I Don'T Want To Be Cinderella #1

I Don'T Want To Be Cinderella #1
29. Go Public




Go Public



Caraka duduk di belakang mejanya terlihat serius mendengar Hans, asisten sekaligus salah satu orang kepercayaannya di kantor.


“Salah satu dari mereka adalah putra Hadian Izam Noor.”


“Sial!” Caraka Mengumpat mendengar nama ayah dari salah satu baj*ngan itu.


Pantas saja baj*ngan itu sangat berani dengan terang-terangan melakukan tindakan tidak senonoh tanpa takut atas segala konsekuensinya. Siapa yang tidak mengenal Hadian Izam Noor, sang raja batu bara dari Kalimantan Selatan, hampir semua pengusaha besar Indonesia mengenal siapa pria yang mempunyai julukan Sultan dari Borneo itu. Yang artinya hanya tinggal menunggu waktu para baj*ngan itu melenggang bebas dari penjara, dan hanya tinggal menunggu waktu juga Big Boss memanggilnya untuk membatalkan tuntutan.


Rudi Mahesa memiliki hubungan cukup dekat dengan Hadian Izam Noor karena dia salah satu penanam modal dalam usaha batu bara sang Sultan, dan Caraka pernah beberapa kali bertemu dengan lelaki berusia 60 tahun itu ketika ayahnya mengajak dirinya dalam acara bisnis mereka.


“Bagaimana yang satunya lagi?”


“Dia putra salah satu pejabat daerah yang pernah disponsori Mahesa group waktu pemilihan.” Caraka mengangguk, setidaknya salah satu dari mereka tidak akan lolos dengan mudah. “Namun masalahnya, yang melakukan tindakan pelecehan itu adalah Ferdi Izam.”


Caraka kembali mengumpat, bagaimana dia tidak marah ketika semalam dia telah berjanji kepada Kirana kalau dia tak akan membiarkan baj*ngan itu bebas begitu saja, tapi sekarang sepertinya itu akan menjadi sulit. Namun bagaimana pun janji adalah janji, tetap harus ditepati … kalau hukum tak bisa menyentuhya, maka dia yang akan melakukannya.


***


Kirana, pov.


“Katanya semalam ada acara di kantor?” tanya Mamah penuh selidik.


Siang tadi aku memutuskan untuk pulang setelah kondisiku lebih baik karena tahu Mamah pasti tidak akan percaya begitu saja dengan alasan yang diberikan Siska, dan benar saja ketika aku pulang tadi siang, Mamah memang tidak bertanya apapun hanya menyuruhku makan terus istirahat, dan itu malah membuatku ingin menangis dan berlari ke dalam pelukannya mengadu tentang apa yang ku alami, seperti saat kecil ketika aku terjatuh aku akan berlari ke pelukannya sambil menangis.


“Iya, Mah, ada acara mendadak di hotel jadi mereka memerlukan orang lebih banyak … lumayan dapat lemburan.” Ku coba tersenyum untuk meyakinkan Mamah.


“Terus itu bibir kenapa?”


Ah, aku lupa bibirku masih sedikit bengkak walaupun sudah ku kompres es dan diberi salep. Aku pikir ini sudah tak terlihat tapi ternyata Mamah memang sangat mengenal putrinya.


“Na, Mamah memang pernah bilang kalau Caraka itu menanantu idaman Mamah, dan menyuruh kamu untuk jangan menyerah hanya karena status kalian yang berbada,” ucap Mamah sambil menatapku serius yang malah membuatku mengerutkan alis bingung. “Tapi Mamah tidak pernah menyuruhmu memakai cara singkat untuk mendapatkan restu dari keluaga Caraka.”


Cara singkat? Aku membelalakan mata tak percaya dengan apa yang dipikirkan Mamah. Aaaaah! Dasar drama queen!


“Astagfirulahaladzim, Mamah! Iiih, kenapa mikirnya aneh-aneh? Ini tuh karena Kirana kejedot, lagian semalam ada Siska juga yang ikut, Mamah tanya saja Siska, orang Kirana sama Siska … iiih, kenapa jadi Raka?”


Mamah terdiam beberapa saat menatapku yang cemberut.


“Alhamdulillah ya Allah … Mamah tuh takut tahu enggak, Na? Mamah pikir kamu kenapa-kenapa waktu Siska datang ambil baju ganti kamu soalnya kan aneh kamu tidak menghubungi Mamah, malah menghubungi Siska malam-malam, makanya Mamah legaaa banget waktu kamu pulang, tapi melihat bibir kamu yang luka Mamah jadi mikir yang aneh-aneh.”


“Makanya jangan kebanyakan nonton drama Korea deh, Mah, terus masa Mamah tidak percaya sama Kirana sih?”


“Percaya, Na, tapi yang namanya nafsu setan itu benar-benar membutakan.” Mamah kini menatapku serius. “Mamah titip ya, Na, sesuka apapun bahkan secinta apapun kamu sama pria. Siapapun itu, bagaimana pun dia … kamu harus bisa menjaga diri dan kehormatanmu.”


Aku menanggangguk sambil tersenyum kemudian memeluk Mamah, berusaha menyembunyikan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak, mengembalikan kembali ingatan tentang kejadian kemarin. Aku berusaha menjaga diriku dengan sebaik-baiknya, tapi bagaimana kalau seseorang mencoba merenggutnya dengan paksa seperti kemarin?


Bulu kudukku tiba-tiba meremang, tubuhku terasa dingin membuatku semakin mengeratkan pelukan, mencari kehangatan dan kenyamanan dari pelukan mamah.


“Tenang saja, Mah … insyaallah, Kirana bisa menjaga diri Kirana … Mamah doain Kirana ya, supaya selalu diindungi.”


“Iya, Mamah doain biar kamu, Bi dan Oka selalu dalam lindungan Allah, hidup dalam kebahagian … dan bedoa mudah-mudahan Caraka memang yang terbaik buat kamu.”


“Hahaha … aamiin”


Aku tertawa mendengar doa terakhir Mamah. Aah, Mamah memang selalu bisa membuatku tertawa walau terkadang daya khayalnya melebihi penulis skenario sinetron tv ikan terbang.


Tapi ternyata bukan cuma Mamah, Oka pun menatapku dengan curiga … mereka memang 11-12 kalau soal khayal mengkhayal.


“Bilang Kak Raka … jangan terlalu ganas.”


Beberapa saat aku terdiam mencerna ucapan Oka, sebelum akhirnya mengerti setelah melihatnya menyeringai sambil menunjuk bibir.


“Nih, ya! Otaknya tolong dikondisikan!” Aku memiting kepalanya kemudian menjitaknya gemas membuat Oka berteriak dan membalas dengan menjambak rambutku.


“Aaaaahh!” Aku berteriak dengan kepala mendongak, tanganku kini balas menjambak Oka, “Lepasin nggak?”


“Kakak duluan yang lepasan!”


“Enak saja!”


“Lepasin bareng-bereng!”


“Dalam hitungan tiga!”


“Satu … tiga!”


“Hahaha … kamu pikir bisa membodohi ku, anak kecil!”


Oka mendelik dipanggil anak kecil.


“Mamah, mau bantuin Mpo Rohaye bikin dodol ya,” ucap Mamah santai sambil membetulkan jilbabnya tak peduli melihatku dan Oka yang tengah saling jambak. “Kakak … Oka, Mamah pergi dulu ya.”


“Iyaaa,” jawabku dan Oka berbarengan dengan tangan masih saling jambak.


“Oh, iya di kulkas ada cheese cake dari Bu Yati semalam. Cuma satu.” Aku dan Oka saling lirik. “Jadi … ya terserah deh buat siapa saja.”


Aku dan Oka kembali saling lirik, secepat kilat kami melepaskan jambakan kami kemudian berlari menuju kulkas. Sial! Aku kalah langkah dari Oka yang kini tersenyum penuh kemenangan sambil membuka pintu kulkas. Kepalanya bahkan masuk ke dalam lemari pendingin ini, celingukan mencari cake kesukaan kami berdua.


“Tidak ada,” ucap Oka membuatku ikut mencari di dalam lemari kulkas.


“Oh, tidak ada ya?” Aku dan Oka mengangguk.


Mamah terdiam beberapa saat terlihat berpikir, kemudian Mamah menepuk jidatnya sambil tersenyum. “Ternyata semalam Mamah cuma mimpi, hehehe … assalamualaikum.”


Mamah dengan senyum lebar pergi meninggalkanku dan Oka yang masih berdiri mematung.


“Ya Allah, apa salah hamba punya Ibu dan Kakak seperti ini,” ujar Oka sambil berjalan dengan gontai menuju ke kamarnya.


Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa sambil menggelengkan kepala. Aku memang memiliki seorang Ibu yang drama queen, tapi dia adalah Ibu paling luar biasa yang ku tahu. Dan Oka adalah adik yang menjengkelkan, tapi percayalah seandainya sesuatu terjadi padaku dia yang akan pertama kali pasang badan untuk melindungiku dan seandainya dia tahu apa yang menimpaku semalam, aku yakin dia akan sama gilanya dengan Caraka, atau bahkan mungkin lebih.


Dan berbicara mengenai Caraka … ku sentuh bibirku dan … aaah, aku maluuu!!!


Pengobatannya ternyata sangat ampuh. Ketika ku berkaca, kini bukan kenangan buruk yang terlihat, tapi malah kejadian pengobatan yang dilakukan Caraka … hahaha, Kirana, dasar mesum! Apa yang kamu pikirkan!!!


*****


Aku baru selesai sholat isya ketika ponselku berbunyi, sambil melipat mukena ku lihat nama Kang kopi terpampang di layar membuatku tersenyum.


“Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam … bagaimana Mamah? Curiga?”


Aku tersenyum mengingat Mamah malah mencurigai hal lain.


“Iya.”


Hening sesaat.


“Aku sudah bilang tadi, sebaiknya kamu pulang besok saja, biar kondisimu membaik dulu.”


“Aku sudah lebih baik dan kalau aku tidak pulang hari ini, itu malah membuat Mamah tambah curiga, tadi saja pikiran Mamah sudah macam-macam.”


“Kenapa?”


“Mamah itu drama queen, terlalu banyak nonton drama Korea jadi terkadang daya khayalnya cukup tinggi, persis Oka.”


“Hahaha … ya sudah, alhamdulillah kalau semua baik-baik saja.”


“Iya … masih di kantor?”


“Iya, sebentar lagi pulang … besok kamu masuk kerja atau masih mau istirahat? Kalau masih mau istirahat nanti aku bilang Pak Edi kalau kamu cuti untuk beberapa hari.”


Jujur saja, aku masih sedikit merasa tidak nyaman kalau harus masuk kerja … ada perasaan takut kalau harus berhadapan dengan tamu pria, dan rasanya belum siap ketika menghadapi tatapan dari orang-orang yang mengetahui kalau aku korban pelecehan, tapi …


“Tidak, besok aku akan masuk kerja.”


Ya, aku tidak boleh kalah dan malah membuatku terkungkung dalam ketakutanku sendiri yang tanpa akhir. Aku harus kembali memupuk rasa percaya diriku dengan menghadapi ketakutan serta rasa traumaku.


Tapi rupanya bukan ketakutan akan pandangan orang-orang dan rasa trauma yang harus kuhadapi pertama kali ketika aku memutuskan masuk kerja, melainkan tatapan rekan-rekan kerjaku karena mengetahui hubunganku dengan Caraka. Bukan hanya rekan-rekanku di divisi yang sama, tapi … semua divisi … yap, satu kantor!


Seperti yang sudah dijanjikan pagi-pagi Caraka datang untuk menjemputku. Tidak ada yang aneh kan? Hanya aku dan Caraka yang pergi ke kantor bersama, hanya itu kan? Ternyata tidak!


Sesampainya di kantor dia memarkirkan mobil di tempat parkir direksi. Tidak aneh kan? Tidak, itu wajar.


Dia membuka kan pintu untukku? Ini juga tidak aneh kan? Tidak, itu juga wajar, dia memang suka membukakan pintu untukku.


Kami berjalan berdampingan? Ok, ini juga tidak aneh, sangat wajar dan biasa malah.


Tapi, tunggu sebentar! Sekarang pandangannya di turunkan sedikit … sedikit lagi … tepat ke arah tangan kami … yap! Semua terlihat wajar kecuali tangannya yang terus menggenggam tanganku mulai aku ke luar dari mobil, tak memedulikan aku yang terus merengek agar dia melepaskan genggaman tangan kami karena malu menjadi tontonan semua orang.


“Lepasin, malu dilihatin,” bisikku ketika kami tengah menunggu lift bersama dengan yang lainnya yang diam-diam mencuri pandang ke arah kami (termasuk Pak Edi san Shanty).


Dia hanya menatapku kemudian menatap semua orang yang ada di belakang kami yang sekarang terlihat sibuk menatap kanan-kira, atas-bawah.


“Tidak, mereka tidak sedang melihat kita,” ucapnya santai sambil kembali mengetik sesuatu pada ponselnya dengan sebelah tangan.


Aku hanya bisa menunduk sambil menutup wajahku dengan tangan kiri berpura-pura tak melihat tatapan penuh selidik dari orang-orang yang terpantul jelas di pintu lift yang kini terbuka membuat Caraka langsung menarikku masuk ke dalam.


Hening …


Ini adalah suasana di dalam lift tercanggung yang ku rasa, semua orang terdiam dan sepertinya masih penasaran dengan Caraka yang masih belum mau melepaskan genggamannya.


“Nanti siang kita makan bersama,” ucapanya memecah keheningan, dan itu malah membuat suasana di dalam lift tambah hening, semua orang kini bahkan seolah menahan napas penasaran dengan percakapan kami.


Aku hanya bisa menghela napas pasrah sambil menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Sayang, nanti kamu mau makan apa?”


“Terserah,” jawabku semakin pasrah.


Kini dia bahkan memanggilku sayang di depan semua orang membuatku ingin sekali memiliki jurus ninjutsu hingga bisa berteleportasi dengan mudah menghilang dari sini. Tidak sampai di sana, bahkan ketika pintu lift terbuka di lantai dua dimana akhirnya dia melepas genggaman tangannya yang membuatku bernapas lega, tapi kemudian berjalan dengan cepat berusaha melarikan diri sambil berusaha menutup mukaku yang sudah memerah menahan malu mendengarnya berteriak,


“Love you … see you, honey!”


Aaaah … dia sangat menyebalkan!!!


*****


Note :


Ninjutsu : Jurus berpindah tempat yang biasa digunakan oleh para ninja (Maaf authornya kebanyakan nonton Naruto)


Terima kasih Mbak Sulis untuk konsultasi masalah psikologisnya Kirana ... barokallah, Mbak Sulis 😘😘😘😘