I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
56. Debut




Debut



Author, pov.


Mobil yang ditumpangi Kirana perlahan memasuki pekarangan luas dimana berdiri megah rumah mewah bak istana dengan pilar-pilar besar menyangga atap yang tinggi. Di tempat parkir yang disediakan, terparkir puluhan mobil mewah lainya yang menandakan para tamu yang datang bukan dari kalangan bisa.


Kirana dengan gugup mulai ke luar dari mobil dengan digandengan Caraka. Di depan mereka, Rudi Mahesa dan istrinya berjalan dengan penuh percaya diri memasuki bangunan utama yang pintunya terbuka lebar memerlihatkan keadaan di dalam yang semarak dengan para tamu dengan pakaian terbaik mereka.


Di satu sisi terdapat meja prasmanan memanjang yang penuh aneka makanan menggugah selera, di meja lainnya tersaji minuman, makanan penutup dan berbagai makanan pembuka. Para pelayan dengan seragam putih membawa nampan-nampan kecil berisi minuman sibuk melayani para tamu yang berdiri berbincang membentuk kelompok-kelopok kecil.


“Jangan gugup,” bisik Caraka ketika mereka memasuki rumah itu. “Kamu benar-benar luar biasa hari ini.” Kirana tersenyum mendengar pujian Caraka yang tak ada habisnya dari tadi.


Rudi Mahesa terlihat menyalami beberapa orang yang menyapanya, begitu juga dengan Ibu Widya.


“Kirana!” panggil Bu Widya membuat Kirana menatap Caraka yang mengangguk melepaskan pegangannya. Kirana berjalan mendekati Ibu Widya, sedangkan Caraka kini terlihat bergabung dengan Rudi Mahesa.


“Ayune, sopo iki?"


“Calon mantu,” ucap Bu Widya dengan senyum khasnya. “Kirana, kenalkan ini Ibu Tri.”


“Senang bertemu dengan Ibu, saya fans berat Ibu,” ucap Kirana sambil menyalami salah satu perempuna hebat yang dimiliki negri ini.


“Oalah, fans opo? Aku kok koyo artis wae duwe fans. (Fans apa, aku kok kaya artis punya fans).”


Ibu Tri berseloroh sambil tertawa. Beliau memang terkenal dengan kesederhanaan dan keramahaannya, namun terkadang dia bisa sangat tegas ketika di hadapkan dengan situasi tertentu. Beberapa saat Kirana merasa tenang setelah dikenalkan dengan Ibu Tri yang ramah. Sebelum akhirnya mereka menuju halaman belakang, beberapa meja bulat dengan taplak putih dan gold di susun di taman yang luas dengan berbagai rangkaian bunga warna warni di beberapa titik, membuat para tamu seperti tengah berada di taman bunga. Beberapa orang tengah duduk mengelilingi meja bercengkrama dan tertawa. Sebagaian lagi tegah berdiri membentuk kelompok-kelompok tententu.


Kedatangan Ibu Widya ke belakang langsung disambut seorang perempuan dengan penampilan khas seorang perempuan kalangan atas dengan rambut disasak tinggi, dan gaun merah yang boleh dibilang spekta untuk digunakan pada pesta siang hari. Di adalah sang tuan rumah yang ramah, kemudian yang lainnya ikut menyapa Ibu Widya dan seperti tadi Kirana diperkenalkan sebagai calon menantu Mahesa kepada istri para pejabat juga pengusaha, yang tentu saja langsung mengundang rasa penasaran semua orang.


“Putri saya baru pulang dari London, dia baru menyelesaikan kulihanya di sana,” ucap salah satu perempuan setelah mengetahui kalau Kirana hanya lulusan salah satu universitas dalam negri.


“Putri saya kini mulai merintis bisnis, dia membuka butik di beberapa mall di Singapur dan Hongkong.” Seorang Ibu membanggakan putrinya setelah mengetahui kalau Kirana hanya bekerja sebagai Manager.


“Putri saya terpilih jadi 10 besar finalis Putri Indonesia.” Salah satu perempuan menatap Kirana dari atas sampai bawah.


Itu hanya sebagaian ucapan yang harus Kirana dengar, tapi Kirana masih terlihat tenang dan hanya menyunggingkan senyum lembut tak terpancing sedikit pun dengan ucapan mereka. Akan tetapi dari semuanya yang membuat Kirana merasa tidak nyaman adalah pandangan dari perempuan-perempuan muda yang membentuk kelompok tertentu dengan penampilan luar biasa dari atas sampai bawah, dan salah satu dari mereka adalah Anggi Santoso. Sang mantan calon tunangan Caraka.


“Selamat siang, Tante, apa kabar?” Anggi menyapa Ibu Widya sambil mencium pipinya memerlihatkan kedekatan mereka.


“Baik, kamu apa kabar?”


“Baik, Tante.”


“Kamu datang dengan ayahmu?”


“Tidak, Ayah sedang ke Singapur menemani Eyang yang lagi berobat.” Ibu Widya mengangguk mengerti.


Interaksi mereka tentu saja semakin membuat rasa penasaran tamu yang datang, karena sudah tersebar di kalangan mereka kalau Anggi dulunya sempat digadang-gadangkan sebagai calon menantu Mahesa, tapi kini Ibu Widya memperkenalkan perempuan lain, yang secara resmi dia kenalkan sebagai calon menantu.


“Kirana, kamu sudah kenal sama Anggi?” Ibu Widya bertanya kepada Kirana yang berdiri di sampingnya.


“Belum, Mah.”


“Ini Anggi, dia putri salah satu rekan Papah di Surabaya.” Ibu Widya mengenalkan Kirana yang tersenyum ambil menjulurkan tangannya, walau dengan ragu Anggi menerima uluran tangan itu.


“Kirana,” ucap Kirana dengan senyum ramah khas customer service yang dulu pernah dia pelajari.


“Anggi.”


Kirana kembali tersenyum menatap Anggi yang seolah tengah menilainya.


“Anggi ini putra salah satu pengusaha kebanggaan Surabaya,” ucap seorang perempuan yang tadi dikenalkan sebagai istri anggota DPRD. “Orangnya cantik, pinter, dari keluarga baik-baik juga,” puji perempuan itu yang membuat Anggi tersenyum jumawa.


Pujian juga ke luar dari mulut perempuan lainnya, seolah ingin mengatakan kalau keluarga Mahesa telah dengan bodohnya melepas seorang Anggi Santoso demi seorang perempuan yang bukan siapa-siapa. Setelah itu berlanjut dengan kesuksesan keluarga Santoso dalam mengambangkan beberapa daerah yang awalnya tidak dilirik, tapi kini telah berkembang menjadi perumahan-perumahan dan juga resort.


Mendengar puja-puji itu Kirana hanya tersenyum dan berusaha bersikap setenang mungkin, seolah hal itu tidak berpengaruh baginya.


“Permisi.” Semua orang kini menatap ke arah suara dimana Caraka berdiri dengan senyum lebar.


“Baik,” jawab Caraka dengan senyum sopan. “Apa kabar?” Caraka menatap semua orang termasuk Anggi dan beberapa temannya yang berada di sana.


“Baik,” jawab Anggi dengan senyum lebar yang mendapat anggukan dari Caraka.


Mata Caraka kini menatap Kirana. “Sayang, Papah mau memperkenalkanmu kepada Om Haryanto,” ucap Caraka sambil menjulurkan tangannya yang disambut Kirana walau wajahnya terlihat bingung. Kenapa dia harus dikenalkan kepada Haryanto? Dia pikir hari ini dia hanya akan menjadi bayangan Ibu Widya saja.


“Om Haryanto?”


“Iya, pemilik group Haryanto, tuan rumah kita kali ini,” jawab Caraka dengan senyum lembut sambil menarik Kirana hingga berdiri di sampingnya. Tangan Caraka kini bertengger manis di pinggang Kirana. “Itu mereka.”


Tak berapa lama Rudi Mahesa datang dengan beberapa orang pria, salah satu dari mereka terlihat lebih tua dengan rambut sudah memutih dan kulitnya mulai berkeriput terutama di sekitaran matanya yang sipit, tapi dia masih terlihat gagah berbalut kemeja batik lengan panjang.


“Perkenalkan ini Kirana, calon menantu Mahesa, dia yang memegang E-Word.” Rudi Mahasa memperkenalkan Kirana yang langsung menjulurkan tangan ke arah pria yang kini menjabat tangan dan menatapnya dengan serius.


Semua orang kini terdiam menatap ke arah mereka.


“Jadi kamu yang membuat Haryanto kehilangan omsetnya bulan ini,” ucap Haryanto membuat semua orang terdiam dan terlihat tegang, kecuali Kirana yang tertawa mendengar ucapan orangtua itu. Semua orang kini menatap Kirana seolah dia adalah orang gila yang berani melawan raksasa seperti Haryanto.


“Sekali-kali, Om, berbaik hatilah terhadap yang muda seperti saya ini yang masih harus banyak belajar dari Om. Kalau saya tidak mencapai target, saya bisa dipecat, Om.”


Haryanto terdiam beberapa saat sebelum akhinya dia tertawa sambil menepuk bahu Kirana.


“Ini kali pertama Haryanto kehilangan omset, dan pelakunya adalah gadis kecil ini.”


“Hahaha … faktor keberuntungan, Om, karena tanpa itu saya tidak akan sanggup kalau harus mengalahkan Haryanto group, sang raksasa wilayah timur.”


“Hahaha.” Haryanto tertawa hingga matanya tinggal segaris. “Kamu memang memerlukan itu dalam bisnis, tentu saja selain kerja keras dan juga otak yang encer.”


Kirana mengangguk setuju. “Jadi itu rahasia Haryanto hingga bertahan beberapa dekade ini.”


“Hahaha … aku lihat sudah kamu memiliki ketiganya. Keberuntungan, otak yang encer dan juga pekerja keras.” Haryanto menatap mata Kirana sambil tersenyum. “Aku dengar kamu cukup membuat bagian promosi Haryanto kelabakan dengan terobosan-terobosanmu selama kurang dari dua bulan ini.”


“Hahaha … saya belajar dari ahlinya.” Kirana menjulurkan tangan ke arah Haryanto. “Om Haryanto.”


“Aku?”


“Iya, Om. Apa Om tidak tahu kalau promosi yang saya lakukan sebagian besar saya tiru dari apa yang telah Om lakukan? Harga yang kompetitif, tempat yang nyaman dan pelayanan yang memuaskan” Haryanto mengangkat alisnya sebelum kembali tertawa sambil menganggukan kepala. “Tentu saja setelah saya olah kembali, dan ditambah sana-sini hingga akhirnya Papah tidak memiliki alasan untuk memecat saya karena berhasil mencapai target.”


“Hahaha.” Rudi Mahesa dan Haryanto tertawa mendengar ucapan Kirana.


“Kalau Mahesa memecatmu, Haryanto akan menerimamu dengan senang hati.”


“Maafkan saya, Om, tapi saya tidak akan melepasnya.” Caraka merangkul bahu Kirana, terlihat posesif. “Perlu perjuangan yang luar biasa untuk menyakinkannya masuk ke dalam keluarga Mahesa,” ucap Caraka membuat Haryanto tertawa.


“Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga memang diperlukan pengorbanan dan perjuangan, tapi usaha tidak mengkhianati hasil … sekarang kamu mendapatkan seseorang yang luar biasa ini. Jangan sampai dilepas. Kamu sangat bodoh kalau sampai kehilangannya.”


“Hahaha … tidak akan, Om, saya akan segera mengikatnya agar dia tak bisa kabur.”


“Hahaha.” Haryanto tertawa dan menganggukkan kepala. “Awakmu iki wes duwe anak lanang loro seng ciamik soro, saiki duwe mantu ciamik pisan. Iri aku karo awakmu. (Kamu sudah memiliki dua putra yang luar biasa, dan kini seorang menantu yang luar biasa masuk dalam keluargamu. Kamu membuatku iri).


“Hahaha.”


Rudi Mahesa tertawa mendengar pujian seorang Haryanto yang terkanal sangat jeli dalam melihat kualitas dan kemampuan bisnis seseorang, karena itu dia memiliki orang-orang terbaik di sekelilingnya dan berhasil menjadikan Haryanto sebagai raksasa retail electronic di wilayah tengah dan timur dan sampai sekarang belum ada yang bisa menggoyahkannya.


Mendengar penuturan Haryanto membuat semua orang yang hadir kini tak ada lagi yang berani memandang sebelah mata Kirana yang dari tadi hanya terdiam terlihat tenang dengan senyum di wajahnya tanpa sedikitpun merasa terintidasi dengan ucapan-ucapan sarkas yang merendahkannya.


Kecuali satu orang yang kini matanya menyorotkan kebencian teramat sangat, matanya tak pernah lepas dari bagaimana cara Caraka memerlakukan Kirana yang kini tengah tertawa terlibat pembicaraan bisnis dengan para pria-pria yang sudah tak bisa dibantahkan kesuksesan mereka.


Sesekali tangan Caraka akan mengelus punggung Kirana, atau merangkulnya terlihat posesif seoalah ingin semua orang mengetahui kalau perempuan itu adalah miliknya, matanya menatap Kirana dengan penuh pemujaan juga rasa bangga ketika seorang Haryanto memuji perempuan itu. Membuat dada Anggi sesak karena amarah.


Secara fisik Anggi memang menang di atas kertas, tapi setelah melihat bagaimana Kirana bisa bicara dengan lancar tentang bisnis bahkan tak sedikitpun terlihat gugup ketika berhadapan dengan seorang Haryanto, tak bisa dipungkiri kecerdasaan Kirana jauh di atasnya, atau mungkin di atas para perempuan muda seumurannya yang hadir di sana hari itu. Mereka yang terbiasa hanya menghabiskan uang orangtuanya dan berfoya-foya mana paham tentang bisnis yang biasa digeluti kaum pria di sekeliling mereka.


Tapi dari semuanya yang membuatnya iri adalah bagaimana keluarga Mahesa memerlakukan perempuan itu seolah telah menjadi bagain dari mereka. Perlakukan yang tak pernah dia terima selama ini.


Namun tanpa seorang pun sadari di kejauhan seseorang juga tengah menatap Kirana dan Caraka dengan penuh rasa dendam.


****