I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
64. Benak hitam




Benak hitam



Dua orang anak kecil saling berangkulan di bawah selimut. Tubuh kecil mereka tersentak ketika mendengar teriakan dari arah luar kamar. Bukan sekali ini mereka berdua harus mendengar pertengkaran orangtua mereka, namun kali ini berbeda … kali ini terdengar tangisan ibu mereka membuat anak yang lebih besar meneteskan air mata dalam diam.


Teriakan kembali terdengar, tubuh mereka kembali tersentak membuat tangan si kakak refleks menutup telinga si adik yang kini matanya telah berkaca-kaca.


“Bi, jangan nangis,” bisik si kakak yang mendapat anggukan dari adiknya.


Namun air mata si kakak kembali berderai ketika mendengar tangisan ibunya.


“Kak Nana, dangan angis.” Kali ini tangan mungil si adik mengusap pipi kakaknya yang basah karena air mata.


“Kakak tidak nangis, kakak kuat.”


“Bi juga kuat!”


“Iya, Bi hebat, tidak boleh menangis.”


Si adik tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya terlihat sangat menggemaskan membuat si kakak tersenyum, tapi mereka seketika tersentak dengan mata membulat ketika selimut yang menjadi benteng persembunyian mereka tersingkap menunjukan wajah ayah mereka yang masih menyorotkan rasa amarah, namun seketika melunak ketika melihat air mata di pipi putri sulungnya.


Mata pria itu kini manatap putri bungsunya dan tanpa menunggu lama dia mengangkat paksa hingga gadis kecil itu menjerit histeris.


“Kak Nana! Huaaaaaa! Kak Nana!!!” Tubuh kecilnya meronta, tangan kecilnya berusaha menggapai tangan si Kakak yang mengejarnya dari belakang.


“Bi! Bi!”


“Huaaaa … Kak Nana! Mamah! Mamah!”


Gadis kecil itu terus menjerit menangis memanggil kakak dan mamahnya.


“Bi! Bi!”


“Kak Nana! Mamah!”


Gadis itu tersentak, terbangun dari mimpinya dengan keringat membasahi tubuh, air mata tanpa terasa membasahi pipi, napasnya tersengal-sengal dengan dada berdegup kencang.


Untuk sesaat dia terdiam terlihat linglung … mimpi itu seperti nyata, seolah dia berada di sana dan mengalaminya langsung.


“Kak Nana?” Gadis itu mencoba mengingat nama yang dia dengar di mimpinya. “Bi?” kepalanya kini terasa berdenyut, sebelah tangannya memijat pelipis mencoba menghilangkan sakit kepala yang muncul tiba-tiba.


Mimpi itu semakin hari semakin jelas … awalnya hanya gambaran-gambaran buram, semakin hari perlahan gambaran itu semakin nyata jelas terlihat, sampai akhirnya tadi semua terlihat jelas, membuatnya semakin bingung ... mimpi apa itu? Siapa kedua anak kecil itu? Kenapa dia seolah memiliki ikatan batin dengan mereka.


Apa dia salah salah satu dari anak-anak itu?


Bi?


Nama itu seolah tak asing, ada perasaan menggelitik ketika mendengar nama itu … seperti saat dia mendengar nama yang disebutkan perempuan itu beberapa hari yang lalu.


Sagita Bentari …


Nama yang asing, tapi juga terasa tak asing … dan setelah pertemuannya dengan Kirana hari itu, mimpi ini terus muncul seolah itu adalah kenangan masa lalu yang terkubur di alam bawah sadarnya.


Tapi siapa mereka?


“Kak Nana?” Ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan ketika menyebut nama itu.


“Mamah?”


Jelas-jelas perempuan dalam mimpinya itu bukanlah sosok ibu yang selama ini dia kenal, tapi kenapa hatinya merasa sedih ketika mengingat bagaimana sosok Mamah dalam mimpinya itu berderai air mata, berlari mengejar dan bersusah payah mengejarnya.


Air matanya tanpa terasa kembali berderai mengingat sosok perempuan dan anak kecil dalam mimpinya. Ada perasaan aneh yang membuat dadanya sesak, kerinduan yang tak tahu ujung pangkalnya membuatnya tanpa sadar tergugu menangis sambil memukul dadanya.


Perasaan apa ini? Kenapa dia begitu sedih hanya karena mimpi? Saat ini dia ingin berlari mencari sosok Kak Nana juga Mamah dalam mimpinya, tapi kemana? Kemana dia mencarinya?


Dia terus menangis sampai kembali tertidur, namun kali ini dia tersenyum dalam tidurnya ketika melihat gambaran kedua anak kecil yang sedang bermain salju.


Ponselnya di atas nakas bergetar, lampu layarnya menyala menandakkan sebuah pesan yang masuk.


Ferdi Izam : Tomorrow is d-day (besok adalah harinya)


Setelah kejadian pertemuannya dengan Kirana di acara Haryanto, Anggi menyadari kalau dia tak bisa mengalahkan Kirana dalam mengambil hati Caraka, ditambah pemberitaan yang beredar tentang bagaimana Rudi Mahesa, Sang Raja, mengenalkannya di depan umum sebagai calon menantu Mahesa maka kesempatannya untuk mendapatkan Caraka semakin tipis.


Benak hitamnya pernah berpikir untuk membuat Caraka kembali padanya dengan menghancurkan perempuan itu, namun sesungguhnya dia tidaklah sejahat itu. Itu semua karena pengaruh alkohol, jadi ketika pengaruh alkohol telah hilang dia pun melupakan ide itu.


Anggi sengaja datang ke E-World hanya untuk memastikan tindakan apa yang akan dia ambil. Apa akan melepaskan Caraka untuk perempuan itu, atau akan kembali dengan rencananya untuk menghancurkan perempuan itu dan membuat Caraka menyesal karena telah meninggalkannya?


Namun setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis Kirana, dan melihat bagaimana Kirana dengan sombong menunjukan padanya bisa dipastikan kalau cincin itu pemberian dari Caraka, dan itu kembali membuat dadanya memanas. Bagaimana bisa perempuan itu seolah dengan mudah mendapatkan apa yang paling dia indamkan selama ini, yaitu … cinta, perhatian dan pengakuan dari seorang lelaki yang dia sukai.


Tidak, Anggi tidak akan membiarkan Kirana dengan mudahnya mendapatkan itu semua. Benak hitamnya kembali menguasa diri. Kalau kemarin Anggi sempat ragu, tapi hari itu ketika melihat bagaimana Kirana dengan sombongnya memamerkan cincin, maka tak ada keraguan sama sekali … benak hitamnya kembali berkata untuk menghapus senyum dari wajah sombong perempuan yang kini mendapat gelar sebagai calon menantu Mahesa.


***


Seperti yang telah dijanjikan hari sabtu aku akan pergi ke Pacet bersama pak Supri, tapi ternyata rencanaku sedikit berubah karena tidak hanya aku dan pak Supri saja yang pergi melainkan bersama Caraka dan juga Oka yang semalam datang memberi kejutan. Mamah juga datang, tapi Mamah memutuskan untuk tinggal di apartemen saja tidak ikut ke Pacet. Mungkin Mamah tidak siap kalau harus bertemu dengan salah satu keluarga ayah.


Perjalanan dari Surabaya menuju Pacet ternyata tak sejauh yang ku kira. Pak Supri sengaja mengambil jalan tol agar lebih cepat, setelah ke luar dari tol Penompo kami memasuki kota Mojokerto dimana beberapa kali kami berpapasan dengan bis antar kota dan provinsi, sampai akhirnya di perempatan terminal Kertajaya, Mojokerto, Pak Supri membawa mobil kami berbelok kiri kemudian setelah beberapa kilometer kami belok kanan dan mulailah jalan yang dilewati adalah jalan penghubung desa dimana kanan kiri jalan mulai berderet rumah-rumah warga berselang dengan kebun pribadi, setelah itu jalanan mulai naik dan pemandangan mulai berubah.


Sawah terasering, rumah makan, kolam pemancingan menjadi pemandangan yang membuatku mulai menikmati perjalanan, dan semakin ke atas pemandangan berubah menjadi semakin indah, selain hamparan sawah dan kebun sayur, juga bisa kulihat beberapa tempat wisata alam dari mulai waterpark, area outbound, sampai rafting, juga berdiri beberapa resort, villa, dan hotel. Pemandangan ini mengingatkanku pada pemandangan di Lembang, Bandung, dimana banyak tempat rekreasi bertema alam di antara perkebunan, penginapan, dan rumah warga. Di sepanjang jalan banyak yang menjual berbagai macam oleh-oleh hasil perkebunan dari mulai bawang, alpuket, pisang, durian, ubi, keripik ketela ungu dan banyak lagi.


“Nanti pulangnya kita beli alpuket ya, Kang.”


“Sip.”


“Kalau mau nanti ada tempat petik strawberi, jadi Bu Kirana bisa pilih dan petik strawberinya sendiri.”


“Di sini, Pak?”


“Iya, Bu, nanti di depan sana.”


“Kang, boleh ya, Kang?”


“Boleh, pulangnya kan?”


Aku tersenyum sambil mengangguk semangat, “Nanti pulangnya kita ke sana ya, Pak Supri.”


“Siap, Bu.”


“Dasar anak kecil,” ucap Oka yang langsung mendapat jitakan dariku.


Aaah, anak ini, hampir tiga bulan tidak bertemu dengannya membuatnya selain semakin tinggi, juga semakin menyebalkan.


Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi berbelok kiri memasuki jalan desa dimana berderet rumah-rumah warga, kebun dan tanah lapang sebelum akhirnya mobil kembali belok kiri memasuki jalan yang sedikit bergelombang, mobil berhenti di depan pagar besi dengan benteng cukup tinggi mengelilingi area peternakan, Pak Supri turun untuk berbicara dengan salah satu penjaga peternakan sebelum akhinya mereka membuka pintu pagar besi.


“Mas Andi sudah menunggu di dalam, Bu, katanya ada Pak Bayu juga.” Aku dan Caraka saling tatap mendengar Pak Supri yang telah kembali duduk di belakang kemudi memasukan mobil ke dalam gerbang yang terbuka.


Sebuah rumah bercat biru muda berdiri di sana dengan pilar-pilar kayu bercat biru tua terlihat menyangga atap teras rumah yang terlihat melebar ke samping. Terdapat beberapa pintu berderet seperti rumah petakan. Mungkin bangunan ini adalah tempat istirahat para pegawai peternakan.


Di sisi bersebrangan terlihat bangunan yang sangat luas dengan atap asbes dimana terdapat kandang kambing yang berderet rapih dan bersih berisi kambing-kambing yang sangat terawat. Terlihat beberapa pekerja sibuk membersihkan kandang, juga memberi makan.


“Mas Andi!”


Aku dan Caraka mengalihkan pandangan kami ketika mendegar suara Pak Supri menyapa seorang pria yang ke luar dari salah satu ruangan yang sepertinya kantor, mengekor di belakangnya seorang pria pertengahan lima puluhan, dengan rambut yang sebagian sudah memutih namun masih terlihat gagah, matanya menatapku penuh selidik membuat rasa gugup tiba-tiba menyerang.


“Niki Bu Kirana, sing kulo ceritaaken kolo wingi (Ini Bu Kirana, yang saya ceritakan kemarin),” ucapa Pak Supri mengenalkanku pada pria bernama Andi.


“Andi.” Pria itu menyalami kami dengan ramah, sebelum akhirnya dia mengenalkan pria paruh baya yang berdiri di sampingnya. “Ini Pak Bayu, kebetulan beliau baru pulang dari Singapura kemarin dan bersedia untuk ikut ke mari untuk bertemu dengan Mbak, dan Mas-Mas ini.”


“Saya Kirana, ini adik saya Asoka, dan ini calon suami saya Caraka.” Aku mengenalkan diri dengan jantung berdebar menerima uluran tangan pakde Bayu yang masih menatapku dan Oka dengan penuh selidik.


“Masuk … kita ngobrol di dalam.”


Kami bertiga ikut masuk ke dalam ruangan yang sepertinya berfungsi sebagai kantor, terdapat meja kerja lengkap dengan computer dan printer, filling cabinet, dan satu set kursi tamu. Sepertinya peternakan mereka telah terorganisasi dengan baik.


“Di, gawekno kopi papat, teh siji! (Di, buatkan kopi empat, teh satu!)” Pakde Bayu menyuruh Andi membuatkan kami kopi setelah sebelumnya dia bertanya mau minum kopi atau teh.


“Nggeh, Pak (Baik, Pak).”


Pakde Bayu kini ikut duduk bergabung di kursi tamu dengan kami bertiga.


“Saya mendengar dari Andi kalau Mbak ini mencari saya?” pakde Bayu memecah suasana ruangan yang terasa canggung dan kaku.


“Betul, Pak.”


Pakde Bayu terdiam masih menatapku dalam, sebelum akhirnya dia mengangguk.


“Apa yang bisa saya bantu?”


Diam-diam aku menelan ludah, kemudian menatap Caraka dan Oka yang balik menatapku seolah memberi semangat sebelum kembali menatap pria dengan jenggot di dagunya.


“Kami datang ke sini sebetulnya untuk mencari … Randi Prasetyo.”


Pakde Bayu terdiam beberapa saat terlihat berpikir, matanya menyipit menatapku dan Oka sebelum akhirnya membulat seolah terkejut menyadari sesuatu.


“Kalian berdua …” Sesaat dia tampak ragu, membuatku memiliki keberanian untuk memberitahu identitasku yang sebenarnya.


“Kami berdua adalah anak dari Mega Puspitaningrum dan Randi Prasetyo.”


“Astagfirullahaldzim, ya Allah!” Tanpa di duga pakde Bayu langsung berdiri kemudian memelukku dan Oka. “Ya Allah, ya Rob! Alhamdulillah - alhamdulillah ya Allah!” Pakde Bayu tak kuasa menahan kebahagiannya dia memeluk Oka dengan kencang sambil menepuk-nepuk punggungnya yang hanya terdiam.


Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ada perasaan haru juga lega melihat bagaimana pria yang tak lain dan tak bukan adalah kakak dari ayah yang selama ini kami cari ternyata menerima kami dengan tangan terbuka membuatku tersenyum, namun berurai air mata haru.


****