
Someday (Suatu hari nanti)
“Oke, maaf-maafannya sudah selesai. Aku sudah memaafkanmu juga bapak untuk masa lalu, aku juga sudah menepati janji bapak untuk mempertemukanmu dengan anak-anak. Sekarang bisa jelaskan kenapa selama ini mas merahasiakan tentangku dari Anggi?”
Andi Santoso terdiam kemudian menjelaskan tentang kondisi kesehatan Mayang, dan bagaimana Mayang begitu ketakutan kalau Anggi akan meninggalkannya.
“Aku ikut sedih dengan kondisi … istrimu. Tapi Anggi berhak mengetahui tentang identitas dia yang sebenarnya, tentang siapa ibu kandungnya, juga tentang Kirana.” Mega menatap Andi Santoso tajam. “Apa kalian tidak percaya diri dengan anak hasil didikan kalian sendiri? Apa kalian mendidiknya menjadi anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih, yang akan meninggalkan kalian begitu saja karena mengetahui kalau dia bukan ibu kandungnya?”
Andi Santoso hanya terdiam menerima kemarahan Mega, karena dia tahu kalau apa yang diucapkan Mega benar. Sudah sering dia bertengkar dengan Mayang karena keinginannya untuk memberitahu Anggi yang sebenarnya, tapi dia akan luluh ketika Mayang menangis dan memohon padanya untuk menunda lagi dan lagi, sampai akhirnya semua terlambat.
“Tapi sekarang semua sudah terjadi. Bi … maksudku Anggi sudah mengetahui tentang yang sebenarnya, dan kali ini aku tak mau ikut campur masalah kalian. Aku tak akan meminta Anggi untuk memaafkan kalian, ataupun memintanya meninggalkan kalian. Dia sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan sendiri, namun yang pasti aku percaya dengan darah dagingku. Mereka bukan anak-anak yang tidak tahu berterima kasih … mereka adalah anak-anak yang baik.”
Andi Santoso mengangguk. “Kami yang akan menjelasakannya kepada Anggi.”
“Begitu juga dengan Kirana dan Oka. Aku sudah berusaha menjelaskan semuanya mengenaimu. Insyaallah mereka bisa mengerti dan paham, namun aku tak bisa memaksa mereka menerimamu kembali atau tidak, itu tergantung bagaimana kamu meyakinkan mereka. Aku tak akan ikut campur lagi. Tapi satu pintaku … jangan paksa mereka untuk mengakui istrimu, dan bertemu dengan bapak. Keputusan ada di tangan mereka, apa mereka mau bertemu bapak atau tidak, tapi yang pasti jangan paksa mereka.”
Andi Santoso kembali mengangguk, tentu saja dia tidak akan memaksa Kirana dan Oka untuk mengakui Mayang, terlalu egois kalau dia berharap akan hal itu. Dan mengenai H. Joko yang tak lain dan tak bukan adalah kakek mereka, Andi Santoso akan memercayai Kirana dan Oka seperti yang Mega lakukan. Karena dia yakin, mereka berdua telah dididik oleh Mega dengan sangat baik bukan sebagai orang pendendam. Yang perlu dia lakukan pertama kali adalah meyakinkan keduanya untuk kembali menerima dirinya sebagai seorang ayah, sebelum dia bisa meyakinkan mereka untuk memaafkan H. Joko.
Mungkin untuk meyakinkan Kirana tidaklah akan begitu sulit, PR terbesarnya adalah meyakinkan Oka. Putra yang baru dia ketahui keberadaannya. Tidak banyak yang dia ketahui tentang putra bungsunya itu, selain namanya adalah Asoka Danubrata, tapi Oka adalah putranya dan dibesarkan oleh seorang Mega Puspita Ningrum, sudah pasti dia adalah anak yang hebat seperti yang dikatakan Mega, tapi juga ada kemungkinan Oka keras kepala dengan ego yang tinggi seperti dirinya.
Perlahan, ya dia akan meyakinkan Oka secara perlahan, karena bagaimana pun Oka pasti akan memiliki kebaikan Mega, seperti halnya Kirana juga Anggi.
***
Oka, pov
Aku tak tahu apa yang ku rasakan. Ku tahu pria yang sedang berbicara dengan mamah di dalam kamar inap adalah ayah kandungku sendiri, atau perempuan dengan penampilan modis yang saat ini duduk di samping teteh adalah kakak kandungku.
Tapi … aku tak mengenal mereka, tak ada kenangan yang tersimpan dalam memoriku tentang keduanya. Bagiku mereka hanya seperti orang asing yang secara kebetulan darahnya mengalir dalam tubuhku.
Dan perempuan yang saat ini bergelayut di lengan teteh, dengan senyum di wajahnya … aku membencinya.
Bagaimana bisa dia masih bisa tersenyum seperti itu setelah apa yang dia lakukan kepada mamah juga teteh? Bagaimana kalau aku dan kakang terlambat malam itu? Bagaimana kalau luka mamah ternyata lebih parah?
Cih! Bagaimana bisa dia masih bisa tersenyum seperti itu?
Dan teteh … ku tahu teteh adalah perempuan baik, walaupun terkadang terkesan bar-bar juga urakan. Tapi apa semudah itu dia memaafkan perempuan yang telah melukainya? Apa karena dia adalah adik yang selama ini dia rindukan?
Namun dari semuanya yang salah adalah pria yang kini masih berada di dalam ruangan yang sama dengan mamah. Seandainya dia memberitahu perempuan itu mengenai mamah dan teteh, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Mamah tidak akan mengalami luka di kepala, tubuh tetehpun tidak akan memar-memar seperti sekarang.
Ya semua adalah salah pria itu … Andi Santoso. ayahku.
Teteh boleh saja memaafkan mereka dengan begitu mudah, tapi tidak denganku. Aku akan berusaha bersikap baik dan sopan pada mereka demi mamah juga teteh, tapi … akan sulit bagiku untuk bisa menerima mereka kembali.
Bagaimana aku tahu mengenai masalah itu?
Waktu itu aku hanya pura-pura tidur, aku mendengar semuanya ketika kakang menceritakan siapa dalang dari semuanya, aku mendengar bagaimana kecewanya teteh. Dan aku juga mendengar alasan kenapa perempuan itu melakukan hal itu. Hanya karena seorang lelaki yang kini tengah menatap teteh lembut, tangannya sesekali mengelus kepala teteh dan tersenyum hangat. Pria yang matanya hanya menatap teteh tak peduli dengan perempuan lain, termasuk perempuan yang duduk di samping teteh. Kakakku sendiri.
“Sakit?”
Lucu bukan? Sekarang dia khawatir, padahal dia bagian dari orang yang membuat teteh dan mamah seperti sekarang.
Aku tersentak, dan langsung memalingkan wajah ketika matanya menangkap basah aku yang sedang memerhatikannya, dan tanpa ku sadari juga ternyata pria yang mungkin kekasih perempuan itu tengah balik memerhatikanku.
Aku menatapnya sesaat sebelum kembali menatap kakang yang tengah heboh karena mengkhawtirkan teteh.
“Kita ke dokter, minta dirontgen takutnya ada yang luka bagian dalam.”
Kakang merangkul teteh sambil berdiri, tapi teteh menghentikannya sambil tersenyum.
“Aku tidak apa-apa, dokter sudah memeriksaku dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan,. Tidak ada luka dalam, ini hanya memar-memar saja.”
Kakang terdiam masih terlihat khawatr, tapi dia menuruti perintah teteh dengan kembali duduk di sampingnya.
“Apa perlu aku buka kamar lagi di sini satu untukmu, jadi dokter bisa mengawasimu?”
“Hahaha. Tidak! Aku tidak apa-apa, yang aku perlukan hanya istirahat.” Teteh merangkul lengan kakang kemudian bersandar di pundaknya, teteh benar-benar terlihat lelah.
Sesungguhnya kami bertiga memang kurang istirahat, setelah malam itu kami sama-sama di rumah sakit menunggu mamah sadar. Besoknya teteh ke kantor polisi untuk menemui perempuan itu dan sepertinya saat itulah teteh bertemu lelaki itu … ayahku.
Dalam keadaan tubuh masih penuh luka teteh mengurus semuanya, sedangkan aku hanya ditugaskan menjaga mamah. Seandainya aku lebih dewasa, mungkin teteh akan berbagi masalah ini denganku, tapi sekarang teteh lebih memilih memendamnya sendiri. Untung saja ada kakang yang selalu berada di sampingnya untuk mendukung dan menjaganya.
“Malam ini teteh pulang saja, istirahat. Mamah biar aku yang jaga.”
Teteh terlihat ragu sesaat.
“Oka benar, sebaiknya kamu pulang istirahat. Mamah juga sudah lebih baik, besok pasti sudah diperbolehkan pulang.”
Teteh menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.”
Aku mengangguk, dan teteh pun pulang bersama kakang setelah pamit kepada perempuan itu juga lelaki yang dari tadi hanya diam dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Hening, kecanggungan benar-benar terasa sepeninggalan teteh dan kakang.
Apa sih yang mamah bicarakan dengan lelaki itu? Kenapa sangat lama. Ckkk! Ku keluarkan ponselku untuk bermain game dari pada merasa canggung, aku pun terlalu malas hanya untuk basa basi.
“Kamu … sudah lulus sekolah?”
Aku menatap ke samping ku lihat perempuan itu berusaha mengajakku berbicara. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan tak ada lagi pertanyaan lainnya. Baguslah.
Ku buka aplikasi gameku, dan akan mulai bermain ketika pintu kamar rawat inap mamah terbuka memerlihat pria itu yang menatap kami bergilir sebelum akhirnya menatapku.
“Ayah sudah selesai bicara dengan mamah.” Aku terdiam kemudian mengangguk. “Sebelum ayah pulang, apa kamu mau makan malam bersama ayah?”
“Maaf mungkin lain kali. Mamah tidak ada yang menemani, saya harus menemani mamah.”
Ku lihat mata pria itu memancarkan kekecewaan. Hei, selama ini aku dan teteh telah menunggunya, jadi tidak ada salahnya kan kini giliran dia yang menungguku?
Seperti mamah bilang aku telah memaafkannya, dan mencoba memahaminya. Tapi aku belum bisa menerimanya. Nanti … suatu hari nanti aku pasti akan bisa menerimanya sebagai ayahku. Namun tidak sekarang, tidak secepat ini.
****