
Opportunity (Kesempatan)
Caraka, Pov.
Bertemankan secangkir kopi dan rokok, aku duduk di balkon apartemen memikirkan kejadian hari ini. Ketika mendengar Yesi menceritakan apa yang terjadi pada Kirana di kantin, amarahku langsung membuncah. Seharusnya aku tahu setelah hubungan kami diketahui banyak orang maka akan ada beberapa orang yang mengganggunya, tapi aku tak pernah menyangka kalau karyawan di hotel akan melakukan hal itu. Bukankah setidaknya mereka mengetahui siapa aku? Apa mereka pikir aku hanya bermain-main saja dengan Kirana, dan menganggap aku akan tutup mata atas perlakuan mereka pada Kirana.
Mereka salah besar, dan mereka akan menanggung resikonya. Aku tak punya wewenang untuk memecat mereka karena mereka tidak berada di bawah kepemimpinanku langsung, untungnya ada Yesi yang akan menghukum mereka karena bagaimana pun mereka telah melanggar kode etik sebagai seorang sekretaris. Walaupun tidak sampai dipecat, tapi peringatan yang cukup keras akan cukup membuat mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan.
Hatiku benar-benar sakit melihatnya berteriak sendirian di atas atap, seolah dia tengah bertarung sendiri, seharusnya aku berada di sampingnya tadi dan memberi mereka pelajaran ... tapi aku terlambat.
Sungguh ... sesungguhnya dia adalah perempuan tangguh yang bisa menghadapi apapun. Dulu mungkin aku tak akan begitu khawatir ketika dia harus menghadapi beberapa perempuan pengganggu yang dia sebut lalat hijau, tapi kini berbeda … gadis tangguh itu kini terluka, harga dirinya tercabik, kepercaya dirinya tergerus karena kejadian yang menimpanya.
Dia kini sedang tertatih mencoba untuk kembali bangkit, tapi seseorang seolah kembali menggaruk luka yang belum sembuh, membuat luka itu kembali menganga. Tapi lihatlah, walau dengan luka yang kembali menganga, dia masih bisa tersenyum seolah memberitahuku kalau aku tak perlu khawatir, dan dia baik-baik saja. Namun aku tahu, saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
Kalau boleh egois, aku ingin selalu berada di sampingnya, untuk menyembuhkan lukanya, kembali membangkitkan rasa percaya dirinya, tapi ucapannya tadi menyadarkanku. Dia tak bisa terus di sini ketika semua orang mengingatkannya kepada hari terburuk dalam hidupnya.
Kalau berada di tempat baru bisa menyembuhkannya, bisa mengembalikan rasa percaya dirinya dan mengembalikan dia seperti dulu, maka itulah yang harus aku lakukan ... membiarkannya pergi untuk sesaat.
Aku mengambil ponselku untuk menghubungi seseorang yang bisa menjadi jalan ke luar dari masalah yang dimiliki Kirana.
“Halo … apa harus di Surabaya? Bagaimana dengan Bandung?”
Aku menghela napas mendengar jawabannya.
“Baiklah, tapi paling lama hanya tiga bulan. Pastikan keamanan dan kenyamanannya selama dia di sana, kalau sesuatu terjadi padanya … aku tak akan melepaskanmu begitu saja, paham?”
Semoga ini yang terbaik untuknya.
*****
Kirana, pov
Hari ini adalah hari liburku, jadi aku memutuskan untuk bersih-bersih rumah kesempatan mumpung Oka si biang onar juga sedang libur jadi bisa membantuku. sedangkan Mamah tengah bantu-bantu di rumah Mpo Rohaye yang lusa akan menggelar pesta pernikahan putrinya. Kerena Mpo Rohaye orang Betawi asli, maka mereka akan membuat makanan khas Betawi seperti wajik, dodol, geplak, dan tape uli untuk sajian tamu undangan. Dan hari ini rencananya mereka akan membuat wajik dan geplak.
Mamah dan sebagian besar ibu-ibu komplek adalah para pendatang yang tidak begitu paham dengan tradisi orang Betawi, maka mereka hanya akan membantu membungkus makanan manis itu menggunakan kertas minyak warna warni, sambil bercerita, gossip sana – gossip sini. Mudah-mudahan saja aku tidak ada dalam tema gossip kali ini. Tapi mengingat akhir-akhir ini Caraka selalu mengantar-jemputku ke kantor, maka sudah dipastikan aku akan berada di urutan teratas dalam tema penggosipan kali ini.
“Kurang kanan, geser lagi sedikit.” Aku dan Oka tengah mencoba mengubah posisi kursi dan TV di ruang keluarga. “Stop!”
Aku menatap sekeliling ruang keluarga, tapi … ku lihat Oka juga tengah mengerutkan alis seperti halnya aku.
“Jadi tambah sempit, ya?”
Oka mengangguk setuju.
“Oke, kita geser lagi!”
“Biarin sajalah, Kak, nih pinggang rasanya sudah mau patah. Memang rumah kitanya saja yang sempit, mau di geser seperti bagaimana juga tetap saja sempit, kecuali kursinya kita jual terus ganti pakai karpet.”
“Benar juga.”
“Iya.”
“Tapi posisi awal tadi lumayan bikin ruangan sedikit luas. Kita, ubah lagi.”
Oka mendelik sebelum dengan cemberut dia membantuku mengubah posisi kursi dan TV.
“Oke, sempurna!” seruku sambil menatap ruang keluarga dengan puas.
“Dari kemarin juga seperti ini kaleee.” Oka menghempaskan tubuhnya di atas kursi.
“Hahaha.” Aku duduk di samping Oka sambil tertawa.
Kami memang sering ribut karena masalah sepele, tapi kami juga cukup dekat dan sebandel-bandelnya Oka, dia tidak pernah sekalipun mendebatku apalagi Mamah. Bagiku selain sebagai adik, Oka adalah segalanya. Selisih umur kami yang cukup jauh membuatnya tumbuh dalam pengawasanku, dulu ketika Mamah masih bekerja akulah yang menjaga Oka, karena itulah aku merasa kalau Oka adalah tanggung jawabku hingga dia bisa hidup mandiri.
Walau sekarang tubuhnya sudah jauh lebih tinggi dariku, bagiku dia tetaplah adik kecilku. Terkadang ketika melihat Oka yang sudah tumbuh menjadi remaja tampan, aku memikirkan Bi … bagaimana kabar dia? seperti apa dia sekarang? Sudah setinggi apa dia? Apa dia bahagia bersama Ayah? Yang pasti dia akan tumbuh menjadi gadis cantik dan periang.
Dari kecil Bi sudah terlihat cantik, dengan kulit putih, dan rambut hitam. Dia juga sangat ramah, akan tersenyum kepada siap pun, membuatnya sangat disukai. Ah, aku merindukannya ... aku saja sudah sangat merindkannya, tak terbayang serindu apa Mamah kepada Bi.
Ketukan pintu dan salam dari luar membuatku tersadar dari lamunanku mengenai adik-adikku.
“Siapa?” tanyaku sambil menatap Oka.
“Tidak tahu … suaranya mirip Kak Raka.”
Caraka? Dia tidak memberitahu akan datang. Aku berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang.
“Wa’alaikum … salam.” Aku terkejut melihat seseorang berdiri di depan pintu rumahku dengan senyum simpul khasnya. “Candra?”
“Apa aku mengganggu?”
“Tidak-tidak, aku hanya terkejut, hehehe.”
Candra ikut tersenyum. Senyum miring yang membuatnya terlihat seperti Caraka dalam versi tubuh kurus dan berkacamata.
“Duduk dulu, Dra.” Aku menunjuk kursi yang ada di teras. Di rumah memang ada Oka, tapi rasanya kurang nyaman membawa tamu pria ke dalam tanpa ada Mamah. “Sebentar ya, aku ambil minum dulu.”
“Tidak perlu repot-repot … cuma sebentar, kok, ada yang harus aku bicarakan … bisnis.”
“Bisnis?” Aku ikut duduk di teras dengan bingung.
Candra mengangguk sambil menatapku, sebelum dia kembali berkata,
“Hmmm … sebetulnya sudah lama aku ingin membicarakan masalah ini denganmu, tapi aku merasa ragu.”
“Membicarakan apa?” aku benar-benar bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Candra.
“Ok, aku langsung saja ya.” Aku menggangguk setuju. “Ingat tentang retail electronic yang ku buka di Surabaya?”
Aku terdiam mengingat pertemuan pertama kami di rumah Menteng. Candra sempat membicarakan tentang retail electronic yang di buka Mahesa group di Surabaya, dan saat itu aku membarikan sedikit masukan.
“Iya … apa ada masalah?”
“Bukan masalah tekhnis, hanya saja selain target yang sampai saat ini belum tercapai." Dia menghela napas lucu membuatku tersenyum. "Aku juga belum menemukan seseorang untuk mengisi posisi Manager MRP (Marketing Research and promotion) yang akan ku tempatkan sementara di sana.”
Candra kini menatapku dengan serius, membuatku ikut menatapnya serius.
“Selama ini aku sudah berusaha mencarinya, sudah banyak pula yang kami wawancara, tapi tidak ada yang cocok.” Dia terdiam beberapa saat menatapku yang serius mendengarkannya. “Dan satu-satunya orang yang menurutku cocok untuk posisi itu adalah … kamu.”
Aku masih terdiam sedikit terkejut mendengar perkataan Candra yang kembali menjelaskan maksud kedatangannya.
“Aku rasa kita memiliki pemikiran yang sejalan tentang bisnis, dan aku yakin kamu memiliki ide-ide yang bisa membuat toko di sana berhasil.”
Jeda kembali terjadi, dan aku masih terdiam mengerti kemana arah pembicaraan Candra. Yang dikatakan Candra itu benar dari awal kami bertemu dan berbincang, aku dan dia memiliki pola pikir yang sama tentang bisnis, yang membuat obrolan kami menjadi nyambung.
Jeda sesaat ... Candra kembali menatapku dengan serius seolah menilai apa aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini? Ya, aku bisa menebaknya. Dan tebakanku diperkuat ketika akhirnya Candra bertanya,
“Jadi … mau kah kamu menerima sedikit tantangan untuk mengisi posisi itu?"
Menjadi manager MRP memang hal yang baru untukku, tapi bukan bidang yang asing juga. Saat kuliah dulu, management pemasaran menjadi salah satu mata kuliah yang aku ambil. Jadi setidaknya aku tidak terlalu buta mengenai marketing dan ini bisa menjadi kesempatan terbaik yang aku miliki, tapi …
“Di Surabaya?”
Candra mengangguk menjawab pertanyaanku. Surabaya … artinya aku harus meninggalkan Mamah, Oka juga Caraka.
“Tiga bulan,” ucap Candra seolah mengerti tentang kegalauanku. “Maksimal hanya tiga bulan, sampai orang yang nantinya akan in charge di sana paham apa yang harus dikerjakan, dan bisa menyesuaikan diri dengan perusahaan kita.”
“Dan setelah tiga bulan?”
“Kamu akan kembali ke Jakarta, aku telah menyiapkan posisi yang pas untukmu di sini.”
Tawaran yang sangat menggiurkan. Yang pertama gaji seorang manager MRP pasti jauh di atas staff resepsionis kan? Dan yang pasti ini bidangku. Aku bisa menunjukan kemampuanku di sini. Selain itu semua, aku akan berada di lingkungan baru yang benar-benar tidak kenal siapa aku, apa hubungan aku dan Caraka, dan … tidak ada yang tahu kejadian apa yang sudah menimpaku.
Ya, ini memang kesempatan yang sepertinya tidak akan terulang lagi, jadi aku tak ingin menyia-nyiakannya. Namun bagaimana pun aku harus membicarakan masalah ini terlebih dahulu dengan Mamah juga … Caraka.
Ku harap mereka akan paham, dan mendukung keputusanku untuk menerima tawaran Candra. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali.
*****