
Heaven (Surga)
“SAH!”
Nyaring terdengar jelas dari riuhnya orang-orang yang menyaksikan acara akad yang diselenggarakan di depan. Kini terdengar penghulu tengah membacakan doa setelah akad membuat Kirana ikut tertunduk dan mengamini doa-doanya.
“Selamat, Kak. Kakak sekarang sudah resmi menjadi seorang istri.” Anggi memeluknya dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
“Ya ampun, Na, kenapa gue yang terharu.”
Siska memeluk Kirana yang terlihat sangat cantik dengan kebaya pengantin sunda lengkap dengan siger dan untaian melati dari sanggul yang menjuntai hingga pundak kiri.
“Maskawinnya gila banget!” geram Siska di telinga Kirana yang hanya tersenyum mendengarnya.
Jadi entah apa yang membuat Siska terharu, apa karena Kirana yang telah sah menjadi seorang istri, atau jumlah maskawin yang diberikan Caraka untuknya?
Kirana teringat pertanyaan Caraka sebelum mereka melakukan acara lamaran. Saat itu mereka tengah duduk di balkon apartemen Kirana dengan secangkit kopi di tangan masing-masing.
“Maskawin apa yang kamu inginkan untuk ku bawa nanti?”
“Saham M group!” canda Kirana sambil tertawa terbahak membuat Caraka tersenyum. “Apapun selama itu tidak memberatkamu dan berguna untukku. Segram emas pun tidak masalah,” jawab Kirana setelah dia berhenti tertawa dan menatap Caraka lembut.
Daaan maskawin yang menjadi candaan Kirana hari itu terucap dari mulut Andi Santoso ketika akad tadi.
“Bismillahirahmannirrahim saya nikahkan dan kawinkan putri kandung saya Kirana Az Zahra binti Randi Prasetyo kepada engkau Caraka Benua bin Rudi Mahesa dengan mas kawin 5% saham Mahesa group dan satu set perhiasan emas putih seberat 80 gram bertahtakan berlian 8 karat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Az Zahra binti Randi Prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
Semua orang terbelalak mendengar mahar yang diucapkan Andi Santoso dan disetujui oleh Caraka dalam kalimat yang terucap dalam satu helaan napas.
“Mbak Kirana ayo siap-siap!” ucap staff WO menyadarkan Kirana kembali dari lamunannya.
Kirana berdiri dengan gugup, beberapa kali dia menghembuskan napas pelan untuk mengurangi rasa gugup dan menenangkan degupan jantungnya yang menggila.
“Cieee … yang tegang mau ketemu suami,” goda Siska membuat Kirana melotot ke arahnya, tapi kemudian tersenyum dengan pipi memerah setelah mendapat tatapan menggoda dari semua orang di ruangan itu.
Ya, ini akan menjadi kali pertama Kirana bertemu dengan Caraka sebagai suami istri setelah sebulan lamanya tak bertemu.
“Sudah siap, Teh?”
Kirana mengangguk menjawab pertanyaan Oka yang terlihat tampan dengan beskap merah marun lengkap dengan blangkon dan keris yang tersampir di pinggang. Dengan digandeng Oka dan Anggi, Kirana mulai melangkah menuju depan dimana akad nikah di lakukan.
Ketika semalam Kirana dan ayahnya telah berbicara berdua. Andi Santoso kedatangan bapak-bapak yang berperan sebagai panitia untuk akad beserta dari pihak KUA untuk meninjau lokasi akad. Dan setelah berembuk mereka memutuskan memindahkan tempat akad ke rumah saja, untuk efesiensi waktu mengingat setelah akad akan dilakukan sedikit acara adat sunda, lanjut dengan resepsi di rumah, dan persiapan untuk resepsi di hotel malamnya.
Untung saja pihak WO bersedia menyeting tempat untuk acara akad dadakan dengan sedikit merapihan kembali area siraman yang masih terpasang cantik, dengan menaruh meja dan kursi untuk calon pengantin, wali, penghulu dan saksi.
Kirana terus berjalan dengan kepala tertunduk malu, jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya, dengan dibantu kedua adiknya dia kini duduk di samping Caraka. Tak berani Kirana untuk melihat ke samping walau hanya sedikit melirik. Dia diam tertunduk dan hanya mengikuti semua arahan penghulu untuk menandatangani buku nikah dan sertifikat. Dadanya berdesir ketika mendengar suara Caraka yang membaca sighat ta’lik (janji suami). Kepalanya semakin tertunduk ketika ustad Ahmad membacakan doa nikah yang diamini seluruh yang hadir sebagai akhir dari prosesi akad.
“Alhamdullah, semua prosesi akad nikah telah selesai,” ucap MC mengakhiri acara akad nikah.
Dengan arahan MC, kedua orangtua mereka membantu pengantin berdiri. Beberapa staff WO dengan cepat membereskan kembali meja dan kursi yang tadi dipakai untuk akad, beberapa dari mereka pun dengan sigap merapikan pakaian kedua mempelai.
Caraka dan Kirana kini saling berdiri berhadapan dengan jarak satu meter dengan kedua orangtua di sisi mereka.
“Teteh Kirana, angkat kepalanya biar akang Raka bisa melihat wajah cantik teteh,” ucap MC membuat semua orang tersenyum menggoda Kirana yang pipinya memerah.
Dengan perlahan wajah Kirana terangkat, matanya kini menatap sosok Caraka yang terlihat gagah dengan beskap putih gading beraksen silver lengkap dengan keris yang tersampir di pinggang dan blangkon putih menutup kepalanya.
Mata mereka saling mengunci dengan senyum di wajah keduanya.
“Aduuuh … meni romantis gitu ya saling tatapnya juga.”
“Hahaha.”
Semua orang tertawa dan Kirana kembali menundukan wajah dengan senyum malu menghias wajahnya.
“Gak apa-apa sekarang mah sudah sah! Lebih dari tatap-tatapan juga boleh.” Semua orang kembali tertawa. “Tapi nanti jangan sekarang. Sabar ya, Kang. Iiih, si akang meni udah gak sabar gitu … sekarang kita lanjut dulu prosesi adatnya dulu ya, Akang kasep, iiih meni kasep gini si akang. Eh! Punten, Teh, meni langsung menatap horror gitu akangnya dibilang kasep sama saya. Tenang, Teh, akang Raka mah hanya untuk teteh Kirana seorang.”
Semua orang kembali tertawa terbahak mendengar ucapan MC yang ceriwis.
Beberapa staff WO menaruh telur di depan kaki Caraka yang kemudian ditutupi oleh papan berukuran 15 cm berwarna putih, di sampingnya disediakan nampan berisi kendi dari tanah liat, beberapa batang lidi sepanjang 20 cm, korek api, dan handuk kecil.
Mengikuti arahan MC, Caraka menginjak telor yang menggambarkan kemampuan suami untuk memberikan keturunan.
“Alhamdulillah si akang meni strong gitu, sekali injak langsung pecah,” ucap MC yang membuat semua terbahak, dan Caraka hanya tersenyum lebar bangga. “Sekarang teteh cuci kaki akang, sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami.”
Dengan menggunakan air dalam kendi Kirana membasuh kaki Caraka kemudian mengelapnya dengan handuk yang telah disediakan, setelah selesai Caraka membantu Kirana berdiri membuat mereka berdiri berhadapan.
“Assalamualaiku, istriku,” bisik Caraka sambil tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kirana dengan senyum malu kemudian mencium tangan Caraka sebagai bakti dan hormatnya kepada sang suami.
Tidak selesai sampai sana, Kirana dan Caraka juga menjalani prosesi adat lainnya seperti membakar lidi, kemudiannya mereka tiup. Lidi yang masih terbakar bara mereka masukkan secara bersama-sama ke dalam kendi berisi air yang memberi makna ketika ada masalah dalam rumah tangga sebaiknya diselesaikan dengan cara bersama-sama dan dengan kepala dingin.
Setelah itu mereka melakukan saweran yang membuat heboh semua tamu yang saling berebut uang dan permen yang bermakna kemakmuran dalam rumah tangga yang manis bagi kedua mempelai. Mereka juga melakukan acara huap lingkung (saling suap), rebutan bakakak, sampai dengan sungkeman yang memiliki banyak makna dan pembelajaran tentang pernikahan di balik semua prosesi adat itu.
Melelahkan tapi menyenangkan. Senyum, tawa dan tangis haru menghiasi semua acara pagi itu, dari mulai akad sampai dengan acara adat dilanjutkan dengan menyambut para tamu undangan warga sekitar yang dihibur oleh organ tunggal sebagai sumbangan dari keluarga Siska.
“Biar nggak sepi,” ucap ayah Siska kala itu. Dan itu benar-benar menghidupkan suasana saat ini.
Saat ini mereka berdua tengah makan siang, duduk di antara keriuahan sisa pesta. Keluarga Caraka sudah pulang untuk bersiap acara resepsi nanti malam, kedua orangtua Kirana masih berkumpul dengan para para tetangga yang masih betah berada di sana. Sesekali terdengar gelak tawa mereka karena melihat kelakuan Oka, Siska dan Kayas yang heboh di atas panggung organ tunggal.
“Sayang, pelan-pelan makannya.” Caraka sambil menepuk punggung Kirana pelan.
“Kalau ada yang dengar gimana?” geram Kirana dengan wajah merah padam.
Caraka terdiam beberapa saat sebelum dia tertawa terbahak-bahak.
“Sayang, maksudku itu apa kamu masih sanggup untuk resepsi nanti malam?”
Kirana terdiam kemudian meringgis menunduk menyadari kesalahannya.
“Atau kamu mau kita melewati resepsi, kita langsung saja melakukan apapun yang kamu pikirankan tadi? Aku sudah sangat siap untuk itu.” Caraka mengangkat alis matanya iseng membuat Kirana terbelalak dengan wajah semakin merah padam, dan Caraka kembali terbahak.
“Sabar … kamu dengar tadi?” Kepala Caraka mendekati telinga Kirana untuk berbisik, “Aku strong! Hahaha!”
Caraka tertawa terbahak-bahak sambil melindungi tubuhnya dari pukulan Kirana yang wajahnya kini semerah kepiting rebus.
***
Ballroom terbesar di hotel M telah dihias sedemikan megah dengan bunga warna-warni menghiasi pelaminan. Meja-meja bundar dengan kursi-kursi dipasang memenuhi ¾ area gedung dengan buket bunga cantik di setiap meja yang ditutup taplak bernuansa biru muda yang diisi oleh para pesohor tanah air dari mulai model dan artis papan atas, para pengusaha yang menjadi rekan kedua pihak keluarga juga pengantin pria, sampai para sahabat dari kedua mempelai yang tengah menikmati makanan terbaik yang tersaji.
Di sisi kanan terdapat area VIP dimana pejabat dan orang-orang berpengaruh negri ini mengisi area itu, di antaranya adalah Jendral Yudha Adipati Pratama yang menjabat sebagai ketua BIN yang tak lain adalah teman SMA dari Rudi Mahesa, yang hadir bersama istri cantiknya, putra sulungnya, Arjuna, yang merupakan salah satu rekan bisnis Caraka, dan juga menantu kesayangan mereka, Senja, yang terlihat sangat cantik.
Namun yang menjadi ratu malam ini tetaplah sang pengantin perempuan yang terlihat luar biasa cantik dengan kebaya modern berwarna magenta senada dengan jas yang dikenakan Caraka.
Kebaya dan jas yang kini telah terongok di salah satu sudut honeymoon suite hotel M dimana Kirana dan Caraka menginap malam ini.
Mereka berdua duduk berhadapan di atas sejadah setelah shalat sunah dua rakat. Telapak tangan Caraka kini berada di atas ubun-ubun Kirana yang tertunduk dengan jantung berdegup kencang, hatinya berdesir ketika Caraka mulai melafazkan bacaan sunah suami kepada istri ketika sudah menikah, diakhiri dengan ciuman di kening oleh Caraka.
“Jadi …” Kirana mendongak menatap Caraka yang menatapnya lembut sambil tersenyum. “Sudah siap untuk merepresentasikan apapun yang kamu pikirkan tadi siang?” Tanya Caraka sambil membuka mukena Kirana dengan lembut.
Blush!!!
Wajah Kirana merah padam jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat sebelum akhirnya berdetak menggila, dan bertambah menggila hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar karena gugup ketika Caraka memapahnya ke arah tempat tidur.
Kirana menelan ludahnya kasar setelah mereka berdua sama-sama duduk di atas kasur, perutnya merasakan gelenyar aneh ketika Caraka mencium pipinya lembut.
“Jangan tegang,” bisik Caraka di telinga Kirana sebelum dia menggigitnya pelan membuat bulu kuduk Kirana meremang.
Caraka kembali mencium pipi, kening dan hidung Kirana sebelum akhirnya dia menautkan bibir mereka. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi entah kenapa saat ini rasanya berbeda, apa mungkin karena mereka kini tengah beribadah, bukan melakukan sesuatu yang dilarang?
Untuk pertama kalinya Kirana merasakan gelenyar-gelanyar aneh yang menyenangkan pada tubuhnya membuat tubuhnya lemas seolah tak bertulang, bahkan tanpa dia sadari dirinya kini sudah terbaring di atas tempat tidur dengan tautan yang semakin dalam dan semakin menuntut.
Caraka melepaskan tautan mereka hanya untuk menatap wajah kirana yang memerah, bibirnya sudah sedikit bengkak karena tautan tadi, membuat Caraka tersenyum.
“Cantik … sangat cantik,” ucapnya. Jempolnya mengelus bibis Kirana yang membengkak. “Am I hurt you (Apa aku menyakitimu)?”
Kirana hanya menggeleng, bibirnya kelu tak bisa berkata apa-apa matanya hanya menatap mata Caraka yang seolah menghipnotisnya.
Caraka tersenyum lembut sambil berkata, “I promise, I won’t hurt you (Aku janji, aku tak akan menyakitimu).”
Kirana mengangguk sambil menelan ludahnya dengan jantung berdebar menggila. Melihat itu Caraka kembali tersenyum sambil kembali mendekatkan bibir mereka.
“It will be like in heaven (Ini akan seperti di surga),” bisik Caraka sambil kembali menautkan bibir keduanya. awalnya lembut sebelum akhirnya dalam dan semakin dalam.
Malam semakin larut memeluk dua insan yang tengah menunaikan hak dan kewajjiban mereka sebagai suami istri.
Dua insan yang memiliki latar keluarga dan kepribadian berbeda, namun dipersatukan dalam ikatan pernikahan atas dasar cinta.
Cinta yang saling memberi kekuatan.
Cinta yang mengajarkan banyak hal.
Cinta yang membuat mereka bertahan sampai akhir.
Cinta yang akan mempertemukan mereka kembali di surga.
...**** TAMAT *****...
Aaaah … akhirnya tamaaat (meregangkan badan yang terasa sangaaat pegal … tukang urut mana tukang urut???).
STOP!!! Itu coba emak-emak yang bibirnya pada merah kaya neng kunkun habis ngemut orok!! Iya itu warga antah berantah, tolong turunkan dulu sendal, panci, tabung gas, barbel dan talkutnya!!!
Oke! Harap tenang ya warga antah berantah, jangan dulu lempar-lempar itu panci, dkk.
Kakang sama si teteh belum benar-benar tamat, masih ada beberapa extra part … tapiiii gak bisa banyak-banyak ya, paling 1-2 aja. Yaaah, lumayan lah ya bisa ngintip mereka setelah nikah, kita lihat se-STRONG apa si kang kopi ini. 😏😍
Oka sama Anggi bagaimana nasibnya? Insyaallah cerita mereka akan ada sendiri. Kita bakal ngintip kehidupan kuliah ‘popcorn’ kita yang masih jomblo. Anggi juga masih belum ada hilal jodohnya, nanti coba cari jodoh buat mereka berdua, biar gak bikin kakang dan teteh pusing.
Bu Mega balik lagi sama Pak Andi? Hmmm … (Mayang nangis di pojokan)
Ya udah pokoknya gitu aja, nanti kita pikirin lagi soal itu semua.
Jadi … sampai jumpa dua hari lagi? Insyaallah.
Mudah-mudahan kita semua diberi kesehatan, kekuatan, dan keselamatan jadi kita bisa bertemu secepatnya di ‘dunia antah berantah’.
Love
A.K