
The return of the nightmare (Kembalinya sang mimpi buruk)
Perjalanan pulang dilewatkan dengan diam, tak ada satupun yang membuka suara. Di luar lembayung menghiasi langit kota Surabaya. Tadi kami berada cukup lama di Pacet, lebih tepatnya Mojokerto karena pakde Bayu memaksa kami ikut ke rumahnya di Mojokerto, untuk mengenalkan bude Ani, istri pakde Bayu, seorang perempuan berhijab yang menyambut kami dengan ramah, tapi sayang aku tak bisa bertemu sepupu-sepupuku karena mereka sedang tidak ada rumah pakde Bayu yang megah.
Ya, di balik penampilan sederhana pakde Bayu dan istrinya, rumah mereka jauh dari kata sederhana. Rumahnya besar dan megah lengkap dengan fasilitas mewah dan beberapa asisten rumah tangga yang langsung sibuk ketika bude Ani mengintruksikan mereka untuk menyiapkan makan untuk kami.
Kami berada di rumah pakde sampai jam setengah lima sore dan memutuskan kembali pulang ke Surabaya sebelum malam. Pakde Bayu terlihat antusias menanyakan keadaan kami selama ini banyak yang dia tanyakan, tapi baik aku maupun Oka hanya menjawab sekadarnya saja, karena kami masih terkejut dengan apa yang baru kami dengar tentang Bi atau Anggi.
Aku menatap jalanan dengan pikiran yang berkecamuk, masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja aku ketahui.
Kini semua menjadi masuk akal ketika aku tak bisa menemukan jejak Bi dimanapun, bahkan ketika aku sudah bisa menebak kalau ayah adalah Andi Santoso, aku masih tidak bisa menemukan Bi. Karena itulah aku sempat ragu dan akhirnya keraguanku semakin diperkuat oleh identitas Anggi Santoso yang berhasil ditemukan oleh Siska, yang ternyata sudah diubah sedemikian rupa oleh kakekku sendiri.
Tadinya pakde Bayu mau menghubungi Bu Mayang juga Anggi untuk memberitahu perihal aku dan Oka, tapi aku melarangnya. Bukan tanpa alasan aku melarang pakde Bayu memberitahu mereka tentang aku dan Oka, tapi mengingat selama 20 tahun ini Bi telah didoktrin sebagai Anggi Santoso, putri tunggal dari Andi Santoso dan Mayang Wicaksono, maka tak bisa ku bayangkan akan seterkejut apa Bi seandainya mengetahui kalau dia adalah Sagita Bentari, putri dari Randi Prasetyo dan Mega Puspitaningrum, adik dari Kirana Az Zahra yang selama ini dia anggap sebagai saingan.
Yang pasti Anggi atau Bi akan sulit menerimanya. Ini bukan hal sepele yang bisa diselesaikan dengan hanya mengangkat telepon dan menceritakan semuanya seolah memberitahu kabar tentang teman yang sudah lama tak bertemu. 20 tahun bukan waktu yang singkat, dimana dia tumbuh dengan doktrin sebagai putri tunggal dari perempuan yang ternyata bukan ibu kandungnya. Mungkin itu akan sama pengaruhnya dengan seseorang yang diadopsi dari kecil dan setelah dewasa dia diberitahu kalau sebetulnya dia hanyalah anak angkat … akan sulit menerima kenyataan itu, bahkan mungkin dia akan terpuruk.
Karena itulah aku memutuskan untuk berbicara dulu dengan ayah, meminta ayah menjelaskan sendiri kepada Bi, dan setelah dia dirasa siap menerima kenyataan barulah aku akan menemuinya sebagai seorang kakak, bukan saingan yang selama ini dia pikirkan.
Aku tersentak dari lamunan, terkejut ketika seseorang menggenggam tanganku, tapi sejurus kemudian aku tersenyum ketika melihat Caraka yang tersenyum sambil menautkan jari-jari kami. Kusandarkan kepalaku di bahu pria yang juga pasti terkejut mengetahui kebenaran hari ini.
“Kamu tidak apa-apa?” Caraka bertanya membuatku tersenyum.
“Apa menurutmu setelah mengetahui kebenaran itu, aku akan baik-baik saja?”
Caraka ikut tersenyum.
“Ini gila!” pekik Oka dari kursi depan samping Pak Supri. “Jadi ayah kandung kita sebetulnya adalah pengusaha sukses dan Kakang mengenalnya?” Oka menengok ke kursi belakang dimana aku dan Caraka berada.
“Iya, aku mengenalnya.”
“Apa dia benar-benar pengusaha sukses?” Oka bertanya yang mendapat anggukkan dari Caraka, membuat Oka mendengus. “Aku pikir selama ini ayah tidak mencari kita karena dia kesusahan, tapi ternyata dia memang tidak niat saja mencari kita.”
Ada kekecewaan dari suara Oka, dan bisa ku maklum karena aku pun pernah memiliki pemikiran yang sama.
“Bagaimana dengan Kak Bi? Apa Kakang pernah bertemu dengan Kak Bi?”
Caraka menatapku yang ku jawab hanya dengan senyuman. Terlalu pelik memang hubungan antara kami bertiga … aku tak tahu apa tanggapan Oka dan mamah seandainya mereka mengetahui hubungan antara Caraka dan Anggi dulu.
“Iya, pernah beberapa kali bertemu,” jawab Caraka membuat Oka semakin penasaran, tubuhnya kini setengah berbalik ke belakang.
“Bagaimana dia? Apa dia seperti Teteh? Pasti lebih cantik kan, Kang? Aku harap dia tidak menyebalkan seperti Teteh, hihihi.”
Aku hanya mendengus mendengar Oka yang penasaran dengan sosok Bi, kakak yang belum pernah dia temui.
“Kamu punya medsos kan? Dia cukup terkenal, kamu bisa mencarinya di medsos.”
“Beneran dia terkenal?”
Caraka hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dengan semangat Oka mulai membuka media sosialnya, dan mulai berselancar mencari akun Anggi. Berbeda dengan ku yang kembali terdiam, pikiranku melayang kepada Anggi dan perasaannya kepada pria yang kini tangannya merangkulku.
“Kamu tidak sedang berpikir untuk meninggalkanku karena … dia kan?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, kedua tanganku kini memeluk pinggang Caraka dengan kepala bersandar di dadanya yang bidang.
“Di dongeng, Cinderella tidak melepaskan Pangeran untuk adiknya maupun perempuan lain. Jadi kenapa aku harus melepaskanmu demi adikku?”
Caraka tersenyum, tangannya semakin mendekapku erat. Aku bisa mendengar helaan napas lega ketika dia mendengar jawabanku.
“Walau aku tahu bagaimana perasaannya padamu, tapi aku tak bisa mengalah begitu saja dengan mengorbankan perasaan kita berdua. Beda ceritanya kalau kamu juga menyukainya maka aku akan mengalah … tapi saat ini dia yang harus mengalah dan mulai belajar untuk menerima kenyataan kalau tidak semua yang dia inginkan bisa dia miliki.”
Aku menghela napas karena tahu yang diucapkan Caraka itu benar.
“Saat itu Bi masih sangat kecil hingga akan mudah mendoktrinnya dengan segala kebohongan, dan dia hidup dengan kebohongan itu selama 20 tahun. Bukan masa yang singkat … dia pasti akan sulit menerima kenyataan ibu yang selama ini dia kira ibu kandungnya ternyata hanya ibu sambung. Nama yang dia gunakan selama ini hanyalah sebuah nama pengganti, bahkan tanggal dimana setiap tahun dia merayakan pesta ulang tahunnya dengan meriah bukanlah tanggal lahir dia sesungguhnya.”
“Awalnya pasti akan sulit bagi dia menerima kenyataan ini, tapi lama-lama dia akan bisa menerimanya.”
“Dia harus menerimanya, terlepas dia mau mengakui ku atau tidak, tapi minimal dia harus mengakui mamah.”
Caraka terdiam kemudian mengangguk setuju.
“Ka!” Aku memanggil Oka yang masih anteng melihat-lihat media sosialnya.
“Iya.”
“Nanti jangan beritahu mamah semua yang kita dengar hari ini.” Ku lihat Oka menurunkan ponselnya sesaat kemudian mengangguk. “Mamah pasti akan sangat sedih kalau mengetahui kebenarannya.” Ku lihat Oka kembali mengangguk. “Cukup bilang kalau hari ini kita ketemu pakde dan bude, tapi kita belum bisa bertemu ayah karena sedang di Singapura, paham?”
“Iya.”
Dan sesampainya di Surabaya, seperti yang ku duga mamah terlihat antusias melihat kepulangan kami. Setelah menyuruh kami mandi dan shalat magrib, mamah mulai menanyai kami berbagai macam.
“Apa kalian bertemu Bi? Bagaimana keadaan dia sekarang? Apa dia menanyakan mamah? Dia masih ingat mamah?”
Yang mamah tanya pertama kali adalah Bi, putri yang selama ini dia sangat rindukan, yang namanya selalu mamah sebut disetiap doanya. Bagaimana mungkin aku bisa memberitahu mamah yang sebenarnya, tak kuasa aku melihat kekecewaan di wajah mamah yang selama ini sudah banyak berkorban untuk anak-anaknya.
“Tadi kita hanya bertemu pakde dan bude saja, ayah dan Bi sedang di Singapura menemani eyang berobat.”
Mamah terdiam, terlihat kekecewaan di wajahnya. Namun kemudian dia kembali berusaha tersenyum, dan kembali menanyai kami.
“Bagaimana Mas Bayu setelah mengetahui siapa kalian?”
“Kaget, Mah, Oka dipeluk keceng banget sampai sesak tadi,” jawab Oka membuat mamah tersenyum. “Yang lucu, pakde langsung mengintrogasi kakang setelah tahu kalau kakang calon suami teteh, hahaha.”
“Masa?” wajah mamah kembali terlihat sumringah mendengar cerita Oka dan Caraka yang menceritakan bagaimana pakde Bayu tadi mengintrogasi Caraka.
Aku akan menceritakan yang sebenarnya kepada mamah, tapi nanti tidak sekarang dimana mamah masih sangat berharap kalau Bi masih mengingatnya sebagai ibu kandungnya.
***
“Mamah tadi sempat takut bagaimana kalau keluarga mereka tidak menerima kalian dengan baik.”
Saat ini aku tengah berbicara berdua dengan mamah, sedangkan Oka dan Caraka tengah membeli makan malam ke bawah.
“Tapi dari dulu Mas Bayu memang baik.”
Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Aku juga kaget, Mah, aku pikir akan ada sedikit drama tapi ternyata tidak.”
Mamah tersenyum.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan nanti kalau bertemu ayahmu, dia juga akan dengan mudah menerima kalian.”
Aku hanya bisa mengangguk walau ragu nanti akan semudah ini. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepada ayah, dan juga banyak penjelasan yang ingin ku dengar darinya.
Bel apartemen berbunyi. Aku berjalan menuju pintu berpikir kalau itu adalah Caraka dan Oka yang pulang membeli makan malam membuatku tanpa berpikir panjang langsung membuka pintu, tapi seketika tubuhku membeku melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Mimpi burukku beberapa bulan lalu kini telah kembali, dengan seringai di wajahnya.
*****
Udah pada disiapin belum? 😁