan di kantor polisi dengan kasus yang menjeratku dan adikku.


Birendra kini mengangguk kemudian membuka pintu ruangan dimana Anggi berada.


Ku hirup udara dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungku yang berdebar kencang, serta menyiapkan hatiku dengan jawaban apa yang akan ku dengar nanti, dari adik yang akan ku temui setelah 20 tahun kami berpisah.


Ku langkahkan kakiku memasuki ruangan 3x3 meter, tidak ada apapun di dalam sana hanya tiga buah kursi yang berhadapan dengan sebuah meja di tengah. Anggi yang duduk di salah satu kursi kini berdiri terkejut menatapku.


Untuk sesaat waktu seolah berhenti dengan mata kami saling mengunci. Ku lihat matanya kini berkaca-kaca menatapku, mengingatkanku pada Bi si pinguin cengeng. Tak ada lagi gambaran Anggi Santoso yang penuh percaya diri dan sombong, di hadapanku kini hanya ada sosok Sagita Bentari si pinguin cengeng. Bi, adikku. Membuatku ingin berlari untuk memeluknya saat ini juga memberitahunya kalau aku adalah kakaknya, tapi apa dia mengingatku? Dia bahkan tidak mengingat namanya sendiri.


“A-apa kamu baik-baik saja?” suaraku sedikit bergetar berusaha menanyakan kondisinya yang terlihat pucat. Kami kini telah duduk saling berhadapan hanya dipisahkan oleh sebuah meja.


Anggi hanya menjawabku dengan anggukan, dengan cepat dia menghapus air matanya.


“Apa mereka memerlakukanmu dengan buruk?”


Anggi kini menggeleng dan lagi-lagi air matanya keluar.


“Jangan menangis, aku tidak akan melukaimu.”


Anggi kini mentapku dengan matanya yang basah, dia menggigit bibir dalamnya terlihat menahan tangis membuatku ingin kembali memeluknya dan mengatakan, tidak apa-apa semua akan baik-baik saja. Namun yang bisa ku lakukan sekarang hanya memberikan tisu untuk menghapus air matanya yang terus saja bergulir, entah karena takut dengan situasi saat ini atau mungkin air mata penyesalan karena bisa ku lihat itu semua dari matanya yang basah. Namun entah penilaianku saja yang salah atau ini nyata karena ku lihat juga kerinduan di sana.


“Apa benar kamu yang memberi tahu keberdaanku di sini pada … Ferdi Izam?”


Anggi menatapku, matanya kembali menyorotkan penyesalan mendalam membuat hatiku mencelos mengetahui jawabannya bahkan sebelum dia menganggukan kepala ragu kemudian tertunduk.


“Boleh ku tahu apa alasanmu memberitahunya?” Dia terdiam. “Apa karena Caraka?” Kali ini dia menggelengkan kepala membuatku menghela napas lega kalau Caraka bukan alasan utama dia melakukan itu. “Jadi karena aku?”


Anggi kembali terdiam.


“Apa aku melakukan kesalahan padamu? Aku minta maaf kalau aku melakukan kesalahan.”


Anggi menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata kembali membasahi pipinya yang dia hapus dengan cepat.


“Apa kamu tahu kalau Ferdi dan Mercel pernah berusaha … melecehkanku beberapa bulan lalu?”


Matanya membulat terkejut menatapku, membuatku kembali bernapas lega. Dia memang tidak mengetahui apapun soal kejadian beberapa bulan lalu.


“Me-lecehkan?” suaranya bergetar.


“Iya, beberapa bulan lalu Ferdi dan Marcel sempat melecehkanku ketika aku masih bekerja di hotel M, saat itu karena hukum tak bisa menjeratnya akhirnya Caraka dan Papah memberi mereka sedikit pelajaran secara pribadi, dan karena alasan itulah mereka berusaha menghancurkanku untuk membalas Caraka.”


“A-aku benar-benar tidak tahu,” ucapnya dengan mata membulat terkejut.


Ku mengangguk mengerti sambil sedikit tersenyum. “Syukurlah kamu tidak mengetahuinya … sekarang bisa ku tahu alasan kenapa kamu memberitahu keberadaanku di sini?”


Anggi terdiam sebelum akhirnya dia menjawab.


“Karena aku iri,” jawab Anggi membuatku mengangkat alis tak mengerti dengan jawabannya.


“Iri? Kamu iri padaku?”


Anggi menundukan kepalanya. “Ketika pulang dari acara Haryanto, Marcel melihatmu di sana, dia mengatakan kalau dia dan Ferdi memiliki dendam terhadapmu dan Caraka. Marcel mengajakku bekerja sama untuk membalas dendam yang saat itu hanya ku dengar sambil lalu.”


Anggi menundukan kepala dan mulai bercerita.


“Hari itu aku ke E-world, sebenarnya aku sudah menyerah untuk mendapatkan Caraka, karena ku tahu perasaan tidak dapat dipaksakan hanya saja melihatmu memamerkan cincin dengan sombongnya seolah menertawakan kegagalan perjodohanku dengan Caraka membuatku lupa diri. Aku kembali teringat ucapan Marcel tentang Ferdi membuatku tanpa berpikir panjang menghubungi Ferdi dan menceritakan tentang keberadaanmu di sini.”


Aku ingat hari itu, hari dimana aku memastikan kalau Anggi bukanlah Bi. Aku ingat saat aku dengan sombongnya memamerkan cincin pemberian Caraka padanya … seharusnya aku tidak melakukan itu, bagaimanapun Anggi adalah orang yang pernah akan memiliki gelar calon menantu Mahesa sebelumnya, dan aku juga tahu dengan pasti tentang perasaanya pada Caraka, tapi aku dengan sombongnya memamerkan cincin tanpa memikirkan perasaannya.


Apa ini balasan atas kesombonganku? Astagfirullahadzim, ini memang salahku atas kesombonganku sendiri.


“Maaf ini semua karena kesalahanku. Karena kesombonganku.”


“Tidak, Kakak, tidak salah!” pekiknya dengan mata membulat menatapku yang tak kalah terkejut dengan ucapnya.


Kakak? Dia memanggilku kakak?


“Kakak, tidak salah! Ini salahku seharusnya aku menyerah dari awal terhadap Caraka, seharusnya aku tidak iri pada Kakak, seharusnya aku tidak mengubungi Ferdi.” Anggi berkata di antara tangisnya.


“Jangan nangis, dasar cengeng!” ucapku sambil menghapus air matanya.


Kulihat dia kembali menggigit bibir bawahnya, matanya yang basah oleh air mata kini mentapku dengan suara bergetar dia berkata,


“Bi, hebat! Bi tidak cengeng! Bi bukan penguin cengeng!”


Jantungku berhenti dendetak, lidahku kelu untuk saat, pandanganku mulai buram oleh air mata.


“Maafin Bi, Kak, maafin, Bi! Bi, salah! Bi, sudah bikin kakak terluka, ini salah Bi!”


Sambil menangis aku langsung berdiri lalu memeluknya erat.


“Alhamdulillah ya Allah, alhamdulillah!”


“Kak Nana … kakak … Kakak!”


Tak kuasa lagi kami menahan tangis mengeluarkan semua kerinduan yang selama ini tertahan. Kami saling berpelukan erat. Di antara tangis, kami saling memanggil satu sama lain berharap kalau ini bukan mimpi seperti 20 tahun ini kami rasakan.


***