
Extra part 2
Caraka pov.
Oke! Tidak ada bau rokok, tidak ada wangi parfum, aku sudah mengganti bajuku sebelum pulang jadi aku rasa tidak akan jadi masalah kan? Tapi aku salah …
“Kakang, sikit gigi dulu, bau rokok!”
Haaaah ….
Hampir tiga bulan ini setelah aku berlari di lorong rumah sakit dengan cemas karena dihubungi mamah.
“Kang, mamah mau bawa teteh ke rumah sakit. Dia muntah-muntah.”
Tanpa berpikir lagi aku langsung menyusul ke rumah sakit, dan ternyata di sana sudah ada papah yang duduk ditemani Sagara.
“Hebat juga lu.” Gara menepuk pundakku sambil tersenyum lebar.
“Jaga Kirana baik-baik,” ucap papah membuatku bingung.
“Dimana Kirana?”
Aku baru saja bertanya ketika pintu ruang dokter terbuka. Kirana dan mamah keluar dengan senyum lebar, tapi senyum Kirana seketika hilang berganti dengan kerutan di wajahnya membuatku mendekatinya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa? Apa yang sakit?” Aku bertanya dengan cemas.
“Kang, tadi lari-lari?”
“Iya, mamah mengatakan kamu muntah-muntah dan dibawa ke rumah sakit. Sayang, kamu tidak apa-apa?” Aku kembali bertanya sambil berusaha memeluknya yang malah mundur sambil menutup hidung.
“Jangan dekat-dekat!” serunya sambil bersembunyi di balik mamah yang malah tertawa melihat kebingunganku.
“Sayang.” Ku coba meraihnya yang semakin melesak di balik tubuh mamah.
“Bau! Mandi dulu gih!”
“Hahaha.” Melihat Kirana yang menyuruhku mandi Mamah malah tertawa ngakak. “Kuat-kuat yo, Kang, hahaha,” ucap mamah membuatku bingung.
Saat itu aku tidak paham kenapa mamah menyuruhku kuat, tapi sekarang setelah hampir tiga bulan, aku sangat paham maksud mamah. Bagaimana aku tidak harus kuat ketika setiap mendekati Kirana, dia langsung tutup hidung dan mulut sambil berseru,
“Jangan dekat-dekat!”
“Mandi dulu!”
Padahal aku sudah mandi hari itu dan aku harus rela kembali mandi hanya agar bisa memeluknya sesaat. Selama hamil, hidungnya jadi super sensitif (hanya kepadaku) padahal dulu dia sangat menyukai wangi parfumku, tapi kini jangan harap aku bisa memakainya.
“Parfumnya bau banget sih, Kang, perutku jadi mual.” Dan istri tercintaku itu pun berakhir di kamar mandi memuntahkan isi perutnya, sedangkan aku hanya bisa menatapnya cemas karena tak boleh mendekatinya.
“Jangan mendekat! Kakang tunggu di dapur atau dimana saja, jangan ke sini!”
Akhirnya aku pun harus rela mandi dan ganti baju lagi agar tidak ada wangi parfum yang menempel di tubuhku. Dan jangan harap sekarang aku bisa merokok di sekitar rumah, aku merokok di kantor pun dia bisa tahu.
“Bau rokok! Sikat gigi terus ganti bajunya.”
Jadi setiap mau pulang kerja aku akan mennyempatkan diri untuk menyikat gigi dan ganti baju.
Dan jangan tanya bagaimana orangtua kami memerlakukannya.
Hari itu aku baru pulang bermain futsal, di rumah sudah ada mamah dan papah. Kirana, istriku tercinta, langsung menutup hidung dan mulutnya ketika aku masuk.
“Kamu, mandi! Jangan dekat-dekat menantu papah, nanti dia mual cium bau keringat kamu.”
“Ya ampun, Pah, menantu papah itu istri aku, Pah, masa aku nggak boleh dekat-dekat istri aku.”
“Selama Kirana mual kalau dekat kamu, jangan harap kamu bisa dekatin dia.”
Lihat??? Bahkan sang Raja-pun telah memberi ultimatum melarangku mendekati istriku sendiri. Istri sahku!
“Sayang, tidak bisakah kamu ngidamnya seperti ibu-ibu hamil yang lain … mau makan apa gitu? Atau mau beli apa gitu? Kenapa ngidamnya nggak bisa dekat-dekat aku sih.”
“Hahaha … maafkan aku, ini bukan mauku, aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, tapi ketika dekat kamu, hidungku jadi sensitif banget.”
Saat ini kami tengah makan soto ayam. Sebetulnya hamil Kirana tidak begitu merepotkan, dia hanya jadi sering ngantuk di pagi hari, tapi kalau makan dia tidak ada masalah. Hanya saja entah kenapa dia jadi tidak bisa makan nasi dan daging merah, lebih tepatnya tidak bisa mencium bau nasi dan bau daging. Jadi dia mengakalinya dengan roti atau kentang sebagai ganti korbo, dan seperti sekarang dia menambahkan bukan hanya seiris jeruk nipis ke dalam kuah sotonya, tapi beberapa iris hingga aku tak tahu rasanya mungkin sudah seperti perasan air jeruk nipis dari pada kuah soto.
“Baby M, apa kamu tidak kasihan sama papah? Papah sudah hampir tiga bulan ini tidak bisa memeluk bunda lama-lama, jadi … please be nice to me okay!”
“Hahaha.” Kirana terkekeh mendengarku berusaha merayu janin yang baru berumur tiga bulan.
“Hei, kamu ingin bertemu papah kan? Mau papah tengokin malam ini? So please … be a good baby for tonight.”
“Hahaha.”
Istriku yang semakin hari semakin cantik karena aura kehamilan yang terpancar malah menertawakanku. Dia tak tahu saja kalau aku sangat menderita karena tidak bisa … hei! Jangankan melakukan itu, memeluknya sedikit agak lama saja sudah membuatnya muntah-muntah. Mana tega aku melakukan itu yang malah membuat istriku menderita.
Dr. Prita bilang kalau masa-masa seperti ini biasanya hanya pada trimester pertama saja, dan sekarang kandungan Kirana sudah menginjak bulan ke tiga, jadi dengan sedikit nekad setelah Kirana tertidur, dengan perlahan, mengendap, dan tanpa suara aku pindah ke samping Kirana.
Oh, aku belum memberi tahu? Kalau selama tiga bulan ini aku tidur di sofa, walaupun Kirana selalu merasa bersalah setiap melihatku yang tertidur di sofa dan menyuruhku tidur di sampingnya saja, tapi aku tak tega karena dia hanya akan bertahan beberapa menit saja sebelum akhirnya menghambur ke kamar mandi.
Oke, misi pertama selesai!
Ku miringkan tubuhku, perlahan kupeluk tubuhnya.
Satu … dua … tiga … haaaah, aman! Dia tetap tak bergerak.
Misi kedua selesai!
Oke … sekarang aku tinggal mendekatkan tubuhku hingga bisa menciumnya.
Oooh, shit!
Dia bergerak! Huft! Tubuhku mematung, aku tahan napasku sesaat.
Satu … dua … tiga … aaaah, ku hembuskan napas lega ketika dia kembali diam.
Oke, sepertinya aku hanya bisa menyelesaikan misiku sampai ke tiga saja malam ini. Aku tak ingin mengambil resiko dia terbangun, dan aku kembali tidur di sofa malam ini.
Sudah lama semenjak terakhir tidur sambil memeluknya seperti ini membuatku langsung terlelap. Entah berapa lama aku tertidur ketika ku rasa seseorang menciumi wajahku. Perlahan ku buka mataku, dan disuguhkan oleh senyum cantik bidadari surgaku.
“Hai, do you miss me?”
“Miss you so bad.” Ku peluk tubuhnya erat membuatnya tertawa dan balas memelukku. “Kamu tidak … mual?” ku bertanya sambil menatapnya, melihat reaksinya berdekataan denganku.
“Tidak.” Dia diam sesaat seolah menunggu reaksi yang biasanya dia tunjukan. “Tidak. sepertiya anakmu sangat baik, dia menuruti ucapan papahnya.”
“Aaaah, syukurlah.” Aku kembali memeluknya erat sebelum aku kembali melonggarkan pelukan dan menatap manik matanya. “Jadi … boleh aku menengok baby M malam ini?”
“Hahaha … dia sangat merindukanmu,” ucapnya membuatku langsung melancarkan misi selanjutnya.
Mission complete!!
***
Tak terasa kandungan Kirana sudah memasuki bulan ke 9, perutnya semakin besar dan dia terlihat semakin cantik dan seksi. Dia juga sudah tidak ngidam. Pada dasarnya dia memang tidak ngidam yang aneh-aneh, tapi super aneh karena di trimester pertama dia tidak bisa berdekatan denganku. Dan itu sangat meyiksaku.
Ketika kandungannya menginjak 4 bulan, kami mengadakan pengajian 4 bulanan dan santunan anak yatim, dan ketika 7 bulan kami mengadakan tujuh bulanan di rumah Menteng. Dan setelah itu, jangan ditanya bagaimana hebohnya para calon nenek, tante dan kakek baby M mempersiapkan perlengkapan bayi.
Kamar bayi menjadi urusanku. Ku siapkan kamar bayi yang berada di samping kamarku dan Kirana, yang sekarang sudah dipenuhi oleh berbagai macam perelengkapan bayi.
Oh, iya semenjak kehamilan Kirana menginjak usia 9 bulan mamah Mega tinggal bersama kami, supaya Kirana ada yang menemani ketika aku pergi kerja. Seperti tidak mu kalah ibu Suri pun setiap hari datang ke rumah untuk memastikan Kirana baik-baik saja, dan persiapan kelahiran bayi Mahesa telah siap.
Saat itu jam 3 sore ketika aku sedang rapat dan ponselku berbunyi.
Mamah Mega calling.
Seperti dejavu ketika ibu suri menghubungiku 9 bulan yang lalu.
“Kang, mamah mau bawa teteh ke rumah sakit.”
Aku langsung berdiri membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahku. Bahkan Hans yang tengah presentasi terdiam membuat ruangan hening.
“Kirana kenapa, Mah?”
“Tidak apa-apa teteh cuma mules-mules.”
Aaah, aku pikir kenapa ternyata hanya mules.
Mules?
MULES?
“MULES?”
“Iya, sepertinya teteh mau melahirkan sekarang.”
Ah, shit!
Secepat kilat aku berlari ke luar ruang rapat dan seperti orang gila aku menuju rumah sakit.
Hei! Ini anak pertamaku jadi sebisa mungkin aku ingin menemani istriku melahirkan.
Untung saja kali ini aku tidak terlambat. Kirana baru saja masuk ke ruang bersalin ketika aku datang. Dan bisa menemani Kirana melahirkan.
“Ambil napas, buang napas, dorong.” Dokter Prita memberi interuksi yang bukan hanya diikuti Kirana, tapi aku pun ikut mengikuti interuksi itu.
Ketika Kirana mengedan, akupun ikut mengedan.
Dan sebenarnya entah aku atau Kirana, tapi yang pasti genggaman tangan kami sama-sama-kuat, sampai akhirnya kami sama-sama bernapas lega ketika seorang bayi laki-laki menangis dengan sangat kencangnya.
Daniswara Mahesa, nama bayi yang kini tangisnya membawa senyum dan tangis bahagia untuk kami semua.
*****