
Candra sudah pulang meninggalkan Oka yang masih heboh setelah tadi melihat mobil impiannya terparkir di depan rumah, dan dengan noraknya dia bahkan meminta izin untuk berfoto di depan mobil Wrangler hitam milik Candra. Bikin malu saja!
“Pakai ini dong, biar tambah keren.” Candra memberikan kaca mata hitamnya membuat Oka semakin menjadi.
Cekrek sana, cekrek sini, dia bahkan menyuruhku untuk jadi juru foto.
Tidak sampai di sana, Candra juga menawarkan Oka untuk mengendarai mobilnya keliling komplek yang langsung di terima Oka dengan senang hati.
“Maaf, dia terkadang memang suka bikin malu.”
“Hahaha, tidak masalah.”
Candra hanya tertawa melihat kelakuan norak Oka, dan kini si norak itu tengah pamer foto-fotonya di media sosial yang ternyata cukup banyak pengikutnya.
Aku masuk ke kamar dan membaringkan tubuhku, memikirkan tawaran Candra. Seandainya itu di Jakarta, aku akan menerimanya tanpa berpikir lagi, tapi Surabaya … apa Mamah akan mengizinkan ku pergi? Apa Caraka akan menungguku selama tiga bulan ini?
Ku tatap ponsel … keinginan untuk menghubungi Caraka dan memberitahu tentang ini sangat besar, tapi aku mengurungkannya. Ku simpan kembali ponsel ku di atas bantal, niatan hati ingin tidur siang sesaat akan tetapi mata tak mau juga terpejam. Alhasil aku hanya telentang sambil menatap langit-langit kamar, dengan pikiran mengembara memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi
Sekitar jam tiga Mamah pulang dengan membawa wajik dan geplak oleh-oleh dari Mpo Rohaye juga cerita kalau lagi-lagi aku menduduki posisi top gossip. Sudah ku duga.
“Mereka tanya kapan kamu nikah? Katanya umurmu sudah tua, dan tak baik kalau pacaran lama-lama.”
“Terus Mamah bilang apa?” Aku membuka bungkus kertas wajik berwarna merah dan memakannya. Rasa manis gula merah dan gurihnya beras ketan langsung memenuhi mulut.
“Mamah bilang, kalau mereka mau membiayain nikahan kamu, besok juga kamu Mamah nikahin.”
“Hahaha … terus?”
“Ya sudah mereka diam … lha, anak mereka saja ada yang belum sunat, belum nikah Mamah tidak pernah protes, kok mereka repot ngurusin kamu.”
“Lumayan, Mah, dosa Kirana berkurang karena diomongin orang.”
Mamah tersenyum sambil berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.
“Tapi mereka ada benarnya juga. Tidak baik pacarana lama-lama.”
“Belum lama kok, baru … beberapa bulan.”
Berapa bulan ya aku jadian sama Caraka, darimana aku harus mulai menghitungnya? Dari mulai aku memberinya kesempatan di Ancol? Atau saat aku bertemu dengan keluarganya? Apa saat malam kejadian ketika dia mengatakan dia mencintaiku?
Aku baru menyadari kalau ternyata aku dan Caraka tidak memiliki tanggal jadian yang pasti. Ah sudahlah, yang pasti kami saling menyukai. Titik.
Mamah kembali ke ruang keluarga dengan segelas air putih, duduk di sampingku sambil menonton TV.
“Oka kemana?’
“Pergi tadi di samper Deni.”
Mamah mengangguk mengerti. Oke, aku rasa ini saatnya!
“Mah.”
“Hmm.”
“Mah.”
“Ya?”
“Mah.”
Mamah menatapku sambil berkata, “Apa? Dari tadi cuma mah-mah-mah saja.”
“Hehehe.” Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.
“Kenapa?”
“Hmmm … seandainya nih, Mah. Ini seandainyanya saja ya, Mah. Ingat seandainya!”
“Iya … seandainya apa?”
“Seandainya ada yang menawarkan pekerjaan untuk posisi yang jauh lebih baik, dengan gaji yang jauh lebih baik juga, tapi … hmmm itu di luar kota, Mamah bakal terima atau tidak?”
Mamah terdiam beberapa saat menatapku.
“Perusahaannya jelas tidak?”
“Sangat jelas, anak perusahaan baru dari group yang sudah go pubic juga.”
“Posisinya apa?”
“Manager MRP”
“MRP?”
“Ah, marketing research and promotion.”
Mamah kembali terdiam menatapku yang dengan semangat menjawab pertanyaan Mamah.
“Luar kotanya dimana?”
“Surabaya, tapi hanya tiga bulan setelah itu kantor di Jakarta.”
Mamah kembali terdiam, tapi kali ini sedikit agak lama membuatku sedikit berdebar menunggu jawaban Mamah.
“Kapan mulai?”
“ASAP (As soon as possible) … secepatnya.”
Mamah menatapku lekat dan kembali terdiam membuatku kembali berdebar, ku lihat Mamah mengambil napas dalam sebelum berkata,
“Ambil, kesempatan yang sangat bagus.”
“Aaaahhh!” Aku langsung memeluk Mamah sambil berteriak bahagia. “Terima kasih, Mah! Thank you so much! Arigatoo gozaimasu.”
Mamah tertawa sambil mengelus punggungku.
“Jadi, siapa yang menawarimu pekerjaan ini.”
“Candra, adiknya Raka.”
“Adik Caraka?”
Aku mengangguk semangat.
“Iya, beberapa kali Kirana memang sempat bertemu dengan Candra dan membicarakan bisnis ini, dan tadi dia ke sini memberitahu kalau sampai saat ini dia belum menemukan seseorang yang cocok, dia berharap Kirana mau mengisi posisi itu.”
“Caraka sudah tahu?”
“Belum … Kirana akan memeberitahunya sekarang.”
Aku dengan cepat berjalan ke kamar diikuti tatapan Mamah. Sesampainya di kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur dan mengambil ponsel kemudian menghubungi Caraka.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Sibuk tidak?”
“Tidak, ada apa sepertinya senang banget.”
“Hehehe … ada yang harus aku bicarakan, tapi tidak enak kalau di telepon.”
“Ya sudah, pulang kerja nanti aku ke rumahmu.”
“Atau kita bertemu di luar saja, biar kamu tidak kejauhan.”
“Tidak perlu, aku ke rumahmu baru kita cari makan. Aku usahakan magrib sudah sampai rumah.”
“Hmmm … baiklah, sampai nanti. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Satu izin telah ku kontongi, tinggal izin satu lagi maka semua akan beres. Mungkin lebih tepatnya bukan izin yang ku perlukan dari Caraka, hanya kepastian apa dia akan menungguku tiga bulan ini? Dan ku harap dia kan melakukannya.
Seperti yang dijanjikan sekitar jam enam Caraka sampai di rumah, langsung menuju masjid bersama Oka untuk shalat magrib berjamah.
“Na, kamu pergi beli makan buat Caraka.”
Aku baru ke luar dari kamar selepas shalat magrib, dan Mamah terlihat tengah menyeduh kopi untuk Caraka.
“Kami mau makan di luar, Mah.”
“Makan di rumah saja, kasian Caraka pulang kerja jauh-jauh ke sini belum istirahat masa pergi lagi, macet-macetan … kasian, pasti capek banget.”
Mamah benar, dia pasti sangat lelah. Jakarta pada jam pulang kerja, jangan dibayangkan bagaimana macetnya, yang pasti bikim stress. Akhirnya aku menuruti perintah Mamah, pergi untuk membeli soto Betawi yang cukup terkenal di daerah kami. Untung saja keadaan kedai soto Betawi tak seramai biasanya, jadi aku tak perlu mengantri lama.
Setengah jam kemudian aku telah kembali ke rumah. Mamah dan Caraka tengah mengobrol di ruang tamu terlihat serius membuatku langsung berjalan ke dapur dengan rasa penasaran tentang apa yang mereka obrolkan. Di ruang keluarga terlihat Oka sedang cengengesan sambil menatap ponselnya yang memerlihatkan laman media social miliknya.
“Pembohongan publik tuh!” Aku berkata sambil menuang soto berisi daging sapi dengan kuah putih campuran susu dan santan ke dalam mangkuk. “Di dunia maya foto naik mobil Wrangler, Audi, kadang Lamborghini, aslinya naik motor bebek yang belum lunas.”
“Hahaha, gue kan tidak pernah bilang mobil itu punya gue, Kak, mereka saja yang salah berasumsi.”
Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Oka sambil memasukan emping goreng ke dalam toples, sambal ke dalam mangkuk kecil dan acar timun dan wortel ke dalam mangkuk kecil.
“Ka, bantuin bawain makan ke sana.” Aku memindahkan nasi dari magic com ke dalam mangkuk besar untuk di bawa ke depan.
“Siap, Boss!” Oka berdiri dan mulai mengangkut satu-satu makanan ke ruang keluarga.
Aku berjalan ke arah kitchen set untuk mengambil piring dan sendok, menaruhnya di meja depan tv, kemudian memanggil Mamah dan Caraka yang masih berbicara untuk makan malam. Namun sepertinya pembicaraan Caraka dan Mamah tak seserius yang ku bayangkan. Mereka terlihat biasa saja ketika makan malam, bercanda, tertawa mendengar ocehan Oka yang katanya semakin banyak pengikutnya di media sosial karena dia memposting foto-foto dengan mobil-mobil mewah.
Setelah makan malam, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan Caraka. Kami memutuskan berbicara di teras, supaya Caraka bisa merokok.
“Tadi … Candra datang ke sini.” Akhirnya aku berani memulai pembicaraan yang menjadi pokok dan tujuanku bertemu dengannya hari ini.
“Candra?” Caraka menghentikan aktifitasnya yang hendak menghisap rokok, dia kini menatap ke arahku sedikit terkejut.
“Iya, dia … menawarkanku posisi sebagai manager MRP … di Surabaya.”
Aku terdiam mencoba menilai reaksinya mendengar ucapanku, tapi dia hanya terdiam menatapku, rokoknya pun dibiarkan terbakar begitu saja.
“Apa kamu menerimanya?”
“Belum, aku baru berbicara dengan Mamah.”
“Apa Mamah mengizinkan?”
“Iya. Mamah mengizinkanku.”
Caraka kembali terdiam kemudian mengangguk mengerti. Dia menghisap rokoknya kemudian perlahan menghembuskan asapnya, wajahnya kini terlihat menerawang membuatku hatiku terasa sedih.
“Apa kamu akan mengizinkanku pergi dan menungguku?” Aku memberanikan diri bertanya.
Dia kembali menatapku dalam diam, sebelum akhirnya tersenyum sambil mengangguk membuatku tersenyum lega.
“Dengan satu syarat!”
“Syarat?” Aku menatapnya bingung.
“Iya.”
“Apa?”
“Jangan selingkuh,” ucapnya membuatku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa.
“Hahaha … tenang saja, aku tipe perempuan yang setia.”
“Pokoknya kalau sampai di sana macam-macam aku akan langsung ke sana dan menarik mu kembali ke Jakarta. Paham?”
“Hahaha, iyaaa!”
“Aku akan menunggumu, pastikan kamu kembali dengan hati yang masih sama.”
Aku tersenyum kemudian menggangguk yakin.
“Jaga hatimu selama aku tidak ada, jangan biarkan para lalat hijau mendekatimu.”
Dia tertawa sambil mengelus rambutku.
“Tenang saja, aku akan membawa pestisida kemanapun aku pergi supaya tidak ada yang berani mendekatiku.”
Aku merangkul lengannya erat sambil tertawa. Rasanya senang juga sedih secara bersamaan karena baik Mamah maupun Caraka mengizinkan ku untuk mengambil kesempatan itu, tapi juga sedih karena artinya aku harus berpisah beberapa waktu dengan mereka. Orang-orang berharga dalam hidupku.
Satu hal lagi yang patut aku syukuri, aku pikir akan sedikit kesulitan untuk meyakinkan Caraka, mengingat dia sedikit posesif … tapi ternyata semua terasa mudah, tidak ada penolakan maupun pembantahan seperti yang dia lakukan selama ini. Apa aku yang terlalu percaya diri kalau dia akan sulit melepasku pergi jauh? Atau karena dia benar-benar mempercayaiku, hingga semudah itu memberiku izin?
Ya, apapun alasannya yang pasti aku akan membuktikan padanya juga kepada Candra yang sudah memercayaiku, kalau aku tak akan membuat mereka kecewa. Akan ku tunjukan kemampuan terbaikku.
*****