
Extra part 1
Aaah … aku benar-benar seperti di iklan penambah darah, bukan hanya 3L, tapi 5L! Lemah, letih, lesu, lemas, dan lelah. Tubuhku rasanya remuk.
Hei! Jangan berpikir yang tidak-tidak!
Aku 5L bukan karena … ehm! Itu, tapi karena acara resepsi kemarin dan acara sebelumnya. Iya, karena acara kemarin dari pagi sampai jam 9 malam, dilanjut dengan …
Aaah, sudah lupakan! Itu rahasiaku dan kakang … hihihi. Pokoknya … ehm!
“Morning, Honey.”
Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdegup kencang hanya karena mendengar suara serak pria yang kini menatapku dengan mata ngantuk, rambut berantakan, dan bertelanjang dada yang yang kini tiduran miring menghadapku sambil tersenyum.
“Kenapa pipimu memerah?” tanyanya dengan senyum lebar.
“Belum sikat gigi,” jawabku sambil mengangkat selimut sampai menutupi mulut dan hidung, hanya memerlihatkan mataku saja.
Caraka tersenyum sebelum mendekat kemudian memelukku erat. Kepalanya disurukan ke leherku membuat bulu kudukku meremang merasakan hembusan napas dari hidungnya, dan bertambah geli ketika bibirnya mencium leherku.
“Wangi,” ucapnya sambil terus mencium leher dan tulang selangkaku.
“Kang …”
“Hmmm …”
“Kita … Kang, geli!”
Dia hanya terkekeh tanpa menghentikan aksinya.
“Kang …”
“Ya, Sayang.”
Ah, sial! Gara-gara aksinya, aku jadi lupa mau bilang apa.
“Kang berhenti dulu, aku jadi lupa mau bilang apa!”
Aku mendorong bahunya menjauh yang kini tertawa.
“Hahaha.”
Aku langsung duduk setelah terlepas darinya yang masih tertawa.
“Istriku yang cantik, mau bilang apa? Sudah ingat?”
Aku mendelik ke arahnya yang kembali tertawa.
“Kita belum sarapan,” ucapku setelah mengingat kalau sekarang sudah jam 9 lebih dan kami belum sarapan, karena setelah shalat subuh tadi kami … ehm! Lupakan.
“Apa kamu lapar?” tanyanya sambil duduk menghadapku, tangannya merapihkan rambutku yang kuyakin pasti berantakan.
“Tidak terlalu, tapi apa kamu tidak lapar?”
Senyum kembali terbit di wajahnya membuatku terbelalak karena tahu apa yang ada dipikirannya.
“Kakaaang!”
“Hahaha. Sekali lagi, dan setelah itu aku janji kita akan sarapan.”
Aku tak sempat menolak karena dia langsung membungkam bibirku dengan bibirnya, dan ini adalah yang ke … hmmm. Ehm! Lupakan.
***
Sebulan lebih pernikahan kami dan kehidupan kami masih layaknya penganti baru. Kami sudah pindah ke rumah baru kami, tidak begitu besar tapi yang pasti lebih besar dari rumahku dulu. Hampir dua bulan hidup bersama ternyata membuatku mengetahui kalau suamiku tidaklah separipurna yang ku bayangkan.
“Kakaaang, baju kotornya jangan ditaro sembarangan dong!”
Aku menghela napas sambil mengambil kaos kotornya yang tersampir di sofa.
“Sepatu bekas pakai itu simpan lagi di rak sepatu.” Ku ambil sepatu yang dia pakai untuk bermain tenis bersama teman-temannya.
“Oke, Honey!” ucapnya sambil mencium pipiku sebelum berlalu ke kamar mandi, membuatku hanya bisa menghela napas.
Lihat! Dia tdak separipurna itu bukan? Mungkin karena kebiasaanya dari kecil apa-apa ada yang beresin, ada yang mengurus jadinya kebiasaan sampai sekarang. Dan selain itu dia ternyata sangat pelupa kalau menyimpan sesuatu.
“Sayang, kamu lihat ponselku?”
“Sayang, kunci mobil dimana ya?”
Pertanyaan itu seperti sarapan pagi untukku selain secangkir kopi, roti, atau nasi goreng ketika kami mau pergi bekerja.
Ya, saat ini aku telah bekerja kembali di E-Word pusat yang berada di Kawasan SCBD (Sudirman Center Business District) sebuah kawasan bisnis terpadu yang berada di Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, dimana terdapat gedung bursa efek Jakarta, mall kalangan atas, gedung-gedung perkantoran, dan juga apartemen-apartemen mewah.
Sebagai pemilik 5% saham group M (ehm!) tentu saja aku harus bekerja ekstra agar M group lebih berkembang lagi.
“Kang, aku kan cuma bercanda waktu bilang minta maskawin saham group M.”
“Kamu bilang yang berguna untukmu dan tidak menyusahkanku kan?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, saat itu kami tengah bersiap untuk tidur.
“Itu tidak menyusahkanku. Papah memiliki 20%, mamah 15%, aku dan Candra 10%, sedangkan Arletha 5%, aku hanya tinggal membagi saham milikku untukmu.” Caraka menarikku ke dalam pelukan. “Tidak menyusahkanku bukan?” Dia mencium ubun-ubunku. “Candra mengejekku.” Dia kini mencim pipiku sebelum turun ke leher. “Kalau aku tak bermodal karena tak mengeluarkan uang untuk maskawin, jadi … aku tambahkan satu set perhiasan.”
Jantungku mulai berdegup kencang, ketika tangannya mulai menjelajah kemana-kamana.
“Jadi …” Ah, sial! Aku sudah tak bisa konsentrasi, karena kini bukan hanya tangan, tapi bibirnya ikut menjelajah. “Satu set perhiasan itu karena Candra?” Akhirnya aku bisa melanjutkan ucapanku setelah mendorong bahu Caraka sedikit menjauh membuatnya tersenyum menatapku.
“Tidak.” Dia kembali menciumi pipiku. “Sebelumnya aku memang telah memesan perhiasan yang memang ingin kuberikan sebagai maskawin.”
Dia kini menggigit telingaku lembut membuat bulu kudukku meremang sebelum menciumku. Ciuman yang lembut sebelum akhirnya semakin dalam, dan menuntut. Caraka melepaskan tautan kami.
“Saham tidak memberatkanku, dan perhiasan berguna untukmu,” ucapnya sambil membuka kaos lalu melemparkannya sembarang dengan tak sabar sedangkan aku sudah tak mengerti lagi apa yang dia ucapkan, yang aku tahu aktifitas yang menunjukan ke-strong-an pun dimulai
***
“Sayang, kamu belum bersiap-siap ke kantor?”
“Aku kurang enak badan, hari ini aku izin.”
Ku tarik selimut hingga menutupi tubuh. Ku rasa dia duduk di sampingku, menempelkan telapak tangannya di atas keningku.
“Kamu sakit? Tapi tidak demam.”
“Tidak, tapi badanku rasanya aneh. Aku merasa lemas dan mengantuk.” Ku buka mataku untuk menatapnya tajam. “Dan gara-gara siapa setiap malam aku kurang tidur?”
“Kang!” Ku panggil dia yang sudah berjalan sampai pintu. “Peluk!”
Ke rentangkan tangan memintanya memelukku membuatnya tertawa sambil kembali mendekati dan medekapku erat.
“Apa aku jangan bekerja saja dan menemanimu di sini.”
“Tidak!” ku lepaskan pelukkan. “Bisa-bisa aku tidak jadi istirahat kalau kamu ikut tidak masuk kerja.”
“Hahaha.”
“Hati-hati.” Aku mengecupnya sebelum kembali membaringkan tubuh di atas kasur.
Aku terbangun karena harus dan juga lapar. Ku buka lemari es untuk mengambil susu dan meminumnya, tapi … dengan cepat aku berjalan ke arah washtafel dan memuntahkannya kembali, ku berkumur untuk menghilangkan rasa susu yang ternyata sudah basi.
“Belum kadaluarsa.” Ku cek kembali tanggal kadaluarsa yang tercetak di kemasan susu.
“Masih lama, tapi …”
Ku cium susu di dalam kemasan yang membuat perutku kembali berjolak dan akhirnya aku pun lari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutku hingga mulutku terasa pahit dan tubuhku bertambah lemas.
Aku duduk di atas sofa dengan keringat membasahi tubuh yang terasa lemas, napasku tersengal-sengal. Sepertinya aku masuk angin. Aaah, kalau seperti ini aku ingin dekat dengan mamah yang pasti akan langsung melumuri tubuhku dengan minyak kayu putih, membuatkanku teh manis dan menyuruhku tidur seharian.
Tapi sekarang aku sudah menikah, jadi aku harus bisa mengurus tubuhku sendiri. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan ke dapur, membuat teh manis hangat untuk menenangkan perutku. Dan itu berhasil setelah menghabiskan segelas teh manis hangat, perutku lebih enak dan akupun kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurku.
Ting tong, ting tong, ting tong!
Aku membuka mata ketika mendengar bel yang terus berbunyi.
Siapa? Aku tidak sedang menunggu seseorang. Kalau itu Caraka yang lupa membawa kunci rumah, aku akan memarahinya. Tidak ada jatah malam ini!!!
Dengan kesal aku berjalan ke luar kamar, aku hampir saja menyemburkan amarahku ketika ketika ku lihat ibu mertuaku berdiri di depan dengan wajah cemas dengan tote bag biru muda di tangan kanan dan ponswl di tangan kiri.
“Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Apa Teteh tidak apa-apa? Mamah cemas banget waktu kakanv bilang teteh sakit,” ucap ibu suri sambil berjalan masuk ke dalam.
Aku menghela napas berat. Aaah, dasar Caraka Benua, kenapa dia menghubungi ibu suri segala? Aku cuma masuk angin dan hanya perlu istirahat sehari saja.
“Saya tidak apa-apa, Mah, hanya masuk angin." Aku mengikuti ibu suri ke dapur.
Dia mengeluarkan isi tote bag yang ternyata berbagai macam lauk. Dari mulai rendang, ungkep ayam, sop buntut kesukanku dan kakang sampai dengan sambal dan buah-buahan.
“Ayam ungkepnya masukin dulu saja ke dalam kulkas, nanti kalau mau makan tinggal di goreng.”
“Iya, Mah.” Aku masukan ayam ungkep, sambal, dan rendang ke dalam kulkas.
“Teteh sudah makan?”
“Belum, Mah.” Aku mengambil apel dan mulai memakannya.
Mamah memasukan sop buntut ke dalam panci.
"Mamah panaskan dulu sopnya sebentar, nanti kamu makan ya.”
“Iya.”
Aku duduk di atas kursi makan seperti anak kecil yang melihat mamahnya sedang masak dan menunggunya matang. Alhamdulillah, aku memiliki ibu mertua yang sangat baik, seperti mamahku sendiri.
“Makan yang banyak biar perutnya keisi.”
“Terima kasih, Mah.”
Aku menyuap sop buntut yang hangat kesukaanku, tapi belum juga sendok yang terangkag masuk ke dalam mulut, bau dagingnya terasa menyengat membuatku langsung lari ke kamar mandi dan kembali muntah.
Ibu Suri ikut masuk ke dalam kamar mandi, menepuk punggungku pelan. Setelah selesai dia memapahku ke sofa, lalu menghilang dan kembali lagi dengan membawakanku segelas teh manis hangat yang membuat perutku kembali tenang.
“Sudah berapa kali muntah?”
“Tiga kali,” jawabku sambil menaruh gelas ke atas meja sambil menceritakan kejadian tadi.
“Ada gejala lain?”
“Tidak ada, hanya badanku rasanya lemas, terus ngantuk banget.”
Ibu suri terdiam beberapa saat terlihat berpikir.
“Kapan terakhir Teteh dapat?”
Aku mengerutkan alis mendengar pertanyaan ibu suri. Setelah menikah aku belum pernah mendapatkan siklus bulananku.
“Sebelum menikah,” jawabku membuat jantungku berdegup kencang, mataku menatap ibu mertuaka dengan terbelalak. “Mah … apa … aku?"
“Teteh siap-siap, kita pastikan sekarang!” Dengan seyum lebar ibu suri membantuku yang masih belum sembuh dari keterkejutan kalau kemungkinan besar alasanku muntah bukan karena masuk angin.
“Halo, Kang.” Ku dengar mamah menghubungi Caraka. “Mamah mau bawa teteh ke rumah sakit, kamu nyusul ya. Tidak apa-apa hanya muntah-muntah saja.”
Dengan cepat aku berganti pakaian, menyisir rambut, dan tanpa menggunakan make up aku berjalan ke luar mengikuti ibu suri yang kini heboh menghubungi sang Raja.
“Pah, aku mau bawa teteh ke rumah sakit. Tidak, teteh tidak apa-apa hanya muntah-muntah. Iya muntah-muntah. Oke, nanti kita bertemu di rumah sakit ya, Pah.”
Aku hanya diam melihat ibu suri yang menghubungi semua orang mengatakan kalau dia akan membawaku ke rumah sakit karena aku muntah-muntam. Bagaimana kalau aku hanya masuk angin biasa? Bukankah itu hanya akan membuat harapan semua orang kandas?
Tapi ternyata tebakan ibu suri benar. Aku tengah mengandung keturunan Mahesa.
****
Haiiii ...
Insyaallah masih ada ya extra partnya ..
Ehmmm .. boleh minta tolong ga??? 👉👈
Enggak, bukan-bukan .. bukan minta vote atau poin apalagi koin kok .. cuma mau minta tolong, yang gabung di GC, tolong ikutan votting dong untuk kisah selanjutnya mau ya mana?
Caranya cuma tinggal klik PIN, lalu klik tuh pilihannya mau yg mana... ada Samudera, Satria, Gerard, Oka sama Bi .. tinggal dipilih ya .. gampang ko, biar aku bisa fokus nulis next storynya 😊
Terima kasih
Salam sehat
Love
A.K