I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
70. After 20 years




After 20 years



Entah berapa lama Kirana dan Anggi berpelukan sambil menangis. Ingin mereka saling bercerita menggantikan masa yang hilang, tapi saat ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Bukan di kantor polisi dimana mereka terlihat dalam sebuah kasus.


“Aku benar-benar tak ikut rencana mereka.”


Anggi mulai menceritakan kronologisnya.


“Setelah aku bermimpi tentang Kak Nana, aku mengatakan kalau aku ke luar dari rencana mereka jadi aku tak lagi bertemu dengan mereka. Dan kemarin Ferdi mengirimiku pesan kalau itu adalah harinya, tapi aku terlambat menyadari tentang kakak … maafkan aku.”


Kirana menggenggam tangannya yang terasa dingin.


“Tidak apa-apa, kakak baik-baik saja. Ada Oka dan Caraka yang menolong kakak.”


Kirana belum menceritakan tentang keadaan Bu Mega, karena dia tahu Anggi pasti akan merasa sangat bersalah mengetahui ibu mereka terluka. Saat ini syok yang diterima Anggi dirasa cukup, Kirana tak tahu apa yang akan terjadi pada Anggi seandainya dia tahu ibu mereka terluka karena ulah Ferdi dan kawan-kawan.


“Bi, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui kepada petugas polisi, tanpa terkecuali … kita serahkan semuanya kepada mereka dan juga pengacaramu, paham?”


Anggi menggangguk mengerti bersamaan dengan pintu yang diketuk dan memerlihatkan seorang polisi masuk dengan membawa laptop, di belakangnya mengekor Birendra dengan wajah seriusnya. Kirana tahu kalau ini saatnya dia ke luar, sebelum ke luar dia kembali memeluk Anggi memberi dukungan.


Di luar Caraka telah menunggunya dengan wajah cemas dan sebuah informasi yang membuatnya kembali harus menyiapkan hati menghadapi masalah sesungguhnya … Randi Prasetyo atau Andi Santoso. Ayah Kirana. Telah membuat janji untuk bertemu dengan mereka.


***


Andi Santoso ke luar dari mobilnya memasuki sebuah rumah tempo dulu yang diubah menjadi restoran yang sangat nyaman. Taman yang asri dan indah, hiasan dan interior bergaya vintage yang terasa homie. Beberapa orang terlihat menikmati teh dalam poci tanah liat dengan gula batu yang menambah cita rasa.


Seorang pelayan dengan kebaya merah muda menyambut kedatangannya, dia mengantarkan Andi Santoso terus ke belakang hingga ke luar dari ruang depan dan kini berjalan di selasar dengan taman bernuansa desa yang terasa kental. Sawah yang sengaja dibuat dengan sungai kecil yang mengalir dan bermuara di sebuah kolam dengan batu-batu alam, pancuran bambu yang airnya jatuh menimpa kincir bambu hingga terdengar gemericik air yang menenangkan.


Di pinggir sawah terdapat beberapa gazebo terbuat dari bambu beratap jerami, di dalamnya terlihat nyaman dengan bantal warna warni sebagai alas duduk lesehan. Mereka terus berjalan sampai akhirnya pelayan berhenti di depan gazebo dimana telah duduk dua orang yang sedang tertawa berbincang sebelum akhirnya terdiam dan berdiri menyambutnya.


“Maaf, saya datang terlambat.”


“Tidak apa-apa kami juga baru saja sampai.” Caraka berkata sambil menyalami Andi Santoso yang baru masuk bergabung bersama dengannya juga Kirana yang hanya terdiam dengan jantung berdetak kencang menerima uluran tangan pria yang terlihat memerhatikannya yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya.


Awalnya mereka akan bertemu di kantor polisi, tapi Kirana menolak karena bagaimanapun kantor polisi bukan tempat yang tepat untuk bertemu dan berbicara dengan seseorang yang sudah sangat lama dia nantikan. Walaupun ini bukan seperti reuni keluarga yang selama ini dia bayangkan, tapi setidaknya mereka memerlukan tempat yang nyaman untuk bicara. Memahami hal itu akhirnya Caraka membuat janji di salah satu restoran yang dirasa nyaman untuk berbicara secara pribadi.


Selama ini Kirana selalu membayangkan berbagai skenario ketika bertemu dengan ayahnya, dari mulai pertemuan yang mengharu biru karena sudah lama tak bertemu, sampai dengan penolakan terang-terangan. Namun tak pernah terbayangkan sekalipun dalam pikiran terliarnya ayahnya akan meminta maaf padanya bukan karena meninggalkannya selama 20 tahun ini, tapi karena sebuah kasus yang melibatkan Kirana dan adiknya.


“Atas nama Anggi juga sebagai orangtuanya, saya minta maaf.” Andi memulai percakapan. “Ini semua karena kesalahan dan ketidak mampuan saya dalam mendidik putri saya.”


Kirana hanya bisa terdiam mendengar ucapan Andi Santoso, tak pernah terbayangkan dalam hidupnya seorang ayah akan melakukan apapun untuk anaknya termasuk menundukan kepala meminta maaf seperti yang saat ini dilakukan ayahnya.


“Saya akan bertanggung jawab untuk semua biaya pengobatan, juga mengganti semua kerusakan.”


“Tidak perlu,” ucap Kirana sambil mengaduk tehnya setelah menambahkan gula batu, matanya kini menatap Andi Santoso tajam. “Anggi tidak bersalah. Dia hanya dimintai keterangan sebagai saksi. Jadi … anda tidak perlu bertanggung jawab dengan membayar biaya pengobatan … kami.”


Andi Santoso terdiam, matanya menatap manik mata Kirana yang tajam menatapnya. Perempuan muda yang menarik perhatiannya ketika pertama kali melihatnya itu memiliki memar yang kini mulai membiru, tapi tak mengurangi kecantikannya, matanya yang bening dan tajam memerlihatkan kecerdasan dan kemandiriannya. Namun yang menarik perhatiannya adalah bagaimana cara dia menatapnya … ada kesakitan, kemarahan, juga kerinduan yang membuat hati Andi Santoso merasa mencelos, mengingatkannya pada tatapan putri sulungnya di hari ketika dia pergi meninggalkannya.


Mendengar itu Kirana hanya bisa menghela napas berat karena bagaimanapun itu benar adanya. Suasa kembali hening sampai akhirnya ponsel Caraka berbunyi memecah keheningan.


“Sayang, aku angkat telepon dulu.” Kirana mengangguk memberi izin. “Permisi, Om, saya angkat telepon dulu.” Andi Santoso mengangguk seperti Kirana tadi.


Sepeninggalannya Caraka, suasana di dalam gazebo semakin hening. Ketegangan dan kecanggungan sangat kuat terasa di dalam keheningan itu.


“Anda sepertinya sangat menyayangi putri anda,” ucap Kirana tanpa menatap Andi Santoso yang kini tersenyum menatapnya.


“Sudah sewajarnya sebagai seorang ayah, saya menyayangi putri saya.”


Mendengar itu membuat hati Kirana kembali mencelos karena 20 tahun ini kewajaran itu tak pernah dia rasakan.


“Saya hanya mempunyai seorang ibu, jadi saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dibela, dilindungi dan disayang oleh seorang ayah.”


Andi santoso menatap Kirana yang dari tadi hanya tertunduk memainkan sendok di dalam cangkir kecil terbuat dari tanah liat.


“Apa ayahmu sudah … meninggal?” Andi Santoso bertanya dengan mata terus menatap Kirana penuh selidik.


“Tidak, ayah saya masih hidup,” jawab Kirana sambil menatap Andi Santoso. “Hanya saja dia meninggalkan saya sejak saya kecil.”


Manik mata mereka bertemu. Tatapan penuh selidik dengan jantung bertalu hebat bertemu pandang dengan tatapan yang penuh kekecewaan dan terluka.


“Ke-napa … dia meninggalkanmu?”


Kirana terdiam masih menatap mata Andi Santoso, dengan pandangan berubah serius dia kembali berkata, “Itu yang ingin saya tanyakan padanya. Kenapa dia meninggalkan saya? Apa salah saya? Apa pertengkaran dan perpisahan dengan ibu saya membuat saya secara otomatis menjadi bukan putrinya lagi, hingga dia tak sekalipun mencari saya dan Oka selama ini?”


Hening kembali menyelimuti gazebo itu, berbagai perasaan juga pikiran kini bercampur aduk menjadi satu.


“Oka?” Andi Santoso bertanya dengan penasaran. Kecurigaan yang tadi sempat muncul kini berubah menjadi keraguan ketika mendengar Kirana menyebut nama yang terasa asing.


“Iya … Oka, adik bungsu saya. Ketika ayah saya meninggalkan kami, ibu saya ternyata tengah hamil muda. Seorang diri di negri orang, jauh dari sanak saudara ibu saya melahirkan hanya ditemani putri kecilnya juga tetangga yang baik hati. Dan lebih mirisnya lagi ketika asa tumbuh dalam diri ibu saya karena akhirnya memiliki seorang putra yang bisa mengembalikan kondisi keluarga kami menjadi lebih baik, ayah saya malah mengiriminya surat cerai, dan tepat ketika adik saya berusia satu tahun yang menjadi kado ulang tahun pertamanya adalah surat putusan cerai kedua orangtuanya.”


Keraguan yang tadi sempat hadir kini kembali menyeruak, wajah Andi Santoso terlihat pucat pasi, jantungnya semakin berdetak menggila, matanya menatap Kirana tanpa berkedip. Saat pertama kali bertemu dengan tunangan Caraka ini, ada perasaan lain yang membuat hatinya bergetar, ada sedikit kecurigaan terbesit di kepalanya tentang siapa sebenarnya perempuan di hadapannya. Namun akal sehatnya menolak membenarkan kecurigaannya, atau lebih tepatnya dia tak sanggup menerima kenyataan kalau kecurigaannya itu menjadi nyata.


Akan tetapi kecurigaan semakin menjadi ketika melihat bagaimana perempuan muda di hadapannya itu menatapnya. Mata itu … persis seperti mata putri yang telah dia tinggalkan selama ini.


“Ibu saya adalah orang hebat … seorang diri dia membesarkan kami berdua, membanting tulang tanpa kenal lelah untuk memenuhi kebutuhan putra-putrinya yang seharusnya menjadi tanggung jawab ayah kami yang sayangnya sepertinya lupa kalau dia memiliki anak yang telah dia tinggalkan.”


Kirana menatap tehnya yang sudah dingin sebelum dia kembali menatap Andi Santoso yang masih terdiam.


“Saya bisa maklum kalau ayah saya tidak mencari adik saya karena dia memang tidak mengetahui tentangnya, tapi … apa dia juga lupa dengan putrinya? Apa tak ada keinginan untuk mencari putrinya? Apa tak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya bagaimana keadaan dia saat ini? Ketika ayah saya makan enak, apa tak ada dalam pikirannya apa putrinya bisa makan enak? Ketika dia tidur dengan nyaman, apa dia tak berpikir dimana putrinya saat ini tidur? Ketika dia hidup mewah dengan keluarga barunya, apa tak pernah terpikir bagaimana kehidupan putrinya saat ini?”


Hening tak ada jawaban dari Andi Santoso, walau dia tahu pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan padanya terlihat dari tatapan perempuan di hadapannya yang seolah menuntut semua jawaban darinya. Namun keterkejutannya membuat lidahnya mendadak kelu hingga tak mampu untuk menjawab satupun pertanyaan itu.


“Yang lebih miris lagi, ayah saya memisahkan saya dari adik saya, memisahkan seorang ibu dari putrinya yang waktu itu belum genap empat tahun, kemudian mengubah semua identitasnya. Nama, tanggal lahir, bahkan …” mata Kirana dipenuhi amarah, terlihat dari rahangnya yang mengeras. “Nama ibu kandungnya.”


Wajah Andi Santoso semakin memucat, matanya terbelalak, untuk sesaat jantungnya seolah berhenti berdetak sebelum akhirnya berdetak menggila. Kecurigaannya kini tebukti seutuhnya. Perempuan yang masih menatapnya dengan penuh amarah adalah putri sulungnya. Kirana Az Zahra.


*****