
One step closer (Selangkah lebih dekat)
Rumah di salah satu kawasan elit Surabaya —masih berada di Kawasan yang sama dengan supermall tempat E-world berada— kini telah disulap menjadi tempat acara lamaran salah satu putra konglomerat negri ini dengan putri sulung salah satu pengusaha property Surabaya.
Ya, itu aku dan Caraka. Diakui atau tidak ternyata aku bukanlah Cinderella seperti cerita Disney, drama Korea, atau sinetron-sinetron lokal yang sampai ribuan episode belum tamat juga. Ternyata ayahku yang dulu meninggalkanku adalah salah satu pengusaha property cukup sukses, jadi ya … aku bukan Cinderella.
Awalnya aku akan menyewa sebuah resto untuk acara lamaran mengingat saat ini aku tinggal di apartemen yang tak mungkin dijadikan tempat untuk acara lamaran. Sebelumnya juga Caraka sudah menawarkan ballroom hotel, tapi aku menolaknya. Aku ingin acara lamaran ini berlangsung sederhana, hanya dihadiri keluarga dan beberapa rekan kerja saja.
Namun ketika aku dan Caraka memberitahu ayah mengenai rencana lamaran. Ayah menyarankan kami mengadakannya di salah satu rumahnya. Tentu saja aku menolak, dan mamah membuat aku mengubah keputusanku.
“Minimal kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa tempat,” ucap mamah sambil tersenyum. “Tidak ada salahnya kamu menikmati sedikit fasilitas ayahmu. Kamu putrinya. Lagi pula cepat atau lambat semua orang akan mengatahui statusmu dan Oka.”
“Aku tidak ingin keluarga ayah ikut campur dalam acaraku.”
“Suka tidak suka meraka adalah keluargamu. Seperti mereka yang mau mengakui atau tidak, kamu dan Oka adalah putra-putrinya Randi yang berhak atas semua miliknya.”
“Bagaimana kalau istri ayah ikut? Aku tidak mau. Aku mau mamah yang berdiri di sampingku nanti.”
“Jelas dong, itu tempat mamah. Tidak ada yang bisa mengambil tempat itu dari mamah. Kamu tenang saja, kekawatiranmu tidak akan terjadi.” Mamah kembali tersenyum sambil menggenggam tanganku yang masih terlihat ragu. “Anggap saja kita melakukan ini untuk menghormati keluarga Caraka. Minimal kita harus menyambut mereka dengan layak. Orangtua Caraka mungkin tidak masalah, toh mereka sudah menerima kamu, tapi keluarga besarnya yang lain? Kita tidak ingin membuat Caraka malu di depan keluarga besarnya kan?”
Aku terdiam berpikir, semua yang dikatakan mamah ada benarnya membuatku akhirnya menyetujui menjadikan salah satu rumah ayah menjadi tempat lamaran.
Setelah tahu dimana dan kapan acara akan berlangsung, tanpa diduga Anggi menawarkan diri mengatur semuanya, dia hanya bertanya aku mau konsep seperti apa?
“Jangan mewah-mewah, kakak mau sederhana saja namun berkesan.”
“Siap. Ada lagi?”
“Kakak maunya nanti hanya fokus ke acara lamaran saja, jadi jangan memberi kejutan apapun tentang ulang tahun. Paginya kita undang anak yatim untuk pengajian dan santunan, malamnya baru acara lamaran.”
Untuk acara nanti ayah bersikukuh membiayai semuanya, jadi uang yang telah kusiapkan untuk acara lamaran ku alihkan untuk menyantunin anak yatim, sekaligus meminta doa mereka agar semua bisa berlangsung lancar sampai pernikahan nanti.
“Oke!”
Dan setelah hari itu Anggi sibuk memersiapkan semuanya, kadang-kadang dia mengajak mamah untuk mencoba makanan dari catering yang akan dipakai nanti, atau meminta masukanku mengenai dekor dan lain-lain. Aku sendiri kembali disibukan dengan pekerjaan untuk perlahan ku alihkan tanggung jawab pekerjaan di sini kepada Ivan karena rencananya hari minggu setelah lamaran aku akan pulang ke Jakarta, untuk memersiapkan pernikahanku di sana.
Sabtu pagi ayah menjemput kami menuju rumahnya, sebelumnya ayah dan Anggi menyarankan kami untuk tinggal di rumah itu tapi kami menolaknya. Walaupun mewah dan megah dengan segala fasilitas nomor satu … itu bukan rumah kami. Ketika kami melihat rumah itu untuk pertama kalinya tentu saja kami merasa takjub melihat rumah megah bergaya Victoria yang semakin menambah kesan mewahnya. Tapi kami tak memiliki perasaan apapun, perasaan bahagia, memiliki atau apapun namanya.
Bahkan Oka yang biasanya akan heboh berfoto ria untuk dia upload di media sosialnya hanya terdiam, sebelum akhirnya larut dalam dunia gamesnya.
“Kalau kamu suka, rumah ini akan menjadi hadiah pernikahanmu dari ayah.”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Rumah sebagai hadiah pernikahan? Ini benar-benar baru untukku. Oh ayolah, selama ini orang-orang memberi kado pernikahan itu paling satu set gelas cantik, amplop berisi uang, atau tiket bulan madu, tapi ini rumah mewah sebagai hadiah pernikahan? Tentu saja aku menolaknya, dengan alasan setelah menikah kami akan tinggal di Jakarta. Lagian Caraka pasti sudah memersiapkan rumah untuk kami nanti, dan dia juga pasti akan menolak hadiah itu.
Kami memasuki pekarangan rumah yang terlihat sibuk dengan hilir mudik orang-orang berseragam. Sepertinya dari pihak catering juga EO yang Anggi tunjuk untuk acara hari ini. Di luar sudah berdiri tenda dengan nuansa putih, biru muda dan gold. Sebagian orang terlihat sedang mendekor dengan bunga warna -warni. Belum selesai 100%, tapi itu sudah cukup membuatku takjub.
“Gimana, Kak?” Anggi merangkul lenganku setelah salim kepada mamah, dan merangkulnya di sisi kanan dan aku di sisi kirinya.
“Bi, kakak kan sudah bilang sederhana saja, ini …”
“Ini sudah sederhana, Kak, mengingat siapa calon suami kakak nanti.” Anggi tersenyum sambil menarik kami masuk ke dalam.
Dan di dalam rumah ternyata lebih gila lagi dari pada luar. Terdapat background yang penuh dengan bunga yang didominasi warna putih, kursi-kursi besi bercat putih terkesan klasik dipajang berhadapan berbaris ke belakang, bantalan kursi warna gading, dan rangkaian bunga menghiasi di setiap belakang kursi terlihat begitu elegant. Belum lagi beberapa buket bunga memenuhi ruangan yang wanginya menguar hingga ke luar.
“Ini belum selesai, baru … 75%?” Anggi terlihat berpikir sambil menatap sekeliling. “Nanti pengajian dan santunannya kita adakan di tenda luar. Persiapan untuk pengajian sudah hampir selesai”
“Ini …”
“Kak Nana, harus siap-siap untuk acara pengajian!”
Anggi menarikku ke atas tak memedulikan protesku. Anggi ternyata telah menyiapkan pakaian yang sama untuk kami bertiga, dan baju koko untuk Oka yang samaan dengan ayah. Terlihat seperti keluarga utuh dan bahagia bukan?
Sayangnya itu hanya gambaran dari luar saja, karena kenyataannya keluarga kami tidak lagi utuh. Terbukti ketika menjelang sore kami kedatangan tamu yang membuat kami semua terdiam. H. Joko datang bersama tante Mayang, pakdade Bayu, bude Ani dan anak-anaknya.
H. Joko yang melihat mamah langsung menangis memeluk meminta maaf, sedangkan aku dan Oka hanya terdiam.
Semua ini adalah ide mamah untuk mengundang keluarga besar ayah.
"Tidak mungkin kan kita menyambut keluarga calon besan hanya berempat?"
Aku terdiam karena aku menyadari itu, tidak ada keluarga besar mamah yang hadir mengingat acaranya terkesan dadakan dan diadakan di Surabaya.
"Lagian bukannya kamu tidak mau mengundang mereka di acara nikahan nanti? Jadi anggap saja sekarang kita mengundang mereka supaya nanti mereka tidak begitu kecewa kalau tidak bisa datang ke Jakarta."
“Ini Kirana, putri sulungku.” Ayah mengenalkanku kepada H. Joko yang langsung memelukku penuh haru.
“Ini Oka, putra bungsuku.”
H. Joko juga memeluk Oka yang hanya terdiam sepertiku.
“Namamu Oka?” tanya H. Joko setelah melepaskan pelukan.
“Nama saya Asoka Danubrata, alhamdulillah saya sehat wal’afiat, jadi saya tidak perlu ganti nama,” ucap Oka dengan senyuman santai khasnya.
“Bi!” Mamah langsung memanggil Anggi setelah terbelalak mendengar ucapan si trouble maker, sedangkan aku diam-diam menahan senyum. “Kenalkan teteh sama Oka ke sepupu-sepupumu yang lain!” Mamah sedikit mendorong kami menjauh.
Aku dan Oka mengikuti Anggi yang sepertinya belum sembuh dari keterkejutan mendengar ucapan Oka. Diam-diam ku ulurkan telapak tangan yang langsung ditepuk Oka membuat kami berdua cekikikkan menahan tawa kemenangan. Setidaknya harus ada seseorang yang menyerukan pikiran kami bukan?
Setelah Anggi mengenalkan kami kepada ‘sepupu-sepupu’ yang menatap kami dengan penuh selidik, Oka lebih memilih naik ke atas dan bermain game di balkon atas sedangkan aku dan Anggi memilih untuk mengecek semua persiapan.
Mbak Lia dan mbak Sami dari bagian catering memberi laporan kalau semua telah siap, termasuk puding pelangi mbak Ira yang menjadi favorit Oka di antara desert lainnya. Mbak Nia dan mbak Renita dari bagian EO juga memberi laporan kalau untuk dekor tinggal finishing touch saja, mereka berdua mengenalkan kami kepada mbak Ika dan mbak Soraya yang bertanggung jawab untuk bagian acara, mereka memberi kami rundown (susunan acara) nanti malam.
Setelah shalat magrib semua sudah rapi, bagian EO dan acara mulai sibuk mengecek semuanya, dan aku bersiap dengan mbak Amel, MUA yang bertanggung jawab untuk mendandaniku, sedangkan mamah dan Anggi dipegang oleh mbak Sunny dan mbak Tia.
Seteleh make up selesai, mbak Titik membantuku dengan kebaya yang Anggi pesan secara dadakan, tapi hasilnya sangat luar biasa. Kebaya dengan potongan leher sabrina dan model sederhana berwarna baby blue dengan payet bunga kecil 3D yang merata di setiap bagian, dan kemben warna senada dipadu padankan dengan kain batik berwarna coklat, melengkapi penampilanku malam ini.
Setelah semua siap, mamah, ayah dan Anggi menunggu di bawah untuk menyambut keluarga Caraka yang baru saja sampai. Sedangkan aku dan Oka masih duduk di atas menunggu interuksi untuk turun ke bawah.
“Kamu yang menggandeng teteh turun nanti, jangan makan gaji buta.”
“Hahaha ... siap, Bos!" Oka hanya tertawa mendengar ocehanku.
Dari bawah mulai terdengar MC yang membuka acara, dilanjutkan dengan salam pembuka dari pihak Caraka yang langsung dilakukan oleh papah membuatku semakin gugup, dadaku berdetak cepat, bahkan telapak tanganku pun mulai berkeringat.
“Baru juga lamaran, udah tegang gini,” ujar Oka sambil tersenyum mengejek, membuatku mendelik ke arahnya.
“Mbak Kirana bersiap,” ucap mbak Renita membuatku berdiri dengan bantuan Oka. “Ade ganteng tolong gandeng kakaknya, atau ade ganteng mau gandeng tante?" lanjut mbak Renita dengan senyum lebar menatap Oka yang langsung menggandengku erat. "Sekarang turun perlahan-lahan.”
Bismillahirrahmanirrahim …
Perlahan ku langkahkan kakiku untuk selangkah lebih dekat menuju lelaki yang akan kuhabiskan sisa hidup dengannya, dan dengannya akan kurajut masa depan dan cerita indah bersama.
***
Caraka, pov.
Kegugupan yang kurasa sedari tadi kini menguap ketika kulihat perempuan yang sejak lama ingin ku persunting turun perlahan menapaki setiap anak tangga dengan anggunnya, mataku terkunci hanya menatap sosoknya yang kini tertunduk malu mendapat perhatian dari tamu yang hadir. Bagaimana tidak … malam ini, dia menjadi bintangnya, kecantikannya benar-benar terpancar membuatku dilanda perasaan bangga, karena perempuan luar biasa itu telah memilihku untuk mempersuntingnya.
Ku ulurkan tangan ketika dia sudah berdiri tak jauh dariku yang langsung dia sambut dengan senyuman yang membuat hatiku terasa hangat.
Kami kini berdiri berhadapan dengan senyum menghiasi wajah kami, seolah lupa dengan kehadiran keluarga dan tamu di sekitar kami.
“Kirana Az Zahra … kamu adalah perempuan yang membuatku untuk pertama kalinya merasakan mencintai dengan teramat sangat. Kamu juga perempuan pertama yang melihatku dan mencintaiku sebagai sosok pribadiku, tanpa melihat latar belakangku.”
Kirana menatapku dengan senyum simpul di wajah ayunya.
“Jatuh cinta kepadamu adalah hal yang mudah, tapi menyakinkanmu untuk mencintaiku adalah hal yang paling sulit yang harus kulewati.”
Dia kini tersenyum dan tertunduk malu.
“Kamu adalah perempuan pertama yang membuatku bermimpi tentang sebuah pernikahan. Hanya denganmu, aku memimpikan mengarungi rumah tangga, dan hanya denganmu ingin ku habiskan sisa hidupku.”
“Aku bukanlah Pangeran sempurna seperti yang sering kamu ucapkan, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untukmu juga anak-anak kita nanti.”
Aku terdiam sesaat, ku ambil napas dalam-dalam sebelum ku lanjutkan ucapanku.
“Bismillahirrahmannirahim … Kirana Az Zahra, maukah kamu menerima pinanganku untuk ku nikahi dan menghabiskan sisa hidup kita bersama, hingga kita berkumpul kembali di surganya Allah.”
Mata kami saling mengunci sesaat, senyumnya perlahan mengembang sebelum akhirnya dia berkata,
"Bismillahirrahmannirahim ... aku terima pinanganmu untuk kuhabiskan sisa hidupku denganmu hingga nanti kita berkumpul kembali di surganya Allah."
Aku menghela napas lega dengan senyum lebar berlatar kalimat alhamdulillah yang membuat senyum kami semakin lebar.
Satu langkah sudah kami lewati, untuk melangkah kejenjang yang lebih tinggi lagi … sebuah pernikahan yang akan membawa kami menapaki dunia baru berdua.
*****