I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
26. Kang Kopi




Kang kopi



Pembatalan perjodohan Caraka menjadi tranding topik di kantor, entah dari mana mereka mengetahui tentang itu, tapi kemana pun aku melangkah hampir semua tengah membicarakannya. Seperti saat ini, ketika kami tengah istirahat dan memilih untuk meminum kopi dan cake dari ‘pacar rahasia Kirana’ di taman khusus karyawan.


“Akhirnya Mas Bos available lagi,” ucap Shanti membut Olive dan Linda tertawa sambil mengangguk.


“Penasaran, siapa nanti yang akan menjadi jodohnya Mas Bos ya? Secara model, artis, bahkan yang katanya sudah dijodohkan dan crazy rich saja dilepas gitu saja.”


Shanti dan Linda mengangguk dengan mata menerawang penasaran.


“Mungkin aku,” jawabku sambil menyeruput kopi.


Ketiganya menatap ke arahku, mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.


“Aku pikir, di antara kita semua, kamu paling normal, Na, tapi ternyata sama saja,” kata Olive, temanku dari bagian customer service sambil tertawa.


“Ya, tidak bisa dipungkiri kalau pesona Mas Bos memang di luar batas kewajaran manusia sih, sampai orang serealistis macam kamu saja akhirnya menyerah.” Kali ini Linda, staff bagian PR, yang ikut menertawakan kebodohanku.


“Eit, jangan salah!” seru Shanty sambil menatap Olive dan Linda dengan mata berbinar. “Di antara para perempuan halu seperti kita, Kak Kirana adalah yang paling dekat dengan Mas Bos.”


“Masa?” Olive dan Linda menatapku yang dibalasku dengan senyuman sambil menyuap cake.


Tak perlu sebuah interuksi untuk membuat Shanti menceritakan kejadian di kantin, membuatku tertawa sambil menggelengkan kepala melihat mereka sedikit menjerit heboh ketika mendengar bagaimana ‘Mas Bos’ membukakan minum untukku dan bertambah histeris ketika mendengar ucapan Caraka waktu itu sambil menepuk punggungku.


“Jadi, sebaiknya kalian menyerah dan tunggu saja undangan dariku.”


“Hahahaha … ternyata orang realistis kalau sudah menghalu, tingkatannya di atas kita semua,” ucap Olive membuat kami semua tertawa.


“Tapi bagaimana kalian tahu kalau perjodohan mereka dibatalkan?” Aku menatap ketiganya penasaran.


Bagaimana mereka tahu mengetahui tentang ini, bukankah selama ini tidak pernah ada berita resmi tentang perjodohan mereka?


“Nah ini nih, yang membedakan fans sejati dan fans musiman,” ucap Olive membuatku tertawa.


“Begini ya, Kak Kirana, Shanty kasih tahu.” Shanti menatapku serius yang dapat anggukan dari Olive dan Linda. “Tidak ada yang namanya rahasia di dunia maya.”


Aku mengengkat alis bingung. “Maksudmu Anggi mengumumkannya di media sosial?”


“Tentu saja tidak, kalau itu terjadi sama saja dia bunuh diri,” ujar Linda membuat Olive dan Shanty tertawa.


“Bunuh diri kenapa?” Aku bertanya bingung.


“Waaah … Kamu tidak tahu ketika ulang tahun bagaimana dia sudah dengan bangga memamerkan Mas Bos di medsosnya yang langsung diserbu like and comment dari followernya yang jutaan itu, dan bayangkan kalau tiba-tiba sekarang dia posting kalau perjodohan itu dibatalkan?”


“Dia akan menjadi pemberitaan dimana-mana. Ya, memang ada yang merasa simpati padanya, tapi aku jamin tidak sedikit yang bersorak bahagia dan menertawakaannya karena melihat bagaimana dia dengan percaya dirinya dulu, seolah mengatakan kalau dia yang akan menjadi Nyonya Caraka Benua.”


Aku terdiam kemudian mengangguk mengerti.


“Jadi bagaimana kalian tahu?” Aku kembali bertanya karena penjelasan mereka tidak menjawab pertanyaanku tentang darimana berita pembatalan jodoh itu tersebar.


“Dia menghapus semua foto yang ada Mas Bos di dalamnya,” ucap Linda yang mendapat anggukan dari Olive dan Shanty.


“Semua mulai curiga ketika menyadari kalau semua fotonya saat ulang tahun dihapus, ditambah …”


“Beredar foto saat Anggi tengah pesta bersama teman-temannya, dan dia dirangkul oleh seorang pria, yang dipastikan bukan Mas Bos.”


“Maksudmu Anggi sudah memiliki pacar baru?” tanyaku tak percaya.


“iya, sepertinya sih.”


Jawaban Olive membuatku mengerutkan alis, berpikir. Apa mungkin Anggi juga sebetulnya telah memiliki kekasih hanya saja dia tak berani untuk menolak perjodohan seperti halnya Caraka? Tapi bukankah selama ini Anggi yang terlihat intent mendekati Caraka?


“Banyak yang berspekulasi kalau kali ini Mas Bos sudah mendapatkan karmanya, karena didepak oleh Anggi.”


“Tapi banyak juga yang berpikir kalau Mas Bos lah yang sebetulnya sudah memiliki kekasih, tapi seperti biasa Mas Bos jarang mengekspos hubungan pribadinya di media sosial, jadi tidak ada yang tahu tentang siapa kekasihnya saat ini,” ucap Shanti.


“Tinggal tunggu waktu saja artis atau model, atau mungkin anak pejabat mana yang akan posting foto mereka beruda di medsos nya.”


Aku sedikit bernapas lega, berarti hubunganku dengan Caraka masih aman, belum ada yang mengetahuinya.


“Aku kan sudah bilang … itu aku.”


“Hahaha … iya deh iya.”


Mereka tertawa tak percaya dengan ucapanku. Aku paham kenapa mereka tidak percaya dengan ucapanku, karena aku pun masih belum percaya kalau ternyata Sang Raja akhirnya mengeluarkan titah untuk membatalkan perjodohan Caraka dan Anggi, yang artinya hubungan kami sudah setengah direstui. Lumayanlah daripada tidak sama sekali.


Setelah acara makan hari itu, tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi, selain hubungan aku dan Caraka yang semakin dekat, begitu juga hubunganku dengan Arletha dan Candra. Arletha sering menghubungiku hanya untuk bercerita tentang kehidupan mahasiswinya di Bandung, mungkin karena dia tidak memiliki kakak perempuan, jadi dia merasa nyaman ketika bercerita tentang apapun, termasuk cerita tentang pria yang dia suka saat ini.


Aku pun beberapa kali bertemu dengan Candra. Hei, jangan berpikir kalau kami bertemu hanya berdua saja, tentu saja ada Caraka di sana. Kalau kalian pikir akan ada persaingan cinta antara kakak beradik itu, kalian salah! Itu terlalu drama untukku. Cukup kisah percintaanku seperti cerita Disney, jangan ditambah cerita sinetron.


Aku dan Candra hanya membicarakan bisnis retail electronic yang akan di buka Candra di Surabaya, dia hanya meminta masukanku saja. Caraka tentu saja ada di sana, duduk di sampingku dengan setia.


“Mas Bos! Mas Bos!” Shanty dengan heboh memukul lengan Olive yang duduk di sampingnya.


Kami menatap ke arah pintu masuk, dan benar saja, di sana Caraka berdiri sambil menyulut rokok berlatar langit sore. Lengan kemeja merah marunnya dilinting hingga ¾, tak ada lagi dasi dan jas yang membuat penampilannya terlihat santai, dan itu malah menambah pesonanya.


Aku menatap tiga rekanku yang kini menatap Caraka dengan mata memuja, senyum ke tiganya merekah membuatku ingin tertawa melihat aksi mereka, aku kembali menatap Caraka. Merasa ada yang memerhatikan Caraka menatap ke arah kami, untuk sesaat mata kami saling mengunci, kemudian dia tersenyum miring … ah, dia memang keren!


Aku hampir saja mengangkat tanganku untuk memanggilnya, untung saja cicitan ke tiga rekanku yang histeris tertahan mendapat senyuman ‘Mas Bos’ menyadarkanku. Aku mengalihkan pandangan dan langsung meminum kopi late untuk menyembunyikan wajahku yang memerah.


Ponselku bergetar, aku tersenyum ketika melihat si pengirim pesan. Ku menatap Bos yang kini bersandar di tembok pembatas sambil menghisap rokok yang terselip di jari tangan kanan, dan jari kiri memegang ponsel.


Kang kopi : Aku pikir kamu lagi makan di kantin.


Kirana : Tidak, kekasihku mengirimiku kopi dan cake yang sangat enak, jadi aku akan menikmati kiriman kekasihku yang sangat baik hati.


Kang kopi : Kekasihmu pasti pria yang luar biasa.


Kirana : Iya, dia memang luaaaar biasa.


Kang kopi : Biar ku tebak, dia pasti the most awesome guys you ever know.


“Hahahaha.” Aku tak bisa lagi menyembunyikan tawaku ketika membaca pesannya, membuat ke tiga rekanku menatapku.


“Baca pesan dari siapa sih, Na, sampai ketawa-ketiwi gitu?” tanya Linda dengan senyum menggoda.


“Biasa, Kak Linda, dari ayang bebeb … Kang kopi.”


“Hahaha.”


Mereka tertawa mendengar ucapan Shanty menyebut nama Caraka yang ku simpan di ponsel, aku sengaja mengganti nama dari Pak Bos menjadi Kang kopi (Setidaknya aku memenuhi titah Ibu Suri dengan memanggilnya Kang kan?), karena takut seseorang tak sengaja melihat nama yang keluar ketika dia menghubungiku. Dan itu benar terjadi.


“Jadi serius, Na, cowok kamu itu tukang kopi?”


“Hahaha.” Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan Olive sambil berdiri. “Sudah ah, ke bawah yuk, sebelum Pak Edi sama Dika ngambek.”


Kirana : Aku ke bawah dulu ya.


Kang kopi : Ok, kerja yang rajin, Sayang.


Kirana : Jelas dong, ingat si merah belum lunas.


Kang kopi : Hahaha.


Hubunganku dengan Caraka memang masih menjadi rahasia ketika di kantor. Aku ingin kami bersikap profesional, jadi ketika aku melakukan pekerjaan dengan baik semua orang akan menilainya karena aku mampu, bukan karena aku kekasih Bos. Maupun sebaliknya, ketika aku ada masalah di kantor dan Bos membelaku, itu karena memang aku tidak bersalah bukan karena dia membelaku sebagai seorang kekasih.


Namun sepertinya untuk kali ini semua berbeda …


Sebagai pekerja hotel kami sudah kebal dengan godaan-godaan dari tamu yang iseng, tak bisa dipungkiri pandangan buruk dengan status pekerja hotel masih melekat di masyarakat kita. Bekerja di hotel bintang lima belum tentu terlepas dari stereotip itu, termasuk dari para tamu yang kebanyakan adalah orang-orang kalangan atas.


Namun begitu tak pernah sekalipun ada tamu yang sampai berani untuk melecehkan kami baik fisik atau verbal. Tapi kali ini aku dihadapkan kepada dua orang pria yang telah melecehkanku secara verbal. Aku masih berusaha menahan diri walau tubuhku telah gemetar menahan amarah, begitu juga dengan Shanty, sedangkan Dika dan Pak Edi belum kembali dari istirahat.


“Jangan sok jual mahal, sebutkan saja harga kalian?” ucap seorang pria berambut gondrong dengan senyum menjijikan.


“Sebaiknya anda pergi dari sini sebelum saya panggil security.”


“Hahaha … mereka tidak akan berani macam-macam kalau tidak ingin dipecat dari sini,” ucap pria dengan rambut kelimis jumawa.


Aku baru memijit bel yang terhubung dengan ruang security, ketika secepat kilat, tiba-tiba dan tanpa diduga, salah satu dari mereka mencengkram lenganku, menarikku hingga ulu hatiku membentur meja resepsionis, belum sembuh dari keterkejutan tangan sebelahnya lagi menarik tengkukku, dan bibirnya menciumku paksa.


Darahku mendidih, kepalaku terasa mau meledak, aku berusaha berontak, memukul apapun yang bisa ku pukul, mendorongnya tapi tangannya semakin menekanku keras, memperdalam ciuman membuatku sekuat tenaga mendorong dan menyentakkan kepalaku menjauh hingga bibirku terluka dan mengeluarkan darah akibat gigitannya. Senyum menghina menghiasi wajahnya membuat amarahku memuncak. Dengan tubuh gemetar menahan amarah aku meringsak keluar dari area resepsionis, tanpa banyak bicara dengan mata berapi-api aku langsung berjalan dengan cepat ke arah baji ngan yang tadi berani menyentuhku.


Ku angkat lengan kanannya bersamaan dengan aku berputar hingga dia berada tepat di belakangku, dengan cepat ku banting dia hingga kini tergeletak di atas marmer lantai lobi hotel yang keras.


Temannya mencoba melawanku, tapi hanya perlu beberapa detik untuk membuatnya memiliki nasib yang sama seperti si gondrong yang tergeletak di atas lantai. Belum selesai sampai sana, aku kembali maju ke arah baj ngan yang kini tengah berusaha berdiri, tapi harus kembali ambruk ketika aku menendang tubuhnya.


Aku tak memedulikan teriakan yang terdengar di sekitarku. Aku sangat marah! Benar-benar marah! Belum pernah aku merasa direndahkan dan dihina seperti ini!


Seseorang menarik tubuhku yang kembali mau maju untuk menghajar para baji ngan yang kini tengah berusaha berdiri dibantu beberapa orang.


“Na ... Nana ... Kirana!” Sayup-sayup terdengar suara orang yang ku kenal. “Sayang! Ini aku, Caraka!”


Aku merasa linglung, berharap sekarang aku hanya bermimpi dan terbangun.


“Sayang.” Suara Caraka kembali terdengar, membuat kesadaranku kembali, dan itu membuatku terluka dan merasa hancur … karena ini bukan mimpi.


“Raka?” Suaraku terdengar gemetar. Ku tatap Caraka yang telah berdiri di hadapanku dengan wajah cemas.


Perlahan amarahku mulai mereda, berganti dengan perasaan hina dan kotor membuat tubuhku kembali gemetar, airmata dengan sendirinya mulai bergulir.


“Hei! Kenapa? Kamu terluka? Kamu tidak apa-apa?” Caraka bertanya, suaranya sarat akan kekhawatiran membuat airmataku terus keluar walau sekuat apapun aku menahannya, dia memelukku memberi sedikit kenyamanan. “Aku di sini, Sayang, kamu aman sekarang,” ucapnya membuatku semakin terisak. “Katakan padaku ada apa?”


“Di-dia …” Dengan terbata aku mulai berbicara. “Dia … melecehkanku.”


“Dia apa?” Caraka merenggangkan pelukannya, matanya kini menatapku terbelalak. Kemarahan perlahan mulai membakar matanya. “Sayang, katakan … dia apa?”


“Dia menarik tangan Kak Kirana terus menciumnya paksa, sebelumnya juga menghina kami, dengan melecehkan kami berdua dengan kata-kata.” Caraka menatap ke arah Shanty yang kini telah berdiri di sampingku.


Napas Caraka mulai memburu, rahangnya mengeras, matanya menatap para baji ngan yang berteriak membela diri dan mengatakan kalau dia akan menuntutku.


“Baji ngan! Kalian akan mati di tanganku!” Caraka berseru sambil berjalan cepat ke arah si gondrong dan mulai menghajarnya, bukan hanya si gondrong, tapi temannya pun kena amuk Caraka. Dan tak ada satu orang pun yang bisa mencegah amukan seorang Caraka Benua.


******